
Tap tap tap
Terdengar derap langkah Mika yang menuruni tangga. Ia hendak ke lantai bawah karena mendengar deru mesin mobil sang suami.
Nathan baru saja membuka pintu mobil ketika Mika membuka pintu rumahnya lebar lebar.
"Kamu tau aku sudah datang?"
Nathan menatap istrinya dengan tatapan yang lembut.
"Hehehe," Mika hanya tersenyum manis dan membawa tas laptop yang semula ada di tangan Nathan.
Nathan pun merangkul pundak istrinya, membawanya masuk ke dalam rumah. Hunian Mika dan Nathan terbilang sepi, tak bertetangga. Hanya ada pohon kelapa di samping kiri dan kanan. Dan hamparan pantai yang terpampang di depan rumah.
Rumah yang indah, dengan pemandangan laut yang mengagumkan. Bila lelah bekerja seperti saat ini, maka Nathan akan duduk di balkon lantai dua kamarnya. Menatap senja di laut jingga.
Sudah mandi, sudah wangi. Nathan turun ke bawah menyusul Mika yang menyiapkan makan malam untuknya.
"Masak apa sayang?"
Tiba-tiba lengan kekar Nathan melingkar di pinggang Mika tanpa permisi. Membuat Mika yang sedang memegang spatula langsung beranjak kaget.
"Astaga!" pekik Mika yang dibuat kaget oleh Nathan.
"Kaget ya? Sorry!"
"Jangan ngagetin. Ini kompor ... panas tau!" Mika menunjuk telpon yang ada di atas kompor sengan spatula yang ia pegang.
"Masak apa sih?"
Penasaran, Nathan mendongak ke depan.
"Dadar gulung isi sosis sama daging cincang. Suka ngak?"
"Pasti suka, semua aku suka asal kamu yang masak!" gombal Nathan.
"Gombal!" ujar Mika yang tak termakan rayuan sang suami.
Melihat sikap Mika yang tak mempan dirayu, Nathan hanya tersenyum kecut. Ia lantas melepas pelukannya, berjalan ke arah lembari pendingin.
"Sayang, sekalian ambilin saos mayo!" pinta Mika sembari mengecilkan api kompor di depannya.
"Ini, jangan banyak-banyak. Aku mau yang saos sambal saja!" ucap Nathan sembari mengulurkan dua botol saos pada istrinya.
"Hemm.."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, makan malam sudah siap. Mika sudah menata semua di atas meja makan.
Makan malam sederhana namun istimewa bagi keduanya. Yang penting makan bersama, tidak perlu menu yang wah. Bukannya apa-apa sih, karena Nathan tahu istrinya tak pandai memasak.
Ketika dua sejoli itu sedang menikmati masa-masa indahnya. Di lain tempat, rumah Abas terjadi ketegangan.
Beberapa waktu lalu, Abas sempat menelusuri rekam jejak sang menantu. Rupanya ia meminta sekertarisnya untuk memeriksa latar belakang Nathan.
Meski restu sudah ia berikan, rupanya Abas masih mencari tahu seluk beluk sang menantu.
Abas begitu terkejut tak kala mengetahui siapa Nathan yang sebenarnya. Dari informasi dan data yang ada, ia menyadari bahwa Nathan adalah putra dari mantan kekasihnya dulu.
Sebagai Ayah dari Mika, Abas merasa was-was. Ia takut bila Nathan memiliki rencana yang buruk pada putrinya.
"Selidiki lebih lanjut!" perintah Abas di telpon.
"Baik, Pak!"
Abas menaruh ponselnya dengan kasar, ada rona marah dalam parasnya yang tampan. Meskipun sudah berumur, pesona Abas rupanya tidak pernah sirna.
"Sayang," panggil Mely yang tak melihat sang suami sejak tadi.
"Ada masalah serius!" ucap Abas ketika melihat istrinya.
"Masalah? Mengenai apa? Kantor? Apa harga saham anjlok?" tanya Mely dengan nada bercanda untuk melepaskan ketegangan.
Seketika itu wajah Mely langsung berubah, senyumnya langsung hilang dari wajahnya yang cantik. Keningnya langsung mengkerut seketika.
"Nathan? Apa dia berbuat hal buruk pada Mik?"
Mely langsung mencemaskan sang putri, pasalnya ia juga memiliki felling yang buruk pada anak mantunya tersebut.
"Lebih dari itu!" ucap Abas setengah putus asa. Ia takut bila dugaan benar.
"Katakan secepatnya, ada apa dengan Nathan dan Mika?"
"Ingat Evie?"
Mata Mely langsung membulat sempurna, entah mengapa ia terlalu sensitive dengan nama itu. Ketika nama itu disebut, seperti ada guntur yang mengelegar.
"Kekasimu?"
Abas langsung menatap tak suka pada istrinya, bagaimana bisa Mely mengatakan hal itu?
Ia mungkin tidak tahu, wanita itu bisa memaafkan tapi tidak melupakan. Seperti saat ini, Mely mungkin memaafkan masa lalu sang suami, namun selalu ingat dan tidak akan lupa.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu lagi!" ucap Abas dengan kesal.
"Lalu apa hubungannya Evie dengan Nathan?"
Tidak ingin menutupi kenyataan dari Mely, Abas pun berterus terang apa adanya. Ia menceritakan apa yang sudah ia dapatkan sebelumnya. Menjelaskan semua kecurigaannya pada Nathan.
"Jangan ngacau! Coba cek sekali lagi!"
Mely memilih menolak dan tak percaya apa kata sang suami. Masa Nathan adalah putra dari mantan kekasih sang suami. Ini terlalu konyol.
"Aku serius Mel!"
"Gak mungkin!"
Karena Mely terus menyangkal, maka Abas memberikan berkas yang ada dalam laci. Membiarkan Mely membacanya sendiri.
Abas pun mengulurkan beberapa lembar berkas ditangannya.
Seketika itu wajah Mely menjadi pucat pasi, bagaiman ini?
Tidak mungkin ini hanya kebetulan? Begitu banyak pikiran buruk berkecamuk di benak Mely kala itu.
"Aku takut Nathan hanya memakai Mika untuk balas dendam pada Kita."
Dugaan Abas untuk saat ini adalah, Nathan sengaja mendekati sang putri untuk balas dendam.
"Cepat suruh Mika pulang!" titah Mely dengan suara yang bergetar.
Abas langsung meraih ponselnya, menghubungi Mika untuk memintanya segera pulang.
Tut Tut Tut
Berkali-kali Abas menghubungi sang putri, sayang Mika tak menjawabnya.
Rupanya yang ditelpon sedang asik bersandar di pundak suaminya yang kekar. Mika saat ini duduk di teras rumah menatap laut lepas.
Semilir angin sesekali menerpa wajahnya, membuat rambut rambut halusnya berterbangan tak tentu arah.
Sembari tangannya memeluk pinggang sang suami, Mika bersenandung. Bibirnya mengalungkan lagu asmara sesuai suasan hatinya saat ini.
Sementara Nathan membelai lembut kepala Mika, keduanya tidak tahu. Akan ada badai kecil yang menanti mereka nanti.
Apakah Abas dan Mely akan memisahkan Mika dan Nathan?
Tunggu bonus chapter selanjutnya yaaa... Terima kasih untuk yang sudah membaca novel ini. Pokoknya terima kasih yang banyak banget!
__ADS_1
Ig : Sept_September2020