
Hai, aku kembali dengan membawa sejuta kerinduan 😚🤣
Happy reading ❤️
Sabina terbaring lemah setelah melahirkan ke 2 putrinya. Meksipun begitu rasa haru penuh bahagia terus terpancar dari wajahnya.
"Kamu hebat, Sayang," bisik Gibran tepat di telinganya. Tak sekalipun Gibran meninggalkan Sabina ketika proses kelahirannya yang kali ini dilakukan dengan cara operasi karena sabina melahirkan anak kembar.
Tak hanya kali ini, namun Gibran selalu menemani ketika Sabina melahirkan ke 5 anak mereka. Dan setiap kali ia melakukan itu rasa cintanya kian bertambah pada sang istri karena ia menyaksikan sendiri bagaimana Sabina bertaruh nyawa untuk melahirkan ke 5 anaknya.
"Papa adeknya mana ?" Tanya Axel anak kedua mereka.
"Masih diperiksa dokter, iya kan Pa ?" Jelas Athalla yang kini sudah duduk di kelas 4.
Aiden yang baru menginjak usia 3 tahun merengek meminta untuk Gibran pangku. Suasana kamar rawat Sabina begitu ramai meski hanya dihadiri anak-anak dan suaminya.
"Aiden jangan rewel sayang, sekarang kamu udah jadi abang," kata Gibran mengingatkan dan Sabina tersenyum melihatnya karena anak lelakinya itu tetap meminta Gibran untuk memangkunya.
"Makanya Gibran, sekarang udah 5 anak apa gak sebaiknya istrimu segera menggunakan pengontrol kehamilan ?" Tanya ibunya yang baru saja memasuki kamar rawat menantunya itu.
Gibran yang mendengar itu langsung melihat ke arah sabina dengan menaikkan ke dua alisnya dan berjalan mendekati istrinya yang terbaring itu.
"Ibu selalu menyalahkan aku karena anak kita banyak. Padahal dia gak tau kalau kamu selalu menyambutku pulang dengan koleksi gaun keramat mu," bisik Gibran. Ia tak mau disalahkan karena Sabina pun ikut andil dalam banyaknya anak mereka.
"Ibuku gak tau kalau kamu mama kelinci yang nakal," lanjut Gibran dan dibalas oleh sebuah cubitan dari sang istri.
Gibran mengaduh kesakitan dan itu membuat ibunya memperhatikan mereka.
"Bina, apa sebaiknya kamu tidur sama ibu aja ? Biar dia gak nakal terus sama kamu," tanya ibu mertuanya itu. Melihat Gibran yang sudah berlaku manja padahal istrinya baru saja melahirkan.
"Ibuuuu, aku gak se-nakal itu !" Protes Gibran.
"Aku akan senang kok tidur sama ibu," jawab Sabina menyetujui.
"Terus aku gimana, Sayang ?" Protes Gibran dengan wajah memelas.
"Papa tidur sama kita," ucap ketiga anak lelakinya.
"Ah baiklah Papa, akan temani kalian tidur tapi nanti papa tetap harus ikut bantu mama jaga adik kalian ya," jawab Gibran.
"Papa bobo sama Aiden," ucap anaknya yang sedang Gibran pangku.
"Iya sayang," sahut Gibran dan menciumnya gemas.
***
Sabina sudah pulang ke rumah dengan kedua bayi perempuannya. Dan ternyata menjaga 2 bayi sekaligus tak semudah yang Sabina kira. Namun ia sangat beruntung karena Gibran yang selalu siaga. Begitu juga ibu mertuanya yang ikut membantu dan menemaninya.
"Sayang, kamu mulai masuk kerja bukan ? Pasti di rumah sakit kamu akan sangat mengantuk karena semalam ikut begadang," ucap Sabina yang kini sedang menyiapkan sarapan Gibran di atas meja.
Suaminya itu baru saja menyelesaikan masa cutinya selama 2 Minggu ini.
"Gak apa-apa, aku udah biasa. Dulu juga kan sering jadi dokter jaga. Kamu jangan khawatir," jawab Gibran seraya mencuri sebuah kecupan dari bibir istrinya.
"Ehheeemmmm," ibunya berdehem dengan kerasnya hingga Gibran melonjakkan tubuhnya karena terkejut. Tak hanya itu, ibunya juga memelototkan matanya pada sang anak.
"Ibu, aku gak ngapa-ngapain," bela Gibran.
Bukannya mau ikut campur rumah tangga anaknya tapi ibu Gibran merasa prihatin pada Sabina yang kini telah memiliki 5 orang anak. Ia takut menantunya itu kelelahan karena terlalu banyak mengurus anak.
