Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Mencari Solusi


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Yang selalu terbayang adalah nafasnya yang pelan dan selang yang menempel ke hidungnya. Kamu tahu ? Dia menghembuskan nafas terakhirnya setelah aku datang. Bayangkan... Dia berjuang hidup, bernafas dengan susah payah hanya untuk menungguku... Menunggu aku yang tak peduli padanya hingga ia pun pergi untuk selamanya." Jelas Andre dengan suaranya yang parau dan mata memerah menahan tangis. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan, berusaha sekuat mungkin mengontrol emosinya ketika ia bercerita dan Alya mendengarkan dengan seksama tak memotong pembicaraan Andre ataupun menghakimi perbuatan buruk yang telah lelaki itu lakukan.


"Setelah kepergiannya baru terasa menyakitkan. Sering aku terbangun tengah malam dengan perasaan bersalah yang terus menghantui." tutur Andre lagi seraya meremas rambutnya sendiri dengan kedua tangan dan kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan air mata yang sudah tak terbendung lagi.


Alya diamkan lelaki yang tengah mengeluarkan beban hatinya itu. Ia menunggu waktu yang tepat untuk berbicara.


Andre kembali menarik nafas dalam dan menegakkan tubuhnya. Kini keadaannya tak setegang tadi.


"Sudah selesai ?" tanya Alya dan Andre menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Sekarang tinggal cari solusinya dan kamu sendiri yang harus melakukannya." lanjut Alya lagi dan Andre berkerut alis tak paham.


"Setiap orang yang peduli hanya akan merasa prihatin dengan keadaanmu tapi yang bisa menyelamatkan kamu adalah dirimu sendiri." lanjut Alya dan Andre terdiam mendengarkan.


"Kita mulai dari penyakitmu, apa kamu mau sembuh ?" tanya Alya.


"Tentu saja aku mau," jawab Andre mantap.


"Jika begitu kamu harus disiplin selama menjalani pengobatannya. Beruntung bagi mu karena penyakit ini masih bisa diobati. Namun jika ingin sembuh maka kamu jangan lagi melakukan **** bebas seperti dulu."


"Tapi berkonsultasi mengenai penyakit ini bukanlah hal yang mudah, aku malu setiap mengatakannya. Dan asal kamu tahu aku sudah berhenti melakukan itu selama berbulan-bulan. Aku tak lagi tidur dengan wanita manapun."


"Jika begitu temui dokter yang kamu percayai dan berkomitmenlah untuk melakukan pengobatan secara tuntas." timpal Alya.


"Gibran ?" tanya Andre sedikit ragu.


"Ya, kamu bisa menemuinya. Aku lihat di laman Instagramnya ia sering memberikan informasi sekitar penyakit menular sek**al. Aku yakin dia bisa membantumu untuk sembuh."


"Bagaimanapun jika ia tak mau ?" tanya Andre ragu.


"Dia pasti mau, karena ia seorang yang profesional."


Andre pun mengangguk paham.


"Mengenai bayi yang telah meninggalkanmu, apa yang kamu inginkan ?" tanya Alya.


"A... aku ingin dia tahu bahwa aku benar-benar menyesal dengan apa yang aku lakukan, aku ingin dia tahu bahwa aku adalah benar ayahnya." jawab Andre dengan wajahnya yang kembali sendu.


"Jika begitu akui saja jika dia anakmu," ucap Alya.


"Maksudmu ?" Tanya Andre tak paham.


"Bisa dengan memberikan namamu padanya sebagai pengakuan bahwa dia anakmu."


"Keluarga aku tak akan mau mengakuinya. Seperti yang aku bilang ibuku saja tak mau lagi mendengar cerita ini." ungkap Andre dengan tersenyum masam.


"Tak usah menggunakan nama keluarga, berikan namamu saja. Mmm kita coba cari nama yang cocok. Apa yang disukai Amanda ?"


