Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Mengabaikan


__ADS_3

Happy reading ❤️


Pak Anwar memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus para pejabat rumah sakit. Seorang petugas keamanan langsung datang menghampiri ketika sadar mobil siapa yang baru saja berhenti dengan sempurna. Ia berlari kecil dan dengan sigap membuka pintu penumpang.


Gibran turun lebih dulu, di susul oleh Sabina yang memangku bayinya. Petugas keamanan itu menganggukkan kepala sebagai tanda penghormatan dan Gibran pun tersenyum sebagai balasannya.


"Terimakasih," ucap Gibran seraya pergi bersama Sabina menuju rumah sakit besar milik istrinya itu.


Kedatangan keduanya di sambut dengan sapa, bahkan beberapa orang datang menyalami mereka. Sebelumnya banyak yang tak tahu siapa itu Sabina namun semenjak ia menikah dengan Gibran kini orang-orang di rumah sakit mulai mengenalinya.


Sabina, Gibran dan Athalla memasuki ruang tunggu dokter spesialis anak. Tak hanya mereka, disana pun terdapat pasien lainnya. Seorang suster datang menghampiri dan mengatakan jika Sabina boleh langsung masuk ke ruang praktek namun istri dokter Gibran itu menolak dengan alasan banyak yang lain yang lebih dulu datang jadi ia akan menikmati antrian. Gibran tersenyum melihat apa yang istrinya itu lakukan, padahal ini adalah rumah sakit miliknya. Suster itu pun akhirnya pasrah, namun tetap saja ia mempercepat antriannya tanpa Sabina ketahui.


Sabina memeluk bayi Athalla yang tertidur dalam pangkuannya, sedangkan matanya memperhatikan banyaknya anak-anak yang menunggu sambil bermain di ruangan itu. Ia adalah seseorang yang menyukai anak kecil. Dari dulu Sabina sering kali merasa kesepian karena jarak umur yang cukup jauh dengan kedua kakaknya hingga ayah Sabina mengangkat Amanda untuk menjadi temannya.


Gibran duduk dengan menyenderkan tubuhnya ke kursi. Tanpa ia sangka seorang anak balita berusaha duduk di pangkuannya tanpa melihat siapa dirinya.


Gibran tertawa pelan ketika tahu jika anak itu salah orang. "Ya ampun kurasa dia salah mengira jika aku ini ayahnya." Bisik Gibran pada Sabina, dan istrinya itu pun ikut tertawa.


Anak itu masih duduk di pangkuan Gibran dengan nyamannya sambil berceloteh dengan suara cadelnya. Gibran tak berani untuk mengingatkan karena takut anak itu menangis takut.


Tak lama seorang wanita datang menghampiri dengan wajahnya yang pucat karena terkejut, "Ya ampun, Dok. Maafkan anak saya. Ayo dek turun !" ucapnya panik.


"Sssttt, tak apa jangan mengagetkannya nanti dia nangis." jawab Gibran memperingatkan.


"Saya cari-cari ini anak, dia lagi main petak umpet sama kakaknya." wanita itu berkata dengan nafas terengah. Terlihat jelas jika ia sedang kelelahan.


"Maaf, " ucap anak itu ketika ia menolehkan kepalanya pada Gibran.


"Tak apa-apa,Sayang." jawab Gibran dengan tersenyum riang.


Wanita itu sedikit terkejut karena biasanya dokter Gibran tak seramah ini.


"Sekali lagi maaf ya, Dok." ucap wanita itu sebelum ia di pergi membawa anaknya.


Gibran tertawa pelan ketika melihat anak yang tadi duduk di pangkuannya kembali berlari dan sang ibu terlihat kesal. Tak hanya satu namun ternyata wanita itu membawa ketiga anaknya dengan usia yang tak jauh bedanya. Ia kembali berjalan cepat dan meraih tangan ketiganya. Walaupun wanita itu terlihat lelah namun wajahnya yang tersenyum pada ketiga anaknya menyatakan jika ia seorang ibu yang bahagia.