__ADS_1
Sabina tersenyum melihatnya, "Ibu juga ayo duduk, kita sarapan dulu mumpung bayinya tidur," ajak Sabina pada ibu mertuanya itu.
Ibu Gibran pun menuruti, akhirnya mereka duduk bersama dengan ketiga anak Sabina yang lain dan menikmati sarapan pagi yang diselingi obrolan ringan.
Tak lama Gibran pun pamit untuk bekerja dengan Athalla dan Axel yang akan Gibran antar ke sekolah mereka.
"Bina, Aiden biar ibu yang mandikan,"
"Boleh bu, terima kasih banyak," sahut Sabina. Ia pun segera membereskan meja makan di bantu oleh Mbok Inah.
***
Kamar bernuansa pink itu sangat kental dengan wangi bayi. Terasa hangat juga menenangkan. Saat ini Sabina tengah berada di kamar anak kembarnya.
"Bina, mau ibu potongkan buah ?" Tanya Ibu mertuanya.
Sabina menggelengkan kepalanya dan meminta ibunya itu untuk duduk. Ia sangat bersyukur karena ibu Gibran sangat menyayanginya.
"Kalau kedua bayimu tertidur, kamu beristirahatlah biar ibu yang jaga mereka,"
"Ibu, aku memang sangat kelelahan. Mengurusi 5 anak memang tak mudah tapi... Aku sangat bahagia, aku merasakan banyak cinta dan aku juga yang menginginkan ini semua dan Gibran yang membantuku mewujudkannya," jelas Sabina dengan lembut agar ibu mertuanya itu bisa mengerti.
"Jadi ini bukan hanya keinginan Gibran ?" Tanya ibu mertuanya memastikan.
"Tentu saja bukan, ini keinginan kami berdua," jawab Sabina tanpa ragu.
"Syukurlah kalau begitu... Jika kalian bahagia maka ibu pun ikut bahagia. Hanya saja ibu khawatir padamu, Bina."
***
Sore harinya Gibran menjemput Sabina untuk membawa kedua anak kembarnya ke dokter spesialis anak guna melakukan imunisasi.
Aiden yang sangat manja pada papanya pun ikut serta. Dengan sabarnya Gibran menemani juga menjaga anak-anaknya.
Banyak mata memandang Gibran dan anaknya. Termasuk ibu-ibu yang mengasuh anak mereka.
Mereka terpesona oleh Gibran yang tampan dan penyayang. Tak seorang pun akan menyangka jika dokter muda itu telah memiliki 5 orang anak dari wanita yang sangat dicintainya.
Dari tempat duduknya Sabina memandangi Gibran yang terlihat lelah namun masih dengan sabar menemani anaknya bermain. Bisa ia lihat dengan jelas banyaknya wanita yang terpesona oleh suaminya itu. Namun tak ada yang Sabina takutkan, cinta mereka telah teruji. Ia yakin Gibran hanya mencintai dirinya saja dan begitu pun dirinya yang hanya mencintai Gibran seorang.
Merasa diperhatikan, Gibran pun menolehkan kepala dan melambaikan tangannya pada Sabina. Senyuman melengkung sempurna di wajahnya yang tampan.
***
Telah berlalu 6 bulan dari kelahiran anak kembar Sabina yang diberi nama Nadira dan Naira. Hari ini adalah hari jadi pernikahan mereka yang ke 11 tahun
Banyak hal yang terjadi, kehidupan rumah tangga mereka juga tak selalu baik namun keduanya selalu menjalankan komitmen untuk tak saling meninggalkan ketika masalah menimpa kemudian menyelesaikannya dengan kepala dingin. Dan yang paling penting adalah selalu menyelesaikan semua masalahnya di atas ranjang.
Seperti saat ini keduanya hendak memadu kasih di atas ranjang setelah perselisihan kecil yang terjadi diantara mereka tadi siang.
Untuk merayakan hari jadi ini, Gibran memberikan sebuah rumah baru bagi Sabina dan ke 5 anak mereka. Rumah 2 tingkat dengan 6 kamar yang Gibran bangun dengan jerih payahnya sendiri.
Proses pindah rumah dan repotnya mengendalikan ke 5 anak mereka membuat keduanya sedikit berselisih paham.
"Maafkan aku karena telah menjadi seseorang yang menyebalkan hari ini," bisik Gibran seraya memeluk Sabina.
"Maafkan juga aku karena terlalu bawel padamu di hari ini," sahut Sabina seraya mencium pipi suaminya.
