
Hari ini adalah waktu kunjungan rutin Mely ke Dokter Kandungan. Sehari sebelumnya, ia sudah membuat janji dengan seorang Dokter melalu telephon.
"Sayang, sudah siap apa belum? kok lama banget?" teriak Abas dari ruang tamu. Sudah hampir satu jam lebih, istrinya tak kunjung keluar dari dalam kamar.
Mely masih terlihat asik merias diri, entah mengapa kehamilanya saat ini membuat dia terobsesi dengan penampilanya. Mungkin jenis kelamin dari jabang bayinya seorang perempuan, makanya ia ingin selalu terlihat cantik. Mely berkali-kali menganti pakaian yang ia kenakan, ia selalu merasa tidak cocok dan kembali mencoba pakaian yang lainnya. Rasanya tiap pakaian yang sudah melekat pada tubuhnya tidak sesuai dengan seleranya.
Abas yang sedari tadi memanggil istrinya namun tidak mendapat sahutan, ia langsung melangkah masuk ke dalam kamarnya. Abas Mencari sang istri yang tak kunjung selesai berdandan. Abas melihat Mely sedang berkaca, terlihat Mely kala itu membolak mbalikan tubuhnya di depan cermin.
"Wahai cermin ajaib, siapakah Wanita tercantik di dunia ini?" ucap Abas, ia sedang ingin mengoda pujaan hatinya.
Menangapi candaan sang suami, Mely memukul lengan Abas. Ia menjadi malu, Mely tahu suaminya sudah menunggu sejak tadi.
"Kamu udah cantik banget sayang, cantiknya sudah melekat tidak bisa hilang walau pakai pemutih!" Abas kembali mengoda sang istri.
"Memangnya aku ini cucian kotor yang harus pakai pemutih?" Mely mengejek gombalan suaminya.
"Hahaha... Ya engak lah, masak mantan Putri Kecantikan aku samakan dengan cucian yang kumal" jawab Abas dengan sedikit tertawa.
"Bentar ya, aku binggung mau pakai baju apa?" ucap Mely. Ia tidak mau menangapi candaan suaminya.
"Itu tiga lemari isinya kan baju kamu semua sayang, masak binggung pakai apa?" sindir Abas.
"Hehehe... Iya sih, tapi tetep saja masih binggung pakai yang mana," Mely kembali melepas pakaian yang ia kenakan. Ia ingin mencoba pakaian yang lainnya.
Melihat Mely dengan perut gendutnya membuat Abas semakin terpikat, ia menelan air liurnya. Pemandanganya di depan matanya saat ini sunguh mengoda imannya. Abas berjalan mendekati sang istri, ia memeluk Mely dari belakang.
"Sayang, janjian sama Dokternya bisa di undur apa tidak?" bisik Abas dengan sangat pelan di telinga istrinya.
__ADS_1
Gelora jiwa Abas sepertinya kembali memanas. Melihat Mely saat ini yang tengah berada di hadapannya, membuat ia ingin menerkam hidup-hidup sang istri. Abas seperti kucing yang lapar. Sorot matanya menjadi sangat tajam, sepertinya ia sudah siap memangsa istrinya.
"Sudah.. Sudah.. Ayo berangkat," Mely langsung mengenakan pakaiannya kembali. Ia berencana kabur dari bahaya yang mengincar dirinya. Ia dengan cepat meninggalkan kamarnya.
Abas tersenyum kecut, terpaksa ia menepis hasratnya saat ini. Gelora jiwanya yang semula membara kini menadak padam. Istri tercintanya memilih kabur meninggalkan dirinya di dalam kamar seorang diri.
"Sayang, tunggu!" Abas merangkul pundak sang istri.
Mereka berdua kini berjalan bersama-sama meningalkan Apartmen Abas. Saat akan turun ke lantai bawah, tidak sengaja mereka berpapasan dengan Evi. Mereka sama-sama akan masuk ke dalam lift. Wajah Abas nampak tegang. "Jangan sampai Mely mengetahui tentang Evi, istrinya saat ini sangat sensitive jika berhubungan dengan wanita lain," gumam Abas dengan lirih.
"Apa kabar?" sapa Evil. Sepertinya ia sengaja berbuat demikian. Ia ingin memancing reaksi Abas dan Istrinya.
"Baik," jawab Abas singkat. Rasanya Abas ingin pintu liftnya segera terbuka. Ia ingin menghindari kemungkin terburuk yang akan menimpahnya.
