
"Aaahhhh, jadi begini caranya memeriksa suhu tubuh ala dokter Indonesia ?" tanya dokter Go sembari tertawa sedangkan Sabina menundukkan kepalanya Karena malu.
"Ya, tapi anda tak boleh mencobanya !" seru Gibran.
"Benarkah ? kenapa tak boleh ?" Tanya dokter Go dengan tawanya yang khas. Matanya menyipit ketika ia melakukan itu. Membuat siapapun yang melihatnya akan merasa gemas. Termasuk Sabina yang kini sedikit terpesona.
Gibran yang melihat itu semakin merasa kesal, seandainya dokter Go bukanlah dokter bedah yang akan menolong Sabina tentu saja Gibran sudah melayangkan ancaman jika dokter itu berani menggoda istrinya.
"Saya rasa, saya bisa mencoba metode itu kepada istri saya di rumah suatu hari nanti" ucap dokter Go dan itu membuat Gibran yang sedang merasa terancam berubah lega
"Anda sudah menikah ?" tanya Gibran dengan wajah sumringah bahagia. Matanya berbinar ketika menanyakan itu.
"Belum, Saya kan tadi bilang suatu hari nanti." jawab dokter Go dan itu membuat senyum Gibran surut seketika.
"Hasil foto Rontgennya sudah diantarkan ke ruangan saya. Anda dan istri bisa menemui saya dalam waktu 30 menit mendatang karena saya masih harus mengunjungi 2 orang pasien lagi." jelas dokter Go sebelum ia berpamitan.
Sabina menatap kepergian dokter Go hingga ia menghilang di balik pintu. Ia tersenyum samar karena terpesona oleh keramahan dokter Go yang tampan itu. Dan tanpa dirinya sadari Gibran tengah menatapnya dengan pandangan mata menusuk dan wajah yang datar.
"Ah... kata dokternya kita bisa menemui dia 30 menit lagi." ucap Sabina mencairkan suasana dan ia begitu salah tingkah.
"Bina, katamu aku ini satu-satunya Papa kelinci mu." Kesal Gibran seraya mendudukkan tubuhnya dan meraih Athalla ke atas pangkuannya. Ia memberikan usapan-usapan lembut di puncak kepala anaknya dan menciumnya penuh kasih sayang. Raut wajah Gibran terlihat sendu karena menahan rasa cemburu.
Sabina membulatkan matanya sempurna, melihat Gibran yang kini mulai merajuk.
"Tentu saja kamu satu-satunya,"
"Tapi tadi kamu senyum-senyum sambil lihat dokter itu," kata Gibran lagi tanpa mau melihat wajah istrinya.
"Ya Tuhan, aku senyum bukan berarti mau ganti kamu sama dia." ucap Sabina gemas.
Tapi Gibran masih tak mau melihat wajah Sabina istrinya, ia lebih memilih untuk memeluk Athalla seolah hanya anaknya itulah yang mencintainya.
"Cuma Athalla yang sayang Papa,"
"what ?" gumam Sabina pelan.
"Hei Papa kelinci jangan mulai ya... Aku melakukan ini semua demi anak-anak kita nanti, demi kamu juga. Tapi kalau kamu cemburuan begini lebih baik gak usah." ucap Sabina dengan kesalnya.
"Aku gak cemburu, Aku cuma gak mau kamu senyum-senyum tiap lihat dia." kata Gibran lagi dan ia masih tak mau menatap wajah Sabina.
"Sekarepmu lah." gumam Sabina. Ia tak mau lagi meladeni suaminya yang tengah cemburu tak jelas.
***
30 menit kemudian Sabina juga Gibran telah menanti Dokter Go Seung Tak di ruangannya, sedangkan Athalla menunggu di kamar rawat Sabina bersama Mbok Inah. Beruntung bagi keduanya, Athalla adalah anak yang penurut. Tak merengek jika ditinggalkan.
Gibran masih saja irit berbicara membuat Sabina menjadi serba salah. "Mungkin aku harus diam dan yak banyak memperhatikan dokter itu." batin Sabina dalam hatinya.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu, akhirnya dokter Go pun datang memasuki ruangannya.
"Maaf membuat kalian menunggu," ucapnya ramah.
Tanpa banyak bicara dokter Go menunjukkan hasil poto Rontgen kaki Sabina. "Anda wanita yang hebat Nyonya Gibran, perjuanganmu pasti sangat berat." puji dokter Go sembari memperhatikan hasil foto Rontgen itu.
