
Happy reading ❤️
Andre berjongkok di hadapan gundukan tanah kecil dan menyimpan boneka beruang itu disana.
"Maaf, Papa baru datang lagi." ucap Andre dengan menatap nanar batu nisan anaknya.
Andre menarik nafas dalam dan terasa berat, ada rasa hampa dalam dirinya yang tak bisa diungkapkan ketika ia melihat makam anaknya.
Ia menatap makam Amanda yang berada di sebelahnya. Andre pun memejamkan matanya. Hal terbesar yang ia sesali dalam hidupnya adalah meninggalkan Sabina di hari pernikahannya. Jika saja hal itu tak terjadi tentunya tragedi ini tak akan pernah terjadi.
Tak butuh waktu lama bagi Tuhan untuk membalikkan keadaan. Tahun lalu ia tengah bersenang-senang dengan Amanda di atas penderitaan banyak orang, namun kini setahun kemudian ia menderita karena segala perbuatan buruk yang telah ia lakukan.
Rasa asin Andre rasakan di bibirnya yang terkatup rapat, ternyata tanpa disadarinya air mata telah membasahi pipi dan akhirnya ia pun tersadar dari lamunannya. Andre mengusap wajahnya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
***
Di ruang kamar rawat Sabina terdapat banyak sekali hadiah.Ada banyak buket bunga dan berbagai macam bingkisan lainnya. Saat ini Gibran sedang membenahi semuanya di bantu oleh bibi Maya. Agar tidak memenuhi kamar, sebagian besar hadiah itu akan Gibran bawa pulang ke rumah.
Ayah Sabina dan keluarga yang lainnya masih berada di sana menemani Sabina dan bayinya.
"Sayang, aku pulang dulu ke rumah untuk membenahi semua bingkisan dan membawa baju ganti untuk menginap di sini malam ini."
"Tapi kamu besok kan harus kerja," jawab Sabina.
"Aku mengajukan cuti karena istriku tercinta melahirkan," jelas Gibran dan ia pun mencium kedua pipi Sabina dengan gemas. Tanpa ia sadari semua orang di ruangan itu memperhatikan tingkah lakunya.
"Sabar Jagoan, tahan diri dulu selama 40 hari." Bisik Arya yang merupakan salah satu kakak laki-laki Sabina.
Wajah Gibran memerah menahan malu, begitu juga Sabina. Sedangkan yang lain hanya senyum-senyum melihat kejadian itu.
Masih dengan wajahnya yang merah padam, Gibran meninggalkan Sabina untuk pulang dulu ke rumah mereka.
"Bina, sepertinya kamu harus segera menggunakan pengontrol kehamilan setelah masa nifasmu berakhir." ucap Bibi Maya dan ibu mertuanya pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Apa harus ?" tanya Sabina polos.
"Melihat Gibran yang nempel terus sama kamu sih sepertinya begitu" jawab bibi Maya sembari tertawa namun pipi Sabina merona ketika ingat bagaimana panasnya suaminya itu diatas ranjang.
Satu persatu keluarga Sabina meninggalkan ruang rawat itu, termasuk ibu mertuanya yang pulang bersama Gibran.
Menyisakan ayah Sabina dan seorang kakaknya, yang menemaninya hingga Gibran datang kembali ke rumah sakit. Sebenarnya yang lain pun ingin menemani Sabina bermalam, namun Gibran bersikukuh bahwa dirinya lah yang akan menemani Sabina di rumah sakit.
***
Lebih dari 30 menit berlalu dan terdengar ketukan si pintu kamar Sabina. Arya sang kakak melirik jam yang berada di pergelangan tangannya dan bergumam "cepet banget" ia kira Gibran telah kembali.
Arya berdiri dan membuka pintu, sedikit terheran karena seseorang yang ia kira Gibran tak juga memasuki kamar. Tak seperti dugaannya, ternyata yang berdiri bukanlah Gibran melainkan seorang lelaki yang sangat ia kenali sekaligus ia benci. Siapa lagi jika bukan seorang Andreas Tama.
__ADS_1
"Berani lo datang kesini ?" geram Arya.
"Aku datang hanya untuk memberikan selamat pada Gibran juga Sabina," ucap Andre dengan sebuah kado di satu tangan dan tangan lainnya membawa balon berwarna biru metalik dan berhiaskan beberapa pita yang menjuntai di bawahnya.
Ayah Sabina berdiri untuk memeriksa siapa yang datang karena Arya menahan orang itu di pintu.
"Siapa ?" tanya Sabina yang juga ingin tahu.
"Orang gak penting," sahut Arya. sedangkan Andre tak bergeming, ia masih berdiri di sana tanpa berniat untuk pergi dari ruang rawat Sabina.
"Andre," ayah Sabina setengah berbisik pada anaknya itu.
"Oooh," gumam Sabina.
Entah apa yang mereka bicarakan, namun pada akhirnya Arya mengizinkan Andre untuk masuk.
"Mmm, o... om..." sapa Andre canggung pada lelaki yang dulu biasa ia panggil ayah itu.
Ini adalah pertemuan pertama bagi mereka semenjak kejadian tahun lalu dimana Andre melarikan diri dan setelah itu ayah Sabina memutuskan semua kerja sama mereka hingga Andre tak punya lagi kesempatan untuk bertemu.
Ayah Sabina tak menanggapi sapaan Andre, yang ia lakukan adalah menatap Sabina seolah bertanya apakah kedatangan Andre mengganggu anaknya itu.
"Tak apa Ayah," ucap Sabina dan ayahnya pun terlihat sedikit lega.
