PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Akibat Drama


__ADS_3

Hari terus berganti, semakin hari calon bayi dalam kandungan Mely kian hari semakin membesar. Ini adalah trimester akhir untuk kehamilanya, tidak banyak hal yang bisa ia lakukan. Ia sudah banyak kesulitan melakukan aktifitas seperti biasanya, bagaimana tidak. Ini semua karena Abas sudah berhasil meniup perutnya sampai membesar sebesar balon.


Memasuki bulan terakhir masa kehamilan istrinya, Abas sering menghabiskan waktunya di rumah. Segala pekerjaan kantor yang bisa ia kerjakan di rumah, maka ia akan membawanya pulang. Pria itu sedikit cemas bila mengingat kondisi istrinya yang tengah hamil tua.


Malam ini nampak keduanya sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mely sedang asik menonton televisi, matanya sudah berbinar-binar ketika aktor kesayangan nya mulai beradu akting di layar kaca. Tampak bibirnya sesekali mencuri senyum, sesekali ia melirik Pria yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Abas sedang duduk menghadap laptop nya, ia tengah berjibaku dengan pekerjaan yang tak kunjung usai.


Melihat suaminya yang sepertinya masih akan lama berduaan dengan lembaran- lembaran pekerjaan, Mely kembali memfokuskan matanya kembali menuju acara kesayangannya. Ia ingin kembali memanjakan matanya, menonton drama dengan latar bunga sakura yang sedang bertaburan terbawa angin yang menyapunya.


Mely terlalu hanyut dalam cerita yang ia resapi. Sampai pada sebuah adegan dimana dua sejoli pemeran utama sepakat untuk putus, karena usia terpaut jauh antara sang wanita dan pria. Tidak terasa matanya mulai memerah, seakan akan dia merasa bahwa dialah yang sedang di campakan. Ia hampir saja mengumpat, namun karena Abas berada tidak jauh dari sisinya, Mely pun hanya bergumam lirih dalam hati.


"Apa salahnya mencintai seseorang yang usianya terpaut jauh dari Kita? Bukankah cinta tidak pernah memandang usia? Sejak kapan usia menjadi batas boleh tidaknya Kita jatuh cinta? Bukankah cinta bebas datang kepada siapa saja? Cinta tidak mengenal jarak.. Karena cinta datang begitu saja tanpa permisi pada Kita. Ia datang begitu saja pada organ manusia yang kita sebut Hati..."


Mely masih tidak menerima jalan cerita yang sedang terpampang di hadapannya saat ini, Ia seakan ingin mengubah jalur ceritanya. Hatinya terasa perih ketika melihat pria tampan dalam layar kaca menangis lantaran dicampakan. Ingin sekali rasanya ia berada dalam posisi sang wanita, Mely tak kuasa hingga jatuhlah bulir bulir air yang membasahi pipinya. Malu jika nanti Abas mengetahui nya menangis karena sebuah drama, ia lekas mengelap kedua pipinya dengan jari-jari mungilnya yang kini mulai menjadi jempol semua. Mely berakting pura-pura tidak terjadi apa-apa.


Tanpa Mely sadari, sesunguhnya Abas sudah sedari tadi memperhatikan dirinya. Pria dewasa itu hanya tersenyum simpul, ia tidak habis pikir dengan Istrinya yang kini sedang memandang layar kaca dengan serius. Bagaimana bisa dengan mudah ia mengeluarkan air mata hanya karena sebuah drama. Tidak mau ambil pusing, Abas mematikan laptop nya dan merapikan sebagian berkas yang nampak bercacaran di atas meja kerjanya. Setelah semua di rasa sudah beres, saatnya kini mulai bermain main dengan Istrinya. Rasanya Abas ingin mengerjai Mely sampai pagi.


"Nonton apa sayang?" sapanya tiba-tiba membuat Mely langsung memalingkan wajahnya ke sumber suara.


"Nih... lagi nonton ini, lihat saja sendiri. Ceritanya bagus!" jawab Mely, pandangan matanya kembali ke layar kaca yang sedang mempertontonkan adegan pilu yang menguras hati dari dua pemeran utamanya.


"Itu kenapa kok pada nangis?" Tanya Abas asal asalan ketika matanya menatap layar kaca yang sama dengan sang istri.


"Itu yang cowok sedang di campakan!" jawab Mely, matanya tidak beralih. Ia masih fokus dengan drama yang dilihatnya.


"Kok bisa?"

__ADS_1


Mely mulai mengalihkan pandangan, kini ia tampak duduk sempurna berhadapan dengan sang suami, Mely sangat antusias ingin menceritakan ulang drama yang ia tonton barusan.


"Jadi cerintanya gini, usia si wanita jauh lebih banyak dari pada si pria..." Belum selesai Mely bercerita Abas sudah main potong cerita istrinya.


