
Udara dingin serasa menusuk siapa saja malam itu, ditambah angin malam yang terus mendera tanpa ampun. Abas memeluk tubuhnya sendiri, mungkin merasa kedinginan. Abas merapatkan jaket yang ia kenakan.
Terlihat Ia sedang duduk di atas sebuah kursi plastik di sebuah warung tenda. Ia sedang menunggu di sana. Menunggu pesanan sate yang masih dibakar oleh Penjualnya.
Bisa saja Ia menyuruh Bapak sopir untuk membelikan makanan untuk nya, tapi sebelum berangkat Ia sudah janji pada Mely. Bahwa ia sendiri yang akan membelikannya.
Rasanya ia tidak ingin berbohong pada istrinya, terlebih ini permintaan calon buah hati. Bagi Abas, ini bukanlah apa apa. Masih enteng menurutnya. Sedangkan Bapak penjual sate terlihat sedari tadi memperhatikan Abas, seraya mengipas ngipaskan kipas satenya. Untuk menjaga agar bara tidak padam.
"Berapa tusuk Pak?" Tanya Bapak penjual sate yang masih sibuk mengipasi satenya.
"Lima puluh tusuk Pak!" jawabnya seraya mengambil handphonnya di saku celananya. Ada pesan masuk dalam handphonnya.
"Kok lama?" Isi pesan singkat dari Mely.
Abas mengarahkan pandangan matanya ke Jam tangan yang ia kenakan. Dilihatnya jarum jam sudah menunjukkan pukul Sebelas." ah rupanya hampir satu jam aku berkeliling bersama Pak Bambang supirnya, susah sekali mencari sate khas Madura. Kami harus muter muter dan menanyakan kepada beberapa orang.. Ibu hamil ternyata cukup membuat orang kerepotan ya. Ada ada saja kemauannya, tengah malam pula" gerutunya dengan pelan.
"Ada apa Pak?" Penjual sate kembali bertanya, karena telinganya menangkap Abas yang berbicara dengan pelan. Dikiranya Abas berbicara padanya. Padahal Abas lagi ngedumel sendirian.
"Gak Pak, Silahkan lanjutkan. Saya tunggu di dalam Mobil saja ya. Banyak nyamuk dan dingin banget di sini. Ini Pak uangnya!'
Abas mengulurkan beberapa lembar uang kepada Bapak penjual sate, dan si Bapak penjual sate menerima uang tersebut. Ia menatap pelangannya yang berjalan menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari sana.
"Sudah dapat satenya Tuan?" tanya Pak Bambang yang sedari tadi berada dalam Mobil. Ia juga tidak betah dengan udara malam yang cukup dingin saat ini.
"Belum Pak, masih dibakar. Saya gak kuat berada di luar makanya mau Saya tunggu didalam saja!" Ia membuka pintu mobilnya, dan masuk ke dalam sana.
Abas kembali meraih handphonnya, Ia belum membalas pesan dari Mely.
" Sabar Sayang!"
Hanya dua kata yang ia tulis. Matanya juga sudah terasa mengantuk berat. Ia pun terlelap sembari menunggu satenya siap.
Beberapa menit berlalu, Mobil sudah kembali melaju menuju kediaman Rumah Utama. Abas juga sudah bangun dari tidur ayamnya. Jam menunjukkan pukul dua belas lebih seper empat.
Penjaga rumah nampak membukakkan pintu gerbang untuk Tuannya yang telah pulang.
Malam sudah sangat larut, suasana di sekitar rumah sudah sangat sepi sekali. Abas melangkah masuk, Ia langsung menuju ke dalam kamarnya. Untuk menemui istrinya yang sedari tadi sudah menunggu.
"Krieeeett..."
__ADS_1
Ia membuka pintu kamarnya dengan pelan, kemudian ia melangkah masuk, menghampiri Mely yang sudah tertidur pulas.
"Sayang, Ayo bangun. Ini satenya uda datang. Yang jual orang Madura asli loh. seperti pesen kamu tadi!"
Mely mengacuhkan sang suami, Ia memilih tidur dari pada makan. Rasanya udah gak pingin sate lagi.
"Sudah gak pengen, Makan aja sendiri!' jawabnya sambil tetap merem.
"Kasian Dedenya, makan ya . Aku suapin?" bujuk Abas.
"Udah kenyang, tadi dibikinin Bibi Indo**!"
"Lah trus satenya gimana?" Abas mula frustasi.
"Makan aja sendiri!" Mely tidak merasa bersalah sama sekali. Ia kembali menarik selimut dan langsung tidur.
