
Perlahan gadis itu membuka kedua matanya, saat tersadar dirinya sudah berada di dekapan Alister.
"Emh," masih merasa pusing, tapi sesuatu yang genting mengejutkannya, "Nona muda, kita harus segera memberitahukannya."
"Maka cepatlah bangun, tubuhmu ini berat tapi masih tak tahu diri... apakah karena kau merasa nyaman berada di pangkuan ku?"
"Sial! Enak saja."
Manda bergegas beranjak dari pria itu dan berlari menuju kolam renang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rendra masih berbincang hangat dengan istrinya, beberapa detik kemudian dia memberi segelas jus kepada Embun untuk bersulang minuman.
Baru saja pinggiran gelas itu menempel di bibir Embun, "Nona jangan meminumnya!" seru Manda membuat keduanya kaget, gadis itu menepis gelas sloki yang ada di tangan Embun hingga jatuh dan pecah mengenai lantai.
Napasnya tersengal, sesaat dia diam untuk mengatur napasnya agar bisa seirama dengan detak jantungnya.
"Yun, apa-apaan kau ini, hah?!" pekik Rendra meradang.
"Pak Li menaruh racun di dalam makanan dan minuman nona."
"Apa?"
Suasananya menegang, Rendra tak percaya jika pak Li yang begitu dekat dengannya sampai setega itu.
__ADS_1
"Omong kosong!" Rendra bahkan sampai mendorong Manda, beruntung Alister tiba dan menopang tubuhnya dari belakang.
"Apa yang dia katakan itu memang benar, tuan..." imbuh Alister menimpali.
"Lalu dimana pak Li sekarang? Dia harus menjelaskan semuanya kepadaku."
"Tak ada yang perlu di jelaskan lagi tuan, karena orang itu sudah tenang di Neraka."
"Alister apa maksudmu?" seru Embun dengan raut wajah yang tak percaya, "Kalian ini sebenarnya kenapa? Dan, dan mengapa wajahmu terluka, Yun?"
"Manda, bawa nona masuk ke dalam... aku yang akan menjelaskannya kepada tuan muda."
"Emh, baiklah..."
Namun, baru saja Manda mau menyentuh nona muda Embun, terlebih dahulu Rendra mengancamnya.
Tetapi Manda tak menggubrisnya, "Ayo, nona," sentuhannya di tangan Embun membuat Rendra meradang.
"Hei!"
Tangan Rendra mencoba untuk meraih tangan Manda, namun Alister dengan gesit menghentikannya.
"Percayalah tuan, saya bisa membuktikannya," seru Alister dengan sorot mata yang meyakinkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Untuk membuktikannya kedua pria itu pun melangkah menuju halaman samping rumah, tempat tubuh pak Li tergeletak di sana.
"Lihatlah tuan, saya tidak berbohong... dan pak Li jugalah yang menjadi dalang dari kematian taun dan nyonya besar."
Seklera mata Rendra memerah, memperlihatkan urat dan otot-otot wajahnya.
"Siapapun yang terlibat dengannya," diam sejenak akibat emosi yang hanya sesaat saja" Habisi mereka!"
"Baik, tuan."
Rendra masih merasa cemas, "Hubungi dokter Haikal, aku ingin dia memeriksa kondisi nona muda mu."
"Akan segera saya hubungi, tuan, setelah itu saya akan mengurus mayat pak tua ini -"
"Buang saja ke lubang buaya, tak perlu membuatkan persitirahatan untuknya."
Tuan muda memang gila, siapapun yang berusaha melukai nona muda... maka dia akan benar-benar melenyapkannya.
"Hubungi orang-orang mu untuk segera membawanya, dan panggil satuan medis ke rumah ini untuk menyeterilkan seluruh rumah dan halaman. Apapun yang pernah disentuhnya semua harus di sterilkan."
Sepertinya pekerjaan Alister akan semakin bertambah, tetapi mau bagaimana lagi? Memang itu sudah menjadi tugasnya sebagai seorang sekretaris.
Dimana tuan muda sibuk ngebucin, maka saat itu jugalah sang sekretaris menderita (っ˘̩╭╮˘̩)っ
Sementara itu di ruang keluarga masih ada Embun dan Manda yang duduk dengan cemas.
__ADS_1
"Yun?"
"Nama saya bukan Yun, nona... itu hanya nama samaran saja, mulai sekarang nona bisa memanggil saya dengan nama asli, Manda."