
Suasana apartmen Abas sangat meriah, hari ini Mely serta bayinya telah pulang ke rumah. Lia menyiapkan pesta keci kecilan untuk sang Kakak. Sebuah pesta penyambutan yang sederhana namun berkesan bagi Mely. Semuanya nampak berkumpul dengan bahagia.
Di tempat yang berbeda, di sebuah pulau yang terkenal dengan keindahan pantai dan laguna biru yang memanjakan mata. Pulau Maldives, Fadir dan Bela tengah menikmati bulan madu mereka. Keduanya sedang berjemur, tidur terlentang di bawah sinar matahari yang hangat.
"Kakak, tolong olesin sunblock ke punggung aku dong," pinta Bela pada suaminya. Ia tidak ingin kulit putihnya menjadi gosong karena tidak memakai tabir Surya.
Bukanya mengoleskan krim sunblock, Fadir justru melempar sebuah kain lebar pada tubuh istrinya.
"Pakai ini saja, lebih higenis tidak tersentuh oleh debu," ejek Fadir.
"Memangnya aku kue yang di jajakan di pingir jalanan kak? harus dibungkus agar tidak terkena debu di jalanan?" ucap Bela. Ia sedang meladeni suaminya yang sedang ingin bercanda dengannya.
"Kue apa yang cerewetnya minta ampun?" ledek Fadir kembali. Rasanya ia ingin menjahili Bela sampai puas.
"Kue mencintai mu Kak, hahaha." Bela mendadak tertawa, menertawakan gombalannya sendiri.
"Garing banget kamu Bel," ucap Fadir menangapi guyonan sang istri.
"Iya Kak, gimana gak garing. Aku belum di siram dari kemarin.hehehe...,"
"Hussst, malu di denger orang,"
"Malu sama siapa Kak, kanan kiri kita kan bule semua," Bela merasa bebas berbicara, toh tidak ada orang Indonesia di sekitar mereka.
"Kamu ini, bandel banget kalau dibilangin," Fadir mencubit hidung istrinya. Ia merasa gemas dengan semua celotehan Bela.
"Kak, Aku mau kelapa muda. Aku mau minum air kelapa yang banyak biar menstruasi ku cepet selesai," kata Bela.
"Tanpa menunggu aba aba, Fadir langsung meluncur mengambil kelapa muda untuk istrinya. Rasanya ia tidak sabar, kapan tamu bulanan Bela segera pulang. Selama bulan madu ini, dia belum melakukannya sama sekali. Tamu Bela mendadak datang membuat Fadir harus menahan diri untuk sementara.
Ketika Fadir sedang pergi mengambil kelapa muda, ada seorang pria bule yang menghampiri Bela.
"Bela... How are you? how long has it been? Nice to meet you." kata bule yang merupakan salah satu klien Bela dulu.
"Iam good, it has been too long. Nice to meet you too, George" ucap Bela.
__ADS_1
"What are you doing?"
Belum sempat Bela menjawab, Fadir sudah datang dengan membawa dua buah kelapa muda di tangan kiri dan tangan kananya.
Melihat Fadir berjalan mendekat pada Bela, George memili pergi meningalakan keduanya.
"Okey Bela, see you next time," George melambaikan tangan pada Bela, dan tidak menganggap Fadir ada diantara mereka.
Dasar bule sialan, gerutu Fadi dengan pelan. Fadir dapat melihat dengan jelas, pria seperti apa yang barusan berbicara pada istrinya.
"Kamu gitu banget ya, baru Aku tinggal lima menit udah nyantol sama pria bule," ucap Fadir kesal.
"Eits... Tunggu dulu, George itu salah satu klien ku loh, kalo gak percaya. Telpon Mely saja,"
"No, thanks. I believe in you,"
"Thanks you honey for believing in me." Bela memberikan senyum termanisnya untuk Fadir. Kecemburuan Fadir barusan membuat ia menjadi sumringah. Ia merasa di cintai sepenuhnya.
"Makasih ya Kak," Ucap Bela kali ini dengan mengunakan bahasa Indonesia dengan kearifan lokalnya.
"Terimakasih untuk rasa cemburu Kakak,"
"Aku yang pusing, kamu yang terimakasih. Lain kali jangan begitu akrab dengan lawan jenis. Aku tidak suka," kata Fadir sedikit tegas.
