
Mely serta Abas masih berada di sebuah taman Kota, Mereka berdua masih menikmati udara segar pagi ini. Mereka berjalan kaki di sepanjang taman. Melihat banyak orang yang jogging. Abas pun mengajak sang istri.
"Ayo lari lari kecil sampai sana ..."
Abas mengajak istrinya untuk berolah raga, Ia mengarahkan tangannya ke suatu arah. Menunjuk tempat yang akan ia tuju. Kedua insan itu kini nampak menuju sisi taman yang lainnya. Tidak jauh dari sana nampak sosok Bela dari kejauhan. Mely melambaikan tangannya kepada Bela yang saat itu juga sedang lari pagi di sana.
"Belllllll....." teriak Mely memanggil sahabatnya.
Bela masih belum menyahut, Karena pandangan Bela menuju arah lain.
"Bel ... Belaaaa"
Kali ini Mely berteriak agak kencang, hingga beberapa orang disekitar sana menoleh pada dirinya. Bela langsung menoleh seketika. Suara cempreng Mely membuat Bela menoleh kesana kemari. Ia mencari sumber suara yang tak asing di telinganya.
Setelah menoleh kesana kemari, akhirnya Bela menemukan sosok Mely sahabatnya.
Bela mendekati Mely dan Abas, Ia bertukar sapa pada keduanya. "Dari tadi disini?" Tanya Bela mulai membuka obrolan.
"Baru aja kok, habis nganterin Mama ke bandara. Terus mampir olah raga bentar sama Abas," jawab Mely sambil membetulkan tali sepatunya yang lepas.
"Gimana, Enak gak di rumah aja? Kalo bosen, atau mau kerja lagi. Langsung hubungi Aku ya Mel." Bela mencoba menawarkan pekerjaan lagi pada sahabatnya itu.
Mata abas melirik kearah Bela, pandangannya seakan tidak suka dengan apa yang Bela tawarkan. Ide Bela ini ditolak mentah mentah oleh Abas. Namun cuma dalam hatinya. Di dalam kepala Abas, nanti kalau Mely kembali bekerja, Waktu untuk dirinya pasti berkurang banyak. Belum lagi kalo keluar Kota. Haduh. .. Abas gak mau istrinya sibuk dan kemudian tengelam dalam pekerjaan nya. Sudah cukup Mamanya saja yang jadi Workholic, Yang gila kerja. Pikirnya... ia mengambil napas dalam dalam.
Namun, Ia juga tidak ingin egois. Siapa tahu Mely kesepian di rumah sendirian. Mungkin dia butuh aktifitas di luar rumah. Ia pun mencoba bertanya pada sang istri. Sebatas ingin tahu apa yang ada dalam benak Mely. Dia juga penasaran isi hati istrinya.
"Pingin balik kerja Mel?" tanyanya,
Abas menanyakan hal tersebut dengan memegang lembut kedua tangan Mely. Matanya menatap wajah pujaan hatinya itu. Ia ingin tahu ekspresi yang akan dikeluarkan sang istri.
"Engak kok!" jawabnya singkat. Setelah menatap wajah sahabatnya, ia kembali menatap Abas.
__ADS_1
"Sorry Bel. Ini udah jadi keputusan aku. Aku enjoy kok dengan keadaanku saat ini,"
Kalimat Mely terputus sejenak, Ia juga menarik napas dengan dalam. Kemudian Ia menatap wajah suaminya lagi, yang sejak tadi memperhatikan dirinya.
"Aku gak pingin kerja lagi, Karena aku mau Program Hamil!." Mely mengatakan itu dengan malu malu. Pipinya memerah seketika.
Abas yang mendengar alasan Mely barusan. Membuatnya jadi baper. Jelas dibibirnya tergambar sebuah senyuman. Hatinya jadi berbunga bunga. Jelas Ia merasa sangat senang, karena Mely lebih memilih Abas sebagai prioritasnnya.
Bela berasa risih diantara mereka berdua yang lagi bucin. Ia meledek sahabatnya. "Kipas mana kipas, panas banget suasana disini! Mendadak gue kepanasan ini!" Bela mengibas ngibaskan tangannya ke muka. Seolah olah dia sedang kepanasan.
Ia ngendumel tidak karuan. Merasa iri dengan romansa sahabatnya. Tapi itu hanya candanya. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, Ia sangat ikut bahagia dengan kehidupan Mely saat ini.
"Apa sih Bel, makanya cepet nyusul sana!" canda Mely sambil tertawa.
