PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Bonus Chapter III


__ADS_3

Suasana malam di kediaman Abas saat ini sangat kacau, kedua orang tua Mika sangat kecewa dengan kelakuan putrinya. Bagaimana bisa Mika menikah tanpa persetujuan dari pihak keluarga.


Terutama Nathan, Abas dan Mely sangat membenci sosok pria tersebut. Berani-beraninya Nathan berbuat hal yang seperti ini. Belum puas dengan satu tamparan, Abas meraih kerah kemeja Nathan.


"Berani-beraninya kamu!" mata Abas menatap tajam seolah menghujam jantung Nathan.


"Maaf, Om!" hanya kata maaf yang mampu Nathan ucapkan. Semua sudah terjadi, tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dengan kasar, Abas melepas cengkraman tangannya.


"Maafin Mika, Pa." Mika menyentuh kaki Papanya. Meminta maaf atas segala kesalahannya.


Tidak sanggup menatap putri kesayangan mengiba. Abas meraih pundak Mika, memeluk anak gadisnya yang kini telah menikah tanpa sepengetahuan dirinya.


Menyaksikan pemandangan yang mengharu biru antara Ayah dan anak, Mely ikut terenyuh. Semua sudah terlanjur, tidak mungkin memutar waktu. Dengan lapang dada, Mely mencoba menerima kenyataan yang tak sesuai harapannya.


Setelah kondisi cukup stabil, dan semua hati sudah mendingin. Abas menyuruh Nathan duduk di ruang tamu.


Mereka bicara antara laki-laki dan laki-laki, Abas menanyakan semua hal mengenai Nathan. Dimulai dari asal usul serta latar belakang.


Nathan yang memang sudah lama sebatang kara, karena Mamanya yang sudah lama meninggal. Ia pun mengatakan yang sebenarnya. Hanya saja, ia masih menyimpan satu rahasia.


Dia tak mengatakan siapa nama Ibunya. Tidak ingin memperkeruh keadaan, biarlah sejarah kelam mengenai dendam di masa lalu terkubur.


Nathan tidak ingin kembali di salah pahami, ia benar-benar ingin memulai hidup baru bersama Mika. Melupakan rasa benci yang pernah ada.


Ketika Abas memastikan siapa pria yang kini menjadi suami dari putrinya, dengan terpaksa untuk saat ini ia akan membiarkan semuanya.


Bila Nathan suatu hari berulah, barulah ia akan memberi pelajaran yang sangat setimpal.


Karena sudah semakin larut, Mely menyuruh Mika untuk istirahat dan tidur. Dengan pandangan tak rela, Mely serta Abas membiarkan Nathan satu kamar dengan putri mereka.


Di dalam kamar Mika, hati Mika sekarang sudah lega. Setidaknya ia sudah mengatakan apa yang selama ini menganjal dalam hatinya.


Ia langsung menengelamkan wajahnya dalam dada bidang Nathan. Mencari kehangatan di dalam sana.


"Apa masih sakit?" tanya Mika seraya menyentuh pipi suaminya.


Masih ada jejak tangan Papanya di sana, Mika merasa tak enak pada sang suami.

__ADS_1


"It's okay. Aku gak apa-apa,"


"Maaf ya,"


"Kamu gak perlu minta maaf Mika, ini bukan salah kamu. Aku memang pantas mendapatkan ini semua," Nathan menatap kosong ke segalah arah.


Ia merasa bersalah karena pernah berniat buruk pada Abas serta keluarganya. Terutama Mika, ia paling merasa bersalah pada istrinya tersebut.


Dengan lembut ia membelai rambut Mika, menecup pucuk rambutnya dengan sayang.


"Ayo kita tidur, aku lelah banget," ucap Nathan seraya membopong tubuh istrinya ke atas ranjang.


Mika mengalungkan lengannya pada leher Nathan, bergelayutan manja di sana. Beberapa saat kemudian, keduanya sudah lelap di atas ranjang yang sama.


Kukuruyuk


Terdengar suara ayam tetangga yang berlomba untuk membangunkan jiwa-jiwa yang sedang lelap dalam alam mimpinya.


Begitu juga Mika, ia masih sembunyi di balik selimut sambil memeluk tubuh suaminya. Hangat dan nyaman. Bila tidak ada yang mengetuk kamarnya, ia pasti akan tidur lebih lama.


Tok tok tok


Pokoknya ia gak ikhlas, mungkin itulah rasa yang ada dalam benak Melly saat ini.


Berbeda dengan Istrinya, Abas lebih santai, mau apalagi. Kalau Nathan melukai Mika, barulah ia akan mengejar Nathan sampai ujung neraka pun akan ia kejar.


"Iya, Maaa!" Mika sudah mengira itu pasti ulah Mamanya.


Mika akan bangun dari ranjang, namun tangan Nathan langsung merengkuh pinggang Mika. Membuat Mika oleng tepat di atas dada kontak-kotak Nathan.


Kesal, Mika mencubit pinggang suaminya. Keduanya terkekeh. Tak mengerti Mely yang sudah gemas ingin membuka pintu kamar putrinya.


"Mama ada nunggu tuh!"


"Sebentar saja, seperti ini!"


Nathan mendekap istrinya dengan mesra, seperti pengantin baru. Romansa mereka sedang hangat-hangatnya.

__ADS_1


"Sudah ah, nanti Mama tambah marah!"


Nathan pun melepas dekapannya. Membiarkan Mika lepas karena sepertinya sang mertua sudah menunggu di depan pintu.


"Iya, Ma!" ucap Mika begitu membuka pintu kamarnya.


Loh kemana Mamanya? Kok gak ada orang. Ia justru melihat kamar adiknya terbuka.


"Miko," gumamnya lirih.


Dengan langkah kecil tanpa suara ia mendekat ke kamar adiknya. Diintipnya Miko yang sedang memainkan gitar.


"Mikoooo," seru Mika sambil memeluk adik yang lama tak berjumpa.


Risih karena pelukan sang Kakak, Miko langsung mendorong dengan tangan. Tentunya dengan dorongan yang lembut. Mustahil baginya berbuat kasar pada sang Kakak.


"Pulang kapan?" tanya Miko. Rupanya pagi-pagi ia baru pulang dari asrama.


Jadi dia tidak tahu perihal keributan yang terjadi semalam.


"Kemarin," ucap Mely dengan canggung.


"Oh,"


Miko beranjak dari duduknya, ia hendak keluar kamar.


"Mau kemana?" Mika penasaran.


"Mau ambil stik drum, sepertinya ada di lemari di kamar Kakak."


Otak Mika langsung berpikir keras, adiknya belum tau kalau ia sudah menikah. Dan lagi, ada Nathan dalam kamarnya. Gawat...


Mika langsung menghalangi langkah sang adik.


"Ngapain Kak?" Miko penasaran mengapa Mika menghalangi dirinya.


"Itu, itu.. kamar Kakak berantakan. Kamu di luar saja biar Kakak ambilin," jawab Mika dengan glagapan.

__ADS_1


Dengan langkah secepat kilat, Mika masuk dan menutup kamarnya.


Bersambung


__ADS_2