
Liburan kali ini sepertinya akan menjadi hari berkabung untuk keluarga Abas. Suasana di luar ruang Operasi begitu hening tanpa suara. Hanya terdengar isak tangis Mama yang berusaha Ia tahan, rasanya air matanya telah habis untuk menangisi kepergian calon cucunya.
Mama berusaha menahan kepedihannya, Ia berusaha kuat dan tegar. Beberapa kali Mama menatap Abas yang duduk bersandar di sampingnya. Ia merasa iba menatap wajah putranya, sedari tadi Abas hanya diam tanpa suara. Abas sesekali mengusap air yang jatuh dari matanya.
Abas masih larut dalam kesedihan, Ia tak mampu menahan rasa sakit yang mendera. Hanya buliran air mata saja yang dapat menjelaskan bahwa Ia sedang terluka. Luka hati karena harus berpisah dengan calon buah hati.
Keduanya membisu, tidak ada kalimat penghibur untuk saling menguatkan. Mereka sama sama merasa larut dalam kesedihan yang mendalam. Di dalam benak Abas, Ia tidak bisa bayangkan bagaimana nanti Ia menghadapi sang Istri. Bagaimana perasaan Mely ketika Janin dalam kandungannya harus pergi. Begitu banyak pikiran yang berkecamuk dalam benakknya.
Beberapa jam kemudian, terlihat pintu Ruang Operasi telah terbuka. Ada beberapa Perawat yang telah mendorong ranjang pasien. Di atas ranjang tersebut telah terbaring Mely yang masih tidak sadarkan diri. Mungkin karena pengaruh bius saat operasi.
Abas langsung bangkit, Ia mengikuti para perawat yang membawa tubuh istrinya ke ruang pemulihan. Abas mencoba menguatkan dirinya. Ini demi Mely, demi istrinya yang malang.
Mely dibawah ke sebuah ruangan VIP, kamar nomor satu di Rumah Sakit tempat Ia dirawat. Sudah delapan jam lebih setelah keluar dari kamar Operasi, Mely belum juga siuman. Ia masih lelap karena reaksi obat. Abas sedari tadi tidak beranjak di sebelahnya. Ia duduk di samping tubuh sang istri. Kedua tangannya menggengam tangan sang istri.
Ribuan doa Ia panjatkan untuk kesembuhan Mely. Sedangkan Mama masih nampak diam termenung. Pandangan matanya kosong, hanya kebisuan yang tercipta dalam ruang tersebut. Matahari mulai terbenam, malam telah mengelar jubahnya. Abas telah tertidur di samping ranjang istrinya. Mama sendiri sudah pulang ketika sore tadi. Kini hanya ada mereka berdua dalam ruang perwatan.
Mely mulai tersadar, matannya sudah terbuka dengan sempurna. Ia merasa nyeri pada sekujur tubuhnya. Terutama di bagian organ kewanitaanya, Ia belum tahu apa yang terjadi padanya. Matanya menyisir ke seluruh ruangan. Ingatannya kembali saat berada di sebuah kebun strawberry. Memory dalam otaknya mulai menyatu, Ia mencoba menyusun ulang rentetan kejadian yang menimpah dirinya. Ia memegangi kepalanya, Mely merasa pusing dan mual.
" Akhirnya aku mendapatkan morning sickness ku," ucapnya lirih.
Dengan lemah Ia membanggunkan Abas yang tertidur. Ia menatap perban yang melingkar di kepala suaminya. Mely membelai lembut rambut sang suami.
__ADS_1
" Sayang, bangun..."
Abas tak kunjung membuka matanya, Ia masih tertidur di samping ranjang istrinya. Mely pun mengoyang goyangkan lengan Abas.
" Bangun.. Sayang..!"
Pada pangilan ke dua, akhirnya Abas bangun juga. Abas mengosok kedua matanya, di lihatnya Mely yang menatap dirinya. Abas pun bangkit, Ia merengangkan otot ototnya yang serasa kaku.
" Bagaimana Mel? Mana yang sakit?" tanya Abas pada istrinya.
" Semuanya, seluruh badanku sakit semua," ucap Mely dengan senyum yang dipaksakan.
Abas meraih tubuh Mely, dipeluknya sangat erat. Rasanya Ia tidak kuasa menceritakan yang sebenarnya. di balik tubuh Mely Ia mengusap air matanya. Abas resah, bagaimana jika Mely menanyakan Janinnya.
