Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
59....


__ADS_3

****


"mau kemana? tanya bu Risma kepada puteranya.


" mau mencari istriku, jawabnya mengambil jas yang diletakkan di sandaran Kursi.


"tunggu nak, jika bertemu dengannya tolong berikan ini padanya ,bu Risma memberikan sebuah kotak kecil yang berisikan perhiasan.


"ini kalung pemberian nenekmu, ia memberikannya kepada ibu karna ibu menantunya,dan hari ini ibu akan memberikannya pada menantu ibu, bagi ibu ini sangat berharga dari apapun dan perhiasan manapun yang ibu punya, itu sebabnya ibu memberikannya kepada menantu ibu, karna berarti untuk ibu,tutur bu Risma.


mendengar penuturan ibunya, marfin merasakan seperti ada yang menusuk dalam dalam hatinya, betapa sakitnya melihat wanita yang ia hormati dan junjung tinggi kini tengah menangis di hadapannya,


begitu sayangkah dia kepada menantunya, sampai dengan hebatnya memarahi anaknya sendiri ?


Marfin memeluk ibunya dengan erat,dan mengucapkan maaf berkali Kali. air mata yang membendung disana jatuh tak tertahankan.


"maafkan aku bu, maaf... maaf.... maaf.


Marfin mencium kening ibunya dan mengeratkan pelukannya.


"bolehkah aku tahu sesayang apa ibu Padanya,lebih besar kah daripada ibu menyayangi anak anak ibu? tanya Marfin sambil terisak di pelukan ibunya.


"kau mengambilnya dari orang lain nak, aku akan malu jika kau tidak merawatnya dengan baik, aku ingin memperlakukan menantu wanitaku dengan baik, agar kelak anak wanitaku menjadi menantu orang lain , dia akan mendapat cinta sebesar aku mencintai menantuku saat ini, bukankah tuhan itu maha adil?


aku takut jika anakku kelak di siasiakan oleh suaminya terlebih mertuanya, Bu Risma menyeka airmatanya dan melepas pelukan anaknya.


Mendengar hal itu, Marfin teringat bahwa ia mempunyai seorang adik wanita, yang tentu saja kelak akan menjadi seorang istri.


ia merenungi apa yang di katakan ibunya, bagaimana jika tuhan menjadikan adiknya sebagai balasan dari perbuatannya saat ini?


oh tidak...


Setelah usai berbicara dengan ibunya, Marfin melenggang pergi berpamitan kepada Adiknya juga ayahnya.


" kaka mau kemana? tanya Ana dengan nada manjanya.


"mau ada urusan kerjaan,mungkin beberapa minggu saja, ucap Marfin.


" tapi belikan aku oleh oleh ya, baju yang mahal juga tas yang mahal,pinta Ana.


Marfin mengedipkan matanya pelan menyetujui permintaan Adiknya.


Marfin di ikuti sekretaris leo kemudian memasuki mobil, leo memacunya dengan cepat.


"kita akan kemana tuan? tanya sekretaris leo.


*****


bu ina membukakan pintu, Marfin tanpa basa basi masuk melewati bu ina.


"mana Dea? tanya Marfin.


"nona sedang menidurkan puterinya, kata bu ina.


sekretaris leo duduk di ruang tamu, sementara Marfin mencari keberadaan Dea di kamar.


Dea sedang berbaring di kasur, sedang menyanyikan lagu untuk anaknya upayanya agar cepat tertidur.


tok... tok... Marfin mengetuk pintu yang terbuka.


"eh mas, silahkan masuk, kata dea.


Ragu ragu Marfin masuk ia duduk di tepi ranjang.


"mas kok kemarin gak nengokin bayi sih?


kata Dea.


" aku mencari istriku, jawabnya.


"lalu bagaimana mas, nenek dan kakekku juga bagaimana? Dea cemas.


" Alika tidak mungkin berbuat jahat, percayalah dia wanita baik. tegas marfin.


