PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Lebih Dari Tenaga Mesin


__ADS_3

Usai mengobati Manda, dokter Haikal pun segera pamit undur diri.


"Lukamu sudah di obati," dia menuliskan resep obat untuknya, "Belilah obat ini dan dalam waktu tiga hari lukamu akan mengering."


"Benarkah?" Haikal mengangguk, "Terimakasih dokter Haikal karena sudah mengobati luka saya."


"Tak perlu sungkan, baiklah jika begitu saya permisi dulu."


Manda beranjak dari duduknya untuk mengantar Haikal ke depan, dia tak tahu jika ternyata Alister sedang duduk di gazebo dan memperhatikannya.


"Cih!" kepalan tangannya memukul tiang gazebo, sakit, tapi tak peduli.


Dia melihat senyuman manis itu terukir di bibir Manda, sebuah senyuman yang di tujukan untuk dokter Haikal.


"Berhenti tersenyum seperti itu, senyuman mu itu sangat jelek," nah loh, kan, sudah mulai haredang, (๑˙❥˙๑)


Haikal masuk ke dalam mobil dan melajukan nya dengan kecepatan sedang, dia mengklakson Manda, yang di balas anggukan gadis itu.


Senyumannya masih terukir jelas di bibir, "Masih punya tenaga untuk tersenyum?" celetuk panas dari Alister, membuat reaksi Manda menyipitkan kedua matanya tanpa menoleh ke sumber suara, senyumannya hilang.


Cih! Dengan pria lain mau tersenyum, tapi tidak denganku.

__ADS_1


Manda memutar bola matanya dengan jengah, hidung mancungnya mendengus kesal.


Dia menghadap ke tubuh Alister lalu memberikannya bow, "Selamat malam tuan, selamat istirahat."


Apa, hanya itu? Geram Alister, "Hm!"


Singkat dia menjawab dan langsung melangkah meninggalkan rumah ini, Sial, setidaknya tanyakan padaku mengenai keadaanku. Aku juga tadi, kan, bertarung untuk melindungi mu.


Sebelum Manda melangkahkan kakinya ke dalam rumah, dia berhenti di ambang pintu tanpa menatap punggung kekar Alister yang hampir menjauh darinya, "Hati-hati di jalan, Alister."


Pria itu tersenyum tipis, dia tak menjawabnya seolah tak mendengar tetapi dia cukup senang dengan perhatian yang diberikan Manda kepadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dia mengklakson beberapa penjaga yang ada di sekitar tempat itu, yang kemudian di balas anggukan kepala.


Begitu keluar dari pintu gerbang yang menjadi penghubung dengan jalan raya,


barulah dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Suasana nampak lengang meskipun kawasan rumah tuan muda berada di tengah kota, lampu-lampu di tepi jalan masih menyala terang benderang.

__ADS_1


Tak terlalu banyak aktifitas malam di sekitar tempat ini.


Menempuh hampir satu jam lamanya dari rumah tuan muda sampai ke apartemen pribadinya.


Hidup seorang diri dan hanya di temani kesepian, dia masuk ke dalam kamar.


Memperhatikan ke sekitar tempat yang selama tiga hari kebelakang ini telah di bersihkan Manda.


Siapa yang akan mengira jika dirinya akan membawa pulang seorang Manda, dan menghukumnya untuk membersihkan apartemennya yang besar ini.


Dia tersenyum saat mengingat bagaimana gadis itu memprotes dirinya, Alister sempat menyuruhnya mencuci pakaian kotor yang menumpuk hampir tiga keranjang.


"Cuci semua pakaian ini, dan tanpa menggunakan mesin cuci."


"Apa? Kau gila Alister, kau punya mesin cuci tapi kau tidak memperbolehkan ku untuk menggunakan -"


Manda pun sontak memundurkan langkahnya saat tatapan tajam Alister berubah jenaka, senyuman liar di bibirnya seolah telah siap menerkam gadis yang ada di hadapannya.


Semakin mundur, dan, "Emh," punggung Manda membentur tembok kokoh di belakangnya, "Ma - mau apa kau? Menyingkirlah," dia mendorong tubuh Alister namun pria itu malah mencengkeram tangannya.


"Kau bisa menggunakan tanganmu untuk melukai orang lain, bahkan sampai bisa melumpuhkan lawan... ku pikir, tenaga mu ini lebih kuat dari tenaga mesin, apa aku salah jika menyuruhmu mencuci semua pakaianku menggunakan tangan mu, hm?" Alister mendekatkan bibirnya ke telinga Manda, napasnya hangat membentur kulit.

__ADS_1


"Emh!" Manda memejamkan kedua matanya menahan sakit saat Alister menggigit telinganya.


__ADS_2