PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Kembali Bersama


__ADS_3

Pagi itu suasana desa yang terletak jauh dari pusat perkotaan sangat tentram dan damai. Namun kedamaian para penghuni terusik dengan keberadaan sekumpulan orang asing yang datang ditempat mereka.


Ketika matahari akan menampakkan dirinya, seisi desa dibuat gaduh. Karena sekumpulan orang yang datang membawa tandu. Mereka prihatin akan nasib orang tersebut yang tak lain adalah Abas. Mereka dengan suka rela membantu tim penyelamat.


Tidak ingin membuang waktu, ketua tim langsung menghubungi nomer telephon yang telah ditinggalkan Mama Abas. Mendengar kabar berita yang baik. Mama langsung mengirimkan helicopter ke lokasi yang disebutkan Tim penyelamat. Nampak mereka para Tim penyelamat menyiapkan tempat pendaratan darurat.


Mereka para Tim berkerja sama menyiapkan tempat pendaratan bersama penduduk sekitar. Beberapa orang dari mereka bertugas menyisir lokasi di pedalaman desa tersebut. Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka menemukan lokasi yang cocok untuk pendaratan.


Sebuah tanah yang amat lapang terletak tidak jauh dari perkampungan kecil telah siap menjadi tempat pendaratan. Setelah menunggu beberapa jam. Tepat pukul tujuh pagi hari, terdengar suara gemuru diatas langit. Itu adalah suara milik helicopter. Semua tim sudah menyiapkan segalanya. Dan kini Abas akan segera diangkat masuk kedalam helicopter.


Deru mesin heli mengema disekitar perkampungan yang sepi. Membuat beberapa penduduk melihat untuk menyaksikan secara langsung. Ini adalah pemandangan langkah bagi penduduk perkampungan tersebut. Para Tim penyelamat mengucapkan Terima kasih kepada penduduk sekitar. Kini semua tim bersiap untuk kembali pulang. Misi telah sukses. Korban yang hilang didalam jurang telah ditemukan. Namun misi belum berakhir, selanjutnya mama menugaskan untuk mencari siapa pelaku dibalik kecelakaan ini.


Helicopter yang membawa Abas kini terbang ke rumah sakit pinggir Kota. Untuk sementara yang terpenting abas mendapat pertolongan.


Di Rumah Sakit Mitra , Ini rumah sakit tempat Mely dirawat. Mama sudah terlihat cemas semenjak tadi. Ia masih bersama Mely dari semalam. Setelah mendengar kabar ditemukannya Abas, Mama belum memberi tahu pada siapa pun. Ia ingin mengetahui kondisi Abas dahulu. Mama tidak ingin melihat Mely semakin terguncang. Jadi ia menyimpan kabar ini sendirian.


Ruang UGD, nampak Abas telah terkapar tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Tubuhnya dipenuhi dengan banyak selang yang menempel. Wajahnya yang penuh dengan luka memar kini membiru. Tubuhnya yang dulu gagah dan kekar kini terbulai lemah.


Mama setelah mendengar putra kesayangannya telah sampai. langsung masuk keruang UGD. Ia ingin melihat dengan Mata kepalanya sendiri bagaimana keadaan Abas saat ini. Beliau perlahan mendekati tubuh putranya, tidak ada kata yang keluar dari bibirnya. Hanya air mata yang keluar dari matanya yang tak kunjung berhenti mengalir. Mama bersedih sekaligus terharu dan sangat bersyukur. Akhirnya putra tunggalnya kembali dengan hidup hidup.

__ADS_1


Abas kini masih belum sadarkan diri, setelah mama yakin dan puas memeriksa keadaan putranya. Ia kembali keruang rawat inap tempat mely dirawat. Mama dengan perasaan sedikit lega, berani menyatakan pada Mely bahwa Abas telah ditemukan.


Mama perlahan membuka pintu kamar Mely.


Ia langsung memeluk Mely dengan erat.


"Abas selamat sayang, ia selamat. Abas Kita sudah ditemukan," ucap Mama serasa memeluk kembali badan Mely.


Mely yang semula seperti tidak punya tenaga, rasanya badannya saat ini mendapatkan suntikan semangat lagi. Ia merasa mataharinya telah kembali setelah ditelan gerhana dalam sekejap. Mely merasa kabar ini seperti mimpi, ia berkali kali menanyakan pada mertuanya. Apakah ini benar, atau hanya untuk menghibur dirinya yang kini terpukul karena kehilangan Abas.