"iya aku paham, tapi ketika seseorang sakit hati dia akan gelap mata, bagaimana jika dia membunuh kakek dan nenekku, ujar Dea.


dea memancing amarah, marfin berdiri kemudian menarik Dea turun dari ranjang agar tidak mengganggu rachel kecil tidur kemudian ia membawa dea keluar.


" aku datang kemari untuk memberimu banyak uang, setelah itu jangan ganggu aku lagi, kau mengerti maksudku? kata Marfin.


" apa maksudmu? apakah kau akan meninggalkanku? katakan mas ! bibir Dea bergetar.


" ya! aku akan menitipkanmu uang, dan semua fasilitas aku tinggalkan untukmu, kau boleh bekerja ataupun usaha, jangan bergantung padaku lagi, karna aku tidak bisa mengurusmu lagi, aku punya istri, tegas Marfin.


Dea tersenyum getir mendengar kata kata Marfin, baginya semua seperti lelucon.


bagaimana bisa semua terjadi?


****


apa kau tidak mencintaiku? pertanyaan dari Dea keluar hingga memenuhi isi kepala Marfin namun dia membisu.

__ADS_1


Marfin memalingkan muka mendengar kata kata itu, ia berusaha cuek tak perduli dengan apa yang di katakan Dea namun hatinya bergetar hebat saat Dea mendekatinya dengan mata yang basah.


"lepaskan aku, Dea memeluk erat tubuh Marfin.


marfin ingin berusaha melepaskan namun hatinya menolak untuk itu, rasanya ini kali pertama Dea memeluknya dengan sangat erat hingga tak ada jarak lagi diantara mereka.


laki laki mana yang tak tergoda dengan tubuh sexy wanita muda itu,berpakaian daster setinggi lutut memperlihatkan bentuk tubuhnya.


Marfin mengerang, Dea mulai tenggelam didada bidang itu.


" lepaskan.... nada tinggi Marfin terdengar.


hampir saja hasrat yang sudah lama tak tercurahkan itu terlena lupa diri, setelah sadar akan janjinya kepada ibunya, ia berhenti menikmati sentuhan jari jemari lentik itu dan juga pelukan hangatnya.


Marfin meninggalkan Dea,keluar dari rumah itu dengan wajah yang terlihat sangat datar.


"apa yang terjadi? batin Leo.


****


Dea berlari kekamar mandi, ia menyiram tubuhnya dengan shower menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan kemudian memeluk lututnya.


gambaran wanita yang merasa dirinya kotor, hina mungkin menyesal.


"mengapa aku mencintainya, apakah aku serendah itu hingga mencintai milik orang lain! Dea berteriak puas di kamar mandi.


" ,bayangan masalalunya memenuhi ingatannya, bagaimana seorang pria dengan tulus menolongnya pada saat itu,hingga sekarang ia mendengar pria itu akan meninggalkannya, hancur?


iya pasti?.....


"tuan,,jangan tinggalkan aku...teriakan dea sekali lagi.


******


satu jam sudah Dea tak keluar dari kamar mandi.


"non..... ya ampun nona kecil masih tidur, tapi nona di mana ya? bi ina mencari di setiap sudut ruangan.


cekrek.....


"nona...!!! ya allah, astagfirowloh... nona kenapa, teriak panik bu ina ketika membuka pintu kamar mandi.


dilihatnya Dea tengar duduk di bawah guyuran air shower dengan bibir yang sudah bergetar membiru menahan dingin, bu ina kemudian dengan cepat mematikan showernya.


"nona ayo, bi ina membantu Dea berdiri kemudian memapahnya.


"ya allah non, ini ada apa? kenapa non begini lagi, gak kasian apa sama puteri kecil non, Ucap bi ina cemas sambil membantu dea mengganti pakaian,kemudian setelahnya merebahkannya dan menyelimutinya dengan selimut tebal menutupi tubuh dea.


namun sepertinya bayi itu sudah lapar,ia ingin di susui oleh ibunya.