"Kamu suka anak-anak ?" tanya Sabina membuyarkan lamunan Gibran.


"Iya tentu saja. Aku ini anak tunggal, dari kecil selalu merasa kesepian jika ibu pergi bekerja dan ibu juga memutuskan untuk tidak menikah lagi. Jadi aku hanya main dengan anak para tetangga yang usianya diatas aku." jawab Gibran.


"Apa kamu ingin punya anak banyak ?" tanya Sabina lagi.


"Tentu saja akan menyenangkan bila memiliki anak banyak, tapi tubuhmu adalah milikmu, Bina. Walaupun aku mau tapi aku tak akan menuntut mu atau pun memaksakan kehendak padamu. Punya banyak anak itu butuh tenaga dan kesabaran ekstra. Aku ingin kamu jadi istri dan ibu yang bahagia. Itu sudah cukup bagiku." jawab Gibran sungguh-sungguh.


"Dan juga tubuh yang kuat," Sabina menambahkan dan Gibran menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.


"Aku juga, aku suka anak-anak." gumam Sabina dengan menghela nafas dalam. Sudah terbayang dalam benaknya ia pun ingin berlarian di taman dengan anak-anaknya kelak. Tapi dengan kondisi kakinya yang seperti ini tentu akan sedikit menyulitkan.


"Tenang sayang, Athalla juga masih 1 bulan. Aku juga belum buka puasa. Masih banyak kesempatan untuk membuatkannya adik." ucap Gibran sembari menaik turunkan alisnya menggoda sang istri. Tawa Sabina pecah seketika.


***

__ADS_1


Telah 1 Minggu berlalu dan pagi ini Andre yang masih setia ditemani Alya telah duduk dihadapan Gibran dengan membawa hasil tes laboratorium.


Gibran menerima amplop putih itu dan segera membukanya. Andre yang duduk tepat di hadapannya terlihat begitu tegang karena masih merasa takut.


Gibran membaca hasil tes itu dengan seksama dan Andre masih diam menunggu penjelasan walaupun dalam hatinya ia sudah tak sabar untuk mengetahui hasilnya.


"Selamat, kamu udah terbebas dari penyakit itu.


Hasilnya negatif." ucap Gibran seraya menunjukkan hasil tes itu pada Andre.


Andre menarik nafas dalam dan berucap kata syukur. Matanya mengembun menahan tangis, ia sungguh merasa lega luar biasa.


"Sekarang tinggal jaga kesehatan Lo, jangan lagi terkena penyakit seperti ini. Bersyukur Ndre penyakit lo masih bisa sembuh. Kebayang gak kalau lo kena Aids ?" Tanya Gibran memperingatkan.


Andre yang duduk terdiam bergidik ngeri mendengarnya, ia pun tahu yang Gibran ucapkan itu adalah hal yang sebenarnya. "Gue udah berubah, dan gak akan ngulangin hal yang sama." ucap Andre penuh kesungguhan.


"Syukurlah, jaga diri Lo setelah ini." timpal Gibran.


"Makasih banget lo dah banyak bantu gue hingga sembuh. Gue berhutang banyak."


"Sudah kewajiban gue, dan gue juga cuma bantu. Tuhan yang kasih lo kesembuhan." jawab Gibran.


"Gimana kalau sebagai tanda terima kasih kita makan malam bersama." tawar Andre.


"No ! tidak terimakasih." jawab Gibran cepat. Dia langsung menolak tawaran temannya itu. Tak mungkin ia membawa Sabina untuk makan malam bersama dengan Andre.


"Ya ampun, gue gak bakalan godain bini Lo." ujar Andre kesal namun Gibran tetap menolaknya.


"Itu karena dia terlalu cinta sama istrinya," jawab Alya sembari tertawa.


"Tapi gak gitu juga kali."


"Ya.. terima ajalah, udah resiko dari segala perbuatanmu yang lalu."


"Hhmm iya sih." jawab Andre penuh sesal.