Sabina menarik nafas dalam ketika dokter Go mengatakan hal itu, ia ingat bagaimana Gibran pun pernah mengatakan hal yang sama ketika mereka melakukan malam pertama. Di waktu itulah Gibran bisa melihat Sabina seutuhnya, dan ia tak menyangka jika suaminya itu mau menerima keadaan dirinya tanpa syarat.
Saat ini Sabina merasa begitu beruntung karena Gibran mencintainya dengan tulus. Tak henti-hentinya Sabina menatap Gibran penuh cinta.
__ADS_1
"Mmm, yang perlu dilakukan tindakan medis di bagian ini, dan ini." ucap dokter Go seraya menunjukkan 2 titik yang bermasalah pada kaki Sabina. Dan ia pun menjelaskan dengan rinci masalah juga solusi yang bisa dilakukan.
Dokter Go menjelaskan dengan detail dan runtut, raut wajahnya begitu serius. Sangat berbeda dengan ketika ia membicarakan hal lain. Gibran pun bertanya pada dokter Go dengan istilah-istilah kedokteran yang tak Sabina mengerti. Meskipun suaminya itu bekerja sebagai dokter umum, tapi sedikit banyak ia mengerti masalah yang harus Sabina hadapi.
Cukup lama Gibran dan dokter Go saling bertanya jawab. Dapat Dokter Go lihat dengan jelas jika Gibran begitu mengkhawatirkan istrinya.
"Jadi proses operasinya berapa lama ?" tanya Gibran.
"Karena ini cukup sulit, mungkin akan menghabiskan waktu sekitar 12 jam." jawab dokter Go.
"Oleh karena itu sangat diperlukan kesiapan dari istri anda dan juga keluarganya." lanjut dokter Go sembari menatap Sabina. Tapi yang ditatap malah asik memperhatikan suaminya, membuat dokter Go tersenyum melihatnya.
"Sepertinya Nyonya Gibran lebih tertarik memperhatikan anda ( Gibran ) dari pada apa yang saya jelaskan." Ucap dokter Go sembari tertawa.
Gibran pun menolehkan kepalanya dan melihat Sabina yang pipinya merona merah karena malu.
Senyuman terkembang dengan sempurna di wajah Gibran saat ini, ia merasa senang Sabina melihatnya seorang.
"Honey, Dokter Go mengatakan jika operasinya bisa dilakukan secepatnya dan prosesnya akan memakan waktu yang cukup lama. Apa kamu siap ?" Tanya Gibran dan ia sengaja menyebut Sabina dengan sebutan 'honey,' agar dokter Go bisa mengerti jika ia memanggil Sabina dengan panggilan kata Sayang.
"Aku siap. Bukannya lebih cepat itu lebih baik, Papa kelinci ?" jawab Sabina.
"kamu yakin ? karena aku akan bersabar hingga kamu benar-benar merasa siap." ucap Gibran tanpa ragu.
"Ya, aku siap. Kebetulan ayahku dan juga ibumu akan datang dalam 2 hari mendatang. Semoga mereka ada disini ketika aku melakukan operasi ini."jawab Sabina dengan yakinnya.
"Baiklah jika begitu, besok kamu akan melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum melakukan operasi. Kamu pasti bisa, kamu lebih kuat dari yang kamu kira. Aku semakin terpesona padamu, Bina."
"Dan kamu lah yang membuatku menjadi berani, Papa kelinci." ucap Sabina sembari tersenyum penuh cinta pada suaminya.
Dokter Go yang tak mengerti apa yang Sabina dan Gibran ucapkan hanya tersenyum saja. Namun ia yakin jika suami istri itu tengah berkata-kata penuh cinta.
***
Sabina telah terbaring di atas ranjang pasien dan telah mengenakan baju khusus operasi. Gibran, Athalla, ayah Sabina dan juga ibunya telah hadir di sana.
Kini mereka tengah mengantarkan Sabina menuju ruang operasi. Dokter Go dan dokter anastesi ( dokter spesialis yang memiliki tanggung jawab memberikan anastesi / pembiusan sebelum pasien menjalani operasi ) juga 3 orang lainnya yang menjadi tim operasi kaki Sabina telah menanti di ruangan itu.