"sini bi... kata Dea dengan suara lemas, sembari menggeser tubuhnya dan menyenderkannya tubuhnya.


Bi ina menyerahkan bayi itu kepada dea yang terlihat lemas dan pucat.


******


" aku ada pekerjaan di surabaya, ucap marfin kepada leo ketika mereka berada di dalam mobil.


" tapi kita tidak ada jadwal pekerjaan di sana tuan, jawab leo bingung.


" ini pekerjaanku, kau tidak perlu ikut jika tidak mau, tegas Marfin sembari merapikan jas dan melihat kearah jendela.


Leo akhirnya mengantarkan Marfin ke bandara,ia pun ikut serta kesurabaya.


******


keramaian kota terlihat,kendaraan berlalu lalang.


tidak butuh lama Marfin dan leo tiba di bandara surabaya,mereka langsung menuju apartemen untuk beristirahat.


Apartemen yang mereka tinggali sangatlah mewah tentunya,Marfin langsung merebahkan dirinya setelah membersihkan diri.


"apa yang akan di lakukan disini, tidak ada pekerjaan disini, pertanyaan mengisi kepala leo.


"kau istirahatlah disini, sudah lama kita tidak liburan, jadi beberapa hari ini, sampai pekerjaanku selesai kau aku bebaskan dari pekerjaan.


" apa! leo kaget.


"apa maksud tuan, sehari tak bekerja pekerjaanku akan menumpuk tuan, lalu jika tuan tidak bekerja bagaimana dengan perusahaan tuan, leo cemas.


" aku menyerahkan perusahaan kepada jee, dia hari ini kembali ke jakarta, dia yang mengelola perusahaan untuk sementara di bantu ayahku juga. tenanglah, bersenang senang saja disini, carilah wanita wanita cantik, agar hidupmu sedikit berwarna tidak melulu tentang pekerjaan, Marfin menyarankan sembari menutup mulutnya menahan gelak tawa.


ya, bagaimana mungkin sekretarisnya itu sempat berhubungan asmara dengan wanita, di fikirannya hanya bekerja dan bekerja, terlebih dia mempunyai bos yang kejam seperti Marfin, banyak pekerjaan di limpahkan kepada leo, terlebih juga urusan pribadi dan kisah percintaannya leo juga di sertakan disana,diminta menutupi kisah asmara terlarangnya adalah kewajibannya juga sebagai sekretaris.


"aku akan pergi, kata Marfin.


"kemana tuan, bisakah saya ikut? rasanya tidak enak jika saya sendirian di apartemen,kata leo.


"kau bisa berjalan jalan sendiri, kemanapun kau mau, kata marfin sembari melangkah pergi keluar.


*****

__ADS_1


pukul 19.00


alfino turun dari mobilnya kemudian berlari kerarah pintu di mana ada Alika didalamnya, seperti layaknya supir ia membukakan pintu untuk alika dan mempersilahkannya.


Alika melihat sekeliling, rumah yang begitu luas meski tidak seluas rumah mertuanya, rumah ini terlihat sangat megah.


Alfino dengan santai mengajak masuk kedalam rumah.


"ayo masuk, jangan malu malu, tidak ada siapa siapa disini, papah dan mamah tidak tinggal bersamaku. aku hanya sendiri di rumah ini, ucapnya.


em.


memandang desain interior dan barang barang yang menghiasi setiap sudut rumah membuat Alika terkagum kagum.


tentu saja, dia tidak sekaya itu.


meski tidak sebesar istana ,pelayannya dimana mana mereka menunduk sebagai tanda hormat.


"Bibi chei !


iya tuan, wanita parubaya dengan celemek abu abu bermotif bunga itu dengan cepat berlari kearah majikannya di ruang tamu.


"ada apa tuan, ada yang bisa saya bantu? tanyanya.


"ini alika, malam ini dia akan menginap disini jadi jangan memasak makanan laut dan yang berbau kacang ya, Alika tidak suka.


