
Happy Reading ❤️
"Kita bisa merayakannya nanti malam, seseorang sedang meregang nyawa dan membutuhkan kehadiranmu. Percayalah sayang, aku akan berusaha mengerti." ucap Sabina sungguh-sungguh.
Gibran menatap Sabina dengan dalam sebelum ia memutuskan.
"Baiklah, aku akan pergi tapi jika kamu bersedia menemani aku kali ini."
Sabina tertegun untuk sesaat, ia mencoba memahami apa yang Gibran ucapkan.
"Aku ingin kamu menemaniku, Bina."
"Apa aku tak akan mengganggumu ?" Tanya Sabina meyakinkan.
"Tidak sama sekali." jawab Gibran dengan yakinnya.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan,"
"Terimakasih," senyuman lega tercipta di wajah Gibran. Ia pun mengecup pipi Sabina dengan mesra.
Mobil yang Gibran jalankan mulai bergerak, dan dengan perasaan ringan ia pun memilih arah yang berlawanan dari tempat tujuan mereka untuk berkencan. Kini keduanya menuju arah luar kota Jakarta di mana Amanda berada.
Ini adalah Minggu siang namun jalanan tak sepadat biasanya, langit pun dihiasi awan mendung. Sabina melihat ke arah luar jendela sedangkan Gibran fokus pada jalanan.
"Mengapa hari ini terasa sunyi dan muram ?" tanya Sabina lirih.
"Entahlah, tapi aku pun merasakan hal yang sama." Jawab Gibran seraya menolehkan kepala.
"Apa Amanda...,"
" Tenang sayang, semua akan baik-baik saja." tutur Gibran menenangkan.
Gibran menjalankan mobilnya secepat yang ia bisa. Kehadirannya sangat di tunggu saat ini. Tanpa sepengetahuan Sabina, sebenarnya Gibran mendapatkan pesan singkat dari dokter Risa.
Dokter kandungan yang menangani Amanda saat ini. Ia mengabarkan jika Amanda dalam keadaan kritis dan ia tak bisa bertindak karena tak ada penjamin dari pihak keluarga.
Setelah beberapa puluh menit berkendara akhir nya mereka pun tiba di rumah sakit. Gibran meraih jemari Sabina dalam genggamannya dan mereka pun berjalan beriringan memasuki rumah sakit itu di mana Rani dan dokter Risa telah menunggu.
"Syukurlah anda datang, Dok." wajah Rani yang sembab kini terlihat sedikit lega.
Gibran tak menjawab pernyataan asistennya, ia hanya menganggukkan kepala tanpa bersuara.
Dokter Risa segera menghampiri Gibran juga Sabina.
"Mmmm, Jadi begini dokter Gibran," dokter Risa sedikit ragu untuk berbicara karena kehadiran Sabina.
"Tak apa, katakan saja agar istri saya juga tahu keadaannya." ucap Gibran seolah mengerti apa yang dokter Risa khawatirkan.
"Ah baiklah."
Dokter Risa pun menjelaskan kondisi Amanda saat ini, banyak istilah kedokteran yang mereka gunakan dalam pembicaraan ini. Namun meski begitu Sabina tahu jika kondisi Amanda sangatlah buruk. Perlu tindakan pembedahan untuk menyelamatkan ia ia dan anaknya, dan karena kondisinya yang buruk dapat di pastikan ia memerlukan biaya yang tak sedikit dan perlu surat pernyataan bersedia dari keluarganya untuk melakukan tindakan beresiko tinggi itu.
Gibran mengangguk paham, ia mengusap dagu karena rasa gugup yang dirasakannya saat ini.
" Jadi bagaimana dokter Gibran ? keputusan harus segera diambil" desak dokter Risa.
" Mmm begini, sebenarnya saya bukanlah keluarga Amanda." gumam Gibran.
__ADS_1
"Lakukan apapun yang terbaik bagi Amanda dan bayinya. Keluarga Mulia yang akan bertanggungjawab atas semuanya." potong Sabina tanpa ragu dan Gibran pun menolehkan wajahnya menatap sang istri.
