PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Chapter 119 Kencan Seharian Di Kamar


__ADS_3

Manda mengusap keningnya setelah duduk di halte bis pertama tadi, panas terik membakar.


Keringat bercucuran membuatnya mengibaskan tangan sebagai pengganti kipas.


Dia melirik tangan seorang pria yang memberikannya sebotol minuman Mizone, tanpa menatap wajahnya, pun, Manda langsung meraihnya.


"Terimakasih," susah membuka tutup botol membuat Alister memberikan botol minumannya yang sudah terbuka, tapi belum ia minum, "Aaaaaaa, terimakasih kau baik sekali -" Eh? Dia baru sadar jika yang sedari tadi memberikannya botol minuman adalah Alister.


"Kenapa, tidak mau minum karena aku yang memberinya?" Alister jahil ikut duduk mepet, membuat Manda bergeser dari tempat duduknya.


"Tidak," gadis itu, pun, langsung meneguk minumannya hingga menyisakan setengah botol air, "Terimakasih."


"Tiga kali kau mengatakannya memangnya tidak bosan?" Manda diam, "Pakai ini untuk mengelap keringat mu."


Manda menoleh ke sapu tangan biru yang ada di genggaman Alister, "Tidak perlu soalnya aku juga membawanya -" Loh kok? Meraba-raba saku celana dan tak menemukannya.


"Tidak ada atau tidak punya?"


Berisik sekali, sih, dia ini.


Alister menggerakkan genggaman tangannya, "Mau pakai atau tidak?"


"Baiklah akan ku pakai, sekali lagi terimakasih."

__ADS_1


"Hem, ini yang ke empat kalinya."


"Apa?"


Alister hanya tersenyum, pandangannya fokus ke sebuah bentuk awan yang lucu, "Lihat itu," dia menunjuk awan dengan bentuk beruang dengan tangan kanannya..


Sementara tangan kirinya perlahan merayap mencoba untuk bersentuhan dengan tangan kanan Manda, dia bisa menganggap hal itu sebuah ketidak sengajaan.


Namun Manda sangat tahu diri, dia menaruh sapu tangan tadi dan benda itulah yang menempel di tangan Alister, aaa menyebalkan. Kenapa tidak bisa seromantis tuan dan nona muda? Begitu pikirnya.


"Mau kemana?" tanya Alister kepada Manda yang beranjak dari tempatnya.


"Pulang, karena menunggu tuan dan nona muda kembali juga masih belum tahu kapan."


"Aaah tidak perlu, aku bisa pulang sendiri -"


"Jangan menolak, selama kau berkerja di rumah itu maka dirimu adalah tanggung jawabku," hu so cool banget, sih, kamu Alister? Sudah sadar ya kalau ternyata kamu itu naksir sama Manda?


"Itu artinya semua pelayan juga menjadi tanggung jawab mu?"


"Bodoh!"


"Apa katamu?" sontak saja Manda menoyor bahu kiri Alister, "Enak saja, itukan pertanyaan umum."

__ADS_1


"Hem, anggap saja seperti itu... kau bebas memikirkannya."


Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, Alister mengemudikannya dengan kecepatan sedang menuju kediaman utama Wilson.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seharian berkencan di atas ranjang kamar berukuran medium wah, sungguh rencana yang di luar dugaan keduanya, tetapi ini sangatlah menguntungkan tuan muda Rendra.


Hari menuju puncaknya, terlihat warna jingga di ufuk barat. Senja melebar di kaki langit, suasana yang tak kalah romantisnya.


"Sudah sore ayo masuk," ajak Rendra yang melihat Embun masih berdiri di balkon kamar.


Embun mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar, mengunci rapat pintu yang menuju balkon.


"Sayang ayo kita pulang, aku rindu makanan di rumah."


"Kau mau makan apa? Agar aku bisa menelefon bibi Rita, memberitahunya makanan yang ingin kau makan."


"Hm?" pikir, memikir rasanya dia ingin makan grill, "Aku ingin makan grill saja, sayang... boleh ya?" duh, manja sekali sih dia.


Rendra tersenyum sembari mengusap pucuk kepala lalu turun untuk mencubit hidung pesek Embun, "Kau sangat cantik dan begitu menggemaskan, sayang."


"Jadi ... boleh, kan, aku memakannya?"

__ADS_1


Rendra mengangguk dengan mengusap pipi Embun, "Boleh," lalu Rendra meraih hp yang tadi ia letakkan di atas nakas untuk menelefon Alister.


__ADS_2