PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Salah Dokter


__ADS_3

Beberapa Bulan Kemudian,


Matahari terlihat malu menampakkan wujudnya, ini adalah hari kesekian kali hujan turun dipagi hari.


Hari hari cepat berlalu, musim kemarau panjang kini bertukar menjadi musim hujan yang dirindukan sebagian orang.


Musim hujan yang membawa berkah di setiap tetesnya.


Pohon pohon di pinggir jalan mulai hijau daunnya. Rerumputan diatas tanah menari nari terkena tiupan angin yang menderanya.


Udara sesuk menyeruak masuk kedalam kamar seseorang. Mely masih pulas dalam pembaringannya. Abas sudah tak nampak di sebelahnya. Entah pergi kemana pria itu.


Mely menarik selimut yang semula hanya menyelimuti sebagian tubuhnya. Rasanya Ia malas sekali akhir akhir ini. Ia hanya ingin tidur berbaring seharian di dalam kamar.


Sore harinya Abas sudah pulang dari kantor, ia tidak sabar menemui Mely sepulang kerja. Tadi pagi Ia tidak sempat berpamitan. Karena ia tidak tega membangunkan istri tercintanya. Ia berangkat kerja tanpa berpamitan.


Abas berjalan dengan mengecilkan suara langkah kakinya. Ia ingin mengagetkan sang istri. Perlahan ia membuka kamar yang terkunci dari dalam. Keduanya menyimpan kunci masing masing. Abas membuka kamar dengan sangat pelan sekali, sebisa mungkin tidak menimbulkan bunyi.


Namun malah Abas yang dibuat terkejut. Mely masih seperti posisi semula saat dia berangkat kerja.


"Sayang, bangun...." Ia mengecup kening keningnya.


Mely mengusap kedua matanya, tidur seharian masih membuatnya ngantuk.


"Kok lemes banget sayang?" Abas meletakkan tangannya didahi istrinya.


Tidak demam kok pikirnya.


"Iya, Padahal gak ngapa ngapain. Tapi rasanya seperti digebukin satu kampung," Mely mengeliat, badannya terasa amat kaku semua.


"Sini aku pijitin," Abas menawarkan pijit plus plus nyan.


"Ogah... Malah sakit semua. Sana mandi dulu. Jangan pegang pegang. Bau!!!!!"


Apa'an sih Mel, badanku sampai seumur ini gak pernah bau. Habis mandi atau bangun tidur tubuhku selalu wanggi. Ucap Abas dengan Pede namun itu hanya dalam hati.


"Iya iya... aku Mandi!" Abas berlalu sambil ngedumeli sikap istrinya. Yang Belakang ini mengeluhkan banyak aroma. Tubuhnya yang bau lah. Nasi goreng yang rasa bawang lah, Bakso yang kaya aroma masako lah, jus jeruk yang aku buatin terlalu bau jeruk lah... haduh pusing. Dari awal mau masuk kamar mandi sampai keluar kamar mandi Abas terus berbicara sendiri.


"Ngomong apa, kok berisik banget kayak tawon yang lagi terbang ditelinga," Mely gak kalah keselnya.


Akhir akhir ini ia memang badmood. Entah apa yang merasukinya. Ia sendiri tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Bawaanya pingin marah, kadang juga nangis dengan tidak jelas.

__ADS_1


"Abas!" Ia memangil nama suaminya.


"Hemmm..." Abas yang dongkol hanya menjawab dengan gumaman.


"Abas..." Kali ini sedikit berteriak.


"Apa sayang," Abas meletakkan surat kabar yang tadi ia baca. Ia kembali meletakkan surat kabar di atas meja. Perlahan Ia berjalan mendekati istrinya.


"Sepertinya aku butuh Psikiater," ucap Mely dengan datar.


Abas sontak shock dengan ucapan istrinya, apa coba maksutnya. Psikiater buat siapa? buat apa? Ia bertanya tanya.


"Buat siapa?" Abas memincingkan matanya.


"Buat aku lah," Mely dengan judes mengatakannya.


"Untuk apa?" Abas tidak habis pikir dengan permintaan Mely yang meminta Psikiater.


"Aku rasa ada yang gak beres sama otakku!" Kini wajah mely terlihat ingin menangis.


"Memang ada apa sama isi kepala yang kecil ini?" Abas mendekati tubuh Mely. Ia menengelamkan istrinya dalam dekapan yang hangat. Ia berusaha menenangkan Mely.