"Sayang ?" tanya Gibran tak percaya.
" Ya, keluarga Mulia yang akan menanggung semuanya. Saya lah yabg merupakan kerabat dari Amanda, bukan Gibran." ucap Sabina lagi.
Dokter Risa tentulah tahu siapa Sabina juga keluarga Mulia. Mereka cukup terkenal dengan pundi-pundi uang yang tak ada habisnya.
"Baiklah jika begitu, silahkan melengkapi administrasi pasien dan saya akan menyiapkan segala sesuatunya untuk melakukan tindakan." ucap dokter Risa pada Sabina.
"Sayang ? apa kamu yakin ?" tanya Gibran ketika dokter Risa meninggalkan mereka berdua.
"Sangat yakin," jawab Sabina.
"Mmm kemarin sore ketika Amanda datang ke rumah, ia mengatakan bahwa dirinya ingin menjadi aku. Ia ingin menjadi bagian dari keluarga Mulia yang sesungguhnya. Padahal dulu memang ia bagian dari kami karena aku tak pernah sedikitpun menganggapnya pelayan, aku tak pernah merendahkan dirinya. Amanda sendiri yang menganggap dirinya sendiri begitu rendah." Jelas Sabina.
"Dan hari ini kamu mengabulkan keinginannya ?" tanya Gibran.
Sabina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku semakin terpesona padamu, Bina." ucap Gibran dengan pandangan mata penuh puja.
Setelah keperluan administrasi telah terpenuhi, Gibran dan Sabina pun diizinkan menemui Amanda yang terbaring lemah tak berdaya di ruang gawat darurat.
Wajahnya pucat dengan tulang pipi yang terlihat begitu jelas, matanya terpejam dan mulutnya terkatup rapat. Di tangannya yang kurus tertancap jarum infus. Mata Sabina mengembun melihat keadaan Amanda yang begitu memprihatinkan.
"Kami menunggu tekanan darahnya stabil dulu sebelum melakukan tindakan." ucap salah satu perawat yang berjaga di sana.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya 2 orang perawat yang bertugas menjemput Amanda untuk memasuki ruang bedah pun tiba.
"Aku takut," lirih Sabina.
" Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Ucap Gibran. padahal dalam hatinya ia pun merasakan takut yang sama dengan istrinya
***
Hampir satu jam berlalu. Gibran duduk di kursi yang berada di luar ruangan operasi sembari memeluk Sabina dengan erat. Sedangkan Rani duduk bersebrangan dengan mereka. Tak banyak kata terucap karena mereka merasakan resah yang sama.
Pintu operasi terbuka dan munculah seorang perawat yang mengenakan pakaian operasi dari balik pintu.
"Keluarga Mulia ?"
Gibran dan Sabina pun langsung berdiri secara bersamaan.
"Bayi nya telah lahir, Mmm sebaiknya dokter Gibran yang melihat keadaannya." ucap perawat itu.
"Sayang, tunggu disini sama Rani ya."
Sabina pun menuruti apa yang Gibran katakan. Rani berjalan mendekati Sabina sedangkan Gibran berjalan mengikuti sang perawat.
"Saya senang bu dokter ikut, jadi dokter Gibran ada pawangnya." tutur Rani yang tak dapat mengontrol ucapannya. Setelah sadar dengan apa yang ia katakan, Rani pun menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Sabina tertawa ringan mendengar itu.
"Emang kenapa dengan suamiku ?"
"Dokter Gibran selalu menekuk wajahnya bila berurusan dengan bu Amanda. Sepertinya ia sangat tertekan. Sebenarnya saya juga kurang menyukai bu Amanda, tapi melihatnya seperti itu saya pun merasa kasihan." jelas Rani.
__ADS_1
"Saya pun begitu, jujur saja saya merasa sangat cemas saat ini." ucap Sabina dengan wajahnya yang kembali sendu.
Di ruangan lain yang berada di sebelah ruang operasi Gibran tengah berdiri ditemani seorang dokter spesialis anak yang ikut menangani proses kelahiran si bayi dan juga beberapa orang perawat.
