PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Kembalinya Kucing Jinakku


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Mely. Karena hari ini suaminya telah kembali menatapnya. Ia rindu dengan tatapan mata itu, tatapan yang mengatakan betapa aku mencintai dirimu. Mely membelai rambut kekasih hatinya. Ia mengusap lembut kening suaminya, kening yang saat ini penuh dengan luka yang membiru. Entah terhantam benda apa saja tubuh suaminya itu.


Abas masih tidak banyak bicara, ia hanya mengangguk saat Mely mengajakknya berbicara dan sedikit meringis jika tubuhnya tidak sengaja tersentuh oleh istrinya. Mely merawat Abas dengan tekun dan sabar.


Sudah satu bulan lebih mereka berada di rumah sakit. Abas masih belum bisa berjalan, Ia masih terbaring di atas tempat tidur. Disamping dirinya ada Mely yang sedang tertidur. Terlihat sekali wajah lelah mely yang merawatnya selama ini. Mely yang tertidur sambil duduk dan meletakkan kepalanya di pingiran ranjang Abas. Dengan perlahan ia menyingkap beberapa helai poni yang menutupi wajah Mely.


Abas berusaha mendekatkan wajahnya ke arah Mely, namun baru beberapa gerakna ia sudah merasakan sedikit nyeri disekujur tubuhnya. Merasa ada gerakan disekitarnya mely langsung terbangun. "Maaf aku ketiduran, ada apa sayang, mau minum?" tanya Mely, ia berusaha untuk bangkit dari duduknya, namun Abas memegangi tangannya.


"Jangan kemana mana, tetaplah disini bersamaku!" pinta Abas, ada nada sendu yang terdengar dari ucapannya. Semacam permohonan dari kekasih yang tidak ingin ditinggal pergi. Mungkin Ia merasa sedih, melihat Mely saat ini yang terlihat sangat lelah. Ia seperti tidak berdaya, tidak bisa melakukan apapun. "Mau Mandi?" yanya Mely dengan tiba-tiba membuat Abas yang semula murung berubah raut wajahnya. Sudah beberapa hari ini Abas hanya dibasuh dengan air hangat diatas ranjangnya.


"Gak usah, gerak sedikit masih sakit semua," Ia menampakkan wajah melasnya kepada Mely. "Duduk disitu, nanti aku yang mandiin!" Mely mengarahkan ujung jarinya ke sebuah kursi roda di sudut ruangan. Abas walaupun sedang sakit sepertinya hanya jasmaninya yang sakit, jiwanya masih sehat walafiat. ah dasar kucing... pikir Mely setelah sekilas melihat sorot mata suaminya.


Mely dengan hati hati menuntun suaminya untuk pindah dikursi roda, dengan telaten ia merawat Abas. Ia mendorong kursi Abas menuju kamar mandi. Mely menyuruh Abas untuk disana sebentar, ia kembali keluar mengambil pakaian ganti suaminya. Ruang rawat inap Abas tergolong sangat mewah. Mama sendirilah yang mengurus semuanya. Ruang kamar rumah sakit kelas utama, seperti kamar hotel bintang lima.


Mely berjalan kembali menuju kamar mandi, dilihatnya Abas sudah melepaskan pakaian yang menutupi dada bidangnya. Walau masih terlihat jelas bekas lukanya. Namun semuanya hanya tinggal goresan. Pengobatan disini membuat Mely takjub. Menurutnya penyembuhan disini cenderung lebih cepat dan ia sangat bersyukur. Akhirnya Ia dan Abas akan segera cepat pulang, jika Abas terus membaik seperti saat ini.


Sebenarnya, cepatnya penyembuhan Abas karena laki laki itu tidak mau melihat Wanitanya terus bersedih ketika menatap keadaanya. Abas berkeinginan sembuh karena ia tidak ingin Mely menderita. Ia ingin membahagiakan istrinya, memanjakannya seperti hari hari sebelumnya. Ia memiliki tekad yang kuat untuk sembuh seperti sedia kala.


Ketika Mely akan meletakkan pakaian Abas di meja yang terletak di sudut ruangan, Abas mencoba untuk berdiri dengan kedua kakinya. Pada saat Mely berjalan menuju ke arahnya. Mely tercengang, suaminya bisa berdiri sendiri. Abas terlihat berpegangan pada tembok yang ada disebelahnya. Mely langsung berlari. Ia memeluk sang suami, ribuan syukur yang dia ucapkan. Akhirnya suaminya akan sembuh seperti sedia kala.

__ADS_1


Usai drama mengharu biru karena Abas kini bisa berdiri, Mely mulai menuntun Abas untuk berada tepat dibawah shower. Akan lebih mudah karena kini tidak butuh kursi roda. "Beneran bisa berdiri? Aku ambilin tongkat ya," Mely masih merasa cemas dengan kondisi Abas. "Tidak usah, beberapa malam ini aku sudah berlatih, Aku ingin segera cepat berjalan. Ingin segerah pulih, dan Aku juga ingin segera pulang bersamamu," ucap Abas.


