
Sore menyapa kedua insan yang baru saja sampai di rumah utama Wilson, di gazebo halaman depan ada Thalia yang sedang duduk sembari membaca sebuah majalah.
"Kakak," serunya memanggil Rendra, dia berlari mendekat lalu memeluknya.
"Apa yang kau lakukan? Kau bukan anak kecil lagi jadi bersikap dewasalah sedikit."
Thalia pun segera menjauh dan langsung cemberut, kemudian menatap sinis pada kakak ipar yang tak pernah ia akui itu.
"Semua ini gara-gara dirimu, dasar perempuan jelek!" ketusnya dengan penuh emosi dan langsung mendorong Embun hingga membuat tubuhnya membentur bagian mobil dengan begitu kuatnya.
"Akh!" Embun pun langsung merintih kesakitan, apa lagi ini? Baru saja dia mulai merasakan kebahagiaan, "Sakit."
"Thalia!"
Rendra yang terkejut di balut emosi itu pun sontak mencekik adiknya sendiri dengan sangat kuat, membuat sang adik sampai gelagapan hampir kehabisan napas.
__ADS_1
"Sayang apa yang kau lakukan, dia adik kandung mu sendiri... tolong hentikan," pinta Embun seraya menarik-narik tangan kuat yang tengah mencekik adiknya itu.
"Diam!" bentakan Rendra membuat sang istri tersentak kaget dan berkaca-kaca, "Kau lupa dengan apa yang ku katakan saat di ruangan ku, hah?!" pria itu menatap nyalang pada adiknya sendiri.
Dia benar-benar membuktikan perkataannya waktu itu, dia tak akan melepaskan siapapun yang berusaha untuk menyakiti istrinya, sekalipun itu adalah seorang wanita dan ini berlaku untuk Thalia juga.
"Jangan sekali-kali kau mencoba untuk menjadi seorang pahlawan, perempuan ini bukan anak kecil lagi. Sudah cukup aku mentoleransinya, sikapnya kali ini sangat kurang ajar terhadapmu dan kau masih ingin membelanya?!"
Embun diam sembari menggigit kecil bibir bawahnya.
Embun tak kuasa menahan air matanya, dia berlari masuk ke dalam sembari mengusap-ngusap air matanya.
Tak lama setelah Embun masuk ke dalam rumah, mobil hitam Alister pun memasuki pintu gerbang.
Alister tak sendirian, dia bersama dengan Manda. Mereka yang melihat tuan muda sedang mencekik nona muda kedua di rumah ini pun segera turun dari mobil, dan mendekat untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Tuan muda tolong hentikan, apa yang tuan lakukan? Nona Thalia bisa kehabisan napas, tuan," seru Alister yang juga berusaha sedang melerai.
"Akh!" akhirnya Thalia pun bisa lolos dari maut setelah sang kakak di bujuk oleh sektretaris Alister, "Hah... hah... hah..." napasnya saja begitu tersengal, Thalia meraba lehernya yang memerah.
"Alister kurung dia di ruang bawah tanah, dia harus tahu kedudukan Embun di hati dan di sisiku, jangan beri dia makan sebum dia menyesali perlakuan fatalnya!" tegas memerintah, dia pun langsung melangkah masuk ke dalam rumah menyusul istrinya ke dalam kamar.
Mendengar hukuman apa yang akan di jalani, malah membuat Thalia semakin membenci Embun.
Dia mendelik sebal saat melihat Alister menggerakkan tangannya' ke depan, "Silahkan nona, anda juga tahu di mana ruangan bawah tanah."
"Kau saja yang pergi, aku tidak ma - aaaaa!!!" tangannya di bekuk ke belakang oleh Alister, "Sakit, apa yang kau lakukan... cepat lepaskan aku, dasar kau sekretaris bodoh!"
Namun Alister tak peduli dengan ocehannya, dia mendorong Thalia ke arah Manda yang berdiri di sampingnya.
"Bawa dia ke ruangan bawah tanah."
__ADS_1