
"bagaimana jika Alika benar benar membuatku harus memilih?
,ah tidak... dia tidak boleh melakukan ini padaku! Marfin frustasi sembari menyetir mobilnya.
mobil dengan cepat melaju dan sampai di rumahnya,
Tinnn... Tinnnn.... Tiinnnn...
Marfin membunyikan klaksonnya beberapa kali ia tidak sabar menunggu penjaga membukakan pintu gerbang.
"lama sekali, gerutu Marfin.
seorang laki laki bergegas membukakan pintu mobil untuk Marfin.
"selamat siang tuan, ucapnya sembari dengan sopan membungkukan badannya.
"siang...
Marfin melangkahkan kakinya sembari memasukkan satu tangan kedalam saku celananya.
" halo, ayah... sapa Marfin dari jarak yang tidak terlalu dekat sembari berjalan menghampiri kumpulan keluarganya.
"bagaimana kabar ayah? Marfin merangkul ayahnya.
"baik nak, bagaimana denganmu? tanya pak Anton.
"baik ayah, jawab Marfin kemudian duduk di sofa melepas jasnya dan menyilangkan kakinya.
"mengapa tidak beriringan dengan Alika, terlalu sibukkah? tanya pak Anton.
" benar ayah ,aku sangat sibuk. Maafkan aku terlambat, ucap Marfin.
"sayang Maafkan aku, ucap Marfin kepada Alika yang duduk di hadapannya bersampingan dengan Adiknya.
"tidak apa apa sayang,jawab Alika memaksa senyum dibibirnya.
"bagaimana laporan perusahaan?tanya pak Anton.
"baik yah, semua dalam keadaan baik, ayah tenang saja.
tentu saja benar sejak perusahaan di bawah pimpinan Marfin wijaya, omset perusahaan semakin naik.
sebagai pimpinan perusahaan Marfin wijaya sangatlah tegas dan bijaksana tak heran jika seluruh karyawan tak ada yang berani menengadahkan wajahnya ketika Marfin marah karna Marfin tak segan segan untuk memecatnya jika saja ada yang di nilainya kurang baik.
"leo mana, mengapa belakangan ini leo seringkali tak terlihat beriringan denganmu nak? tanya bu risma.
__ADS_1
" aku memberinya pekerjaan yang terlalu banyak bu, hingga ia tak bisa keluar kantor,jawab Marfin.
"mengapa jahat sekali? lagipulakan leo ada asisten kan? timbal ana ketus.
" yaa.... sudah ku katakan banyaknya pekerjaan jadi mereka berdua sibuk, jawab Marfin.
ditengah percakapan mereka tiba tiba ponsel bu Risma berbunyi.
"halo jeng ratna, asalamualaikum, jawab bu Risma.
" oh iya, Wah selamat ya jeng, anaknya laki laki apa perempuan?
"wah pasti cantik kayak ibunya?
"oh ho'o, selamat ya jeng sekali lagi, sekarang sudah jadi nenek,
"oke jeng, wasalamualaikum.
"siapa yang telpon bu? tanya Ana kepo.
" ini jeng ratna, menantunya lahiran, anaknya perempuan, dia mau ngadain syukuran,jadi dia ngundang ibu.
"wah... pasti bahagia banget ya jadi mereka udah jadi kakek dan nenek,tutur bu Risma yang membuat wajah Alika memerah,seolah merasa bahwa bu Risma sangat menginginkan cucu darinya,yah meski pernikahannya belum menginjak satu tahun.
Marfin yang melihat wajah istrinya tampak memerah mendengar ucapan ibunya itu langsung memberinya penghiburan.
Mata Alika membulat mendengar kata kata yang keluar dari mulut suaminya itu,
" emm... bukan begitu mas, mungkin allah belum berkehendak. jawab Alika sembari menebar senyum kecutnya.
" iya sayang, tak perlu cemas umur pernikahan kalian masih seumur jagung,nanti kalo sudah waktunya, allah pasti kasih kok, ucap bu Risma sembari tersenyum.
"ii... iya bu, jawab Alika.
punya anak?
hah? aku belum terfikirkan untuk saat ini, tapi jika allah memberi, akan aku syukuri, batin Alika.
lama sekali mereka berbincang bincang di ruang tamu, waktu Magrib telah tiba, usai melaksanakan solat mereka sekeluarga bergegas ke meja makan untuk makan malam dengan sajian lengkap yang sudah di sediakan pelayan.
dengan sigap Alika menarik kursi untuk diduduki suaminya itu, Alika juga mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi dan juga lauk.
orang tua Marfin tersenyum melihat perlakuan Alika yang begitu memperhatikan suaminya.
Marfin tampak bingung memperhatikan perlakuan Alika yang di fikirnya setelah berbicara di ponsel bahkan mengatakan marfin harus memilih namun ternyata tidak yang seperti yang dia fikirkan Alika masih melayaninya dengan baik.
__ADS_1
" mas mau lauk apa? tanya Alika.
Marfin hanya menunjuk lauk yang ingin ia makan tanpa kata yang keluar dari mulutnya sambil masih dengan ekspresi bingung terlihat dari wajahnya.
alikapun segera menyendoki lauk dan sayur yang di inginkan oleh suaminya dan menambahkan kedalam piring suaminya.
" aduhh... kalian ini bikin Ana iri saja, goda Ana.
" yasudah, kau menikah saja, ketus jee sembari melahap makannya.
" iii....... gerutu Ana manja sembari memonyongkan bibirnya.
"ya iya, begitulah kehidupan rumah tangga meski terlihat harmonis oleh orang lain, padahal sebenarnya kedua pasangan sedang menutupi keretakan di dalamnya.
jadi, jangan membayangkan nikah itu enaknya saja ! pungkas jee,
benar begitukan nona Alika? tanya jee yang membuat mulut Alika berhenti mengunyah.
"emm... ii... iya.. mungkin begitu, jawabnya gugup.
"iya... iya, akukan hanya bilang iri, kok jadi panjang lebar sih, ketus Ana.
"ya ngapain iri, nikah aja kalo mau, biar ngerasain yang sebenar benarnya, kata jee.
melihat mereka berdua berdebat di meja makan, pak anton dan bu risma saling menatap kemudian menggelengkan kepala.
"sudah hentikan, ayo makan! tidak baik banyak bicara ketika sedang makan, tegas pak Anton.
setelah selesai makan malam, Alika mengajak Marfin kembali ke apartemennya.
"loh mengapa tidak menginap saja, tanya Bu risma.
" tidak bu, Alika harus membereskan barang barang besok akan pindah ke villa di pondok indah,iyakan sayang?
"hah, batin Alika.
"ya ampun sayang, yasudah nanti jaga diri ya, pelayan harus cukup ya nak, jangan memberatkan menantu ibu, pinta bu Risma.
"tentu saja bu, jawab Marfin sembari melirik wajah istrinya.
sebelum pulang tak lupa mereka mencium tangan pak anton dan bu Risma kemudian diakhiri dengan menggoda Ana.
" heyy.... jangan dulu menikah, kau harus pandai memasak dulu dan tidak manja seperti itu, goda Marfin kemudian mencubit pipi chubby ana da mengacak ngacak rambut Ana.
" iiihh kaka..!!!! rengek Ana.
__ADS_1
Ditengah perjalanan Mereka hening tanpa suara yang terdengar hanya suara bisingnya kota,tanpa ada salah satupun diantara mereka yang berani memulai pembicaraan.