Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Bonchap 1 : Dr. Go


__ADS_3

Happy reading ❤️


Setelah beberapa puluh menit berkendara akhirnya mereka tiba di sebuah kawasan apartemen modern di pusat kota Seoul dan hari masih terang ketika mereka tiba. Sabina terheran karena mereka malah berhenti di sebuah apartemen bukannya langsung ke rumah sakit.


"Kenapa ? ayo turun," ajak Gibran yang berkerut alis karena Sabina masih berdiam diri di dalam mobil jemputan.


"Ki... kita gak ke rumah sakit ?" tanya Sabina.


"Kita beristirahat dulu di sini. Ayo, kasihan Athalla pasti capek." jawab Gibran sembari menggendong anaknya yang mulai rewel.


"Ahhh yaa." gumam Sabina. Ia baru menyadari jika kini ia adalah seorang istri juga ibu. Terlalu tegang memikirkan segala tindakan operasi yang akan dilakukan membuatnya sedikit tak berkosentrasi.Ia pun turun dari mobil dan menengadahkan kepalanya melihat gedung apartemen yang tinggi menjulang di hadapannya.


"Apartemen ini akan menjadi tempat tinggal Athalla dan Mbok Inah juga pelayan yang lain selama kita tinggal di rumah sakit." jelas Gibran seolah bisa membaca pikiran istrinya.


"Kamu akan terus tinggal di rumah sakit ? waktunya lama loh."


"Iya aku akan selalu berada di sisimu, lagian jaraknya dekat kok. Aku bisa pulang-pergi dengan mudah. Kamu tenang aja." ucap Gibran menenangkan dan Sabina tersenyum mendengar itu.


Sabina merasa keputusan yang ia ambil adalah hal paling tepat. Melakukan operasi setelah memiliki pasangan hidup karena dengan begitu ia tak akan sendirian dan hanya bertemankan pelayan. Ia ingat beberapa tahun lalu ketika terakhir melakukan operasi di Singapura. Waktu itu ayah dan rombongannya langsung mengantarkan Sabina ke rumah sakit dan setelah itu ia tinggal di sana berbulan-bulan lamanya. Kesibukan sang ayah dan kakak-kakaknya yang masih menuntut ilmu membuat Sabina hanya ditemani beberapa pelayan. Namun meskipun begitu ayah Sabina tetap mengunjungi dan menemaninya secara rutin, hanya saja waktunya di batasi.


'Ting' pintu lift terbuka di lantai 7. Mereka pun berjalan keluar dan mencari pintu bernomorkan 703 Setelah berjalan beberapa menit akhirnya mereka tiba di depan pintu kamar yang dituju dan Gibran membuka pintu itu dengan menempelkan kartu pada scanner.


Sebuah apartemen 2 kamar yang mewah dan luas. Dilengkapi dengan segala fasilitas yang lengkap, membuat Sabina juga Gibran tak memerlukan barang lain kecuali baju mereka saja.


"Kamu bisa melihat pemandangan kota dari balkon." ucap Gibran yang melihat Sabina diam terpaku.


Sabina menolehkan kepalanya dan mengikuti Gibran menuju balkon.


"Itu gedung rumah sakitnya," tunjuk Gibran pada beberapa gedung besar berwarna putih.


"Jaraknya dekat kan ? jadi kamu bisa bertemu Athalla dengan mudah kalau kangen."


"Ah iya," Sabina menarik nafas lega


Athalla yang tadi sedikit rewel kini dengan tenangnya memeluk Sabina yang tengah memangkunya.


"Athalla jangan rewel ya, kasihan mbok Inah. Doakan Mama biar bisa cepat berlarian dengan Atha." ucap Sabina lembut pada anaknya itu.


"Tak hanya dengan Athalla tapi dengan adik-adiknya juga." bisik Gibran penuh maksud.


Sabina memutar bola matanya malas, ia paham jika suaminya itu tengah berpikiran mes*m dan Gibran tertawa melihatnya.

__ADS_1


Mbok inah dan beberapa pelayan membenahi barang bawaan mereka. Mbok Inah akan berbagi kamar dengan seorang pelayan yang merupakan kepercayaan ayah Sabina, sedangkan Gibran dan Sabina memasuki kamar utama di apartemen itu.


"Kapan kita pergi ke rumah sakit dan apa kamu udah membuat janji dengan dokternya ?"


"Lusa, aku ingin kamu menikmati dulu waktumu di sini. Dan ya tentu saja aku sudah membuat janji dengan dokter Go. Beliau seorang ahli bedah tulang padahal usianya masih muda." jelas Gibran.


"oh ya ?"


"iya, 2 hari lalu aku melakukan panggilan video dengan dokter Go. Mengabarkan jika kita akan datang."


"Oooh...," gumam Sabina ber-oh ria.


"Sayang, tenanglah. Dr. Go dan timnya adalah yang yang terbaik. Besok kita jalan-jalan dulu sebelum kamu masuk rumah sakit. Aku ingin kamu menjalani ini semua dengan relax dan tanpa tekanan." ucap Gibran seraya membelai pipi Sabina dengan lembut.


