
Suasana penuh ketegangan terjadi di salah satu bilik toilet rumah sakit. Abas sedang menatap tajam pada mantan kekasih yang dulu sangat ia cintai, perempuan yang mampu memporak porandakan hidupnya. Dialah Evi, perempuan yang lama singah di hati Abas. Kepergian Evi yang misterius di saat akan di lakukan ijab kabul, menyisahkan duka terdalam di hati Abas.
"Hentikan Vi," bentak Abas pada perempuan yang ada di depannya. Nampak matanya memerah, marah bercampur kecewa berkecamuk di hati Abas. Tidak puas kah Evi selama ini membuat ia menderita, belum cukup kah luka sepuluh tahun yang harus ia tanggung seorang diri karena patah hati. Hingga ia tak mampu membuka hati, sampai datanglah gadis biasa. Seorang gadis yang membangkitkan gairah hidupnya. Seseorang yang menyembuhkan luka yang terlanjur mengakar pada hatinya.
Mely datang menyembuhkan luka masa lalu Abas. Luka patah hati yang ditinggal kan Evi membekas cukup lama dan dalam. Kini setelah ia menemukan cinta yang baru, mengapa Evi datang kembali. Abas tidak habis pikir dengan perilaku mantan kekasihnya itu. Abas memandang jauh ke dalam mata Evi, rasanya ia ingin mencari jawaban, mengapa Evi hadir kembali pada hidupnya yang sudah bahagia. Apa motiv dari mantannya itu, banyak pertanyaan yang mengelayut di dalam kepalanya.
"Sudah Vi, mari akhiri sampai disini," pinta Abas. Kali ini nada suara Abas mulai melemah, ia sekarang bisa menguasai sedikit emosinya. Ia nampak tidak marah seperti sebelumnya.
"Maaf," ucap Evi, hanya kata maaf yang terucap dari bibirnya. Bulir air mata menetes di kedua pipinya. Evi menangis meratapi nasibnya. Ia menyesal meninggalkan Abas saat itu.
"Aku maafkan kamu, asal kamu menjauhi dari hidup ku saat ini," kata Abas. Ia akan memaafkan mantan kekasihnya tersebut, bila Evi tidak menggangu dirinya lagi.
"Sehina itu kah aku di matamu Bas?" tanya Evi dengan berderai air mata di kedua pipinya. Wajahnya nampak sayu, entah itu sandiwara atau gambaran yang sebenarnya, Abas juga ragu.
"Aku sudah berkeluarga Vi, tidak pantas jika kamu selalu menemuiku. Pertemuan kita akan menimbulkan banyak masalah dan salah sangka," kata Abas sembari memberikan sebuah sapu tangan yang ada di sakunya. Ia masih nampak tidak tega melihat mantannya menangis di hadapan nya. Perasaan iba menjalar di hatinya.
Evi perlahan menyambut uluran sapu tangan yang di berikan oleh Abas. Hatinya merasa senang, sebentar lagi Abas akan berpaling padanya. Ia akan membuat berbagai cara agar Abas bisa kembali padanya. Cinta buta dan obsesi telah mematikan nuraninya.
"Aku harap ini pertemuan terakhir kita," pinta Abas pada perempuan yang sedang mungusap air mata buayanya itu.
__ADS_1
Abas kini hendak melangkah kan kakinya keluar dari kamar toilet. Ia merasa terlalu berbahaya jika berduaan bersama wanita lain. Akan tetapi Evi justru memeluk dirinya dari belakang. Membuat Abas langsung terkejut.
"Evi, apa yang sedang kamu lakukan!" ucap Abas dengan perasaan yang cukup terkejut. Nadanya bicaranya meninggi, kedua alisnya menyatu karena perempuan tersebut mendadak memeluk dirinya dari belakang.
"Sorry Bas, tapi aku belum bisa melupakan mu," ujar Evi, tangannya masih memeluk erat tubuh Abas yang kekar dan bidang. Ia memeluk punggung Abas, mencium wangi tubuhnya. Evi rindu belaian kasih sayang Abas yang ia rasakan beberapa tahun silam.
"Lepaskan Evi," ucap Abas seraya berusaha melepas tangan Evi yang mengikat di perutnya.
