
pagi ini suasana sarapan di kediaman Abas sedikit berbeda, kehangatan keluarga yang biasanya menjadi ciri khas keluarga itu kini terasa agak canggung.
Ada nada kekakuan dalam moment sarapan pagi ini. Sejak tadi semua makan dalam kebisuan. Terutama Miko, sambil menyendok makanan ke dalam mulut. Ia menatap tajam ke arah pria yang mendadak menjadi Kakak iparnya.
Shitttt, rasanya Miko ingin mengumpati Nathan. Kenapa Mika, saudari perempuannya bisa mendadak menikah dengan laki-laki seperti itu?
Kesan awal Miko sudah tak suka dengan Nathan, sama persis dengan Papa dan Mamanya. Ternyata mereka bertiga komplak masalah selera. Tiga-tiganya pikir Nathan tak pantas mendampingi Mika.
Sementara itu, Nathan yang merasa beberapa pasang mata melirik ke arahnya. Cuek begitu saja, mau bagaimana lagi? Memaksa orang lain untuk menyukai kita itu pedih jendral.
Sama halnya dengan hari ini, Nathan membiarkan saja semua apa adanya. Ia yakin, bila mereka tahu bahwa cintanya besar terhadap Mika. Lama-kelamaan pasti mereka semua menerima dirinya.
Itulah yang ada di kepala Nathan saat ini, dengan rileks ia melanjutkan sarapannya. Tidak memikirkan banyak pasang mata yang tajam siap menghujam dirinya. Nathan santai menikmati hidangan lezat dari sang mertua.
"Apa rencana kalian?" tiba-tiba Mely membuka obrolan.
Mika dan Nathan saling melempar pandangan. Keduanya sama-sama menyuruh siapa yang akan menjawab pertanyaan Mama Mika.
Sebagai seorang laki-laki, yang kini sudah menjadi suami Mika dan kepala keluarga. Nathan pun bersuara.
"Kami akan memebeli rumah dan tinggal di sana, Tante!"
Masih canggung, takut Mely tidak mau di panggil Mama. Nathan memilih memanggil Tante.
"Ehem-ehem!"
Mama berdehem, ia tidak menyangkah Nathan malah memanggil dirinya dengan sebutan tante. Apa Mely kecewa? Tentu. Ia merasa Nathan tidak menganggap dirinya Mamanya Mika.
"Panggil saja Mama!" ucap Mely dengan sedikit ketus dan gusar. Apa ini tanda bahwa Mama Mika tersebut sudah sedikit membuka hatinya untuk Nathan?
Mendengar itu Mika langsung berbinar binar. Ia merasa Mamanya sudah sangat mendukung hubungan mereka.
"Baik, Ma." Begitu juga dengan Nathan. Ada rona bahagia pada paras tampannya yang berkharisma.
Sementara Abas memilih diam, ia melanjutkan sarapannya.
Miko makin keki, pokoknya ia tiduk suka dengan soso kakak Ipar dadakan itu.
"Pa, boleh kan Mika tinggal sama Kita?" Mely menatap suaminya.
"Terserah mereka saja!" Abas meletakkan sendoknya. Ia bangkit dari kursi. Kemudian pergi meninggalkan meja makan.
Mika menelan salivanya dengan kasar, mungkin ia merasa Papanya masih belum terbuka dengan hubungan mereka.
"Jangan beli rumah dulu, untuk beberapa saat kalian tinggal di sini saja," pinta Mama Mika. Mungkin karena ia tak rela, berpisah jauh dengan Mika sekali lagi.
Mika lantas menatap wajah suaminya, seakan-akan meminta pendapat dari Nathan.
__ADS_1
Nathan pun ngangguk pelan, seolah memberikan lampu hijau. Semua terserah apa mau Mika. Nathan pasti akan mengikuti kemana pun istrinya pergi.
Beberapa saat kemudian, setelah sarapan Nathan bersiap-siap untuk ke purasahaan yang selama ini ditangani oleh orang kepercayaannya.
Gara-gara menyusul Mika ke luar negeri kala itu, membuat dirinya harus sering bolak balik keluar negeri.
Karena sekarang mereka sudah kembali menetap di Indonesian. Maka Nathan akan kembali fokus dengan bisnis miliknya.
Sembari berdiri di depan kaca untuk membetulkan dasinya, Mika mendekati sang suami.
"Aku bantu,"
"Tidak usah, aku bisa kok,"
"Aku tahu kamu bisa, Sayang. Aku cuma ingin ngelakuinnya." Mika memkasa.
