PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Jangan Coba Coba Mendua


__ADS_3

Suara burung berkicau terdengar di telinga Mely, Ia terbangun dari tidurnya. Pandangan matanya mengarah ke sebelah sisinya. Biasanya disitu ada Abas terlelap tidur bersamanya. Namun hari ini , dia tidak mendapati sosok abas di sampingnya.


"Kemana Abas," batinnya bertanya tanya, kemanakah gerangan sang suami. Mengapa tidak membangunkan dirinya.


"Tok tok tok"


"tok tok tok"


Tiba tiba terdengar dari dalam suara pintu kamarnya telah diketuk seseorang. "Siapa gerangan yang mengetuk kamar, jelas bukan suaminya. Untuk apa Abas mengetuk pintu untuk masuk kamarnya sendiri!" Sedari tadi ia berbicara pada dirinya sendiri.


Mely melangkah ke depan meja riasnya. Meja yang kini kacanya telah hancur berkeping keping karena pukulan Abas semalam. Ia menyisir semua lantai di depan meja tersebut. Mungkin ada serpihan kaca yang ia lewatkan..


Ia mengambil sisir, menyisir rambutnya yang panjang dan lurus itu. Matanya melirik karet gelang yang biasa Ia pakai untuk mengikat rambut, Ia langsung memungutnya. Mengikat rambutnya yang terkulai kebawah.


Perlahan kakinya melangka, ia membuka pintu kamarnya. Ternyata seorang pelanyan yang membawakan sebuah nampan yang berisi sarapan. "Maaf Nona, Nyonya besar berpesan untuk mengantar makanan ke ruangan Nona. Hari sudah siang dan Nona belum makan,"


"Em... Taruh di atas meja saja Bi, makasih ya," Mely memberikan senyuman kepada pelayan rumah tersebut. Setelah pelayan keluar dari kamar, Mely tak langsung menyantap makannya. Ia sudah tidak nafsu makan. Padahal baru kemarin ia ingin makan ini dan makan itu. Tapi setelah kejadian semalam. Nafsu makannya mendadak hilang seketika.


Ia sejak tadi mondar mandir di dalam kamarnya. Binggung mendera hatinya, Sekarang ia mau melakukan apa? Toh dia sudah tidak bekerja, mau masak? Para pelayan sudah memasak semua menu yang beraneka ragam, Mau ngepel? Lantai kamarnya yang semalam berantakan saja sudah bersih kinclong seperti ini.


Dia binggung harus apa, tidak ada kegiatan sama sekali. Mely pun merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Membuka cendela kamarnya, Ia memilih mematikan AC kamar. Mengantinya dengan udara yang menurutnya jauh lebih menyegarkan. Tidak butuh waktu yang lama, Mely kini telah terlelap kembali. Abas tiba tiba masuk ke dalam kamar. Ia mengemasi beberapa pakainnya.


"Mau kemana?" Mely bertanya pada suaminya, namun Abas sepertinya engan menjawab pertanyaan dari istrinya.


"Aku nanya, kamu mau kemana?" kali ini nada suaranya ia tinggikan.


"Aku mau ke luar Kota, urusan bisnis!" Ia menjawab dengan acuh, tidak memandang wajah Mely. Matanya tetap fokus pada Beberapa pakaian yang akan ia bawa.


"Sini, aku siapkan!" Mely mencoba menarik tas koper suaminya. Namun suaminya menolaknya dengan kasar.


"Tidak usah, aku bisa sendiri," Ia masih tidak memandang wajah Mely. Rasanya kedua mata Mely sudah berair. Mely tidak menyangka akan mendapat perlakuan yang dingin dari Abas. Ia hanya diam, membiarkan buliran air mata jatuh menetes dikedua pipinya. Semakin lama tangisnya semakin dalam. Ia sesengukan, menangis dalam diam.


"Mel, Mely...."


"Mel... Mely...."


"Mel,.. Sayang... Bangun Mel!"


Abas membangunkan istrinya yang tertidur seharian. Mely membukan kedua matanya. Ia mengosok matanya yang kini telah basah.

__ADS_1


"Ah mimpi apa itu tadi!" Ia masih tak memandang suaminya yang duduk dihadapannya. Ia masih tampak berpikir, tentang mimpi yang barusan ia alami, yang membuatnya menangis dalam tidurnya.


"Kamu mimpi apa sayang sampek nangis gitu?" Abas ingin mengoda istrinya. Ia mengusap kedua mata Mely. Abas menarik tubuh Mely kedalam pelukannya. Ia mengusap rambut Mely dengan pelan.


Mely yang baru bangun tidur, kesadarannya masih belum pulih. Ia masih kelihatan binggung. Abas mengalihkan perhatiannya pada nampan yang ada di meja kamar.


"Kok masih utuh, belum makan?" tanyanya sembari memeriksa isi nampan itu.


Mely hanya mengeleng kepalanya, Ia memang belum makan. Nafsu makannya kan sudah hilang akibat peristiwa semalam. Karena tidak memiliki kegiatan, akhirnya ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. eh.. malah ia ketiduran cukup lama. Membuat ia bermimpi yang bukan bukan.


Melihat tangan Abas memakai perban, Mely menghampiri suaminya. "Masih sakit?" tanyanya.