"Uang," jawab Andre seraya tersenyum muak mengingat bagaimana Amanda mendekatinya karena uang


"Selain itu, tak baik membicarakan hal buruk seseorang yang telah meninggal." ucap Alya kesal.


"Mobil, tas, perhiasan, make up, bunga." jawab Andre.

__ADS_1


"Bunga apa ?" tanya Alya memotong pembicaraan Andre.


"Mawar dan Lily. Dia selalu menyukai apa yang Sabina sukai."


"Mmm kita coba lily dan Amandana... bagaimana jika Liliana ?" tanya Alya.


"Liliana ?" Andre berkerut alis tak paham.


"Liliana Andreas, nama anak kamu dan Amanda. Kamu bisa menuliskan nama itu di batu nisannya dengan begitu ia mendapatkan pengakuanmu." jelas Alya dan wajah Andre yang sendu kini berubah menghangat.


"Bisakah begitu ?" tanya Andre.


"Coba kamu tanya dulu, jika bisa maka rubahlah."


Andre pun mengangguk setuju.


"See, sudah ada jalan keluar yang bisa kamu tempuh." ucap Alya seraya tersenyum.


"Kenapa kamu bisa setenang dan setangguh ini ?" tanya Andre penuh kagum.


"Aku ? Hidupku tak mudah. Setelah suamiku meninggal aku harus menjadi ibu sekaligus ayah bagi Raka. Dan tak ada yang bisa menyelamatkan kami selain diri kami sendiri. Oleh karena itu aku selalu mendahulukan logika di banding perasaan." jelas Alya.


"Tak ingin menikah lagi ?" tanya Andre


"Hidupku masih penuh dengan Raka dan pekerjaan, aku belum memikirkan ke arah sana. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik bagi Raka, aku fokus mencari uang saja untuk memenuhi kebutuhan kami." Jawab Alya sembari tertawa.


"Mmm, baiklah aku akan menawarkan pekerjaan lainnya yang bisa menghasilkan uang tambahan. Kamu mau ?" tanya Andre.


"Tentu saja." Jawab Alya tanpa ragu.


"Serius ?" tanya Alya.


"Iya tentu saja aku serius. Aku akan memberikan fee


sebesar 50 persen dari gajimu." bujuk Andre.


"Baiklah," Alya menyetujui apa yang Andre tawarkan padanya. Mereka pun berjabat tangan sebagai tanda setuju.


***


Saat ini Gibran tengah mengemudikan mobilnya menuju bandara untuk mengantarkan ibunya yang telah tinggal di Jakarta selama hampir 2 bulan semenjak Sabina mau melahirkan.


Sedari tadi ibunya merasa cemas karena kehadiran seorang suster muda yang nampaknya tertarik pada anak lelakinya itu. Ia tak mau kehadiran Ria menjadi pengganggu dalam kehidupan rumah tangga anaknya.


"Gibran, kenapa kamu memperkerjakan suster itu ?"


"Kenapa bu ?" Gibran menolehkan kepalanya melihat sang ibu yang duduk disebelahnya.


"Suster itu, kenapa kamu memilih nya ?"


"Ah, karena yayasan yang merekomendasikan dirinya. Menurut mereka, Ria gesit dan cekatan." jawab Gibran.


"Tapi ibu khawatir dengannya, dari cara dia melihatmu sudah bisa dipastikan dia tertarik padamu."


"Masa sih, Bu ?" Gibran balik bertanya.

__ADS_1


"Kamu memang gak peka soal perempuan." jawab sang ibu dan Gibran pun tertawa.


"Ibu jangan khawatir, aku tak akan tergoda oleh wanita macam dia. Untuk menaklukkan hati Sabina itu tidaklah mudah. Sekarang cinta Sabina sudah menjadi milikku, tentunya akan ku jaga sekuat tenaga juga hati agar tidak hancur. Aku sangat mencintai anak dan istriku, tak mungkin aku melakukan hal yang bodoh. Percayalah...," ucap Gibran. Ia berusaha untuk menenangkan ibunya.


