
"Idih, Mama kok gitu amat sama Mika," Mika pun merajuk. Ia bergelayut manja pada lengan sang Mama.
Lambat laun Mely melupakan rasa kecewanya pada sang putri. Semarah apapun orang tua, selalu bisa memaafkan anak-anaknya.
Tidak terasa senja sudah menyapa. Langit yang semula cerah kini berubah jingga. Mika sedang menanti suaminya pulang kerja, tentu menunggu Papanya juga.
Sekarang dia dan Mamanya sedang menyiapkan makanan untuk makan malam nanti.
"Ma, Miko kemana? Masa belum pulang?"
"Paling juga main sama temennya," ucap Mely sembari mengeluarkan ayam pangang dari microwave.
"Harum banget Ma," seru Mika yang lama tidak menikmati masakan sang Mama.
"Coba kamu siapin piring, dan itu tolong buahnya di jus,"
"Sip Ma!"
Mereka berdua terlihat akur, sangat harmonis. Hubungan antara ibu dan anak yang mesra.
Ting tung
"Bikk, tolong lihat siapa yang datang," teriak Mely pada asisten rumah tangganya.
Seorang mbak-mbak datang mendekati Mely.
"Baik Nyonya!"
Tiba-tiba Mika menghentikan langkah kaki sang asisten rumah tangga.
"Biar aku aja Bi, mungkin suamiku yang datang," ujar Mika dengan sumringah.
Mely hanya bisa tersenyum tipis melihat ulah putrinya. Ya Tuhan, ia masih tidak menyangka putrinya tersebut sudah menikah.
Ia menarik napas dengan berat, kemudian membuangnya dengan kasar. Mungkin ia masih sedikit kecewa.
Dengan mata berbinar-binar, Mika menuju pintu utama. Benar apa dugaan Mika, yang datang memang suaminya.
"Selamat datang," ucap Mika dengan sok imut kayak marmut.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di kening Mika.
"Ups, nanti dilihat orang!" Mika mendorong tubuh suaminya yang begitu dekat.
"Dilihat juga gak apa-apa, Kita kan udah nikah,"
Mika hanya mampu tersenyum tipis, benar apa kata Nathan. Mengapa malu? Mereka kan pasangan suami istri. Tapi tetap saja ia merasa malu.
"Sini aku bawa!" Mika meraih tas laptop dan jas yang Ada di tangan suaminya.
__ADS_1
"Sudah pulang?" sapa Mama Mika dengan datar.
"Iya, Tante. Eh Mama!" hampir saja Nathan salah manggil. Ia juga masih canggung dengan mertuanya itu.
"Mika siapin kopi buat suamimu!"
"Iya, Ma!"
Setelah meletakkan tas serta jas suaminya, Mika bergegas ke dapur.
Menyiapkan kopi untuk Nathan.
Dengan secangkir kopi di tangannya, Mika masuk ke dalam kamar.
"Sayang, kopinya nih!"
Mika menyusuri penjuru kamarnya, gak ada sosok sang suami. Kemana Nathan?
Ketika ia mendekati kamar mandi, terdengar gemricik air yang mengalir. Oh suaminya itu sedang mandi. Sembari menunggu Nathan selesai mandi, ia menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
Cekrek
Dari jauh Mika dapat mencium aroma kesegaran sabun dari tubuh suaminya.
"Sudah mandi?" suara Nathan membuyarkan lamunan Mika.
"Eh, sudah!"
"Kata siapa? Cium nih! Wangi kan?" Mika mendekatkan rambutan ke arah Nathan.
"Coba sini aku cium wanginya?" Nathan terus saja mengodai Mika.
"Nih, wangi kan?" Mika yang tak sadar bahwa Nathan sedang jahil, ia pun dengan polosnya mendekat ke arah sumainya.
Cup cup cup
Mika langsung meleleh ketika Nathan mendaratkan banyak kecupan di seluruh tubuhnya.
"Udah ah geli," karena merasa geli. Mika mendorong tubuh suaminya.
Semakin di dorong, Nathan semakin memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Mau kemana?"
"Aku gak bisa napas!" Mika mencoba kabur dari jeratan Nathan, sang suami.
"Coba lepas kalau bisa." Nathan tersenyum devil.
Ingin mengerjai balik, Mika langsung mencium bibir suaminya. Mengigit kecil kemudian melepaskannya.
Namun Mika kalah kuat, saat ia akan melepaskan tautan bibir itu. Nathan justru menempelkannya dengan erat. Makin lama makin dalam.
__ADS_1
Kali ini Mika dibuat susah bernapas.
Cukup lama mereka bertautan, tubuh Nathan yang semula segar karena habis mandi kini malah mandi keringat.
Mika selalu mampu membuatnya panas dingin, seperti saat ini.
"Aduh turunin dong," seru Mika ketika Nathan mengendong dirinya.
Nathan hanya diam, kemudian merebahkan sang istri di atas ranjang yang empuk dan lembut.
"Kita bikin baby ya!" bisik Nathan di telinga Mika.
Hal itu sukses membuat bulu-bulu Mika berdiri. Karena malu, Mika hanya memukul kecil lengan Nathan yang kekar dan berotot. Yang jelas tidak seperti pragawan. Otot Nathan jauh lebih kecil. Dia kan bukan olahragawan.
Hanya gaya hidup sehat dan olah raga teratur yang membuat tubuhnya terbentuk sempurna. Dada kotak-kotak dan bidang.
"Bagaimana, kamu mau kan hamil anak Kita lagi?" tanya Nathan dengan penuh harap.
Mika yang malu pun menganggukkan kepala pelan. Apapun demi Nathan ia akan lakukan.
Apalagi dia memang benar-benar mencintai suaminya tersebut. Pasti Mika mau mengandung buah hati mereka.
Maka apa yang terjadi terjadilah, seperti pasangan menikah pada umumnya. Mereka melakukan kegiatan produksi.
Hari demi hari pun berganti, sudah tiga bulan mereka tinggal bersama keluarga Abas.
Rencananya Mika dan Nathan ingin pindah, bukan karena sikap dingin kedua orang tuanya. Namun Nathan hanya ingin membangun istananya sendiri.
Abas dan Mely semula menentang, namun karena keputusan Mika dan Nathan sudah bulat. Maka mereka pun membiarkan saja.
Asal mereka gak pergi jauh atau ke luar negeri. Rasanya Mely belum ikhlas jauh-jauh dari putrinya tersebut.
Akhirnya mereka mendapatkan sebuah rumah yang sesuai dengan impian mereka. Rumah yang dekat dengan pantai, seperti drama Korea. Itu adalah rumah impian Mika.
Sembari menatap ombak pantai yang syahdu, Mika memeluk lengan suaminya dengan sebelah tangan.
"Kamu senang Mika?"
Nathan melepaskan lengan Mika yang melingkar di pinggangnya.
"Tentu!"
Jawaban singkat Mika membuat Nathan menyungingkan sebuah senyuman manis.
"I love you,"
Nathan mengecup pipi cuby Mika dengan lembut.
"I love you too," Mika membalas kecupan itu dengan ciuman yang panjang dan dalam.
Senja yang menghiasi langit pantai, menjadi saksi antara Nathan dan Mika yang saling mengisi hati mereka dengan penuh cinta.
__ADS_1
Bonus Chapter End