
Mely sedang berada diluar rumah sakit, beberapa saat yang lalu Abas memintanya membelikan sesuatu. Abas mendadak ingin dibelikan burger. Padahal itu hanya alasan abas. Ia hanya ingin berbicara empat mata dengan Fadir.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Mely segera bergegas kembali ke kamar Abas. Rasanya ia tidak mau lama lama jauh dari suaminya. Kini ia sudah berada tepat di depan kamar. Mely perlahan-lahan membuka pintu kamar suaminya. Dilihatnya Abas sudah tertidur diatas ranjangnya.
"Ih... malah ditinggal tidur, katanya tadi kepingin burger. Sia sia dong aku cepet cepet kemari," Mely menghela napas panjang.
Itu Abas jahil banget, sebenarnya ia tidak tidur. Baru beberapa saat yang lalu Fadir keluar dari kamarnya. Ia tidak ingin Mely tanya hal yang aneh aneh, makanya ia pura pura tidur.
Mely kini sedang duduk di sofa ruangan itu. Lama kelamaan matanya mulai mengantuk. Belaian tangan Abas membangunkan tidur pendeknya. Abas yang sudah duduk disamping Mely, memintanya pindah keatas ranjang. "Ayo tidur disana!" ajak Abas dengan senyum yang tergambar jelas di bibirnya.
"Gak, Aku tidur disini saja!" Mely mencoba menolak ajakan Abas. Ia sedang tidak ingin main main lagi bersama Abas.
"Biasanya juga tidur di atas sana berdua, mengapa sekarang gak mau?" tanya Abas kembali.
"Aku kapok, pas malam malam suster datang mau ganti infus eh ...Kita malah tidur berpelukan di ranjang pasien, Aku rasa itu suster pingin marahin Aku deh. Cuma ia tahan hehehe," Mely malah meringis, ia teringat tatapan tidak suka dari salah seorang perawat disana. Suster itu sepertinya menaruh hati pada suaminya yang tampan.
****
Seminggu Kemudian
Nampak abas sudah berada di bandara International Soekarno-Hatta. Mereka telah pulang ke Tanah Air. Dari jauh nampak mama menyambut keduanya. Mama mertua memeluk mely dan berganti memeluk putra kesayangannya. "Maaf sayang, mama gak bisa selalu menemani kamu saat di rumah sakit," ucap Mama.
"Gak apa apa Ma, Abas sudah punya perawat pribadi nomer satu sedunia," Abas melirik pada istri kesayangannya.
Untuk membalas gombalan aybas, Mely hanya sedikit mencubit pinggang suaminya. Keduanya nampak tertawa melihat ulah Mely barusan. Pak supir yang sejak tadi berada dibelakang Mama kini maju kedepan. Bersiap untuk memasukkan semua barang bawaan mereka kedalam bagasi.
"Sayang, aku pingin ke kamar mandi dulu ya, tiba tiba pingin buang air kecil," Mely meninggalkan Abas dan Mama, Ia menuju kamar kecil.
Sambil menunggu, Abas memainkan handphonnya. Namun tiba tiba ada sebuah bola mengelinding tepat di bawah kakinya. Abas memunggut bola tersebut, ada anak laki laki yang memandang bola yang sedang dipegang Abas.
__ADS_1
Anak laki laki yang manis dengan rambut gondrongnya. Abas tersenyum pada anak laki laki itu. Ia memberikan bola yang dia pegang sejak tadi. Pandangan mata Abas menyisir kesana kemari, ia hendak mencari orang tua dari anak di depannya ini.
"Dimana orang tuamu sayang?" tanya Abas sambil memegang pipi si bocah yang berusia sekitar 3 tahun menurut Abas. Anak itu menunjuk ke sebuah arah. Abas mengikuti arah yang ditunjuk si bocah. Nampak dari jauh punggung seorang wanita.
Seseorang Wanita yang terlihat menoleh kesana kemari, sepertinya ia mencari putranya yang hilang, pikir Abas. Abas langsung mengendong anak tersebut. Abas berjalan mendekati ibu dari sang anak.
"Mommy...," kata yang keluar dari bibir mungilnya membuat Wanita tersebut menoleh ke sumber suara. Abas yang sebelumnya nampak sumringah bercanda dengan bocah yang ia gendong, perlahan ia melepaskan anak tersebut. Bocah manis itu langsung menghambur kedalam pelukan Mamanya.
Wanita itu langsung mengendong putra kecilnya, Ia tidak berani menatap wajah Abas. Ia seperti Penjahat yang sudah tertangkap basah. Merasa sangat bersalah terhadap Abas, Wanita itu ingin menghindari abas. Ia lalu mengendong putranya berjalan dengan cepat menjauhi Abas.