"Yes sir,"
Melihat respon Bela yang slengakan penuh canda membuat Fadir tambah gemas, ia langsung mengendong Bela menuju pingir pantai. Sedari tadi deburan ombak yang mengulung tidak terlalu besar sudah memanggil keduanya. Seakan menyuruh mereka berdua menyelami kedalamannya. Sebuah surga di balik air yang indah.
"Eh Kak lepasin... Jangan turunin di air kak. Please," pinta Bela. Ia sedang mengenakan pakaian yang tipis, jika terkena air maka akan terlukis jelas lekuk tubuh Bela.
Fadir sendiri tidak perduli dengan perkataan wanita yang kini ada di gendongannya. Tanpa aba-aba terlebih dahulu ia langsung menceburkan tubuh Bela sepenuhnya ke dalam laut yang biru mempesona. Gabungan keindahan alam dan keindahan Bela yang kini ada di hadapannya.
"Tuh kan, jadi kelihatan semua Kak. Ih resek banget Kakak. Aku lagi dapet Kak,"
"Sorry, sorry.. Aku lupa Bel," ucap Fadir yang hanyut dalam suasana.
__ADS_1
Fadir langsung melepas pakaian yang ia kenakan, ia langsung menyerahkanya pada Bela. Begitu melihat perut rata suaminya, Bela langsung menelan salivanya. Tidak ingin menuruti setan yang melintas di hatinya. Bela langsung mengenakan pakaian yang di berikan suaminya. Jadi Bela saat ini mengenakan dua baju sekaligus. Fadir pun langsung membopong tubuh Bela kembali. Mereka menuju penginapan untuk membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian, Bela sudah berganti baju. Ia sekarang mengenakan dress mini warna salmon dengan renda renda di ujung lehernya.
"Kamu cantik banget sayang," puji Fadir yang tengah menatap takjub pada bidadari tak bersayap di depannya.
"Dasar raja gombal!" ejek Bela.
"Iam seriously!"
"Aku memang cantik sejak lahir Kak, gak usah heran," ucap Bela dengan berlagak angkuh dan sombong.
"Iya percaya kok. Tapi sayang banget. Kamu masih belum bisa ku sentuh," wajah Fadir kelihatan memelas.
Ucapan Fadir berhasil membuat Bela mati kutu. Ia sudah tidak sanggup berkomentar. Sebenarnya ia juga ingin ngapa ngapin dengan suaminya. Hanya saja tamu yang datang tiap bulan membuat ia dan suaminya harus menahan hasrat mereka untuk sementara.
"Sabar ya Kakak," ucap Bela sembari memberikan kecupan manis pada suaminya
"Stop Bela, jangan lakukan lagi. Juniorku sudah mau bangkit," Fadir memperingati Bela agar tidak memberikan sentuhan sekecil apapun pada tubuhnya. Ia rasa tidak bisa terus menahan, bila Bela terus mengoda dirinya.
Bela yang melihat raut wajah suaminya langsung tertawa lepas. Ia menertawakan ekspresi wajah suaminya yang sedang menahan hasrat nya.
"Kejam betul kamu Bela," protes Fadir yang jadi bahan candaan istrinya.
"Peace Kak, sumpah. Wajah Kakak saat ini lucu banget deh. Bentar aku ambilin kaca ya.... Hahaha," Bela masih tertawa dengan lepas.
"Awas ya kamu, tunggu hari pembalasan nanti,' ancam Fadir.
"Ih apa sih Kak, main ngancam-ngancam segala. Sini sini aku kiss lagi,"
Muach.... muachh.. muachh...
Kini pipi, kening dan hidung Fadir penuh dengan tanda merah bekas kecupan Bela.
"Belaaa... Kamu benar-benar cari mati ya," ucap Fadir dengan lirih. Tangannya langsung merengkuh tubuh istrinya. Fadir memberikan serangan bertubi-tubi pada bibir lembut Bela. Itulah balasan bagi Bela yang sedari tadi usil mengoda dirinya. Keduanya kini berlayar dalam lautan asmara di tengah tengah pulau Maladewa.
__ADS_1
Bersambung