
pagi ini adalah pagi yang sulit bagiku.
karena kesalahan beberapa karyawan ku, diriku harus kembali mengurus berkas berkas yang ada.
Saat jam menunjukkan pukul 13:45, aku terbangun dari tidurku saat mendengar suara ketukan pintu.
TOK TOK TOK
"Permisi pak Rizki, apa anda ada di dalam?".tanya sekretarisku.
"Silahkan masuk, nadia". jawabku sambil mengelap wajahku dengan tisu basah.
"Ada apa Nadia, kenapa kamu kemari?, bukannya saya sudah bilang kosongkan jadwal saya dari jam 10 sampai jam 12".
tanyaku sambil mengambil beberapa berkas.
"bukan itu pak, tadi nyonya besar menelfon saya. beliau pesan untuk menelfon kembali kepada beliau".ucap wanita itu.
Saat aku membuka handphone ku ada sekitar 15 panggilan tak terjawab dari ibuku.
"ada hal penting apa yang ingin ibu bicarakan sampai menelfon sebanyak ini?".gumamku dalam hati.
"pak, kalau begitu saya keluar dulu, tapi apakah ada berkas yang mau bapak berikan kepada saya".tanya sekretarisku itu.
"eh, ada kira kira ada 12 berkas yang perlu kamu bantu saya, tapi tak perlu menyelesaikannya terlalu malam, saya beri kamu waktu 3 hari".ucapku pada sekretarisku itu.
__ADS_1
"tapi pak saya juga bisa menyelesaikan berkas ini hari ini juga jika anda mau". terang wanita itu.
"Tak perlu nad,lagi pula berkas itu juga harus di berikan Minggu depan". ucapku sambil memberikan berkas berkas itu padanya.
"kalau begitu saya keluar pak, jika bapak memerlukan sesuatu silahkan beritahu saya".ucap wanita itu sambil keluar dari ruanganku.
hampir 3 hari ini aku belum
berkomunikasi dengan Riri, wanita yang aku temui de supermarket beberapa hari lalu.
"halo mbak Riri, apa kabarmu hari ini".ucap ku sambil mengetik beberapa tugas.
"saya sehat kok mas, mas Rizki jikalau mas tak keberatan. saya akan hubungi lagi nanti sore, saya masih ada pasien yang harus ditangani". ucap wanita itu.
"Baiklah, saya tunggu ya mbak". jawabku
Saat tengah makan siang di kantin bersama temanku, angga dan Fathan.
"Woy, Lo kok ngelamun sih kawan. ada apa coba cerita".ucap Angga yang menepuk bahuku.
"Gua sepertinya sedang merasa takut kehilangan seseorang saat ini".jawabku merasa bosan.
"Apa Lo serius, Lo gak sedang jatuh cinta kan, riz?".tanya Fathan melotot sempurna melihat ku.
"kak Rizki!"
__ADS_1
Suara yang tak asing bagi diriku.
benar saja itu suara sahabat sekaligus jodohku di masa kecil, Renata Wira sandiputra.
sebenarnya selama ini aku menganggapnya sebagai adikku sendiri.
namun sebelum ibunya pergi, ibunya memberikan wasiat kepada keluargaku agar kelak dewasa nanti kami di nikahi.
"eh, bukannya studi kamu selesai tahun depan?". tanya ku penasaran.
"kak, kok kamu bisa lupa sih, beberapa bulan lagi kita akan menikah. ingatan kamu memang buruk ya".ujar wanita itu sembari mencubit pipiku.
teman temanku hanya tercengang melihat adegan itu.
"eh,maaf kak. aku lupa kalau masih ada teman teman kamu".ucap renata.
"oh ya, mas kenalin namaku Renata Wira sandiputra".ucap renata menjabat tangannya kepada Angga dan Fathan.
"woy, jadi cewek ini yang lo pikirkan dari tadi?, dasar Lo, riz. diam diam rupanya berbahaya".ucap Angga yang bangga dengan ku.
aku juga sudah tak menyukai Renata seperti dulu lagi. selama ini aku hanya menganggap dirinya sebagai seorang adik, tidak lebih tidak kurang.
***HMMM, SEBENARNYA AKU MASIH BINGUNG MAU NAMBAHIN ADEGAN SEXNYA ATAU NGAK.
TAPI AKU AKAN MENDATANG BERBAGAI MACAM MASALAH DALAM HUBUNGAN ANTARA RIZKI DAN RENATA..
__ADS_1
TOLONG DI DUKUNG YA***.