
Hanya terdengar suara gemresik angin yang menerpa ranting pohon di luar rumah, sedangkan suasana di dalam kamar Mika terasa terasa sunyi dan senyap. Dua insan muda mudi itu kini sama-sama terdiam. Membisu tanpa suara, selepas kepergian Miko yang hampir memergoki aksi keduanya, saat ini baik Mika maupun Nathan mencoba lebih tenang. Sunyi tanpa suara yang keluar dari bibir keduanya.
Mika dan Nathan sama-sama tidak ingin ketahuan. Gadis muda itu, saat ini masih memperhatikan pria yang telah menyerang dirinya. Dengan perasaan campur aduk ia menerka, apa sebenarnya mau Nathan. Apa yang Nathan inginkan dari dirinya?
Nathan yang mendapat tatapan penuh selidik dari gadis yang ia incar, hanya bisa tersenyum licik. Kali ini ia kembali mendekat ke arah Mika. Hanya saja ia terlihat melemah, Nathan yang semula garang. Kini menjadi sosok laki laki yang berbeda. Ia seperti memiliki dua sisi yang tidak sama. Nathan mungkin mengidap suatu kelainan jiwa. Sebuah ganguan kejiwaan, sejenis bipolar.
Dengan dramatis pria muda itu berlutut di hadapan Mika, sembari mengeluarkan jurus buayanya. Nathan benar-benar seperti romeo dadakan. Tingkahnya saat ini membuat Mika tertegun menyaksikan tingkah lakunya.
"Maaf Mika, aku tadi tidak bisa mengontrol diriku," Nathan mengengam kedua tangan Mika. Diciumnya jari jemari Mika yang nampak lentik, dengan kuku-kuku yang bermandikan taburan swarovski yang berkilauan.
Mika tak bergeming, ia masih marah atas tindakan yang dilakukan Nathan padanya. Gadis muda itu berjibaku dengan pikirannya, Ada apa gerangan, mengapa Nathan cepat sekali berubah ubah?
"Mika," panggil Nathan, karena Mika tidak merespon permintaan maaf darinya. Sekali lagi Nathan mencoba melancarkan rayuanya. Ia merogoh saku celananya. Di carinya sesuatu dari balik sana.
Nathan mengeluarkan sebuah cincin, bukan hanya satu buah. Namun sebuah cincin pasangan. Cincin pasangan yang terukir nama Mika dan nama Nathan di bagian dalamnya.
"Aku, langsung kesini setelah tahu kamu sudah pulang. Aku menyiapkannya sudah lama. Dan maaf, untuk malam ini aku sudah merusak semua. Ini karena aku tidak bisa mengontrol tubuhku,"
Nathan menundukkan kepalanya, di balik kepala yang sedang merunduk Nathan menghitung angka satu sampai lima secara mundur. Baru juga hitungan ke tiga, Mika sudah memeluknya dengan erat.
Pria yang masih memiliki noda darah dibibirnya, tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada yang tidak bisa ia dapatkan. Setelah mengobrak abrik hati Mika, kini ia memungutinya kembali. Batinnya melonjak, betapa mudahnya menaklukkan hati seorang Mika. Nathan merasa di atas angin. Ia sudah merasa menenangkan hati gadis itu sepenuhnya.
Tidak sia sia selama ini ia menyewa orang bayaran, untuk melaporkan tiap gerak gerik Mika di liuar sana. Mencari banyak informasi tentang apapun yang menyangkut Mika. Itulah Nathan, sepanjang meningalnya sang ibunda. Ia memfokuskan separuh hidupnya untuk membalas dendam. Tidak peduli dengan apapun caranya, Abas harus hancur di tangannya.
__ADS_1
Kini Nathan telah menikmati pelukan hangat Mika, gadis yang semula menolak dirinya telah melunak. Dengan suka rela Mika mendekap tubuh pria yang dikasihinya. Tidak ada kemarahan yang ia rasakan. Mika benar benar telah terpedaya oleh akal bulus Nathan.
"Ya sudah, kamu pulanglah. Sudah malam," perintah Mika sembari melepas tautan tangannya, matanya memandang ke jendela kamar. Semoga tidak ada penjaga yang akan memergoki kekasih gelapnya. Bila sampai ketahuan, Mika tidak tahu apa yang bakal terjadi pada dirinya dan juga pada Nathan.