Namun melihat dari kesungguhan Mama saat menyatakan kabar baik tersebut. Mely perlahan yakin. Suami yang ia rindukan, yang ia cintai dengan tulus telah kembali. Mely mengungkapkan pada mama mertuanya ia ingin segera menemui Abas. Mama langsung menyangupi keinginan anak mantunya tersebut. Ia tahu betapa menderitanya Mely ketika harus berpisah dengan putranya.


Sangat jelas terlihat, wajah pilu Mely menyaksikan kondisi Abas saat ini. Tubuh penuh luka dan tidak sadarkan diri. Mely membisikkan kata kata ditelinga suaminya. "Sayang, Ayo bangun. Aku ingin Kita pulang," kata kata Mely terputus karena kini ia menangis tanpa suara, air matanya menetes membasahi pipinya.


Ia tidak tahu, dan tidak melihat. Abas juga menitihkan air matanya. Namun ia masih belum siuman. Karena Abas tidak boleh dijenguk lama lama. Mely perlahan keluar ruangan tersebut dengan berat hati. Ingin rasanya ia menemani kekasih hatinya itu.


Saat ini Mely sudah berada di ruang rawat inap di kamarnya sendiri. Ia sedang berhadapan dengan Mama dan Papanya yang sudah menemani dirinya dari kemarin. Mama Abas pun tampak berada diantara mereka. Mama hendak mengutarakan maksud dan tujuannya. Ia berencana memindahkan Abas ke rumah sakit lebih besar.


Ia berencana membawa Abas malam ini juga untuk berobat ke Singapore. Ia ingin membicarakan masalah ini kepada Mely selaku istri Abas. Mely yang mengerti maksud dan tujuan Mama mertuanya memilih mendukung penuh keinginan Mama.

__ADS_1


Ia ingin Abas segera pulih seperti sedia kala. Maka ia pun membiarkan Mama membawa abas pergi ke luar negeri untuk berobat. Namun ia memberikan syarat pada Mama Mertuanya. Bahwa ia akan ikut kemanapun Abas pergi. Ia tidak mau dipisahkan lagi dari suaminya.


Mama menyangupi permintaan Mely, Ia merasa semua sudah beres. Ia kembali berbicara pada seseorang lewat telephon untuk mengurus segala sesuatu yang berkaiatan dengan keberangkatan mereka ke singapura.


Malam ini juga Mama mertua, Mely dan Abas berencana akan langsung terbang ke singapura.


Di sebuah Rumah Sakit Singapura, Abas kini sudah terbaring di atas ranjang yang berbeda dari tempat sebelumnya. Mama memindahkan Abas dari sebuah rumah sakit yang kecil ke sebuah rumah sakit yang besar dengan fasilitas nomer satu. Ia ingin putranya segera pulih seperti sedia kala.


Esok harinya, semenjak ditemukannya Abas, Mely kini sudah menemukan kekuatannya kembali. Raut kesedihannya diwajahnya kini sudah berangsur menghilang. Ia lebih sering menunjukkan wajah cerianya didepan Abas. Meski Abas belum bisa melihatnya.


Mely dengan telatennya mambasuh tubuh Abas, Ia dengan hati hati membersihkan badan Abas. Tubuh yang kuat dan kokoh itu kini lemah tidak berdaya. Selesai membersihkan anggota tubuh suaminya satu persatu, Mely merapikan selimut Abas. Ia menyelimuti suaminya dengan perasaan sayang. Entah sudah berapa kali ia mengecup kening Abas. Tergambar dengan jelas, ia sangat mencintai suaminya itu. Begitu banyak doa yang ia panjatkan untuk kesembuhan suaminya.


Malam harinya, Mely sedang berdiri di samping ranjang Abas, memeriksa infus suaminya yang ia lihat akan segera habis. Ia hendak melangkah keluar untuk memanggil suster, baru akan melangkahkan. Abas telah memegang ujung jari Mely. Seketika itu ia langsung menatap wajah sang suami. Dilihatnya Abas telah membuka kedua matanya.


Mely dengan semua perasaanya yang campur aduk, langsung mendekap tubuh Abas...


" Auch.... " terdengar suara Abas yang meringis kesakitan karena Mely memeluknya dengan erat. Mely seakan akan tidak ingin berpisah lagi dengan Abas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2