__ADS_1
"Aku selalu memaafkan mu mama kelinci," gumam Gibran seraya membenamkan bibirnya dengan sempurna diatas bibir Sabina dan mengulumnya lembut.
Sabina membalas ciuman itu dengan suka hati. Ia membuka sedikit mulutnya agar lidah Gibran dapat dengan leluasa mengeksplorasi kehangatan bibirnya.
"Nghhh," des*h manja lolos dari mulut Sabina dan itu membuat Gibran semakin berhasrat. Ia segera melucuti kain yang menutupi tubuh atasnya dan seolah tak ingin kalah Sabina pun melakukan hal yang sama.
"Bina, kamu selalu membuatku tergila-gila," gumam Gibran seraya memberikan sentuhan-sentuhan halus seringan bulu di atas tubuh Sabina dan mencumbunya dengan lembut.
Keduanya berpagut bibir dengan penuh hasrat menggebu dan telah saling menginginkan satu sama lain.
'Ceklek,' terdengar bunyi gagang pintu yang digerakkan membuat keduanya menghentikan pergulatan mereka.
"Mama dan papa lagi apa ? Ade bayi nangis," terdengar suara Axel anak kedua mereka dari balik pintu.
"Hmmm, papa lagi sibuk dulu. Bilang suster atau Mbok Inah aja," sahut Gibran dengan suaranya yang telah berubah serak.
"Apa mama juga sibuk ?" Tanya Axel lagi.
"Hmm iya," jawab Gibran.
"Sayang, sebaiknya kita tunda dulu. Lagian anak-anak belum pada tidur," ucap Sabina yang kini mengenakan pakaiannya kembali.
"Tapi mama kelinci, aku...," Kata Gibran memelas karena hasratnya yang sudah di ujung tanduk.
"Nanti... Aku janji," sahut Sabina seraya mencium pipi Gibran untuk menenangkan dan dengan terpaksa Gibran pun menuruti. Ia pun segera mengenakan pakaiannya kembali dan ikut keluar kamar dengan istrinya itu.
"Ayo kita hibur adik bayi yang menangis," ajak Gibran seraya mencium gemas Axel.
Pada akhirnya ia dan Sabina kembali bercengkrama dengan anak-anak mereka. Bermain dengan banyak mainan dan bernyanyi bersama. Hingga pukul 11 malam dan akhirnya semua tertidur.
"Aahhhh lelahnya....," Ucap Sabina seraya meregangkan tubuhnya yang terasa pegal di atas ranjang.
Gibran yang melihat itu segera menyusul sang istri dan membawanya ke dalam pelukan.
"Kamu ibu yang hebat, Bina," bisik Gibran karena Sabina begitu sabar dalam mengurusi anak-anaknya.
"Kamu juga ayah hebat," jawab Sabina seraya membalas pelukan Gibran dengan sama eratnya.
Rumah mereka mungkin tak kan pernah bisa rapi dan tenang seperti rumah lainnya. Karena gelak tawa atau suara tangis yang sering terdengar dan banyaknya mainan yang berserakan tapi itulah yang membuat kehidupannya semakin berwarna.
Setiap harinya Sabina juga Gibran pasti akan merasakan lelah yang luar biasa tapi satu hal yang pasti yaitu keduanya merasa sangat bahagia karena impian memiliki rumah penuh cinta telah terlaksana.
Thanks for reading ❤️
Ini bonus khilaf karena hari ini genap 1 tahun aku belajar menulis novel dan masih terus belajar 😍😍😍
What an amazing year ❤️❤️❤️
Gak nyangka bisa menghasilkan 3 novel tamat dan 1 on going. Walaupun masih banyak banget kekurangannya.
Terimakasih untuk keluarga, teman-teman dan para reader luar biasa yang sudah mendukung aku.
Apalah aku tanpa kalian ❤️❤️❤️
Mau ngadain GIVEAWAY kecil-kecilan dengan bagi-bagi pulsa. Ikutan yuuk...
Gimana caranya ? Follow Instagram meegorjes yaaa dan pantengin aja wkwkkwkw
Oh iya banyak yang nanya novel My Un Perfect Wife... Maaf karena suatu hal udah aku tarik dari aplikasi sebelah dan belum tahu mau di up dimana. Bisa jadi balik lagi ke noveltoon wkwkkwkw.
__ADS_1
Nanti aku kabarin lagi lewat Instagram yaaa.
Jangan lupa vote untuk Gibran dan Sabina yaaa 😘😘😘