"Gak sama sekali, Ini gak berasa sakit. Lebih sakit kalo kamu cuekin aku!" Abas menjawab pertanyaan Mely dan tidak lupa memasang muka melasnya. Ia ingin Mely tahu bahwa Ia telah menyesal.


Mely yang memang masih kesel, jadi tambah kesel. Gombalan Abas tidak akan mempan kali ini. Ia berjalan mundur menjauhi suaminya. Ia berencana akan membuat perhitungan bagi abas yang mulai main hati.


Melihat Mely tidak mengubrisnya, Abas ikut menyusul langkah Mely. Ia mengekori kemana saja Mely pergi.


"Udah sana aku mau Mandi," perintah Mely dengan mengibaskan tangannya. Ia jenuh dari tadi Abas mengekori dirinya.


"Aku juga gerah, pulang kerja nih. Aku juga mau mandi!" Abas mencari cari alasan.


"Mau kemana?" Abas mencegah langkah Mely. Ia sudah memeluk istrinya dari belakang.


"Aku mau ambil minum!" Mely memberikan jawaban sekenanya. Ia belum siap dengan serangan Abas.


"Kamu tidak sedang menghindariku kan?" Ia menatap mata Mely dengan tajam.


Kemana keberanian Mely semalam, mengapa saat ini ia takut sekali dengan tatapan mata suaminya. Apakah ini wajah sesunguhnya sang suami? dikepalanya bermunculan banyak pertanyaan.


"Mely...!" Abas sampai meneriakkan namanya, karena Mely terlihat melamun. Bukannya menjawab pertanyaan Abas barusan.


"Untuk apa aku menjauhimu!" Bantah Mely dengan spontan dan tegas.


"Oh.. aku kira kamu akan menghindariku, dari tadi Aku pulang sampai sekarang tatapannya matamu kosong, sebenarnya apa yang ada dalam kepala yang kecil ini?" Abas menyentuh kepala Mely.


Ia melepaskan pelukannya, kini ia memutar tubuh istrinya. Kali ini keduanya bertatap mata. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir keduanya. Merekan saling menatap cukup lama. Tatapan itu akhirnya berakhir karena Mely mengeluarkan bulir air matanya. Abas merasa jadi sangat bersalah.


"Katakan semua yang ingin kamu katakan, tanyakan semua yang ingin kamu ketahui. Jangan di simpan dihatimu yang kecil ini. Aku takut, jika terlalu lama kamu memendamnya. Lama lama kita akan meledak bersama. Hancur tidak bersisa!"

__ADS_1


Kali ini Abas dengan pikiran jernihnya ingin mencoba memperbaiki kesalahannya, dimulai dari kejujuran hati Mely. Ia harus mengungkapkan apa yang dirasanya.


"Siapa Wanita itu?" Mely memeberanikan diri bertanya, meski bila ia tahu jawabannya pasti akan sakit. Namun semua orang pasti punya Masa lalu. Ia berusaha bersikap sedewasa mungkin kali ini.


"Evi, Mantan kekasihku dulu!" Abas menjawabnya dengan nafas berat.


"Boleh aku tahu, alasan kalian putus?" ia ingin mencari tahu, mengorek sedikit masa lalu sang suami.


"Aku sendiri tidak tahu, tidak ada kata putus dalam hubungan kami. Dia meninggalkan aku begitu saja tepat di Hari pernikahan kami" terang Abas, dan sepertinya itu masih menyisihkan luka dihatinya.


"Apa kamu masih mencintai Wanita itu?"


Mely harap harap cemas menanti jawaban dari suaminya.


"Jujur, kemarin aku selalu kepikiran dirinya. Namun setelah aku merenunginya. Aku hanya penasaran. Alasan dia meninggalkan ku"


Mely tidak merespon jawaban Abas. Ia ingin jawaban tidak, namun jawaban Abas membuatnya bimbang. Antara iya dan tidak.


Jika tidak ada rasa untuk apa penasaran? Ia tidak bisa mengartikan jawaban.


"Kamu masih mencintainya"


Air mata Mely sudah tidak terbendung lagi. Ia tidak lagi menangis dalam diam seperti dalam mimpi nya.


Mely menangis sekencang kencangnya,


ia meluapkan semua rasanya lewat tangisan. Kedua tangannya memukul dada Abas.


Abas hanya diam menerima pukulan dari Mely.


"Kamu pria jahat, jahat banget!"


Tiba tiba tangannya berhenti memukul dada Abas. Bibirnya juga sudah berhenti mengumpati Suaminya. Abas sudah menutup bibir mungil itu dengan bibirnya. Abas mencium Mely dengan lembut. Makin lama semakin dalam.


Tangan Abas kini meremas jari jari tangan istrinya, keduanya tengelam dalam hasrat yang mulai terbakar. Mely dapat mendengar dengan jelas detak jantung Abas yang menempel pada tubuhnya.


Mely percaya, Abas hanya mencintainya. Ia mulai yakin, perasaan abas kemarin hanya sebuah perasaan penasaran. Ia berharap rasa itu hilang dengan sendirinya. Mely tidak sanggup jika berbagi hati dengan Wanita lainnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2