"Saya gak akan lama kok, Om." ucap Andre dan ayah Sabina tak menanggapinya. Ia seolah tak peduli pada kedatangan Andre.
Sadar jika dirinya belum diterima dengan baik, ia pun berjalan mendekati sabina dan meletakkan kado beserta balonnya di atas meja yang letaknya tak jauh dari Sabina terbaring saat ini.
"Thanks Ndre. Makasih loh udah datang dan bawa hadiah segala jadi repotin kan." jawab Sabina sungkan.
"Gak pa-pa, aku emang udah niat pengen nengok kalau anak kamu lahir." Andre beralasan.
"Terimakasih, Om." ucap Sabina sembari menirukan suara anak kecil. Ia berpura-pura menjadi anaknya.
Andre tersenyum dan memandangi Sabina yang tengah mendekap anaknya penuh kasih sayang. Jika saja tahun lalu ia tak tergoda oleh Amanda, tentunya anak yang Sabina dekap saat ini adalah anaknya. Pikiran seperti itu terlintas dalam benaknya saat ini
Dan jika saja ia dan Amanda memiliki hubungan asmara yang normal seperti pada umumnya, tentunya anaknya akan lahir pada saat ini karena kehamilan Sabina dan Amanda memiliki rentang waktu yang hampir sama.
Pada akhirnya Andre tak bisa memiliki keduanya, sungguh ia memilih jalan yang buruk dalam hidupnya.
"Mirip banget sama Gibran." ucap Andre memecah keheningan.
"Hu'um. Papanya cinta mati sama aku." jawab Sabina sembari tertawa.
Andre tahu maksud Sabina hanya sekedar bercanda, namun apa yang dikatakan olehnya memang benar. Gibran sangat mencintai Sabina, dan Andre tahu itu. Ia ingat bagaimana Gibran mendatanginya ke apartemen dan memberinya bogem mentah hanya untuk menyatakan bahwa Sabina adalah miliknya.
"Tentu saja Gibran cinta mati sama kamu, Bina. Setiap lelaki yang dekat denganmu pasti akan merasakan hal yang sama." ucap Andre dengan jelasnya seolah mewakili perasaannya sendiri
__ADS_1
Sabina terdiam mendengar yang Andre katakan hingga suara batuk ayahnya membuat Andre sadar jika waktu berkunjungnya telah habis. Andre pun segera berpamitan, padahal ia dengan Sabina belum lama bertemu.
***
Gibran kembali ke rumah sakit dengan tampilan yang jauh lebih segar. ia mengenakan sweater berwarna khaki dipadukan celana jeans hitam. Rambutnya tersisir rapi dan dari tubuhnya menguar wangi maskulin khas lelaki dewasa.
Setelah kedatangan Gibran, ayah Sabina dan kakaknya pun pamit undur diri. Gibran mengucapkan terimakasih sebelum kedua lelaki itu meninggalkan ruang rawat inap istrinya.
Gibran menutup pintu dan segera berjalan mendekati Sabina yang tengah memangku anaknya nyang sedang menyusu.
Langkah Gibran terhenti ketika ia melihat sebuah balon dan bingkisan kado disebelahnya. Perasaannya tadi telah merapikan semua hadiah namun ternyata masih ada yang tertinggal.
"Tama," Gumam Gibran dan Sabina pun menolehkan kepala ketika mendengar itu. Seketika raut wajah Gibran terlihat tak suka.
Tentu saja Sabina terkejut, tak mungkin Gibran merasa cemburu bukan ?
"Mmm, tadi Andre datang sebentar. Ada ayah dan kak Arya kok, " jelas Sabina karena kini wajah Gibran terlihat semakin dingin saja.
"Bukankah urusan kalian sudah selesai ? ketika kamu dan dia bicara berdua si cafe waktu itu." Tanya Gibran ketus.
Mulut Sabina terbuka karena tak percaya dengan apa yang Gibran ucapkan saat ini. Ia tak percaya jika suaminya marah karena kedatangan Andre.
"Aku dan dia sudah tak memiliki apa-apa lagi, dia datang hanya untuk menengok bayi kita."
"Apa harus dengan datang sendiri dengan membawa balon segala ?" Tanya Gibran tanpa bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
"Gibran, lihat aku." ucap Sabina kesal.
Gibran pun menuruti perkataan istrinya itu, ia menatap wajah Sabina Lekat-lekat saat ini.
"Seharusnya yang merasa insecure ( tidak aman/ cemas berlebihan ) itu aku. Kamu begitu tampan, karirmu cemerlang dan tubuhmu sangat sempurna. Sedangkan sekarang ini aku sudah punya anak dan tubuhku pun sudah berubah, siapa yang mau sama aku?"
"Aku !" Jawab Gibran dengan cepat.
"Aku begitu menginginkan kamu hanya untuk diriku sendiri, tak ingin lelaki manapun mendekati kamu apapun alasannya." lanjut Gibran dengan berapi-api.
Sabina tercengang mendengar apa yang Gibran ucapkan saat ini.
"Andre pernah mengatakan jika ia bisa memutar waktu, dia akan perbaiki semuanya dengan cara tidak meninggalkan kamu. Tapi tahukah kamu apa yang aku katakan padanya ?"
Sabina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku katakan padanya jika itu terjadi maka aku yang akan merebutmu darinya, aku akan merebutmu dari lelaki mana pun karena kamu hanya boleh jadi milikku seorang. Aku tergila-gila padamu, Sabina Mulia."
To be continued ❤️
thanks for reading 😘
__ADS_1
terimakasih yang sudah baca, like, komen dan memberikan hadiah juga vote.
love you genks ❤️