
Pagi yang tenang mendadak menjadi gempar. Itulah gambaran suasana apartmen Abas saat ini. Pagi itu Mely merasakan kontraksi awal. Perutnya tiba-tiba terasa sangat sakit, sepertinya waktu persalinan semakin dekat. Abas nampak panik melihat Mely yang meringkuk kesakitan di kamar bayi mereka.
Abas pun membopong tubuh Mely dengan susah payah, karena berat badan Mely yang sunguh bertambah amat banyak. Nampak bulir keringat yang bermunculan di kening Abas. Sepertinya ia kesusahan memindahkan Mely ke atas ranjang kamarnya. Dengan mengumpulkan semua kekuatannya, akhirnya Abas berhasil juga memindahkan Mely di atas ranjang. Dengan keringan yang bercucuran dengan deras.
Abas mengambil gelas yang berisi air minum, Abas nampak ngos-ngosan, ia langsung meminum air yang ia bawa. Selanjutnya ia membangunkan badan Mely sebagian untuk minum juga. Mely terlihat sangat lemas, melihat kondisi Mely saat ini Abas langsung mencari kunci mobilnya.
"Ayo sayang kita ke rumah sakit sekarang," ajak Abas sembari berpikir, bagaimana caranya membawa Mely ke lantai bawah. Sejurus kemudian Abas teringat, di ruang sebelah ada kursi roda bekas ia pakai dulu saat menjalani perawatan di rumah sakit di Singapura.
Abas langsung bangkit dari duduknya, ia mencari kursi roda yang sempat ia pakai sebelumnya. Tidak butuh waktu lama kini kursi roda sudah ada di tangannya. Abas langsung membantu Mely untuk duduk di kursi tersebut. Mely tanpa banyak bicara, ia hanya menurut instruksi suaminya. Perutnya terasa sakit tiap beberapa menit sekali, membuat ia diam meringis kesakitan.
"Tahan ya, sayang," Abas mendorong kursi roda yang telah ditumpangi Mely menuju lantai bawah. Sementara Mely sudah tidak berdaya, ia hanya menganggukkan kepalanya. Rasa sakit akan persalinan membuatnya dirinya benar-benar tidak berdaya.
Dengan hati-hati Abas membantu Mely masuk ke dalam mobil. Ia langsung menyalakan mesin mobilnya bergegas menuju rumah sakit ibu dan anak. Jalanan pagi ini macet parah, ini karena jam kerja. Semua kendaraan seperti tumpah ruah di jalanan. Abas nampak cemas memandangi istrinya yang menahan kesakitan. Abas mengelus perut Mely, seakan ia menenangkan bayi yang ada dalam perut istrinya.
"Sabar ya, sayang.. Haduh pakai acara macet pula," Abas tampak kebinggungan. Matanya menyusuri jalanan yang macet di hadapannya. Ia langsung teringat sekertarisnya. Abas langsung menelepon Fadir.
"Ya ampun, aku lupa Fadir sedang berada di Bali," ucapnya lirih. Ia batal menelepon Fadir untuk dimintai tolong.
"Sayang, sakit banget," Mely nampak meringis menahan sakit.
"Iya sayang, tahan bentar ya. Aku lagi cari solusinya," Abas memutar otaknya, bagaimana caranya ia membawa Mely cepat menuju rumah sakit. Akhirnya ia mencari nomer kontak seorang kenalanya.
__ADS_1
"Hallo David,"
"Hey Abas, apa kabar? ada apa? tumben menghubungi ku?"
"David, aku bisa minta tolong?"
"Minta tolong apa bro, santai saja. Apa yang bisa aku bantu?"
"Tolong kamu bawa helicopter kemari, istriku segera melahirkan. Kami terjebak di tengah-tengah kemacetan," ucap Abas.
"What? Serius lo bro. Oke tunggu beberapa menit. Share lokasi mu bro. Aku siap-siap on the way," kata David.
David adalah salah satu kenalan Abas yang sudah ia kenal sejak lama, keduanya merupakan teman sepermainan. Mereka berdua pernah jadi teman satu tim basket saat masih muda. Mereka kembali menjalin hubungan saat David tidak sengaja datang ke kantornya. David ternyata salah satu putra dari investor di perusahaan Abas.