"Semoga semuanya berjalan lancar," ucap Ayah Sabina pada anaknya. Begitu juga ibu Gibran yang. tak henti-hentinya mendoakan.
"Aku mencintaimu, Bina." itulah kata yang Gibran ucapkan sebelum Sabina dibawa ke dalam ruangan itu. Ia mencium dahi istrinya lama sembari memejamkan mata.
Sabina menganggukkan kepala tanpa bersuara, karena ia yakin tangisnya akan pecah jika ia berbicara.
Tak lama pintu ruangan operasi pun tertutup dan kini Gibran yang tengah memangku Athalla menunggu diluar bersama ibu dan ayah mertuanya.
"Doakan Mama ya sayang," lirih Gibran seraya mencium puncak kepala anaknya. Air bening yang ia tahan dari tadi tak terbendung lagi. Dadanya berdegup kencang karena rasa khawatirnya pada sang istri yang sangat Gibran cintai.
***
"Kenapa ?" tanya Alya pada suaminya yang saat ini tengah fokus pada ponselnya.
"Gak pa-pa," jawab Andre dan ia pun menyimpan kembali benda pipih itu di atas meja.
"Baru saja Gibran mengabari jika Sabina akan dioperasi hari ini."
"Oh ya ? semoga semuanya lancar dan Sabina segera pulih kembali." ucap Alya tulus.
__ADS_1
"Ya, semoga begitu karena Gibran begitu mengkhawatirkannya."
"Pasti khawatir, karena Gibran sangat mencintai istrinya itu." ucap Alya lagi dan Andre menganggukan kepala tanda setuju dengan apa yang Alya ucapkan.
Wajah Andre masih terlihat sendu tak seperti biasanya, Alya yakin jika ada hal lain yang mengganggu pikiran suaminya dan yang pasti bukan karena operasi yang Sabina lakukan.
"Ah, jam tangan aku tertinggal di kamar." ucap Andre seraya berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Tak lama setelah Andre berdiri, ponselnya bergetar kembali dan terdapat sebuah pesan pada layar pop up yang dapat Alya baca dengan jelas.
"Kak, kamu bisa kembali ke sini kapanpun dan menjabat bagian apapun yang kakak mau. Asalkan kakak datang seorang diri."
To be continued ❤️
thanks for reading 😘
lah kok bersambung lagi 🤣🤣
Bismillah promosi novel baru
Blurb :
Alexander Henry Salim seorang pria berusia 27 thn dan seorang pengusaha muda yang sukses menjadi seorang petualang wanita setelah dia dicampakkan oleh cinta pertama nya.
Nadia Wirahma seorang gadis sederhana dengan karir gemilang, diharapkan dapat menjadi "obat" bagi seorang Alex dengan jalan perjodohan. Dirinya sendiri baru saja mengakhiri hubungan asmaranya yang terjalin selama 7 tahun dengan teman kecilnya.
"Kamu sengaja memakai gaun seperti ini agar mantan kekasihmu dapat menyentuhmu seperti ini hemm." Alex berbisik dengan suara serak, dan membelai paha bagian dalam istrinya Nadia
"Asal kamu tahu aku pun bisa memuaskan mu seperti dia"
-Alexander Henry Salim-
"Apa kamu gila Alex? Aku gak ngerti apa maksudmu"
-Nadia Wirahma-
Sebuah kisah romantis yang tidak selalu manis.
Novel tamat
Blurb :
Renata kira hidupnya sudah sempurna. 6 tahun pernikahannya dilalui dengan luar biasa bahagia. Fabian suami yang tampan dan penyayang. Dikaruniai anak yang cantik dan cerdas, ekonomi yang mapan dan eluarga yang saling mengasihi
Sampai terjadinya kecelakaan naas yang menimpa Fabian.
"Sayang...sadarlah aku dan Celia membutuhkanmu.. Fabian sayang bangunlah... kami mencintaimu" lirih Renata di samping suaminya yang tergolek tak sadarkan diri.
Dihari hari berikutnya Renata masih setia menemani suaminya Fabian yang masih memejamkan matanya.
"Fabian... Fabian bangunlah.... Kamu berhutang penjelasan padaku, Bajingan." Bisik Renata di telinga suaminya
Bisa klik di profil aku yaa...
__ADS_1
mumpung Senin vote bagi yang ikhlas yaa...
makasih 😘😘😘