PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Menikah Muda Generasi Kedua


__ADS_3

Lima Belas Tahun Kemudian


Mikayla putri dari pasangan Mely dan Abas kini sudah tumbuh menjadi gadis yang menarik dan cantik. Mika kini genap berusia 20 tahun, kini ia menempuh pendidikannya di luar negeri.


Sedangkan adik Mika, yaitu putra kedua dari Mely dan Abas kini telah berusia 15 tahun. Miko namanya, Miko Moureno Bautista kini mengijak kelas 2 SMA.


Kehidupan Mely dan Abas nampak bahagia seperti keluarga pada umumnya. Beberapa tahun silam, keluarga besar Abas di landa kedukaan. Peristiwa meninggalnya Mama Alan menjadi penyebabnya. Mama Abas tutup usia karena serangan jantung, usia yang tidak lagi muda membuat Mama tidak dapat bertahan hidup.


Sedangkan orang tua dari Mely masih lengkap. Namun kakek dan Nenek Mely sudah tenang di sisi yang Maha Kuasa. Papa dan Mama Mely kini tinggal dengan Lia, putri terakhir mereka. Lia juga sudah menikah, Lia yang kala gadisnya sangat manja kini jauh lebih dewasa.


Bagaimana dengan Bela sahabat sejati Mely? Bela kini hidup berbahagia bersama suaminya, Fadir. Mereka berdua mendirikan usaha bersama. Usaha wedding Organizer Bela telah berkembang dengan pesat. Hampir memiliki banyak cabang di kota-kota besar.


Bela dan Fadir telah memiliki seorang putra. Beberapa bulan setelah pulang dari pulau Maldives, Bela dinyatakan telah hamil. Putra Bela kini berusia 19 tahun. Dirly namanya, Dirly arya Fadirham adalah nama lengkap buah hati dari pasangan Bela dan Fadir.


Dirly juga menempuh pendidikan di luar negeri, hanya saja lain negara dengan Mika. Dirly memilih melanjutkan study nya di negara kangguru. Sedang Mika di negara yang terkenal dengan gedung putihnya.


Hari ini merupakan hari kepulangan Mika, ini adalah jadwal Mika kembali ke tanah air, negeri tercinta Indonesia. Libur semester dibuat Mika pulang kembali ke rumah, rasanya ia sudah rindu dengan keluarganya.


Di sebuah Bandara Internasional, Mely dan Abas tengah menunggu kedatangan putri pertama mereka. Berkali-kali Mely melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Abas yang menyaksikan tingkah istrinya hanya bisa mencari bayang bayang putrinya di tengah kerumunan orang yang lalu lalang.


Tidak jauh dari sana, nampak Mika yang melambaikan tangan kepada kedua orang tuanya. Mika terlebih dulu mengetahui posisi orang tuanya. Mungkin karena faktor umur yang tidak lagi muda, membuat Abas sulit menangkap sosok Mika.


"Pa... Mika rindu sekali sama Papa," Mika memeluk erat tubuh Abas, Papanya.


"Anak Papa sudah besar, gimana kabarnya? Kok agak kurusan begini?" tanya Abas sembari menepuk halus punggung putrinya.


"Mika baik Pak, Papa bagaimana kabarnya? Terakhir ketemu Mika kan rambut Papa gak begini?" Mika protes dengan rambut putih yang kini memenuhi kepala Papanya.


"Haduh, Anak dan Ayah kalo sudah bertemu lupa ya sama Mama," celetuk Mely yang cemburu dengan kemesraan antara putri dan suaminya.


Mika langsung mendekat ke arah Mamanya, Mika kemudian memeluk dengan erat tubuh Mely.


"Hehehe, maaf Ma. Aku juga kangen banget sama Mama. Kangen masakan Mama," ucap Mika dengan ceria.


"Jadi Mika cuma kangen masakan Mama? enggak kangen sama Mama?" goda Mely.


"Duh, engak lah Ma. Aku kangen Mama, bukan cuma masakan Mama. Mika kangen sama semua," Mika langsung menghujani Mely dengan banyak kecupan.

__ADS_1


"Sudah-sudah, ayo pulang. Kasian Miko nunggu di rumah," kata Abas.


Abas langsung menyeret koper bawaan Mika, mereka bertiga kini menuju tempat parkir. Semua bersiap untuk pulang ke rumah. Miko putra kedua Mely dan Abas tengah menunggu mereka semua di rumah.


Mobil yang di kendarai Abas terparkir sempurna di sebuah rumah yang sangat megah. Terdapat kolam renang yang luas di rumah yang super mewah itu. Tidak lupa beberapa penjaga telah bersiap siaga di pos penjagaan.


Begitu membuka pintu mobil, Mika langsung berlari menuju rumahnya. Rasanya ia sudah rindu ingin bertemu dengan adiknya.


"Miko... Miko... Miko," panggil Mika yang tak kunjung mendapatkan sahutan dari adiknya.


