
Alister baru saja sampai di kediaman Wilson, dan masih duduk di belakang kemudi mobil.
"Turunlah, kita sudah sampai."
"Terimakasih karena sudah mengantar saya pulang," senyum ramah Manda berikan padanya.
"Hm," dia menoleh ke hpnya yang berdering dilihatnya nama tuan muda yang menelefon.
Setelah Manda turun dari mobil barulah dia menjawab telefon masuk itu, "Hallo tuan... apakah tuan membutuhkan sesuatu?"
"Kenapa sejak tadi kau tak menjawab panggilan telefon ku? Katakan, sekarang kau ada di mana?"
"Di garasi rumah anda tuan."
"Hah? Sedang apa kau di sana? Cepat jemput kami di hotel MX, sekarang!"
"Ba -" tut tut tut si maha menyebalkan itu langsung mematikan telefonnya, "Dasar menyebalkan, kenapa selalu dia mendapatkan bagian terenak nya?"
Huh, kesal sekali rasanya hidup seperti ini.
Tetapi apa boleh buat? Semua adalah takdir dari Tuhan.
__ADS_1
Alister, pun, kembali memutar mobil untuk menjemput tuan dan nona mudanya di hotel MX.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bosan menunggu di dalam kamar, Embun meminta kepada Rendra untuk membawanya keluar jalan-jalan melihat taman yang ada di area hotel MX.
"Sayang, aku bosan di kamar ayo kita keluar."
Rendra yang sedang duduk bersandar di sofa sembari bermain hp itu pun tak sama sekali tak bergeming dari tempatnya.
"Aku sedang sibuk, kalau kau mau, kau bisa pergi sendiri... tapi ingat, jangan jauh-jauh. Dan pastikan hp mu agar selalu aktif."
"Mmmmmmmm...." merengut manja, "Sayang?" Embun ikut duduk di samping suaminya, meraih tangannya dan menarik-nariknya, "Ayo... aku ingin jalan berdua denganmu."
"Aaaaahh iya baiklah, aku akan pergi sendri."
Dengan cemberut Embun pun pergi meninggalkan kamar, dia mulai menjelajahinya dari taman hotel bagian samping kanan.
Ada banyak bunga yang tertata rapi di sana dan cantik-cantik, Embun yang begitu antusias bahkan sampai tak memperhatikan langkahnya.
Dia melangkah hingga tak sengaja menabrak bahu seorang wanita.
__ADS_1
"Ma - maafkan saya, nona... saya tidak sengaja, sungguh," pinta Embun dengan cemas.
Wanita itu bernama Milka, dia menatap Embun dari pucuk kepala hingga ujung kakinya, "Tidak tahu diri, beraninya wanita udik, jelek, dan kampungan seperti mu menyentuhku."
"Apa?" lirih ia bertanya, "Nona, apa yang ada katakan? Saya sudah meminta maaf barusan -" uh, dengan kuat Milka menoyor dada Embun dan membuatnya mundur beberapa langkah.
Jika saja pijakan kaki di atas tanah itu tak kuat maka sudah pastilah dia akan jatuh ke lantai.
"Honey?"
Suara pria yang tak asing itu, pun, memanggil Milka dengan panggilan sayangnya. Suara itu berasal dari belakang Embun.
Bulu kuduk Embun sesaat meregang merinding, dia bahkan sampai menelan di buatnya.
Agra, dia adalah tunangan Milka, putri pemilik hotel MX ini. Dia melangkah melewati Embun, namun dirinya tak sadar jika wanita itu adalah mantan istrinya.
Agra memeluk dan mencium bibir Milka dengan dalam, "Maaf membuatmu lama menunggu," dia mengusap wajah Milka yang terlihat sedang tidak mood, "Hei kau ini kenapa sayang? Apakah ada sesuatu yang mengganggu mu?"
"Dia."
Telunjuknya mengarah kepada wanita yang berdiri gemetar di belakang Agra.
__ADS_1
"Siapa?" Agra, pun, menoleh dengan senyuman yang kemudian hilang memudar saat mendapati Embun sang mantan istrinya dulu, wanita yang ia ceraikan di malam pertama keduanya.