Nathan pun bangkit, semula ia telah berlutut di depan Mika. Demi mendapat simpati dari gadis tersebut, ia melempar semua egonya. Balas dendam lebih penting dari pada harga dirinya. Demi sebuah hutang dendam, Nathan memperdaya perasaan seorang gadis yang naif.
Tanpa perasaan, Nathan mengecup kening Mika. Gadis itu tidak mengetahui, Nathan telah meremehkan perasaannya. Senyum jahat terukir, ketika Nathan mengecup kening Mika.
Tidak ada secuil pun perasaan untuk Mika, Nathan benar-benar akan membalas luka hati ibunda. Mata dibayar mata, hati di bayar hati. Bila dulu Ibunya mati sampai membawa luka hati yg mendalam. Maka kali ini, Nathan akan membuat hal yang sama untuk Mika. Putri dari orang yang menyakiti ibunda nya.
Setelah kecupan tanpa rasa itu, Nathan turun lewat jendela kamar Mika. Ia begitu lihai, seperti para pemain penganti dalam film laga. Tubuhnya begitu terampil, Mika yang menyaksikan hal tersebut di depan Mata kepalanya. Bertambah terpikat dengan pesona yang Nathan tawarkan.
Setelah melihat Nathan yang hilang di tengah bayang bayang malam, Mika menutup kembali jendela kamarnya. Ia kini bersiap untuk menjelajahi dunia mimpinnya. Bibirnya tersenyum manis, melihat sebuah cincin yang tengah melingkar di jari manisnya.
Sebuah cincin yang mengikat dirinya dengan pria pendendam yang akan merusak hidupnya. Mika tidak mengerti, ada rencana jahat yang akan mengincar dirinya. Gadis itu kini merebahkan tubuhnya, mencoba menutup mata yang sudah mulai melemah.
Hari ini Mely ingin masak soto ayam khas lamongan. Ia memasak semua sendiri, masakan istimewa untuk putri tercintanya.
"Mik.. Mika," teriaknya memanggil Mika putrinya.
Mely ingin meminta bantuan putrinya.
"Miko, tolong panggilin Kakak mu," perintahnya pada Miko yang sedang asik dengan gadget nya.
__ADS_1
Mendapat perintah dari sang Mama, Miko langsung ke lantai atas. Dengan malas malasan ia mengetuk pintu kamar kakaknya.
"Kak, di cari Mama. Cepet turun ke bawah,"
Mika yang masih tertidur, perlahan membuka kedua matanya. Suara ketukan pintu, membuatnya terbangun.
"Kak... bangun," teriak Miko lebih keras.
"Iya...," sahut Mika dari balik pintu.
Setelah mendapat sahutan dari sang Kakak, Miko kembali lagi turun kebawah. Ia memilih mendekati sang Papa.
"Lagi apa Pa?"
"Eh Miko, ini Papa lagi baca surat kabar,"
"Berita apa Pa? serius sekali kelihatan nya?"
"Ini loh, ada anak rekan kerja Papa yang tersangkut kasus narkoba. Hati hati Miko, jangan sampai kamu salah pergaulan," Abas mewanti-wanti putranya, agar berhati hati memilih teman.
"Iya Pa," malas mendengar kuliah pagi dari sang Papa. Miko memilih masuk ke dalam kamarnya. Ia lebih memilih berlama lama di depan layar laptop dari pada mendengarkan Papanya berbicara. Sebab ceramah dari sang Papa membuat telinganya cepat gatal.
Kembali ke kamar Mika, gadis itu kini sudah bersiap-siap. Balautan dress warna merah jambu nampak serasi dengan warna kulitnya. Mata gadis itu sudah berbinar-binar, apa lagi ketika memandang cincin yang melingkar di jari manisnya.
__ADS_1
Mika seperti gadis belia yang baru mengenal cinta, hatinya penuh dengan bunga yang bermekaran. Sungguh akan menjadi kisah klasik yang tragis, bila Nathan membalas cintanya dengan dusta belaka.
Bersambung