" Syukurlah Kita semua selamat," ucap Mely tiba tiba. Abas hanya menganggukkan kepalanya.
" Sayang, bisa tidak Aku bertemu dengan dokter kandungan disini? Aku ingin menanyakan langsung kondisi calon bayi Kita,"
Mely merasa cemas, karena perutnya terasa ngilu dan perih. Hanya Ia tidak ingin berbicara pada suaminya. Ia ingin bertanya langsung pada Dokter. Abas tidak tahu harus berkata apa, mendadak Ia membisu. Otaknya berpikir keras, bagaimana cara memberi tahukan kepada sang istri. Bahwa Janin yang ada dalam kandungan Mely telah hilang. Buah hati mereka berdua telah pergi untuk selama lamanya.
Menatap Abas yang hanya diam terpaku, Mely kembali berbicara.
__ADS_1
" Sayang, kamu denger aku kan! Aku mau berbicara sama Dokter langsung.'" Teriak Mely dengan penuh rasa prustasi.
Sepertinya Mely sudah mulai menyadari, semula Ia ingin menghilangkan perasangka buruk itu. Namun, nalurinya sebagai seorang Ibu membuatnya tersadar. Ada yang telah hilang pada tubuhnya. Mely menangis histeris, Ia tahu kenyataan yang sebenarnya sebelum Abas bercerita padanya.
Abas tidak kuasa menyaksikan kondisi Mely saat ini, Ia mendekap kembali tubuh Mely. sedangkan Mely menjerit ...menangis meronta rona... tangisannya sunguh menyayat hati Abas. Karena mendengar suara keributan dari dalam Ruang perawatan, seseorang suster penjaga menghampiri keduanya.
Suster tersebut menyuntikkan obat penenang ke tubuh Mely, ketika obat mulai bereaksi tubuh Mely mulai melemas. Mely mulai hilang kesadaran, Ia kini kembali berbaring di ranjang rumah sakit. Abas mentapnya dengan hati yang penuh luka. Ia tak kuasa membendung air yang jatuh di atas pipinya. Pria dewasa itu kini menangis kembali, Ia seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesukaanya.
Ia menangis sesengukan di samping istrinya yang tertidur karena bius. Tangannya mengepal, Ia marah pada takdir yang menimpahnya. Ia marah pada takdir yang merengut kebahagiaannya. Abas marah karena tidak bisa berbuat apa apa. Ia seperti tidak punya cara untuk menghibur pujaan hatinya yang terluka hatinya. Malam ini Abas menghabiskan malam panjangnya dengan linangan air mata.
Esok harinya pagi pagi sekali, Perawat yang berjaga masuk ke dalam ruangan Mely. Perawat ingin menganti cairan infus yang akan habis. Ia melihat Suami dari pasien sedang tertidur di sofa. Setelah melakukan sedikit pengecekan, perawat tersebut berjalan keluar. Saat menutup pintu Ia menimbulkan sebuah suara, membuat Mely terbangun dari tidur panjangnya.
Mely memandang dari jauh wajah suaminya yang telah tertidur. Nampak jelas wajah lelah sang suami. Tidak terasa air matanya memaksa untuk keluar. Mely tidak kuasa menerima kenyataan pahit ini. Ia perlahan mengusap pipinya... Perlahan lahan Ia juga mengusap perutnya yang kini telah kosong.
" Maafkan Mama, harusnya Mama hati hati, harusnya Mama menjagamu dengan sepenuh hati..."
Ia menangis terisak kembali, setiap mengingat buah hatinya. Mely selalu merasa bersalah. Seakan akan ini semua adalah kesalah dirinya. Seharusnya Ia bisa menjaga calon bayinya. Tidak seharusnya Ia bersikap ceroboh seperti kemarin. Mely memukuli perutnya dengan kedua tangannya.
Mendengar suara isakan tangis dari Mely, Abas pun terbangun. Abas langsung menghambur ke arah Istrinya. Ia mencengkram kedua tangan Mely yang terus memukuli perutnya sendiri.
" Hentikan...!" Teriak Abas.
__ADS_1
Mendengar suara teriakkan dari suaminya, Mely kembali tersadar dari aksinya. Abas kini menatapnya dengan sangat tajam. Entah perasaan apa yang Abas rasakan?
Bersambung