"Bayi Bu Amanda terlahir dalam keadaan lemah, berat badannya kurang dan waktu lahirnya terlalu cepat. Setelah dilakukan pemeriksaan secara keseluruhan bayi tersebut tak peka terhadap cahaya bisa dipastikan jika bayi ibu Amanda tak dapat melihat, selain itu terjadi komplikasi pada organ dalamnya." jelas dokter spesialis anak itu dan sontak membuat tubuh Gibran terasa lemas seketika.
Bayi perempuan itu terbaring tak berdaya di dalam kotak kaca dengan selang di hidungnya, tubuhnya kecil dan lemah. Bahkan alat pengenal yang melingkar di pergelangan tangannya terlihat kebesaran dibandingkan tangannya yang kecil dan rapuh.
Meskipun bukan anaknya tapi Gibran merasakan sakit dalam hatinya. Sungguh ia merasa sedih melihat bayi tak berdosa itu terbaring tak berdaya.
"Semoga Tuhan memberikan pertolongan, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha." ucap dokter itu.
"Lalu bagaimana dengan ibunya ?" tanya Gibran.
"Beliau masih di atas meja operasi. Ia kehilangan banyak darah dan kondisinya pun lemah. Banyak berdoa dan pasrah, hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini."
Gibran mengangguk pasrah, ia pun segera mengeluarkan ponsel dalam sakunya dan mengambil gambar sang bayi tak berdaya itu melalui kamera ponselnya.
***
Sabina menangis tersedu ketika melihat bayi perempuan yang belum lama Amanda lahirkan. Dengan nafasnya yang lemah, bayi itu berjuang untuk hidup.
"Gibran...," Isaknya lirih dan Gibran pun memeluk Sabina untuk menenangkannya.
Tak hanya Sabina, Rani pun menangis melihatnya.
"Lalu bagaimana dengan Manda ?" tanya Sabina.
"Sebentar lagi kita dapat melihatnya." jawab Gibran.
***
Tangis Sabina kembali pecah ketika ia melihat kondisi Amanda yang tak sadarkan diri.
"Manda, anakmu sangat cantik. Dia mirip denganmu, ku mohon bertahanlah untuknya." Ucap Sabina lirih seraya menitikkan air matanya.
Sebenarnya Sabina tak tahu kondisi sebenarnya sang bayi karena Gibran tak mau istrinya itu merasa sedih dan tertekan.
Sadar jika kondisi bayi dan si ibu dalam keadaan yang buruk, Gibran pun segera mengirimkan foto keduanya pada seorang lelaki yang telah lama Gibran blokir nomornya.
***
Semenjak tadi malam Andre merasakan resah yang luar biasa, ia pun tak mengerti kenapa ia merasa seperti itu. Tidurnya pun tak nyenyak bahkan ibunya terheran karena mendapati anak lelakinya itu telah terbangun padahal pagi masih gelap gulita.
Ya kini Andre hidup dengan kedua orangtuanya untuk beberapa bulan terakhir. Semenjak permintaan maafnya diterima dengan syarat Amanda harus pergi dari kehidupannya.
Ponselnya berbunyi ketika Andre menyesap kopinya. Ia mengusap layar, dan mendapatkan sebuah pesan dari seorang yang sangat dekat dengannya dulu.
Tangannya gemetar ketika ia melihat 2 foto yang Gibran kirimkan, bahkan ponselnya langsung lepas dari genggamannya saat ia menatap foto bayi terbaring tak berdaya dengan beberapa alat yang menempel pada tubuhnya agar dapat bertahan hidup. Entah mengapa dadanya terasa begitu sesak dan sakit.
Masih dengan tangannya yang gemetar ia memungut benda pipih itu dari atas lantai dan segera menekan tombol panggilan pada Gibran.
"Katakan di mana, karena aku akan datang sekarang juga." ucap Andre ketika panggilan itu terhubung.
To be continued ❤️
Thanks for reading ❤️
__ADS_1