PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Mikayla, Panggil Aku Mika


__ADS_3

Lima tahun kemudian


"Mika... Mikayla..." Mely sedang memanggil putrinya yang sedang bermain ayunan di sebuah taman bersama suaminya. Mely berjalan melangkahkan kakinya mendekati kedua orang yang di cintainya.


"Hati-hati sayang," ucapnya lagi seraya mengelus rambut halus Mika yang sudah tumbuh memanjang.


"Ayo, sini sayang. Aku ayun bersama Mika," ucap Abas. Ia ingin mengoda Mely untuk yang kesekian kalinya.


"Apa sih, kepalaku agak pusing. Aku duduk di sana aja ya?" kata Mely, tangannya menunjuk ke arah bangku yang letaknya tidak jauh dari sana.


"Mika, main sama Papa ya, Mama mau istirahat di sana."


"Iya Mama," ucap gadis cilik yang baru genap berusia lima tahun, beberapa hari yang lalu.


Mely beranjak dari tempat ayunan, baru beberapa langkah ia menghentikan laju kakinya. Mely merasa rasa pusing mendadak menyerangnya kembali. Hitungan menit, Mely ambruk dengan sempurna di atas rerumputan yang hijau.


Abas yang semula memang memandangi kepergian sang istri, langsung berlari menuju ke arah Mely.


"Mely" teriak Abas.


Abas berteriak cukup kencang, hingga Mikayla yang asik bermain ayunan berhenti mengayun ayunanya. Gadis kecil itu mengikuti langkah Papanya.


Abas mencoba membangunkan sang istri dari pingsannya, berkali-kali Abas memanggil nama istrinya. Namun Mely nampak masih tidak sadarkan diri. Karena tidak ada sahutan sama sekali. Abas pun langsung menggendong istrinya menuju mobil, sembari berbicara pada putrinya untuk ikut berjalan disampingnya.


"Mika, Ayo sini sayang. Masuk mobil,"


Anak kecil yang masih polos itu mengikuti instruksi sang Papa. Mika melangkahkan kaki mungilnya di atas rerumputan hijau yang terbentang sepanjang area taman.


"Mama," pangil Mika pada perempuan yang sedang digendong Papanya.


Namun Mely tak kunjung menyahut pangilan dari sang putri. Matanya masih terpejam, tubuhnya terkulai tidak berdaya.


"Mama....Mama..." Mika terus memanggil Mamanya, anak kecil itu menarik narik ujung pakaian yang di kenakan Mely.


"Ayo sini sayang, jaga Mama," ucap Abas ketika membawa masuk tubuh Mely ke dalam mobil. Abas menidurkan Mely di belakang bersama sang putri yang sedari tadi memanggil Mamanya.


Sedangkan Abas sekarang sudah bersiap di depan kemudinya. Ia dengan cepat melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Setelah sampai depan rumah sakit, beberapa perawat langsung menghampiri Abas. Mely langsung dibawah ke ruang UGD. Mely langsung mendapat penanganan dari tim medis.


Abas dan Mika putrinya kini menunggu di depan ruangan. Sesekali Abas membelai rambut putrinya, Namun pandangan matanya menerawang di balik ruang tempat istrinya terbaring di ruang pemeriksaan.


Entah apa yang terjadi pada istrinya, selama ini Mely tidak menandakan gejala sakit apapun. Setiap hari Mely nampak sehat tidak pernah mengeluhkan apapun pada dirinya. Terlihat raut wajah cemas dari wajah Abas.


"Papa, Mama kok tidur terus?" tanya Mika, yang mengira Mamanya sedang tertidur. Karena mata sang Mama dilihatnya terpejam. Seperti orang yang sedang tidur. Itulah yang ada dalam pikiran anak-anak ketika melihat orang pingsan.


"Iya, mungkin Mama capek," ucap Abas. Karena ia juga sama seperti Mika, mengapa istrinya tiba-tiba pingsan begitu saja.


Setelah menunggu beberapa saat, seseorang Dokter menghampiri Abas. Dokter tersebut keluar dari ruang pemeriksaan langsung menghampiri Abas yang terlihat memcemaskan pasien yang sedang ia tangani.


"Sebaiknya jangan biarkan istri Bapak kelelahan, ini tidak bagus untuk Ibu dan Janin yang sedang dikandungnya," ucap Dokter yang memeriksa Mely.


Wajah Abas yang semula begitu khawatir dan cemas terhadap kesehatan Mely, berubah takjub. Ia tidak mengira akan diberikan buah hati lagi. Abas langsung menjabat tangan sang Dokter.