Mely melirik suaminya dengan curiga, ia melemparkan tatapan penuh tanya pada sang suami. Seakan-akan ia ingin mendapat jawaban, siapa perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Abas yang mendapat tatapan tajam dari sang istri langsung memperkenalkan Mely pada mantan pacarnya.
"Sayang, kenalin ini temen kampusku dulu," ucap Abas sembari menatap wajah istrinya.
Abas masih terlihat tegang, tapi untunglah pintu liftnya sudah terbuka. Ia langsung keluar lift dengan merangkul pundak istrinya. Evi yang menatapnya keduanya dari belakang, saat ini merasa sangat cemburu dengan keromantisan pasangan suami istri di depannya itu.
"Harusnya aku yang disana, bukan dia!" kata Evi dengan marah, ia memandang kepergian Abas dengan miris. Hatinya masih mengharap penuh pada Abas. Mantan kekasihnya dulu, tapi pria itu kini sudah beristri. Meskipun Abas sudah memiliki istri, ia bertekat akan merebutnya kembali. Evi mengepal jari jarinya, ia seperti siap perang merebut suami orang.
Sedangkan Abas dan Mely kini sudah berada di dalam mobil. Di tengah perjalanan menuju ke Rumah Sakit Ibu Dan Anak, Mely mulai bersuara. Ia ingin menanyakan pertanyaan yang menganjal dalam hatinya sedari tadi.
"Siapa perempuan yang berpapasan dengan kita di lift tadi?" Tanya Mely pada suaminya. Ia menatap wajah suaminya yang sendang menyetir dengan tatapan penuh selidik.
"Temen masa kuliah dulu Mel," jawab Abas dengan setenang mungkin. Ia tidak mau menimbulkan rasa curiga dari sang istri.
__ADS_1
"Bener cuma temen?" tanya Mely seakan tidak percaya jawaban dari suaminya. Abas langsung merasa seperti maling ayam yang tengah di introgasi polisi.
Abas binggung, mau jujur nanti istrinya berpikir yang tidak-tidak. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Mely yang telah hamil tua. Tapi jika dia berkata bohong, maka ia harus menciptakan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
"Iya temen... Sayang!" ucap Abas. Ternyata ia lebih memilih berbohong pada istrinya demi menjaga perasaan Mely yang sedang hamil tua.
"Oh... Kirain mantan ....," kata-kata Mely terpotong, karena Abas mengerem secara mendadak. Spontan lengan Abas melindungi perut sang istri. Ia tidak ingin hal buruk menimpa calon bayi mereka.
"Maaf sayang, mendadak truk di depan berhenti," ucap Abas. Ia terlihat memcemaskan keadaan Mely.
"Gak papa, Aku gak papa kok," jawab Mely, ia meyakinkan pada Abas kalau dirinya baik-baik saja.
Keduanya menatap ke depan mobil. Di depan mobil mereka ada sebuah Truk yang mengalami pecah ban. Abas pun merasa terselamatkan dari aksi selidik Mely. Setidaknya kini Mely tidak membahas Evi lagi. Abas kembali menyalakan mesin mobilnya, keduanya melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti.
Di sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak, Abas dan Mely sedang berkonsultasi dengan Dokter Findy. Ia adalah dokter yang sana yang menangani Mely saat kehamilan pertamanya. Mely sudah merasa klop dan cocok dengan Dokter nya tersebut. Ia engan berganti dokter.
Setelah melakukan beberapa pengecekan, kini waktunya melihat hasil dari USG buah hati mereka.
"Bagaimana kondisi Istri dan calon anak saya dok?" tanya Abas kepada Dokter Findy.
"Semua bagus, kondisi Ibu dan anak keduanya sehat. Detak jantung bayinya juga teratur, perkiraan berat putri ibu juga normal, semua terlihat bagus" kata Dokter Findy sembari memandang Mely yang sibuk menyimak tiap kata kata yang keluar dari bibirnya.
"Jadi anak saya cewek, Dok?" tanya Abas dengan spontan.
Dokter Findy menganggukkan kepalanya dengan pelan, membenarkan pertanyaan Abas.
"Hari ini kebetulan kita bisa melihat jenis kelaminnya, setelah beberapa kali USG," ucap Dokter Findy.
__ADS_1
Mely dan Abas salin bertukar pandang, keduanya sudah tidak sabar menanti kehadiran buah hati mereka.
Bersambung