
Pagi yang tenang berubah menjadi menegangkan bagi Abas. Bagaimana tidak, ketenangan keluarga kecilnya hampir sirna karena kehadiran orang ketiga. Ia sedang di buru oleh kenangan masa lalu yang tiba-tiba datang tanpa memberi tahu. Evi datang padanya dengan ribuan alasan dan penyesalan. Evi keliru bila masih berharap lebih pada mantan kekasihnya. Pria itu kini telah menikahi perempuan lain, bahkan kini sudah memiliki seorang putri dan hidup dengan bahagia. Entah setan apa yang merasuki Evi, ia seperti serigala lapar yang memburu Abas.
Sekarang Abas sudah berada di dalam kamar Mely, mengenai Evi ia sudah menyerahkan Evi kepada sekertarisnya yaitu Fadir. Mulanya ia ragu, karena Fadir hari ini akan melangsungan pernikahan dengan Bela. Namun ia sudah tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa, karena situasi sudah sangat mendesak. Maka dengan terpaksa ia menghubungi sekertarisnya itu.
Sedangkan Evi sekarang masih terkunci di sebuah ruangan, ia tidak tahu sekarang berada dimana. Evi langsung membuka ponsel yang ada di dalam tas yang tergeletak begitu saja di sampingnya. Ia mulai mencari lokasi dirinya melalui aplikasi handphonnya. Ternyata Fadir membawa dirinya di pingir perkotaan. Evi mendesis kesal, ia akan membalas perbuatan Abas serta sekertarisnya. Jari-jari kuku cantiknya kembali mencengkram kain seprai yang ia duduki.
Di lain tempat, setelah meletakkan Evi pada tempatnya. Fadir kini tengah bersiap menuju ke gedung pernikahan. Bela sudah menanti dirinya. Di tengah tengah perjalanan telpon gengam miliknya terus berbunyi. Bela sudah menghubungi dirinya puluhan kali.
"Kak, lagi di mana? acaranya hampir mau mulai!" ucap Bela di sambungan telephon. Ia kuatir karena Fadir tak kunjung tiba, sedari tadi ia tidak mendapati sosok calon suaminya.
"Iya sayang, ini hampir sampai. Ibu sudah ada di sana kan?" tanya Fadir.
"Iya, Ibu sudah datang beberapa saat yang lalu. Aku kira beliau datang dengan Kakak, tak tahunya cuma ibu dengan sopir," ucap Bela dengan sedikit kecewa.
"Maaf.. maaf sabar sedikit ya. Ini beneran mau sampai kok. Tadi ada urusan mendesak. Jadi aku minta ibu datang duluan," Fadir mencari alasan agar Bela tidak berpikir yang macam macam. Sebelum mendapat kabar dari Abas tentang Evi yang mendadak pingsan di sebuah toilet. Fadir telah bersiap bersama ibunya untuk datang ke gedung di mana akan dilangsungkan acara pernikahan dirinya dan Bela. Namun telpon dari Abas membuatnya menunda keberangkatan dirinya. Ia meminta Ibunya datang duluan ke gedung, sementara ia meminta ijin sebentar. Setelah urusannya beres, ia pun langsung menuju ke tempat di mana ia akan mengucap janji suci pada Bela.
"Ya sudah kak, hati hati ya. Aku tunggu." kata Bela mengakhiri telponnya.
Di tempat yang berbeda, di sebuah kamar rumah sakit Ibu dan Anak. Mely nampak sedang membelai putri kecilnya. Bayi munggil itu kadang tersenyum dengan sendirinya, membuat Mely dan Abas terkesima.
"Sayang, lihat deh... Dia tersenyum," ucap Mely pada suaminya.
"Iya sayang," jawab Abas pendek. Pikiran Abas masih kacau, ini karena insiden dirinya dan Evi tadi pagi. Membuat dia kepikiran terus akan hal itu. Mely dapat membaca wajah sang suami. Ia pun memberanikan diri bertanya pada suaminya.
"Mikir apa sih sayang, kok mukanya kayak gitu?" tanya Mely pada pria yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa sayang, eh kamu gak vidio call sama Bela. Sekarang acaranya mau mulai," Abas mencoba mengalihkan perhatian Mely yang mulai menaruh curiga pada dirinya.
"Oh ya, bentar aku tidurin bebynya dulu," Mely meletakkan bayinya dengan lembut ke dalam ranjang bayi yang terletak di sebelah ranjangnya.
"Bobo dulu ya sayang, Mama mau telpon aunty Bela dulu," ucapnya lagi seraya mencium pipi putrinya yang kenyal dan lembut.
Setelah usai menidurkan sang buah hati, Mely kini mengambil telpon gengam miliknya. Ia ingin berbicara langsung pada sahabatnya itu. Ini adalah momen yang luar biasa bagi sahabatnya, tapi sayang ia tidak bisa hadir di tengah tengah hari bahagia Bela. Karena saat ini ia masih di rawat di rumah sakit, Mely baru boleh pulang besok pagi. Terpaksa saat ini ia hanya bisa bertelepon saja.
"Hii... Bela," sapa Mely ketika melihat paras Bela yang cantik di depan layar handphonnya.
"Haloo Mely, aku cantik gak?" tanya Bela pada sahabat karibnya.