Suara helicopter menderu sangat kencang, beberapa pasien yang berjalan jalan di taman mendongakkan kepala mereka, beberapa dari mereka ingin tahu. Siapa gerangan yang berada di dalam helicopter tersebut. Mely nampak keluar dari dalam helicopter di bantu Abas. Setelah berhasil menurunkan Mely, Abas berteriak cukup kencang pada kawan lamanya.
"Thanks Brother, Terima kasih banyak untuk bantuannya," Abas melambaikan tangan pada kawan lamanya.
David di balik kemudinya memberi simbol O yang terbuat dari jempol dan ibu jarinya. Menandakan it's okay, no problems. Bisa membantu Abas adalah suatu yang membanggakan bagi dirinya. Helicopter pun berlalu, meningalakan Mely dan Abas yang kini berada di atas gedung bangunan rumah sakit.
Abas dibantu beberapa perawat membantu Mely masuk dalam ruang persalinan. Kening Mely terlihat basah kuyup, keringatnya bercucuran dimana mana. Sesekali Abas mengelap keringat Mely dan juga keringatnya sendiri. Entah perasaan apa yang ada di benaknya, semua kecemasan rasanya memenuhi dadanya. Abas tak kuasa melihat Mely yang tengah menahan sakit.
__ADS_1
Kini Mely sudah masuk dalam ruang persalinan, Dokter datang memeriksa. Ternyata Mely baru bukaan ke dua. Maka proses persalinan akan masih lama, tapi Mely terlihat sudah tidak bertenaga. Dokter melakukan USG ulang terhadap Mely. Dari dalam layar terlihat bayi dalam perut Mely bergerak-gerak mencari jalan keluar. Dokter langsung menemui Abas yang menunggu di luar kamar persalinan.
"Bapak Abas, sepertinya akan susah jika dilakukan persalinan secara normal. Maka sebaiknya kita lakukan Operasi Caesar. Mengingat perkiraan berat bayi cukup besar. Ini demi keselamatan dan kesehatan keduanya." ucap Dokter yang menangani persalinan Mely.
"Baik Dok, lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya," wajah Abas nampak tegang.
Setelah mendapatkan persetujuan dari wali pasien, tindakan operasi langsung di laksanakan. Abas menunggu di depan ruang operasi seorang diri. Dia belum sempat memberi kabar kepada Mama serta kedua mertuanya, ketegangan yang menderanya membuat ia lupa semua. Ia hanya fokus pada istri dan bayi yang dikandung Mely.
Sudah satu jam lebih Abas menanti, pintu ruang operasi tak kunjung terbuka. Entah berapa kali ia duduk dan bangkit kemudian duduk kembali. Abas terlihat hawatir, berkali kali ia melihat jam yang menempel pada tangannya. Rasanya waktu berjalan lamban bagi Abas.
Setelah menunggu cukup lama, sekitar dua jam lebih. Akhirnya terdengar suara tangisan bayi dalam ruang operasi. Hati Abas tidak karuan rasanya, mendengar suara tangis pertama anaknya membuat matanya memerah. Ia menangis haru dan bahagia. Akhirnya ia menjadi seorang Ayah. Buah hati yang ia tunggu akhirnya datang kepalanya.
Abas terlihat mengintip di sela-sela pintu kamar operasi, namun hasilnya nihil. Ia tidak mendapat gambaran apapun. Karena pintu tertutup sangat rapat. Ia sepertinya tidak sabar bertemu dengan bidadari kecilnya. Abas juga tidak sabar melihat kondisi istrinya saat ini. Saat akan kembali duduk Abas langsung menoleh, ketika pintu terbuka. Ia langsung bertanya pada Dokter yang keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana istri dan anak saya Dok?" tanya Abas pada Dokter.
"Selamat Pak, Ibu dan bayi semua sehat, selamat tanpa kurang satu apapun. Untuk kondisi Ibu masih belum siuman. Melihat kondisi terakhirnya kami putuskan bius total, jadi mungkin Ibu Mely akan siuman beberapa jam kedepan. Sedang untuk bayi Bapak, sudah bisa di lihat. Itu yang bisa saya sampaikan, saya mohon undur diri,"
"Baik Dok, terima kasih banyak," ucap Abas, ia menjabat tangan Dokter yang menangani persalinan Mely.
Abas merasa lega, proses persalinan berjalan lancar meski lewat jalur operasi caesar. Bagi Abas entah dengan cara apa pun bukanlah jadi masalah, karena yang paling penting keduanya selamat. Ia kini tidak sabar berjumpa dengan istri dan buah hatinya.
__ADS_1
Bersambung