Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Menentukan Pilihan


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Ran, tolong beresin ya. Saya pergi." Ucap Gibran seraya menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas lantai.


Rani hanya menganggukkan kepala tanpa berani berbicara.


Gibran menjalankan mobilnya secepat yang ia bisa dengan pikirannya yang kacau karena penolakan Sabina. Baru kali ini Sabina bersikap tak bisa diajak kompromi. Tapi walaupun begitu Gibran tak dapat menyalahkan istrinya itu  karena semua yang tadi Sabina ucapkan benar adanya. Amanda terlalu banyak menyakiti hati.


Keringat dingin membasahi kening Gibran saat ini. Di hadapannya ada dua jalan yang menuju arah berbeda. Yang satu menuju arah tol  yang merupakan jalannya untuk pulang pada pelukan Sabina. Sedangkan jalan yang lain menuju rumah sakit daerah di mana Amanda sedang terbaring saat ini.


Lampu merah beberapa detik lagi akan berubah warna dan Gibran dihadapkan pada keputusan yang begitu sulit.


Bunyi klakson mobil yang berada di belakangnya saling bersahutan menandakan jika lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau namun Gibran belum juga menjalankan mobilnya.


Gibran memejamkan mata dan menarik nafas dalam sebelum ia memutuskan. "Maafkan aku, Bina." Ucap Gibran lirih seraya memilih jalan yang menuju rumah sakit. Ia lakukan itu karena ponselnya yang kembali berbunyi dan Gibran yakin itu berasal dari temannya yang sedang merawat Amanda.


Bukan berarti Gibran tak menghargai apa yang Sabina inginkan tapi saat ini logikanya mengatakan jika keadaan Amanda lebih membutuhkannya karena  berhubungan dengan nyawa,  sedangkan dengan Sabina ia akan berusaha untuk berbicara lagi hingga istrinya itu mengerti.


Gibran memarkirkan mobilnya dengan cepat. Ia menundukkan kepala sembari terus berpikir dan berdoa agar jalan yang ia ambil saat ini adalah sesuatu yang tepat. Ia menarik nafas dalam sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan berjalan tergesa menuju ruangan unit gawat darurat.


"Akhirnya kamu datang juga," ucap dokter Risa yang telah menunggu kedatangan Gibran di sebuah meja yang berada di ruangan itu. Sedangkan Amanda terbaring tak berdaya di salah satu ranjang pasien yang tertutup kain tirai.


"Maaf, aku harus menyelesaikan dulu sesuatu." Jawab Gibran beralasan dan ia pun duduk dihadapan dokter Risa dan meraih beberapa lembar kertas yang dokter itu berikan padanya.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Gibran tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas itu.


"Ia telah sadar namun sekarang sedang beristirahat. Amanda mengalami pendarahan karena kelelahan hingga ia tak sadarkan diri. Seperti yang kamu tahu, Amanda mengalami plasenta previa dan letak plasentanya menutupi seluruh jalan lahir si bayi, itulah yang menyebabkan ia mengalami pendarahan. Dan ini sepertinya bukan yang pertama kali bagi dia." Jelas dokter Risa dan Gibran menganggukkan kepalanya tanda mengerti seraya melihat hasil pemeriksaan USG Amanda yang memperlihatkan apa yang dokter Risa jelaskan baru saja.


"Apakah perlu dilakukan tindakan ?" Tanya Gibran.


"Itulah kenapa aku menelponmu berulang kali. Untuk melakukan suatu tindakan pada pasien diperlukan surat pernyataan bersedia dari keluarganya. dan dalam hal ini hanya kamu yang diakui Amanda sebagai keluarga. Oleh karena itu kedatangan kamu tak bisa diwakilkan oleh siapapun" Jawab dokter Risa dan Gibran pun kembali mengangguk paham.


"Tapi bayi yang Amanda kandung tidak memiliki berat yang cukup untuk dilahirkan dan keadaannya tak cukup baik. Diperlukan tindakan berupa pemberian obat yang dimasukkan melalui selang infus untuk memperkuat organ tubuh si bayi sebelum ia lahir. Dan pengobatan itu memerlukan waktu sekitar satu Minggu. Dan satu lagi, sudah dipastikan Amanda tak dapat melahirkan secara normal." Lanjut dokter Risa lagi.


Gibran menarik nafas dalam, ia tak menyangka Amanda mengalami komplikasi yang cukup berat belum lagi dengan penyakit menular *****al yang juga di idapnya.


"Apa gangguan pada bayinya diakibatkan karena sifilis ?" Tanya Gibran.


"Ya bisa juga karena itu "


"Apa resikonya ?" Tanya Gibran lagi, walaupun sebenarnya ia sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan.

__ADS_1


"Resiko terbesar bayinya dapat terlahir dalam keadaan meninggal atau jika ia hidup akan mengalami kegagalan fungsi organ yang cukup berbahaya atau cacat. Entahlah Gibran,  kita hanya bisa memprediksi saja." Jelas dokter Risa.


"Amanda harus benar-benar bedrest, ia harus istirahat total diatas tempat tidur dan jika perlu tindakan pembedahan akan  dilakukan dalam upaya menyelamatkan ibu juga bayi yang dikandungnya. Amanda juga tak memiliki jaminan kesehatan apapun untuk membiayai semua." Ucap dokter Risa lagi dan Gibran pun hanya terdiam terpaku.