"Oh cerita tentang brondong," Sela Abas.


"Duh... Belum selesai cerita, jangan di potong!" ucap Mely gemas pada suaminya yang main potong saat ia tengah bercerita. Mely kembali melanjutkan cerita dramanya dengan mengebu-ngebu.


"Jadi gini, walau si Pria jauh lebih mudah tapi ia berkomitmen. Jika ia menemukan gadis yang sunguh-sunguh ia cintai maka pria tersebut akan menikahnya, membangun hidup bahagia bersama keluarga kecilnya..."


"Terus....? Abas kembali menyela, membuat Mely menampakkan pandangan tidak suka. Abas sesunguhnya sedang mengoda dirinya. Ia sengaja menyela kalimat sang istri. Sedangkan Mely yang mendapat selaan berkali kali dari suaminya, kini nampak engan melanjutkan ceritanya kembali. Mely merajuk, kembali ia membetulkan posisi duduknya. Kini ia sudah menatap layar kaca dengan sempurna, tanpa memperdulikan Abas yang masih menunggu ceritanya. Mely sudah terlalu bete di buat Abas, ia sudah malas melanjutkan cerita dramanya.


Pria yang sedang ia abaikan kini sedang tersenyum jail, Abas merasa sudah berhasil melancarkan aksinya. Karena kini nampak Mely yang terlihat kesal dengan aksi Abas barusan.


"Sayang, sini dong. Lanjutin ceritanya, aku penasaran nih!" ucap Abas pura-pura di hadapan sang istri.


"Iya, nanti kalau sudah tamat. Nanti aku ceritain!" kata Mely, namun masih dengan tidak menatap wajah suaminya. Pandangan matanya setia pada aktor yang sedang beradu akting.


Abas hanya bisa menikmati pemandangan di hadapannya saat ini, tanpa bisa menyentuh. Mely sudah mewanti-wanti dirinya. Ia tidak mau di ganggu bila sedang asik dengan dramanya, Abas hanya bisa menyaksikan istrinya yang sudah hanyut dalam sebuah drama. Namun tiba-tiba Mely memintanya mengambil kotak tisu yang ada di depan suaminya.


"Sayang, kotaknya geser kemari sedikit!" pintanya pada Abas suaminya.


"Kamu kenapa nangis?" Tanya Abas, ia heran dengan perasaan Ibu hamil. Kadang senyum, kadang nangis, kadang juga marah tidak jelas.


"Gak papa, aku menangis bukan karena akibat kehamilan ku kok... Tenang saja, aku juga gak nangis gara-gara berat badan dan beban hidup yang semakin berat," ucap Mely sembari bercanda, nampak terukir senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Lah terus...?" Abas penasaran.


"Kasihan, Ibunya meninggal," jawab Mely.


Abas langsung tertawa, ia tertawa lepas. Pria itu menertawakan aksi istrinya yang menurutnya konyol. Masa iya, istrinya dengan mudah tersenyum langsung menangis karena sebuah drama. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran para penikmat drama. Mengapa dengan mudah mereka semua di bodohi. Apa karena istrinya yang mungkin terlalu bodoh? Abas tersenyum kecut. Cubitan Mely yang ia rasakan langsung menyadarkan Abas dari lamunannya.


Mely merasa kesal dengan sikap suaminya, Ia merasa Abas telah menertawakan dirinya. Ia tidak terima ditertawakan begitu saja. Mely memberi serangan cubitan bertubi-tubi hingga Abas menyerah dan bersedia mengaku kalah. Maka ibu hamil yang satu ini baru akan melepaskannya.


"Iya iya... Ampun..." ucap Abas meminta pengampunan dari sang istri.


"Baguslah kalau begitu, kali ini aku maafkan," kata Mely dengan tersenyum manis. Membuat Abas ingin mencubit balik dirinya.


"Sudah ya... Nonton nya lanjut besok lagi, Ayo kita tidur!" ucap Abas seraya membopong istrinya.


"Tanggung, aku masih mau lihat!" kata Mely. Namun ia sudah tidak bisa berkutik, karena Abas sudah memindahkan tubuhnya ke dalam kamar mereka berdua.


"Besok saja ya... Kamu harus istirahat yang cukup," kata Abas, ia tidak ingin istrinya bergadang semalaman untuk menonton drama.


"Oke oke oke...," Mely bangkit, ia akan menganti pakaian tidurnya.


"Mau kemana lagi?" Tanya Abas kembali.


"Ganti baju sayang,"


"Gak usah ganti, nanti juga aku lepasin,"

__ADS_1


Kata-kata Abas membuat Mely bergedik ngeri, ia merasa Abas telah menjelma menjadi srigala berbulu manusia...


Bersambung


__ADS_2