Abas masih tertegun menyaksikan Wanita yang dulu telah meninggalkan dirinya tiba tiba muncul begitu saja. Ia hanya diam membeku menyaksikan Evi meninggalkan dirinya kembali. Tiba tiba bibirnya bersuara ketika Evi telah menjauh. "Evieeee.... " Teriak Abas dengan kencang.
"Evie Tunggu..." Abas setengah berlari menyusul Evi mantan calon pengantinnya dulu.
Evi yang mendengar teriakan Abas, berjalan semakin kencang. Ia tidak bisa berlari, karena sedang mengendong sang anak dan membawa sebuah koper yang cukup besar. "Evi, berhenti!" Kali ini Abas bereriak sangat kencang. Membuat orang orang disekitar mereka mengarahkan pandagan pada mereka berdua.
Akhirnya Abas bisa menyusul langkah Evi, Wanita itu terlihat matanya memerah. Ada bulir air mata di pipinya, sang anak pun ikut menangis. Merasa tidak tega, Abas berusaha menenangkan anak yang lucu itu. "Ayo sini, om belikan es krim, jangan nangis lagi,"
Mama Abas dan Mely menunggu Abas yang tak kunjung muncul, Mely tidak tahu Abas Kemana. Mama yang tadi sibuk bertelepon juga tidak tahu abas Kemana. Yang Mama tahu Abas mencoba mempertemukan anak yang hilang kepada orang tuanya.
"Mungkin dia masih mencari orang tua si anak tadi!" ucap Mama, seraya ingin menenangkan hati Mely.
"Tapi kok lama banget Ma, udah setengah jam lebih," Mely terlihat cemas, takut terjadi apa apa dengan suaminya.
"Telpon saja!" suruh Mama.
"Udah Ma, gak diangkat," jawab Mely.
Mereka berdua kini hanya menunggu saja, sambil memainkan handphonnya masing masing.
__ADS_1
Sedangkan Abas kini sedang duduk bertiga.
Abas mempunyai pertanyaan untuk evi, Sebuah pertanyaan yang selalu mengisi kepalanya selama sepuluh tahun lebih.
"Mengapa kamu ningalin aku saat Hari pernikahan Kita Vie?" Tanya abas tiba tiba . Membuat Evi berhenti menyuapi anaknya.
"Maafkan aku bas!" Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
"Apa dia putramu?" tanya Abas kembali, Setelah ia tidak dapat jawaban yang pas untuk pertanyaannya yang pertama.
"Iya, dia putraku satu satunya," saat mengatakan kata satu satunya air mata Evi menetes jatuh tanpa bisa ia bendung. Seperti ada rahasia yang tersimpan dalam kata kata Evi.
"Dimana suamimu?" Abas terus bertanya pada mantan kekasihnya itu.
"Aku sudah bercerai!" Ia menjawab pertanyaan Abas dengan memalingkan mukanya. Ia tidak ingin Abas melihatnya menangis.
Abas mengeluarkan sapu tangannya. Ia memberikan sapu tangan yang terdapat inisial huruf A.M di ujung kainnya kepada Evi.
Evi menerima sapu tangan tersebut. Ia mengusap pipinya yang sudah banjir air mata. Abas sendiri seperti merasa iba, melihat kekasihnya dulu menangis dihadapannya.
Ia menatap jam ditangannya, Abas langsung mengecek handphonenya. Begitu banyak pangilan masuk dari istrinya. Ia sampai tidak menyadari karena semenjak didalam pesawat, handphonnya ia mode silent.
Abas langsung menelepon Mely, Ia langsung sadar. Sudah berapa lama ia mengabaikan Mely. "Ini kartu namaku, hubungi aku kalo kamu butuh bantuan!" Abas berlalu meningalakan Evi dan putranya begitu saja.
Evi menatap sapu tangan pemberian mantan kekasihnya dulu. Ada rona sendu yang tergambar pada wajahnya.
Abas lari lari kecil menuju tempat dimana terakhir kali ia meninggalkan Mama dan Mely. Setelah melihat wajah Mely yang terlihat memcemaskan dirinya, Abas langsung memeluk Mely. Ia memeluk istrinya dengan erat. Ia merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi barusan.
Mereka tidak tahu, dari jauh Evi menatap Abas yang sedang memeluk seorang gadis. Gadis yang jauh lebih muda darinya, pikir Evi.
__ADS_1
Evi menatap dengan tatapan sedih. Entah mengapa hatinya terasa sakit saat ini.
Bersambung.