"Cantik banget sayang, maaf ya. Aku tidak bisa hadir di hari bahagia kamu," nada bicara Mely terdengar memelas. Ia menyesal tidak ada di sisi sahabatnya. Padahal dulu saat pernikahan dirinya, Bela seratus persen ada untuknya. Semua Bela yang mengurus dari hal terkecil sampai yang memberi taburan ribuan kelopak mawar di kamar pengantin. Mely tersenyum sendiri mengenang malam pertamanya.
"Hey, mengapa senyum senyum tidak jelas seperti itu?" tanya Bela yang melihat lewat layar handphonnya.
"Ya ampun... ada ada saja kamu ini, eh udah ya kak Fadir sudah tiba. Aku siap siap dulu," Bela memutus sambungan telponnya.
"Telpon siapa?" tanya Fadir sembari mendekat ke arah Bela yang duduk di meja rias. Bela sedang berkaca, ia ingin memastikan bahwa make up nya sudah terlihat sempurna.
"Habis telpon Mely kak, eh baju Kakak kok agak berantakan. Sini aku bantu merapikan," Bela mendekati calon suaminya. Ia merapikan pakaian Fadir. Nampak jas Fadir terlihat agak kusut, ini karena tadi sebelum ke gedung ia mengendong Evi yang mencoba berulah dengan Abas.
"Oh ini, mungkin karena aku tadi bawa beberapa barang," Fadir berusaha mencari cari alasan, ia nampak binggung mau menjawab apa.
Kini Bela sudah berdiri tepat di hadapan Fadir, Bela dapat mencium aroma parfum yang lain dari jas yang dikenakan Fadir. Sebuah aroma asing yang jelas bukan aroma parfum dari calon suaminya.
__ADS_1
"Kak, kakak tadi ketemu dengan siapa?" tanya Bela, membuat mata Fadir membulat seketika.
"Memang kenapa?" ucap Fadir mengusir rasa gerogi yang sedang menderanya.
"Ada aroma parfum perempuan pada jasa Kakak," ucap Bela tanpa ada yang ia tutupi, Bela termasuk orang yang ceplas ceplos bila berbicara. Apa yang ada dalam pikirannya langsung ia katakan. Ia bukan tipe yang suka memendam perasaan. Bela sangat terbuka dan jujur apa adanya. Jika merasa ada yang tidak enak pada hatinya, langsung ia katakan tanpa basa basi.
Seperti saat ini, ia sedang mengintrogasi sang calon suami. Hingga mampu membuat Fadir jadi salah tingkah. Karena sudah tertangkap basah, akhirnya Fadir berkata yang sejujurnya.
"Gila banget tuh Evi, mengapa ia pergi ke rumah sakit? belum cukup ia pindah ke apartmen dekat Kak Abas dan Mely? belum cukupkah ia mengaku ngaku memiliki anak di luar nikah dengan kak Abas. Kak aku rasa wanita gila itu seorang psikopat," tutur Bela dengan mengebu-ngebu.
Fadir nampak lega, sekarang Bela tidak menaruh curiga pada dirinya. Namun ia juga merasa bersalah, karena tidak bicara jujur sebelumnya pada calon istrinya.
"Maaf ya sayang, tadi pagi aku gak bicara jujur padamu," ucap Fadir dengan membelai rambut Bela yang sudah tertutup veil putih yang cantik. Bela nampak seperti putri kerajaan di negara inggris. Dengan gaun putih yang membalut tubuhnya, serta mahkota yang tertata sempurna di atas kepalanya.
Setelah selesai membelai rambut Bela kini Fadir berdiri tepat di hadapan kekasihnya. Fadir mencium lembut kening Bela yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya untuk selamaya. Fadir bersyukur, akhirnya ia akan melepas status lajangnya. Begitu pula dengan Bela, akhirnya perjuangan dia mendapatkan Fadir tidak lah sia-sia. Akhirnya ia benar-benar akan menjadi nyonya Fadir. Usahanya selama ini membuahkan hasil yang maksimal. Nampak bibirnya kini mengumbar sebuah senyuman.
"Kenapa itu, senyum-senyum tidak jelas," kata Fadir sembari mencubit hidung Bela, ia gemas sekali denga perempuan cantik yang berdiri tegak di hadapannya saat ini.
"Ih kakak, sakit tau," ucap Bela dengan memegang hidungnya yang nampak merah karena ulah Fadir.
"Mana yang sakit, sini Kakak tiup," Fadir semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Bela. Wajah Fadir semakin mendekat, membuat Bela menutup kedua matanya.
"Kenapa matanya ditutup sayang?" pertanyaan Fadir membuyarkan imajinasi Bela. Seketika wajah Bela merah merona. Ia malu bukan main. Ia hanya bisa tersenyum dengan terpaksa untuk menutupi malunya. Melihat tingkah Bela, Fadir malanjutkan aksinya.
Fadir meniup halus hidung calon pengantinnya, pertama ia memang hanya meniup. Selanjutnya Fadir mengecup hidung munggil milik Bela dan beralih ke bawah. Saat akan mengecup bibir kekasih hatinya, tiba-tiba ada yang masuk ke dalam ruangan mereka. Siapa yang berhasil menganggu momen romantis mereka, membuat Bela mengerucutkan ujung bibirnya. Ia mengumpat kesal.
__ADS_1
Bersambung