"Maaf Bas, aku masih mencintai mu," ucap Evi dengan air mata yang memenuhi wajahnya.
Karena marah dan kesal dengan tindakan sang mantan, Abas langsung menghempas kedua tangan Evi. Hentakan Abas sukses membuat dirinya terlepas dari jeratan Evi. Namun hal tersebut membuat tubuh Evi terpelanting ke belakang. Tubuh Evi membentur dinding kamar mandi.
"Vi, bangun Vi! Abas menepuk nepuk kedua pipi perempuan tersebut. Namun Evi tidak kunjung membuka kedua matanya. Perempuan itu dengan segala rencana busuknya masih berpura pura pingsan. Ketika Abas berdiri dan menelepon seseorang, Evi mencoba melirik. Ia mencuri pandang pada Abas yang sedang sibuk menelepon orang.
"Halo, Fadir .. tolong aku sebentar Fad. Aku sudah tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi!" Abas terpaksa menghubungi sekertarisnya. Padahal siang ini Fadir akan melangsungan pernikahannya dengan Bela. Abas tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa, ini karena ulah Evi. Membuat ia kesusahan.
Setelah menjelaskan semua secara detail pada sekertarisnya, Abas menutup telpon gengamannya. Kini ia tinggal menunggu kedatangan Fadir untuk menolong dirinya. Tidak butuh waktu yang lama, Fadir langsung datang ke rumah sakit tempat Mely di rawat. Kedatangan Fadir kali ini bukan untuk menjenguk Mely dan bayinya. Melainkan untuk membereskan Evi yang kembali berulah.
Fadir datang mengenakan pakaian jas hitam dengan hiasan bunga di sakunya. Beberapa jam lagi ia akan melakaukan prosesi pernikahan. Namun karena Evi bertingkah. Membuat Fadir turun tangan, ia seperti dewa penyelamat bagi Abas. Keduanya kini sudah berada di toilet wanita. Nampak Fadir mengendong tubuh Evi yang pura pura pingsan.
__ADS_1
"Aku akan membawanya, sekarang masuklah kembali ke dalam. Mely pasti mencarimu," Fadir tanpa banyak kata, ia langsung memacu mobilnya. Menjauhkan Evi dari Abas untuk sementara waktu.
Di dalam kepura-puraanya, Evi nampak berpikir. Akan di bawah kemana dirinya kali ini. Ingin rasanya ia menegok ke arah jendela di samping dirinya. Namun karena ia sedang pura pura pingsan, maka ia hanya diam tak bergerak layaknya orang yang pingsan sunguhan.
Fadir melajukan mobilnya dengan amat kencang, ia merasa sangat kesal sekali pada perempuan yang sedang berbaring di kursi belakang. Kalau saja tidak mengingat
beberapa jam lagi akan melangsungan pernikahannya, Ia pasti membuat perhitungan pada perempuan itu.
Mobil Fadir dari kajauhan melaju kencang membelah jalanan, ia sedang fokus dan sedang di buru oleh waktu. Sudah banyak sekali pangilan yang masuk dalam ponselnya, namun semua ia abaikan. Ia kini memarkir mobil yang ia kendarai di sebuah bangunan. Fadir kembali mengendong tubuh Evi masuk ke dalam gedung tersebut.
Setelah sampai di depan sebuah kamar, ia membuka pintu kamar tersebut. Dengan susah payah ia meletakkan tubuh Evi diatas ranjang. Setelah meletakkan Evi di ranjang, Fadir langsung mengunci kamar. Ia meninggalkan Evi begitu saja.
Mendengar pintu kamar ditutup. Evi yang semula berpura pura langsung bangkit dari ranjang, ia sekarang duduk dengan posisi sempurna.
"Siallll," umpatnya pada pria yang telah membawa dirinya kemari.
Evi nampak marah, tangannya meremas seprai yang ia duduki. Pupil matanya menajam, seakan ingin keluar. Ia terlihat seperti orang yang berbeda, mungkin Evi memiliki riwayat ganguan kejiwaan. Wajahnya sunguh mengerikan, seperti psikopat yang diam diam menghanyutkan.
Bersambung
__ADS_1