
Suasana di kamar pasien tempat Mely dirawat mulai memanas. Abas nampak marah dengan keputusan sang istri yang ingin pulang ke rumah orang tuanya. Bagaimana bisa seorang perempuan yang sudah menikah meningalkan suaminya, Ia memilih tinggal bersama kedua orang tuanya demi lari dari masalah. Abas sangat kecewa dengan sikap Mely saat ini.
Melihat aura yang dipancarkan Abas suaminya, Mely semakin merasa ketakutan ketika bersamanya. Ia takut jika Abas yang hangat padanya akan menjadi dingin, seperti sebelum Ia dekat dengan Pria itu. Bayangan masa lalu mereka yang kelam terlintas di benak Mely. Bagaimana bila Abas akan memperlakukannya dengan kasar sama seperti pertama kali bertemu.
Beragam prasangka tercipta dalam benakknya, Ia terlalu berburuk sangka kepada suaminya sendiri. Kenyataannya, Abas tidak ingin kehilangan dirinya. Cukup ia kehilangan calon bayi mereka. Namun Mely malah mencoba membuat masalah baru. Membuat pria itu terpancing dan marah.
Pada akhirnya, Mely tetap harus pulang bersama suaminya. Hanya saja kali ini mereka kembali tinggal di Apartmen milik Abas. Setelah keluar dari Rumah sakit Mely dan Abas sepakat untuk tinggal berdua saja, pasca kecelakaan yang menimpa Mely, sikap Mama mertua sedikit berbeda. Mama yang hangat berubah pendiam dan menjadi dingin. Mungkin Ia masih kecewa karena kehilangan calon cucunya.
Tidak ingin Mely merasa tak nyaman, Abas pun memutuskan lebih baik tinggal berdua saja. Abas dan Mely berusaha menata hati mereka kembali. Dua hati yang mulai hancur dan remuk mulai mereka bangun kembali. Berharap hari hari yang akan datang lebih indah untuk mereka berdua.
Sudah seminggu sejak kepulangan Mely dari Rumah Sakit. Ia menghabiskan waktu seharian di Apartmen, tanpa punya kegiatan apapun. Abas bekerja seperti biasa, Ia berangkat pagi dan pulang sore harinya. Mereka mungkin sudah tinggal bersama lagi, tapi perasaan keduanya sudah tidak seperti sebelumnya.
Tidak ada tawa Mely yang selalu menghiasi keseharian Abas, istrinya kini banyak merenung setiap hari. Pernah suatu kali, ketika Abas baru pulang kerja. Ia dapati Mely sedang melamun dengan api yang menyala di atas kompor. Bau gosong tidak mampu menyadarkan Mely dari lamunannya.
Sempat terpikirkan dalam benak Abas, untuk pergi ke Psikiater. Ingatannya langsung tertuju pada sahabatnya, Dokter Fany. Malam ini saat Ia pulang kerja, Abas akan mencoba mengajak Mely menemui temannya itu.
Abas kini mengendarai mobilnya sendiri, mobilnya melaju dengan kencang menuju tempat tinggalnya. Sudah lama Ia pergi kemana mana tanpa Fadir, sekertarisnya. Sejak memutuskan kembali tinggal di Apartmen, Ia memilih menyetir sendiri.
Setelah sampai, Ia memarkir sendiri mobilnya. Wajahnya nampak lelah, mungkin karena seharian kerja. Hari ini, Abas pulang telat. Aba banyak berkas yang harus Ia periksa. Abas yang lelah, berjalan menuju lemari pendingin. Ia mengambil air mineral Dan menuangkannya ke dalam gelas yang ada di atas meja.
Matanya menelusuri semua ruangan, tidak ada tanda tanda keberapa sang istri. Setelah selesai menghilangkan dahaganya Ia berjalan memeriksa setiap sudut ruangan.
__ADS_1
"Mely... Mel, aku pulang!" teriak Abas.
Mely tak kunjung menampakkan diri, Abas pun terus mencari. Ia mencoba menelepon handphon Mely. Namun handphonenya ada di atas meja depan televisi. Abas mulai kuatir, dimanakah sang istri.
"Sayang, jangan bercanda. Kamu dimana!"
Kali ini ucapan Abas lebih kalem dan pelan, seakan membujuk Mely untuk keluar dari persembunyiannya. Karena tidak mendapat respon, kesabaran Abas pun akhirnya habis juga.
"Mel, keluar kamu! Jangan keterlaluan!"