Merasa tak punya pilihan lain, Gibran pun menyetujuinya "Baiklah, aku akan menandatangani surat pernyataan keluarga dan aku juga yang akan menanggung semua biayanya." Jawab Gibran meskipun ia merasa berat karena Sabina belum tahu yang sebenarnya terjadi.


"Syukurlah jika begitu, kamu bisa selesaikan semua dengan bagian administrasi karena aku harus kembali ke tempat praktekku."


"Oke, terimakasih banyak atas bantuanmu. Aku sangat menghargainya." Ucap Gibran sungguh-sungguh.


"Sama-sama. Baiklah aku harus pergi sekarang." Jawab dokter Risa dan ia pun pergi meninggalkan Gibran.


Gibran duduk di hadapan beberapa suster yang mengurusi surat-surat administrasi dan menandatangani beberapa surat termasuk selembar surat penyataan sedia dilakukan tindakan pembedahan jika diperlukan.


"Anda memilih obat generik atau yang paten untuk pengobatan istri anda?" Tanya salah satu perawat pada Gibran.


"Obat paten saja dan dia bukan istriku." Jawab Gibran dengan sedikit suara meninggi karen kesal. Dan suster itu pun diam tak berani untuk bertanya lagi.


Setelah menyelesaikan semua syarat administrasi, dan Amanda telah memiliki ruangan inap,  Gibran pun berinisiatif untuk menemui Amanda yang terbaring lemah di salah satu ranjang ruangan gawat darurat.


"Manda," sapa Gibran dengan pandangan matanya yang tajam dan dingin.


Amanda tersenyum dengan bibirnya yang pucat dan air bening menetes di ujung matanya.


Gibran tak menjawab pernyataan yang Amanda ucapkan. Ia lebih memilih duduk di bangku kecil yang berada dekat mantan kekasihnya itu.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang ?" Tanya Gibran.


"Sedikit lebih baik, namun badanku masih terasa lemas." Jawab Amanda.


"Bagaimana bayiku ?" Tanya Amanda seraya menyentuh perutnya yang buncit.


"Dia bisa bertahan," jawab Gibran singkat.


"Sudah kukatakan waktu terakhir kita bertemu jika kamu mengalami gangguan kehamilan dan harus beristirahat total. Malah kerja jadi buruh cuci piring segala. Sekarang semua jadi sulit karenamu" Omel Gibran.


"Aku dan anakku perlu makan dan aku tak mau terus repotin kamu walaupun akhirnya aku memang bikin kamu susah terus." Jawab Amanda dengan air mata yang berhamburan membasahi pipinya.


"Sudahlah, mulai sekarang kamu gak usah bekerja seperti itu lagi. Sampai bayimu lahir biarkan aku yang menolongmu,"


"Ta..  tapi aku...,"

__ADS_1


"Dan kamu pun harus beristirahat total diatas tempat tidur. Aku akan meminta seseorang untuk menemani dan membantu kamu. Sekarang aku harus pulang karena Sabina menungguku. Untuk selanjutnya asistenku yang akan datang kesini." Ucap Gibran seraya berdiri.


"Sampaikan permintaan maafku pada Sabina. Katakan padanya, maaf jika aku selalu merepotkan kalian." Ucap Amanda lirih.


Gibran hanya tersenyum samar tanpa mengiyakan. Ia pun segera meninggalkan Amanda sendirian.


Waktu menunjukkan pukul 9 malam dan membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih untuk sampai ke rumahnya.


Perut Gibran telah berbunyi minta untuk segera diisi, namun pikirannya masih tertuju pada Sabina. Sehingga ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya tanpa terlebih dahulu mengisi perutnya.


Sepanjang perjalanan pulang, Gibran terus memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan pada Sabina agar istrinya itu mau mengerti.


Kata pengkhianat yang Sabina lontarkan untuk dirinya masih sangat menggangu pikiran. Jujur saja Gibran tak terima jika Sabina menyebutnya seperti itu.


***


Sabina mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wajahnya menatap kosong ke depan, ia tak menangis ataupun merasa sedih. Hatinya terasa hampa saat ini.


Sudah berlalu 4 jam setelah Gibran menelpon namun suaminya tak juga kunjung pulang. Sabina tahu pilihan yang diambil Gibran pada akhirnya.


Sabina pun tertawa samar, ia mentertawakan dirinya sendiri karena mengira Gibran akan memilih untuk pulang padanya.


"Bukan salah Gibran, tapi salahmu sendiri yang terlalu tinggi berharap padanya." Lirih Sabina.


Gibran lebih memilih untuk mengurusi Amanda walaupun dirinya telah melarang.


"Baiklah jika itu mau kamu," gumam sabina. Bukan hanya kecewa yang Sabina rasakan saat ini namun juga patah hati.


Suara deru mesin mobil terdengar, Sabina tahu Gibran baru saja tiba di halaman parkirnya.


Sabina segera berdiri dan berjalan menuju pintu kamar dan menguncinya dari dalam.


To be continued ❤️


Thank you for reading 😘



sumber : www.aldodokter.com


untuk lebih jelasnya bisa tanya mbah gugel yaaa

__ADS_1


Terimakasih banyak bagi yang sudah like, komen, memberikan hadiah dan vote.


Maaf belum bisa balas komennya satu2🙏🙏


__ADS_2