"Terimakasih, " jawab Sabina. Kini ia lebih tenang dari sebelumnya karena ada Gibran yang menemaninya.


***


Esoknya Gibran membawa Sabina juga Athalla berjalan-jalan menikmati kota Seoul. Mereka membeli beberapa jenis makanan khas Korea sedangkan Sabina membeli banyak masker wajah yang katanya akan digunakan ketika ia tinggal di rumah sakit nanti.


Gibran mengabulkan apapun yang Sabina inginkan agar istrinya itu merasa tenang dan senang. Walaupun ia tahu mungkin masker kecantikan itu tak kan terpakai.


Tak hanya masker, tapi Sabina pun membeli banyak perawatan wajah yang lain. Gibran yang melihat itu tak sekalipun protes. Asal Sabina bahagia apapun akan ia lakukan.


Gibran tersenyum melihatnya, untuk sesaat Sabina bisa melupakan serangkaian operasi kaki yang akan ia lakukan secepatnya.


Pukul 8 malam Gibran menerima panggilan dari dokter Go yang memastikan jadwal temu mereka besok pagi. Gibran berbicara menggunakan bahasa Inggris yang fasih begitu juga lawan bicaranya.


Sabina yang mendengar itu tentu saja paham. Dokter Go menunggu kedatangan mereka pukul 9 pagi di rumah sakit.


"Besok dokter Go menunggu kita pukul 9 pagi. Sebaiknya kamu tidur cepat agar istirahatmu cukup sehingga besok bisa melakukan wawancara dan pemeriksaan dengan fit." ucap Gibran dengan lembutnya. Bahkan ia setengah merayu istrinya itu.


"baiklah," jawab Sabina patuh.


"Ayo bereskan semua belanjaannya dan siapkan apa saja yang akan kamu bawa ke rumah sakit besok." ucap Gibran dan Sabina menuruti apa yang suaminya katakan.


Malam harinya Sabina tidur dalam pelukan Gibran dan suaminya itu memberikan usapan-usapan lembut di rambutnya yang panjang.


"Sayang jika aku melakukan operasi, bagaimana dengan kebutuhanmu ?" tanya Sabina seraya mengangkat wajahnya menatap sang suami.


"Kebutuhan ? kan ada mbok Inah dan pelayan baru " jawab Gibran.

__ADS_1


"Bukan yang itu," ucap Sabina gemas.


"Apa ?" Gibran berkerut alis tak paham.


"Itu.. tuh yang baperan...," jawab Sabina menunjuk pangkal paha Gibran dengan matanya.


Gibran tertawa melihatnya, "Oh itu... Aku akan bersabar sepanjang kamu berobat, dan setelah kamu sembuh langsung hajaaaaarrrrr." bisik Gibran seduktif seraya menempelkan batang hidungnya di pipi sang istri membuat Sabina bergidik seketika.


"Lagian nanya yang enggak-enggak aja sih, aku akan setia padamu." ucap Gibran dengan mencubit gemas puncak hidung Sabina yang mancung.


"Tapi perempuan Korea cantik-cantik dan...."


"Udah aku bilang berkali-kali, jangan nonton drama perselingkuhan." potong Gibran cepat.


"Ayo tidur, besok kita harus berangkat pagi." ajak Gibran. Ia tak mau meneruskan pembicaraan yang bisa memicu perang dunia ketiga itu.


***


Tepat pukul 9 pagi Gibran dan Sabina telah sampai di rumah sakit. Kini mereka tengah menunggu kedatangan Dokter Go Seung Tak yang belum juga tiba.


"Tenanglah...," ucap Gibran seraya menggenggam telapak tangan Sabina yang dingin karena rasa gugup yang menghampiri dirinya.


"Oh sorry Im late, I have to see my other patient." Ucap dokter Go yang baru saja memasuki ruangan tunggu dengan mengenakan baju kebesarannya.


Mata Gibran membulat sempurna melihat penampilan dokter yang akan merawat Sabina. Dokter itu tak hanya muda tapi juga memiliki paras wajah yang tampan dan menggemaskan. Walaupun sebelumnya Gibran pernah melakukan panggilan video tapi ia tak menyangka jika dokter Go lebih menarik dalam tampilan aslinya


"Hi, Iam Dr. Go. Nice to meet you." Ucap dokter itu seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Gibran menelan salivanya sendiri, dan berdiam diri seolah terhipnotis. Bagaimana mungkin orang setampan itu akan merawat istrinya ?


"Te... Tenanglah... Dia hanya seorang dokter bedah yang akan menolongku." bisik Sabina.


Kini Sabina lah yang berusaha untuk menenangkan Gibran sang suami yang sangat cemburuan.



Bonus penampilan Dr. Go


Ini ayanknya Author. No debat.


kabooooooorrrrrrr 🤣🤣

__ADS_1


thanks for reading ❤️


__ADS_2