Abas mulai kesal, pulang kerja tidak mendapati istrinya di dalam rumah yang menyambut kedatangannya. Abas melangkah lebih cepat, hampir semua pintu Ia buka. Bahkan lemari pakaian yang berukuran sangat besar pun Ia buka. Namun Ia tak kunjung menemukan istrinya.
"Mely, buka pintunya!" teriak Abas dengan nada yang sedikit cemas. Amarahnya yg semula ada, kini hilang berganti rasa cemas akan kondisi istrinya.
"Sayang, tolong buka pintunya!" Abas memohon pada Mely, namun di balik pintu tidak ada tangapan. Abas kini mengambil ancang ancang, Ia akan mendobrak pintu kamarnya.
Brakkkkkkk
Pintu kamar mandi pun rusak akibat tendangan yang keras dari Abas. Alangkah terkejutnya hati Abas. Ia mendapati tubuh Mely hampir tengelam dalam bathtub. Keran air masih menyala, membuat genangan dimana mana. Abas yang panik langsung membopong tubuh istrinya. Ia meletakkan tubuh Mely di atas sofa, beberapa kali Ia memangil nama istrinya. Namun tidak mendapat respon sama sekali.
"Sayang, bangun sayang!" ucap Abas.
__ADS_1
Mely masih menutup kedua matanya, bibirnya mulai membiru. Mengingat Mely barusan hampir tengelam di dalam bathtub, Abas mencoba memberi napas buatan. Ia pun beberapa kali menekan perut istrinya. Percobaan pertama tidak membuahkan hasil, Abas mencobanya berkali kali. Hinga nampak air yang keluar dari bibir istrinya. Mely mulai terbatuk disertai air yang keluar dari mulutnya, Matanya separuh terbuka. Bayangan wajah Abas nampak samar di mata Mely, pandangannya masih sedikit kabur. Melihat istrinya telah sadar, Abas memeluk erat tubuh wanita yang paling Ia cintai.
"Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku Mel, Kamu harus tetap bersamaku. Jika kamu ingin mati! Mari.. kita akhiri bersama," bisik Abas lirih di telingga istrinya.
Perasaan Abas saat ini sama seperti perasaan Mely, rasa kehilangan yang mereka alami membuat gairah hidup mereka seakan sirna. Rasanya Ia ingin menyerah saja. Tapi Abas yakin, Semuanya akan segera berlalu. Biarkan waktu yang menyembuhkan luka di hatinya dan hati Mely, wanita yang Ia cintai sepenuh hati.
Namun, harapannya seakan sirna. Semua seakan hancur berkeping keping, saat Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Mely ingin mengakhiri hidupnya dengan menengelamkan diri. Mely memilih meningalakan dirinya untuk yang kedua kali.
Kini, Ia telah memeluk tubuh Mely yang telah basah. Istrinya pun telah sadar, tapi Mely hanya diam. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya. Namun setelah Abas membisikkan sebuah kalimat, Mely mulai bereaksi. Sebuah kalimat permohonan untuk ikut mati bersama dirinya. Kalimat tersebut seakan menusuk hatinya. Mely perlahan membalas pelukan suaminya. Ia menangis lama dalam dekapan Abas.
Abas sendiri tidak bisa membendung air yang memaksa keluar dari matanya. Setelah pelukan yang cukup lama, Abas melepas tubuh Mely dari dadanya yang bidang. Ditatapnya wajah Mely yang merah dengan mata yang sembab.
Ia mengusap air mata kekasihnya itu, dengan lembut Ia membelai rambut Mely yang basah kuyup. Ia mengecup kening Mely. Rasanya Ia tidak sanggup jika harus berpisah. Abas mengecup kening istrinya berkali kali. Setelah puas memberikan banyak kecupan untuk sang istri. Abas mengendong Mely ke kamar. Ia menyiapkan pakaian ganti untuk istrinya.
Mely meraih pakaian ganti yang di ulurkan suaminya. Saat Mely akan meraih pakaiannya, Abas malah menarik tubuhnya. Membuat Mely oleng dan jatuh dalam pelukan Abas lagi. Abas langsung membisikkan sesuatu ke telinga Mely.
"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan diriku, ke neraka sekalipun akan ku kejar!"
Mata Mely menatap tajam ke arah suaminya, begitu pula Abas. Ia juga memberikan tatapan yang penuh ancaman untuk istrinya.
Bersambung
__ADS_1