
"Hei, hei!" pekik Rendra kesal sampai menendang udara saat melihat Embun menaiki bis tersebut.
Dia sedang hamil dan membuat Rendra begitu khawatir sehingga mau tak mau dirinya, pun, iku naik ke bis.
Astaga!
Penuh dan sesak, tak kebagian tempat duduk.
Lalu bagaimana dengan Embun?
Rendra mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri sampai akhirnya menemukan Embun yang sedang duduk di kursi depan dekat jendela.
Setidaknya wanita itu sudah aman, tunggu dulu, bau apa ini? Hidung mancungnya mengendus bau yang tak sedap.
Bau tak sedap itu menuntunnya untuk menoleh kesamping, hingga akhirnya dia mual dan ingin muntah.
"Hueeeeeekkk!"
Rendra menjauh dan menyelinap-nyelinap di antara orang-orang yang berdiri di dekatnya.
Bau itu datang dari burket seseorang bahkan area basah itu tidak hanya ada di sekitar ketiak wanita bertubuh gemuk tersebut. Pokoknya Rendra serasa ingin muntah sampai mati.
Semua orang menatap aneh padanya, "Hei bung, ada masalah apa? Kenapa kau menyelinap seperti ini?"
Desas desus dari belakang cukup mengganggu, membuat Embun salah satunya menoleh ke belakang, dia terkejut saat mendapati suaminya yang mual.
Tapi pemandangan itu sangat lucu, membuat Embun tertawa terbahak-bahak bahkan sampai mengusap kedua ujung matanya yang basah.
Bis pun turun di pemberhentian selanjutnya, sepasang suami istri itu ikut turun. Daerah yang cukup asing.
Embun masih tertawa,"Hahaha..."
"Kau berani menertawaiku? Lihat berapa banyak aku akan menghitung kerugian yang ku terima darimu."
"Kerugian apa? Kau yang sudah membuatku menunggu hampir dua jam lamanya, bahkan setelah sampai pun kau tak membela ku di hadapan nona Viana. Kerugian apa lagi yang kau terima, apa?" pekik Embun yang sudah berani memukul dada bidang suaminya.
"Bodoh!" jawabnya dengan singkat, namun setelah itu Rendra menarik Embun ke dalam pelukannya, dia mencium bibir istrinya sampai dalam.
Tak peduli lagi jika ini adalah tempat umum, Embun hanya membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
__ADS_1
Dia bahkan sampai tak habis pikir, bagaimana bisa seorang taun muda Rendra mau menciumnya di pinggir jalan yang ramai lalu lintas seperti ini.
Ciuman panas mereka pun berkahir dengan panasnya terik mentari yang seolah sedang membakar bumi ini.
Karena asing dengan daerah ini tetapi untungnya ada hotel yang cukup mewah, tak jauh dari halte bis ini.
Rendra mengeluarkan black card-nya untuk menyewa kamar VVIP, tetapi mereka sedang sial.
Kamar VVIP sudah penuh, dan hanya ada satu kamar medium yang kosong.
"Maaf tuan, kamar yang tuan pesan telah terisi semua... dan hanya tersisa satu kamar medium, jika tuan -"
"Apa? Panggil direktur mu kemari, cepat!" dasar tuan muda yang suka seenaknya, memangnya pemilik hotel ini tahu jika dirimu akan datang?
"Apa yang kau lakukan? Jangan membuat malu," tegur Embun sambil menarik-narik ujung jasnya.
Mereka berdua menatap ke sekeliling, menjadi pusat perhatian karena sebuah keonaran, sungguh membuat Embun malu bukan kepalang.
"Hais, ya sudahlah berikan aku kunci kamarnya."
"Ba- baik tuan, ini kuncinya silahkan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jadwal hari ini benar-benar kacau, dia duduk di tepi ranjang setelah melepaskan semua pakaiannya, tetapi dia masih memakai bokser.
"Kemari, dan lepaskan semua pakaianmu."
"Tidak, aku tidak mau tidur denganmu."
"Cerewet," Rendra beranjak dari duduknya dan menggendong Embun, kemudian membaringkannya di atas ranjang.
Mengunci pergerakan Embun dengan membuat wanita itu berada di dalam kungkungannya.
"Lepaskan aku -"
Tangan Rendra mulai meremas-remas tempat favoritnya, membuat istrinya sendiri terlena hingga membuat pakaiannya berserakan di lantai.
Hampir setengah jam lamanya akhirnya pergumulan panas mereka pun berakhir, Rendra segera menarik diri dari kepemilikan istrinya yang membuatnya begitu candu.
Dia berbaring sambil memeluk istrinya, "Sudah jangan marah lagi, kalau kau masih marah maka kau akan melihat kepala Viana tergantung di menara."
__ADS_1
Sontak saja Embun terkejut, tapi tak percaya.
"Bohong, mana mungkin kau melakukannya -"
Pletak!
"Aduh!" pekik Embun kesakitan saat Rendra menyentil keningnya, "Sakit," mengusap kening.
Rendra beranjak turun dari ranjang untuk mengambil hp nya, "Lihatlah sendiri," menyodorkan hp.
"Apa sandinya?" layarnya terkunci, apakah tuan muda itu takut akan sesuatu?
"Sandinya, namamu."
Embun terdiam, dia senang tapi takut kecewa.
Di putarnya sebuah video yang memuat wajah Viana, "Hai kakak ipar, maaf aku sudah keterlaluan padamu tadi... semua ini adalah rencana kak Rendra, pria sialan itu memaksaku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya... karena dia ingin tahu apakah kau benar-benar mencintainya dengan tulus?"
"Dia benar-benar jatuh cinta kepadamu, kakak ipar... biar ku beri tahu sebuah rahasia, sebelum pesta ulang tahunku di malam itu, kak Rendra mengancam akan memboikot perusahaan ayah jika aku menolak untuk membantunya."
"Karena itulah aku mau melakukannya. Sungguh, kau adalah wanita beruntung yang dinikahi kakak. Ah salah, aku ralat, kakak sepulu ku Alvarendra adalah pria yang paling beruntung karena telah menikahi mu."
"Kau tahu? Sejak lama kak Rendra menderita karena tak bisa bersosialisasi dengan siapapun, dia juga ingin hidup layaknya pria normal. Ku mohon jagalah kakak ku yang super dingin dan cuek itu."
"Aku yakin anak kalian pasti akan menjadi secantik dirimu, karena namamu adalah Embun, pergantian waktu dari malam ke pagi, butiran Embun yang sejuk dan suci tak tersentuh. Seperti itulah dirimu."
"Nah, baiklah aku tahu video durasi tiga menit ini tak akan bisa memuaskan rasa penasaran mu, intinya, percayalah kepada suamimu sendiri... dia sangat mencintaimu."
"Jika kau sudah menonton video ini itu artinya aku harus segera pergi untuk kembali menempuh pendidikan ku di luar negeri. Kehidupan ku sebagai pacar kak Rendra, semua itu bohong."
Lalu Viana membuat lambang love dengan kedua tangannya, "Saranghaeo, onnie,"🥰
Tanpa sadar air mata Embun menetes, dia menangis di dalam pelukan Rendra.
"Maafkan aku sayang, maafkan kebodohan ku ini..." dia menangis sampai tersedu-sedu.
"Minta maaf saja tidak akan cukup, loh,
" 😏
"Aaaaaaa... dasar suamiku mesum."
__ADS_1
💋💋💋💋💋