Beberapa malam yang lalu, Abas Memang nampak mencoba dengan keras berdiri. Ia belajar berdiri tanpa Mely ketahui, ia ingin memberikan kejutan manis untuk sang istri. Ia tidak ingin membuat Mely terus terusan menangis karena dirinya, ia hanya ingin membuat Mely bahagia karena dirinya.


Mely yang cemas perlahan merasa lega, karena abas sudah terlihat luwes dalam berjalan ketika ia mencontohkan di hadapan Mely secara langsung. Abas ingin membuktikan pada Mely bahwa ia benar benar bisa berdiri dan berjalan. Walau sedikit terbatas dan tidak seperti biasanya.


Mely membantu Abas untuk membersihkan tubuhnya, ia mengosok seluruh tubuh suaminya, tidak ada rasa malu diantara keduanya. Ketika sakit, rasa semua malu pergi entah kemana rimbanya. Untuk memecah kesunyian, Abas mulai mengeluarkan suara.


"Kamu pasti capek banget selama ini ngurus Aku mel?" tiba tiba Abas mengatakan hal seperti itu, membuat hati Mely tersentuh.


"Gak, gak capek kok. Kamu selamat Aku sudah bersyukur, Aku gak bisa bayangin hidup tanpa kamu!" tidak terasa air mata Mely menetes. Ingatannya kembali pada saat kejadian itu. Sebuah ingatan yang dipenuhi dengan mimpi buruk baginya.


Abas perlahan melepaskan pelukannya, ia menatap mata Mely dengan dalam. Mely yang mendapat tatapan dari Abas, entah mengapa jantungnya berdebar debar. ia berbicara pada hatinya. "Kita bahkan sudah berbulan bulan menikah, tapi mengapa... perasaan ini, mengapa Aku mendadak canggung begini. Dia suamiku yang sangat aku cintai. Ada apa denganku... aku seperti jatuh hati padanya lagi dan lagi... ah," suara hatinya terus terngiang ngiang ditelinganya.


Abas mulai menyudutkannya, Mely reflek mundur sedikit. Tangannya mengenai kran shower. Jadilah shower yang semula dimatikan kini menyala kembali. Membasahi tubuh mereka berdua. Tanpa mereka sadari keduanya sama sama tertawa. Teringat kejadian dimasa lalu. Takdir buruk yang justru menjadikan mereka bersatu.


Namun beberapa saat kemudian, Abas menyudahi tawanya, ia berjalan mendekati Mely. Mely mematung sejenak ketika bibir abas mendarat di bibirnya. Abas merasa kelembutan bibir istrinya. Ia tersenyum getir. Mengingat kejadian kemarin, Harusnya bulan madu yang mereka jalani. Tapi mereka malah berakhir di rumah sakit selama sebulan lebih.


Bulan madu yang manis berakhir tragis. Namun selalu ada hikmah disetiap kejadian. Abas merasa bersyukur, karena selama ini mely ada untuknya 24 jam non stop. Abas melanjutkan ciumannya. Dengan lembut dan semakin dalam.

__ADS_1


Namun kegiatan mereka terusik karena ada yang mengetuk pintu kamar mereka. Abas mengendus kesal. Mely yang melihat itu sangat senang, Akhirnya suaminya yg dulu telah kembali. ia menciumi pipi abas Kanan Kiri, ia menciumi kening bekas Luka yang sudah mulai hilang. Ia mencium alis dan Mata suaminya. Mely tidak tahu, tindakannya bisa memancing kerusuhan.


Abas mulai jengkel, karena pintunya masih diketuk berkali Kali. Selesai menciumi seluruh wajah Abas, Mely hendak keluar. Ia akan melihat keluar. Mungkin itu Mama mertua. Karena ini adalah jadwal Mama berkunjung, Mama selalu kerumah sakit seminggu sekali. Ia tidak bisa bersama Abas seperti Mely setiap hari karena Mama Wanita yang sangat sibuk. Apa lagi semenjak abas dirawat, semua pekerjaan Mama yang membereskan.


"Bentar ya sayang, aku buka pintu!" ucap Mely seraya berjalan melewati Abas.


"Biarkan saja, kita selesaikan urusan Kita dulu!" Abas melihat Mely dengan sorot mata seakan akan memangsanya.


"Eh, sabar ya. kamu belum pulih betul. Aku g mau nanti kenapa kenapa. Nanti malah salah otot," ucapan Mely sontak membuat Abas memalingkan wajahnya. Ada tawa yang sengaja ia sembunyikan.


"Kamu ragu denganku Mel?" tantang Abas.


"Engak, engak... ya ampun apa sih. ah kumat jahilnya. aku seratus persen percaya sama kejantannanmu. Tapi ngak sekarang, momennya kurang pas. Aku takut kamu kenapa kenapa," Mely berusaha memberikan alasan sebaik mungkin. Agar Abas mundur teratur.


Namanya juga Abas. Ia laki laki dengan kemauan keras, tidak ingin mendengar Mely mengeluarkan banyak alasan. Abas langsung menciumi istrinya kembali. Mely sampai jejeritan karena tangan Abas yang nakal.


Ini adalah akhir dari bulan madu mereka.


Bulan madu yang panas dibawah guyuran air yang deras.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2