Bela langsung cemberut. Ia memonyongkan ujung bibirnya. "Ngomong tuh gampang banget yaaaa...., kamu pikir aku gak usaha Mel. Udah aku ajakin tuh kampret. Dia belum siap katanya. Kurang apa coba. Sebagai perempuan aku udah Ngajak duluan. Aku udah mengalah. Kamu bisa bayangin kan jadi aku rasanya gimana?" nyesek tau. Batin Bela.
Mely terlalu mendramatisir kisah cintanya.
Abas yang sedari tadi memperhatikan hanya tersenyum mengejek.
"Eh... ini gara gara kamu bas!" tiba tiba Bela menyalakan suami temannya.
"Lah, apa hubungannya sama suamiku?" Mely gak terima suaminya dijadikan kambing hitam. Suaminya kan bukan kambing, tapi kucing. heheh... batinnya.
"Abas membuatnya bekerja terlalu keras, Fadir jarang Ada waktu. Kencanpun Sebulan satu dua Kali doang. Mana ada waktu buat mesra mesraan!" Bela melingkarkan tangannya ke pinggang Mely. Seakan ia mencari bala bantuan dan pertolongan. Biar Fadir jangan dipaksa kerja terlalu keras. Ia tidak punya banyak waktu untuk berkencan.
"Heheheh..." Mely hanya menangapinya dengan tawa renyah.
Abas tidak ambil pusing dengan teman istrinya, Ia cuek bebek. Yang paling penting Mely sudah deal. Pikirannya malah ingin cepat cepat pulang. Menuruti apa yang di pesan Mama tadi sebelum berangkat ke Bandara. Tiba tiba bibirnya mengeluarkan sebuah senyuman. Senyuman yang keluar begitu saja tanpa ia sadari.
"Kamu mikir apa sayang, kok senyum tidak jelas seperti itu" Mely memandang abas dengan tatapan penuh curiga.
__ADS_1
"Gak papa, Ayo pulang yuk..." Abas mengalungkan kedua tangannya ke pinggang istrinya. Membuat Bela semakin sinis saja.
"Idih, apa apa'an sih kalian ini. Ingat woiii... ini tempat umum". Bela kelihatan tidak ikhlas banget Mely dan Abas bermesraan di hadapannya. Seakan akan Abas sedang pamer kemersaan didepannya. Semakin dongkol saja Bela pada Abas.
Protesan Bela, membuat Mely dan Abas tertawa lepas. Mely malah semakin merekatkan tangan suaminya. Dan Bela hanya bisa menepuk jidatnya. Rasanya ia kalah besar sama Mely. Ketiga orang tersebut akhirnya tertawa lepas.
Mely berpamitan pada sahabatnya, Ia mencium pipi kanan dan pipi kiri Bela. Mereka saling berpelukan cukup dalam. Seperti kekasih yang berpamitan ingin pisah untuk waktu yang lama. "Sering sering video call ya Mel, Aku masih kangen kamu!" ucap Bela usai melepas pelukannya.
"Iya sayang, so pasti," Mely mengedipkan sebelah matanya. Sudah mirip opa Jaja Miharja.
Kini Mely dan Abas sudah berada dalam mobil. Mereka bersiap kembali ke Rumah Utama. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mereka kini telah sampai. Mely masuk kedalam rumah dan Abas mengekori dibelakang tubuhnya.
"Sayang, kamu mandi duluan ya.. nanti telat!" ucap Mely seraya mengambilkan handuk untuk suaminya.
"Telat kemana?" Ia mencoba mengoda Mely kembali.
"Ya ke kantor lah!" jawabnya singkat.
"Siapa bilang aku mau ke kantor?" Abas kembali melancarkan aksinya. Ia memeluk Mely dari belakang.
Pantas saja Bela marah marah, ini karena si bos semena mena. Semua pekerjaan ia tumpukkan pada sekertarisnya. Maaf Bel, sepertinya kamu benar. Mely bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Mel, Ayo sekarang!" Abas membisikkan kata tersebut ketelinga istrinya.
"Ayo apa?" Mely pura pura polos.
"Ayo bikin Kue!!!!!" Abas jadi gemes dengan istrinya yang mendadak lugu.
"Heheheh... kalo gitu lepasin. Ayo ke dapur dulu. Mau buat kue apa?"
"Agrr....." Abas menjerit keras didalam hatinya.
__ADS_1
Abaspun melepaskan pelukannya. Ia memutar tubuh istrinya. Kini kedua mata mereka saling bertemu. Jantung keduanya mendadak berdegup kencang. Abas menjadi tidak sabaran, Ia langsung melahap bibir mungil istrinya.
Bersambung