Tangannya membelai lembut kepala Mely.


Janji Abas pada sang istri.


"Terimakasih," Mely kini tersenyum padanya.


Setelah Mely sudah siap. Abas mengandeng tangannya. Ia mengajak Mely turun bersama menuju mobil untuk menuju tempat praktek Psikiater. Sebelumnya ia sudah menelepon untuk membuat janji terlebih dahulu. Abas sudah mengendarai mobil sendiri. Mamanya sudah tidak meributkan untuk memakai jasa sopir. Kejadian itu juga sudah lama berlalu.


Mely membuka kaca mobilnya, Ia meminta Abas mematikan ACnya. Badannya gak enak semua kalau ACnya menyala. Bila tidur ia lebih memilih menyalakan kipas angin dalam kamar yang dipantulkan ditembok. Entah mengapa tubuhnya rewel beberapa minggu ini.


Ia menghela napas, makanya sekarang ingin konsultasi ke Psikiater. Ia yakin ada yang salah pada dirinya.


"tok tok tok"


"tok tok tok"


Abas mengetuk sebuah pintu ruangan. sebuah ruangan untuk konsultasi. Orang yang ada dibalik ruangan melemparkan senyuman pada Abas, disusul oleh Mely.


"Malem dok!" sapa Abas.

__ADS_1


"Selamat Malam Pak Abas, lama sekali ya Kita tidak bertemu!" sapanya sangat ramah sekali.


"Perkenalan, ini istri saya. Melyndya"


Mely pun mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan sang Dokter.


"Mely dok!"


"Saya Fany, temen suamimu saat kuliah dulu!"


Mely pun tersenyum pada Dokter Fany. Cantik dan ramah ya... batinnya. Abas keluar sebentar, telpon nya berdering. Ada pangilan masuk. Kini tinggal Mely dan Dokter Fany yang ada dalam ruangan. Mely mulai menceritakan semua unek uneknya pada dokter Fany. Begitu banyak yang ia keluhkan. Sang dokter hanya mangut mangut sambil mengetuk ngetuk penanya di atas meja.


Setelah puas mencurahkan segala isi hatinya, sekarang giliran dokter Fany berbicara.


"Sebelumnya maaf Mely, sepertinya suamimu salah menemui dokter!"


Dokter Fany terlihat menyungingkan sebuah senyuman penuh arti pada pasiennya.


"Maksud dokter apa ya, kalau boleh tahu?" Mely tidak mengerti ucapan dokter yang sedang duduk dihadapannya.


Belum sempat menjawab pertanyaan dari Mely, Abas keburu membuka pintu ruangan. Dokter Fany pun kembali berbicara pada keduanya.


"Harusnya bawa istrimu ke Dokter Kandungan Bas, bukan malah ketempatku,"


Dokter Fany seperti mengolok olok teman lamanya itu. Mely dan Abas bertukar pandang. "Emang Istriku hamil Fan?" Tanyanya spontan pada teman kuliahnya.


"Emang kamu lagi hamil Mel?" Kini ia berbalik arah menuju istrinya. Seakan tidak percaya, Karena akhir akhir ini Mely tidak menunjukkan gejala mual muntah seperti kebanyakan orang.


"Gejala orang hamil itu tidak sama Bas, tapi kalo dilihat dari apa yang tadi Ia keluhkan barusan. Biasanya itu akibat perubahan hormon, Moody .. jadi gampang nangis. gampang marah.. mendadak melow dan sensitive terhadap aroma." terang Dokter Fany.


Mely hanya diam mematung, Ia melihat handphonnya. Mencari aplikasi kalender, dan dia baru sadar memang bulan ini dia belum datang bulan. Ia Kira mungkin efek setres Karena tidak ada kegiatan di rumah.


"Sayang kamu hamil apa tidak?" Abas masih penasaran dengan dugaan dokter Fany.


Pertanyaan Abas membuat Mely mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertuju pada handphon yang ia pegang.


"Ah,.. eh.. Sepertinya kita beli testpack dulu untuk mengeceknya!" ucap Mely sambil tergagap.


Dokter Fany membuka laci meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah alat tes kehamilan.


"Gak usah beli bas, pakai ini ya Mel. Kamar mandinya sebelah sana," ucapnya dengan ramah.

__ADS_1


Mely mengulurkan tangannya mengambil alat tes kehamilan yang diberikan Dokter Fany. Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamar mandi. Abas menantinya dengan harap harap cemas.


bersambung.


__ADS_2