Abas hanya bisa diam. Siapa juga yang bakalan ngabisin sate lima puluh tusuk ini, Dia kan bukan Susana. Yang suka banget sama sate. Lidah Abas itu kebarat baratan, Ia lebih suka Spaghetti, Pizza, Hamburger, Sandwich ect. Ia menarik nafas dalam dalam. Rasanya Abas ingin teriak yang kenceng.
Hari ini Mely berhasil mengerjai dirinya, Abas pun turun ke bawah. Membagikan satenya untuk para penjaga malam di rumahnya.
Selepas itu, Ia kembali ke kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di sisi Mely. Namun saat akan memeluknya, Mely mendorong nya dengan keras.
"Jangan dekat dekat, Gerah!" ancam Mely.
Abas pun tidur di pinggir ranjang, Mely menolak dekat dengan dirinya. Komplit sudah penderitaan nya hari ini. Pagi menjelang, kicauan burung terdengar sangat merdu bagi Mely. Ia sangat senang sekali hari ini.
Ini adalah hari Minggu, Abas sudah janji padanya. Bahwa minggu ini ia bersama Bela dan juga Fadir akan jalan jalan ke Puncak.
Mely tidak sabar, sudah pagi pagi sekali ia tanpak rapi. Namun tidak dengan suaminya. Abas masih tidur dengan pulas.
"Sayang ayo bangun, sudah pagi. Nanti keburu macet kalo kesiangan!" Mely mengoyang goyangkan tubuh suaminya.
"Bentar, lima menit lagi ya!" Ia menjawabnya sembari melihat jam di dinding kamarnya.
"Ya sudah, Aku siapin semuanya dulu!" Mely berjalan menjauhi Abas.
Sepuluh menit kemudian.
"Sayang bangun dong!" Mely kembali mengoyang goyangkan tubuh Abas yang masih tidur.
__ADS_1
"Lima menit lagi ya..!' pinta abas kembali.
"Padahal udah aku bonusin jadi sepuluh menit tadi!" Ibu hamil mulai ngomel ngomel.
"Ya udah, gak usah berangkat sekalian!" Mely membuang tas jinjingnya ke atas kasur.
Mely mulai merajuk. Mendengar ada benda jatuh di sampingnya, abas langsung bangkit. Kesadarannya langsung kembali.
"Iya.. iya " Abas langsung menuju kamar mandi.
Sedangkan Mely tersenyum dengan penuh kemenangan. Abas masih nampak mengantuk ketika guyuran air mendera tubuhnya. Baru guyuran kedua membuatnya langsung melek.
Ini gara gara semalaman berkeliling mencari sate. Alhasil sekarang masih ngantuk. Ia menepuk kedua pipinya. "Bangun Abas, Waktunya siap siaga... siap siap bentar lagi Baby nya mau apa". Dia mencoba menyemangati dirinya sendiri.
"Tok tok tok"
Mely mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya sayang. Bentar dulu ya... Sabar dong.. lagi cukur kumis nih," jawabnya dari dalam.
"Jangan lama lama. Bela sama Fadir udah nunggu di bawah." Mely sudah gak sabar menunggu Abas yang tak kunjung keluar kamar mandi.
"Ish.. Cepet banget mereka dateng. Suruh nunggu aja, aku bentar lagi selesai!" teriaknya kembali.
"Ya sudah, aku turun dulu ya sayang!" pamit Mely.
Beberapa menit kemudian Abas keluar dari dalam kamar mandi, rambutnya masih nampak basah, Ia hanya memakai handuk yang melilit pinggangnya, Mely kebetulan kembali ke kamar mengambil handphonnya yang tertinggal di atas meja.
Seketika itu juga Mely menutup matanya mengunakan kedua tangan. Ia merasa malu melihat suaminya saat ini. Abas mendesis kesal. Ia heran dengan sikap istrinya. Biasanya juga bagaimana. Sekarang pakai acara malu malu kucing segala.
"Kamu ngapain sayang, tutup mata segala. Biasanya juga gimana!" Abas mencoba mengoda istrinya.
"Apa'an sih. Cuma mau ambil Handphon yang ketinggalan!" Ia masih menutup matanya sembari mengintip di sela sela jarinya.
Abas mulai melancarkan aksinya, Ia mangambil handphon Istrinya yang tergeletak di atas meja. Abas mau menggoda Mely.
"Ini , Ayo.. ambil kalo bisa"
Ia mengangkat tinggi tinggi Handphonnya Mely.
__ADS_1
Engan melayani gurauan suaminya, Mely berlalu begitu saja. Gak peduli dengan handphonnya lagi. Ia berjalan menuju pintu keluar. Tinggal lah Abas yang merasa di kacangin sama istrinya untuk kedua kali!
Bersambung