" hah? Alika menoleh, bagaimana dia masih ingat ketidaksukaannya.


"aku suka kok, semenjak menikah suamiku suka makanan laut, jadi aku mencoba menyukainya, jadi masaklah seperti biasa bi, kata Alika tersenyum.


alfino hanya diam mengerti, baiklah, kau yakin? tanyanya memastikan.


Alika mengangguk yakin.


sibuk menyiapkan kamar untuk alika, kamar itu di penuhi beberapa pelayan, ada yang mengganti seprei, mengganti bantal dan ada yang menata novel dia atas rak buku, memastikan alat alat elektronik dalam keadaan prima.


Alika di antar bi chei memasuki kamarnya,


mengapa repot repot bi, aku hanya menginap semalam saja, aku bisa tidur dengan bibi saja mungkin. ucap alika yang membuat bibi chei kaget.


"wah nona ada ada saja, pungkasnya.


"nyonya bi, aku sudah menikah, tapi banyak sekali yang memanggilku dengan sebutan nona, jarang sekali ada yang memanggilku nyonya meski aku sudah menikah,tutur Alika.


" kirain, ini pacarnya tuan, ternyata udah punya suami dan kayaknya lagi hamil, trus ngapain di bawa kemari, batin bibi chei.


"oh ya, bibi sudah lama kerja sama tuan? tanya Alika.


"sudah dua tahun nyonya, tapi tuankan jarang pulang,dia baru balik kesini dari luar negeri jadi sebelumnya kami hanya di gaji untuk merawat rumah ini saja nyonya, cerita bibi chei.


" owhh... begitu ya, Alika mengangguk paham sambil duduk di tepi ranjang.


Alfino berdiri di depan pintu, bibi chei melihat kemudian pamit pergi.


Alfino melangkah pelan sambil memasukkan tangannya kedalam saku celana,


"bagaimana kau suka kamarnya? tanya Alfino.


"ini berlebihan, aku hanya menginap sehari saja sudah merepotkanmu, gerutu Alika.


lagi pula aku malu menginap di rumahmu, tak baik rasanya. kata Alika


"iya aku paham, tapi mau bagaimana aku tidak bisa menjemputmu nanti subuh kita harus berangkat meeting ke bali makanya lebih baik menginap disini dari pada nanti bolak balik menjemputmu, kata Alfino.


"baiklah... kata Alika.


"yasudah, kau gantilah pakaian nanti turun terus kita makan malam, ucapnya.


Alika merebahkan tubuhnya sejenak di kasur, ia belum memberi kabar pada nenek sumiati dan kakek ramlan bahwa ia tidak pulang malam ini.


iya kemudian meraih ponselnya dan menghubungi telpon rumahnya.


"halo, kek ini Alika.


" ndok, kok belum pulang, nenek cemas dari tadi nungguin,ucap kakek ramlan disana.


ya biasanya Alika pulang sore dari kantor karena alfino tidak memberinya banyak pekerjaan di karenakan kondisi kehamilannya saat ini, ia harus cukup istirahat.


"mohon maaf kek, Alika engga pulang mau nginep dirumah alfino, nanti subuh mau ada meeting kebali terus sorenya udah balik lagi kok, kata Alika.


"ya allah, ndok... yawes hati hati disana ya, jangan capek capek.kata kakek menasehati.


setelah berbicara dengan kakek ramlan, nenek sumiati kemudian ingin berbicara dengannya hingga membutuhkan waktu yang cukup lama.


" mereka adalah keluarga wanita itu, tapi aku mencintai mereka, bukankah mereka tidak ada urusan denganku?


mengingat semuanya, Alika mengeluarkan bulir air mata,ia bahkan tak ingin mengingat ayah dari bayi yang ia kandung.


mungkin saat ini dia sudah bahagia bersama wanita itu, ia mengelus perutnya dan menggigit bibir bawahnya menguatkan hatinya.


Alika tersenyum getir dan melempar ponselnya kekasur kemudian ia kekamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2