PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Chapter 124 Luka Masa Lalu


__ADS_3

Wara Wiri mereka naik turun anak tangga demi menjalankan perintah sang tuan muda, begitupun juga dengan Manda.


Dia membawa sebuah kotak Pandora, menuruni anak tangga dengan hati-hati. Kotak Pandora yang berharga milik tuan muda, tak boleh lecet apa lagi sampai terjatuh.


Dengan penuh kehati-hatian dia menuruni satu persatu anak tangga hingga akhirnya sampai di anak tangga yang terakhir, sial sekali kakinya tersandung membuatnya hampir terjatuh.


"Aaaaa!!"


Seperti si angin cepat yang menyambar tubuh gadis itu, Alister meraih pinggang rampingnya mencoba untuk menahan tubuh itu agar tidak jatuh di atas lantai.


Kotak Pandora yang tadi ia pegang, melambung ke atas membuat Manda mendelik terkejut, "Kotaknya," dia mendorong Alister untuk menjauh dan segera berpijak di atas kedua kakinya dengan tegap, sigap dia meraih kotak Pandora dengan kedua tangannya sebelum jatuh ke lantai.


"Aigo..." huh, Manda menghela napas lega sembari mengelus dada, dia lupa jika pria yang baru saja di dorongnya itu telah terduduk di atas lantai.


"Hei kau!"


Manda menoleh ke sumber suara, "Omo! Anda tidak apa-apa?"


"Perih! Sekarang bagaimana caramu untuk bertanggung jawab, hah?" Alister mengulurkan tangan ke arah Manda.


Gadis itu mengira Alister akan menghukumnya, jadi Manda pun langsung memberikannya bow, "Maafkan saya tuan, tolong maafkan saya," cus langsung pergi.

__ADS_1


ಥ‿ಥ•́ Sabar ya Alister, gadis itu hanya gugup saja karena berada di dekatmu, mengingat kau yang pernah mendaratkan bibirmu di bibirnya mungkin itu yang membuatnya canggung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu yang di tentukan oleh Rendra pun berkahir, semuanya berjalan sesuai dengan keinginannya.


Kini kamar tamu ada di lantai dua, dan kamar utama ada di lantai satu.


Usai makan malam sepasang suami istri itu sudah berada di dalam kamar, Rendra mulai usil.


Tangannya bergerak menurunkan tali piyama Embun.



"Menurutmu?"


"Sayang, aku bertanya dengan serius."



Perlahan dan hati-hati Rendra membaringkan tubuh Embun di bawah kungkungannya.

__ADS_1


"Dari mana kau mendapatkan luka di punggungmu? Katakan padaku sayang, aku akan mencari orang itu sampai ketemu... dan menggantungnya di hadapanmu."



"Aaa!! Sayang sakit, jangan menggigitku terlalu kuat -"


"Karena kau tak menjawab pertanyaannku, maka dari itu aku menggigit mu."


Embun diam saja tak ingin menjawab, kenangan masa lalu mulai menggelitiknya.


Dia hanya mengernyit menahan sakit saat Rendra kembali menggigitnya.


"Katakan, jangan diam saja... telinga dan mulutmu masih berfungsi, kan?"


"Hanya luka di masa lalu, sayang, sudah ya jangan membahasnya lag -"


Tangan Rendra spontan menutup mulut Embun, dia menatap dengan emosi, "Bukankah aku sudah mengatakannya? Tak ada seorangpun yang boleh menyakitimu, itu berlaku untuk setelah kau menjadi istriku... yang artinya, seluruh kehidupanmu di masa lalu juga terkait denganku."


Embun meraih tangan Rendra untuk menjauhkan dari mulutnya, "Terima kasih untuk semua cinta yang kau berikan untukku, aku bahkan tak pernah menyangka jika hidupku akan menjadi begitu berarti untuk pria seperti dirimu."


Dengan lembut dia membelai wajah tampan yang sedang ia tatap itu, "Luka ini aku dapatkan saat masih kecil, ibu melarang ku bermain tetapi aku tak mendengarkannya dengan baik dan Tuhan menghukum ku, karena itulah aku terjatuh..." Rendra tak percaya lalu dengan cepat Embun mengalungkan kedua tangannya di leher Rendra, "Percayalah, aku tak pernah berbohong padamu."

__ADS_1


"Awas kalau aku tahu semua itu bohong dan kau yang sedang mencoba menyembunyikan sesuatu."


__ADS_2