Karena Mika terlalu gentol dengan keinginannya. Maka Nathan pun menurunkan wajahnya sedikit.
Namun, hal tersebut malah membuat wajah mereka sangat dekat. Saat jarak mereka hanya beberapa inci, mendadak desiran halus merasuk dalam nadi keduanya.
Tidak tahan, Nathan yang menatap bibir merah muda Mika yang mengkilap. Langsung melahapnya, ia mencium Mika dengan cepat.
Sedetik kemudia Nathan melepaskannya, ada rasa manis yang tertinggal. Tanggung banget, Nathan pun mendaratkan bibirnya sekali lagi.
Kali ini lebih lama dan lebih mendalam, hingga Mika sulit untuk mengontrol napasnya.
"Stopped!" Mika mendorong dada bidang Nathan.
"Why?"
"Nanti kamu telat Honey, Kita tunda sampai nanti malam," ucap Mika dengan senyum penuh arti.
Gemas, Nathan pun mencubit pipi cubby sang istri.
"Hemm,"
Mika pun melanjutkan memasang dasi Nathan, sembari merapikan kemeja suaminya agar terlihat rapi dan makin tampan.
"Aku berangkat dulu ya," pamit Nathan sembari mengecup pucuk rambut Mika.
"Hati-hati,"
Selepas suaminya pergi ke kantor. Mika turun ke bawah menemui Mamanya yang duduk termenung.
"Ma!" teriak Mika yang membuyarkan lamunan sang Mama.
"Sedang apa?" tanya Mika sembari bergelayutan manja pada lengan Mamanya.
__ADS_1
"Tidak ada,"
"Ke Mall yuk, Ma!" ajak Mika yang ingin jalan-jalan dengan sang Mama.
"Boleh juga, kebetulan Mama lagi suntuk," jawab Mely. Mika pasti tahu apa maksud ucapan Mamanya. Yang membuat Mamanya suntuk pasti dirinya.
Tanpa sepengetahuan Mely, Mika membuang muka dan tersenyum kecut.
"Ya udah, Mika siap-siap dulu ya. Mama juga!"
"Hemm,"
Setengah jam kemudian, Mika udah cantik, udah wangi. Dari gaya pakaiannya ia masih seperti ABG. itulah yang dilihat Mely saat ini.
Entah mengapa ia melihat putrinya saat ini masih seperti anak gadisnya yang akan berangkat kuliah. Ah, Mely galau saat mengingat bahwa Mika sudah menikah.
"Ayo Ma!"
Mereka berdua pun naik mobil yang di kendarai sopir. Menuju mall di tengah Kota, mencari hiburan. Keduanya jalan-jalan tidak jelas dari satu Mall ke mall yang lainnya.
Saat ini baik tangan kiri dan kanan Mika sudah penuh dengan paper bag yang berisi belanjaan mereka. Mika memborong pakaian, tas, sepatu dan beberapa hadia untuk Miko dan Papanya.
Itung-itung sebagai sogokan kepada keduanya, agar lebih menerima Nathan dengan terbuka.
Sedangkan Mely memilih hanya membeli beberapa peehiasan, untuk menganti koneksinya yang mungkin sudah usang. Rasanya lama sekali ia tidak jalan-jalan dengan anak gadisnya ini.
Ah, Mely masih merasa Mika belum menikah. Lihatlah peragainya, Mely merasa putrinya itu masih pantas untuk ke sekolah. Sadar dengan pikirannya yang bukan-bukan, Mely pun tersenyum tipis.
Karena sudah siang, mereka pun pulang kembali ke rumah. Membawa banyak belanjaan sampai bagasi mobil tak muat. Rupanya Mika ini shopping holic juga ternyata.
Begitu sampai rumah Mika membuka semua belanjaan miliknya, kemudian ia mengambil sebuah kotak warna maroon.
Mika berjalan menuju kamar sang Mama, dilihatnya Mely sedang duduk di meja rias sambil menghapus riasannya.
"Ma!"
"Hemm," sahut Mama Mika dengan deheman.
"Ini buat Mama," Mika mengulur kotak berwarna maroon itu.
Mely pun menatap haru pada pemberian sang putri.
"Apa ini sogokan?" tanya Mely menggoda Mika.
Mendapat pertanyaan itu, Mika seketika nyengir bak unta di gurun pasir Saudi Arabia.
Nantikan Bonus Chapter selanjutnya... Love yang banyak.
__ADS_1