"Syukurlah jika begitu," timpal sang ibu.


"Lagian bu, Sabina itu wanita yang cerdas. Tak mungkin ia membiarkan suaminya digoda wanita lain." ucap Gibran sembari tertawa. Ia ingat bagaimana Sabina begitu posesif pada dirinya, pun sebaliknya.


Ibu Gibran mengangguk paham, dan ia pun percaya jika anak dan menantunya bisa menjaga diri dengan baik.


***


Di rumah, Sabina kini telah menjelaskan apa saja yang harus Ria kerjakan. Walaupun wanita itu masih saja memperhatikan bagaimana Sabina berjalan.


Meski begitu Sabina tak menunjukkan wajah yak suka ataupun menegurnya. Ia sudah terbiasa dengan hal itu dan berharap jika Ria akan terbiasa nantinya.


Dan satu hal lagi yang Sabina sadari, suster barunya itu akan memperhatikan photo Gibran yang terpajang. Bisa Sabina lihat dengan jelas jika wanita itu tertarik pada suaminya. Namun Sabina pun tak bisa langsung memecatnya karena tak ada bukti dan apa yang akan Gibran katakan nanti jika rasa cemburunya tak bisa dikendalikan.


Namun Sabina bukanlah wanita yang bodoh, ia percaya Gibran tak akan mengkhianatinya. Meskipun begitu Sabina juga harus berjaga-jaga.


"Apa kamu udah ngerti ?" tanya Sabina pada susternya yang baru.


"Tentu, Bu" jawabnya patuh.


"Oh ya satu lagi, jam kerjamu dari pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore. Setelah suamiku pulang, aku tak lagi membutuhkan bantuanmu karena kami akan mengurusi bayi kami berdua. Kamu bisa tinggal di area belakang rumah bersama pelayan yang lain dan hanya boleh masuk ke dalam rumah utama jika saya yang memanggil." jelas Sabina dan Ria pun tak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.


"Saya dan suami sangat membutuhkan privasi."


"oh.. ten.. tentu saja." jawab Ria terbata.


***


Esok paginya Gibran tiba di rumah sakit tepat waktu, ia tersenyum ketika ingat apa yang Sabina jelaskan semalam tentang jam kerja Ria si suster baru.


Gibran sadar jika Sabina tengah membangun pertahanannya dari para pengganggu dan demi apapun dirinya sangat senang karena dengan begitu ia tahu jika Sabina pun sangat mencintainya dan takut kehilangannya.


Gibran masih tersenyum hingga pasien pertamanya masuk yaitu seorang lelaki yang ia kenal dengan baik dan seketika senyum itu hilang dari wajahnya berganti pandangan dingin yang menusuk.


"Ngapain lo datang kesini ?" tanya Gibran ketus.


"Apa sambutan lo begini sama pasien ? tapi kok pasien Lo banyak aja tiap harinya?" Andre balik bertanya seraya mendudukkan tubuhnya dihadapan Gibran.


"Gue begini sama lo doang." jawab Gibran malas.


"Astaga," gumam Andre namun Gibran masih bisa mendengarnya.


"Lo ngapain sih, Ndre ? urusan lo ma istri gue udah selesai kan?" tanya Gibran cemas. Ia tak mau Andre datang untuk meminta izinnya agar bisa bertemu Sabina lagi.


"Istri lo ? ini gak ada kaitannya dengan Sabina." jawab Andre sedikit bingung.


"Gue datang untuk berobat, gue mau minta bantuan lo buat ngobatin penyakit yang gue idap ini." lanjut Andre.


Belum juga Gibran berbicara, seorang wanita mengetuk pintu ruang praktek Gibran dan memasukinya.


"Maaf aku terlambat, aku harus antar Raka dulu tadi."Ucap Alya yang kini mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah Andre.

__ADS_1


to be continued ❤️


__ADS_2