Mika berjalan terus dari ruang tamu menuju kamar Miko. Ia hendak mencari keberadaan sang adik yang sudah lama tidak ia jumpai.


"Miko ... Ko.." panggil Mika sekali lagi.


Kali ini mendapat respon dari pemilik nama yang sedari tadi disebut.


"Iya, Kak. Aduh berisik banget Kakak," protes Miko pada suara kak Mika yang memekakkan kedua telinganya.


Tidak perduli dengan ledekan sang adik, Mika langsung memeluk tubuh adiknya dengan sayang.


"Kak Mika kangen banget sama kamu, kamu kok dingin banget. Sambut Kakak dong," paksa Mika pada adiknya.


"Apa sih Kak, aku lagi sibuk,"


"Udah Kak, jangan bawel kak. Kakak keluar dulu sana,"


Mika langsung menimpuk bantal yang ada di depannya saat itu ke depan tubuh adiknya. Ia merasa Miko tidak berubah, Miko selalu cuek dengan kedatangan dirinya. Merasa sebal dengan respon adiknya, Mika langsung meninggalkan kamar adiknya. Mika langsung menuju ruang tamu dimana Papanya sudah duduk sedari tadi.


"Mama mana Pa," tanya Mika yang tidak melihat sosok Mamanya.


"Mama lagi di dapur," ucap Papa Mika sembari masih meneruskan membaca korannya.


"Ya sudah, aku mau bantu Mama dulu Pa,"


"Tidak usah, kamu langsung istirahat saja. Nanti kalau sudah siap, Papa panggil,"


"Oh.. Yaudah. Mika mau rebahan dulu di kamar. Badan Mika capek semua," Mika langsung melangkah kan kedua kakinya menuju kamarnya sendiri.


Mika merebahkan badannya yang terasa lelah setelah perjalanan cukup lama di atas udara. Ketika hendak memejamkan kedua matanya, nada chat masuk berbunyi dari telpon gengamnya. Membuat Mika langsung bangkit dari posisinya semula.

__ADS_1


Perlahan ia membuka pesan masuk dari ponselnya. Tertera nama Nathan pada si pengirim pesan. Semburat senyum terpancar dari bibir Mika.


Mika pun langsung menekan tombol berwarna hijau pada layar ponselnya. Lantas berbicara pada orang di seberang sana.


"Lagi apa?" sapa Mika.


"Lagi nunggu kabar dari kamu," ucap Nathan dengan penuh gombalan.


"Heheh... Maaf gak kasih kabar. Aku terlalu asik bersama keluarga ku,"


"Tidak apa-apa, santai saja?"


"Kak Nathan sekarang sedang apa?"


"Masih di kantor, banyak kerjaan nih. Terpaksa lembur."


"Jangan capek-capek Kak, jaga kesehatan,"


"Iya Mika,"


"Ya sudah Kak, Kakak lanjutin kerjaannya dulu. Aku mau istirahat lagi. Bye Kak,"


"Iya, makasih ya sudah telpon. Nanti waktu weekend mau apa tidak jalan-jalan?"


"Mau dong Kak," jawab Mika dengan spontan.


"Oke, aku tutup yan telponya. Bye Mika,"


Nathan meletakkan ponselnya di atas meja, matanya menatap tajam pada selembar foto yang tergeletak di atas meja kerjanya.


Sebuah foto lama, di dalam foto tersebut ada sosok pria yang merupakan Ayah dari Mika. Di dalam poto tersebut nampak Abas merangkul pundak ibunda Nathan. Meski foto tersebut cukup usang, namun sangat jelas raut wajah Abas yang sedang meletakkan sebelah tangannya di bahu Evi.


Nathan merupakan anak dari Evi, kini terlihat sorot kebencian di mata Nathan. Sepertinya Evi sudah mencuci otak putranya. Terlihat sekali ada gurat kebencian pada paras Nathan ketika melihat potret Ayah dari gadis yang sedang di incarnya.


Meskipun Evi kini sudah tiada, namun ia berhasil meracuni pikiran anak semata wayangnya. Seolah-olah Abas lah yang membuat Ibunya menderita.


Nathan mengatur rencana sejak lama, ia akan mengabulkan keinginan terakir Ibunya. Keingin Evi adalah kehancuran keluarga Abas. Nampak tangan Nathan kini mulai mengepal, seakan telah siap untuk membalaskan dendam sang Ibu.


Nathan dengan pesonanya, mampu memikat hati Mika. Perlahan-lahan Nathan mencari cela untuk mendekati putri dari musuh bebuyutan sang Ibu. Ia sudah bertekad kuat, sampai napas terakhir dendamnya akan tetap membara.

__ADS_1


Nathan bersumpah dalam hatinya, tidak Akan mati sebelum hutang dendamnya terbayar tuntas.


bersambung.


__ADS_2