"Makasi Dok, boleh saya melihat istri saya sekarang?" tanyanya pada Dokter yang berdiri di hadapannya.


"Silahkan, Saya permisi dulu,"


"Iya Dok, terimakasih banyak."


"Ayo sayang, ketemu Mama sama adek baru Mika," Abas langsung menggendong Putrinya. Ia seakan tidak sabar berjumpa dengan Istrinya yang kini hamil muda.


Krieeeett..


Suara pintu terbuka, membuat Mely yang sudah siuman dari pingsannya langsung memandang ke sumber suara.


"Mama.." Panggil Mika, anak kecil itu seperti langsung turun dari gendongan sang Papa. Ia menghambur memeluk tubuh Mamanya.


"Mama, kata Papa Mika punya adik. Mana adik Mika?" tanya Mika dengan polosnya.


Mely yang mendengar pertanyaan dari bibir mungil putrinya hanya mampu tersenyum. Ia merasa gemas dengan polah Mika putri kesayanganya.


"Adik Mika masih di dalam perut Mama, sayang," Abas seakan membantu menerangkan pada buah hatinya.


"Mama makan adik Mika?" tanya Mika kembali.

__ADS_1


Kedua orang tua Mika serempak tertawa bersama. Mereka berdua di buat sukses terkejut sekaligus tertawa dengan kata kata Mika.


"Mama, keluarin adik Mika. Jangan di makan Mama. Kasian adik Mika Mama," celoteh anak yang masih berusia lima tahun itu.


Mely langsung menghentikan aksi tawanya, ia langsung memeluk tubuh putrinya yang sedari tadi berada di samping ranjang.


"Mika sayang, Mika dulu juga ada dalam perut Mama, Mika masih kecil banget." ucap Mely.


Ia meletakkan tangan munggil Mika di atas perutnya.


"Mika sayang gak sama adek Mika?" tanya Mely pada putrinya.


"Sayang Ma! Mika sayang Mama... Sayang Papa. Sayang semuanya," jawab Mika dengan kepolosan yang masih melekat pada jiwanya.


"Kalau sayang, cium dong," ucap Abas seraya mendekat pada putri kecilnya yang mengemaskan. Abas langsung menciumi pipi Mika yang kenyal dan berwarna merah muda. Setelah puas dengan pipi bakpou milik Mika, kini ia beralih mengecup pipi Mely.


Keluarga kecil mereka nampak berbahagia, kehamilan Mely untuk yang ketiga kalinya menambah kesempurnaan rumah tangga mereka.


Sore harinya Mely sudah bisa pulang setelah cairan infusnya habis, ia hanya perlu mengurangi aktifitasnya di rumah. Beristirahat tanpa melakukan hal yang berat.


"Sayang, apa kita cari asisten rumah tangga saja?" tanya Abas, selama ini Mely mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Mely tidak begitu suka ada orang asing di dalam rumahnya.


"Gak usah sayang, aku masih sanggup kok?"


"Jangan begitu, aku tidak mau hal buruk kembali menimpa dirimu!"


"Aku gak suka orang asing ada di dalam rumah kita," jawabnya tanpa ada yang ia tutupi.


"Ya sudah, aku minta bantuan Mama saja ya," tawar Abas.


"Gak usah! Biar aku minta tolong Lia untuk menemaniku. Tidak usah carikan asisten rumah tangga atau malah minta bantuan Mama. Mama sudah tidak muda lagi, kasian. Tau sendiri Mika kayak apa, tiap hari rumah selalu di buat seperti kapal pecah,"


"Ya sudah, langsung hubungi Lia ya."


"Iya, begitu sampai rumah. Nanti aku telpon Lia."


Keduanya masih terlihat membereskan barang mereka. Abas mendekat ke arah sofa, dilihatnya Mika yang telah tertidur pulas. Ia langsung mengendong putri kecilnya. Mely dan Abas berjalan bersama-sama meningalkan ruangan.

__ADS_1


Mereka menuju tempat parkir, bersiap untuk pulang. Ada gurat kebahagian yang tertanam dalam wajah keduanya. Abas dan Mely melangkahkan kaki mereka, menyongsong hari esok yang cerah. Hari-hari penuh tangis bayi akan mereka mulai kembali. Hari bergadang panjang yang melelahkan namun sangat didambakan bagi mereka yang merindukan kehadiran sang buah hati.


Bersambung


__ADS_2