"Ayo kembali ke kantor, nanti malam kita makan bareng yuk ? aku pengen rayain kesembuhan aku bareng Raka juga." ajak Andre.


"Boleh, tapi apa gak terlalu berlebihan ?" tanya Alya sungkan.


"Tidak sama sekali. Aku juga berhutang banyak padamu."


"Aku hanya menjalankan tugasku saja, jangan jadi merasa berhutang budi." jawab Alya.


Andre tersenyum dipaksakan, memang benar apa yang Alya katakan namun entah mengapa dirinya merasa sedikit kecewa ketika Alya mengatakan itu.


***


Gibran tiba ketika hari mulai berganti malam, setelah membersihkan dirinya ia pun bercengkerama dengan anak dan istrinya.


Athalla yang berusia hampir 6 minggu telah memiliki pola tidur sendiri sehingga kedua orangtuanya tak lagi begadang di malam hari.

__ADS_1


Seperti sekarang ini Sabina tengah menyusui anaknya untuk tidur dan Athalla akan terbangun untuk menyusu saja.


"Apa semua persiapannya telah selesai ?" tanya Sabina pelan.


"Ya semua sudah diurus. Kamu jangan khawatir Sayang." jawab Gibran.


3 hari mendatang Gibran dan Sabina akan menyelenggarakan syukuran 40 hari bayi mereka yang dilaksanakan di rumah mereka sendiri.


"Sayang aku ingin minum kopi, aku turun ya."


"Tapi Athalla masih mimi, gimana dong ?" tanya Sabina.


"Gak apa-apa, Sayang. Aku bikin sendiri aja." jawab Gibran seraya mencium gemas pipi Sabina agar istrinya itu merasa tenang.


***


Disinilah Gibran sekarang, di dapur rumahnya tengah menunggu teko air berbunyi. Sudah kebiasaan baginya memasak air terlebih dahulu untuk menyeduh kopinya dan Sabina lah yang tahu tentang itu.


"Saya buatin kopinya ya pak dokter ?" tanya Ria yang berada disana karena masuk dari pintu belakang.


"Eh tak usah,"


"Gak apa-apa pak dokter, saya bisa kok." ucapnya penuh paksaan sembari membuka kemasan kopi dan menuangkannya pada cangkir.


"Gak usah," Gibran bersikeras.


"Aku bisa kok," Ucap Ria seraya berjalan menuju mesin pemanas air.


Gibran yang tak suka dipaksa akhirnya mematikan kompor dan memilih untuk pergi dari ruangan itu tanpa banyak berbicara.


"Pak dokter, kopinya?" tanya Ria kecewa. Padahal kopi buatannya telah selesai di buat.


"Saya bilang tak usah, biar nanti istri saya yang membuatnya." jawab Gibran tanpa menolehkan kepala. lelaki itu berusaha meninggalkan ruang dapur.


"Sampai kapan anda akan mengabaikan saya ?" tanya Ria penuh emosi dan Gibran pun menghentikan langkahnya.


"Sampai kapan anda akan berpura-pura tak peduli pada saya ? apa yang kurang dari saya ini ?" tanya Ria lagi dan kini Gibran pun membalikkan tubuhnya dengan berkerut alis tak paham.


"Saya tahu, anda memilih saya sebagai suster karena anda tertarik pada saya." ucap Ria seraya menangis dan Gibran tercengang mendengarnya.


"Saya tahu meskipun anda selalu berusaha mesra dengan ibu Sabina, tapi pasti anda merasa tidak puas dan juga malu memiliki istri yang cacat sehingga membuat anda mencari seseorang suster muda seperti saya untuk menjadi pengganti." ungkap Ria dengan perasaan menggebu.


Gibran mengepalkan tangan dan nafasnya memburu manahan rasa marah yang siap meledak ketika mendengar itu. " Jaga mulut Lo !!" bentak Gibran seraya menggebrak meja dengan begitu kerasnya.


To be continued ❤️


thanks for reading 😘


Mumpung Senin vote yu... buat yang suka dan iklhas. aja


makasih yaaaa.

__ADS_1


__ADS_2