Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Tersiksa


__ADS_3

Happy reading ❤️


Amanda meresapi semua perkataan Gibran yang benar adanya. Tiba-tiba saja dadanya terasa begitu sesak.


"Bila tak ada aku, kamu hanya  seorang wanita sakit yang dilupakan banyak orang dan jika kamu berani macam-macam denganku, akan ku lempar kamu ke jalanan. " Ancam Gibran dan ia pun berdiri seraya menyambar kunci mobilnya dan berjalan dengan tergesa keluar dari tempat prakteknya.


Suara dentuman pintu mobil yang dibanting dengan keras terdengar begitu nyaring membuat Amanda dan Rani asisten Gibran saling beradu pandang.


"Hari ini dokter Gibran sangat tidak baik suasana hatinya, aku sampai tak berani bicara apapun." Rani berbicara seraya mengelus dadanya.


Amanda hanya terdiam membeku tak berkomentar apapun tentang apa yang dikatakan asisten Gibran itu. Tanpa banyak bicara Amanda meninggalkan tempat praktek Gibran, ia berjalan kaki menuju tempat kos yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat Gibran bekerja.


Sepanjang perjalanan ia terus mengingat apa yang Gibran katakan padanya.


"Ketika kamu terpuruk hanya aku dan Sabina yang menolongmu,"


"Jika tak ada aku, kamu hanya seorang wanita sakit yang telah di lupakan banyak orang,"


"Seharusnya kamu punya malu, jadi orang jangan se-sadis itu."


..."Dengan izin Sabina lah aku bisa menolongmu,"...


Penggalan-penggalan kalimat yang Gibran lontarkan padanya terngiang-ngiang di kepala Amanda bagaikan putaran lagu yang tak ada hentinya. Ia pun mengusap air bening yang jatuh di pipinya.


Amanda tiba di kamar kosannya yang sangat sederhana, selama ini ia bisa bertahan hidup dari kebaikan Gibran padanya. Jika tak ada mantan kekasihnya itu, sudah bisa dipastikan ia akan hidup di jalanan dengan penuh cemoohan orang.


Tapi saat ini ia masih bisa hidup dengan tenang di perkampungan karena semua orang mengira Amanda adalah kerabat dari seorang dokter Gibran yang sangat disegani.


Amanda berdiri di hadapan cermin, melihat penampilannya yang begitu menyedihkan. Wajahnya yang sedikit pucat dan tirus  terlihat tak segar sama sekali, tubuhnya tak lagi menggoda seperti dahulu. Bahkan rambut bergelombang yang dulu indah kini terlihat tak terurus. Yang terlihat jelas hanya perutnya yang membesar karena kehamilan.


"Tentu saja Gibran menolongku hanya karena kasihan bukan karena dia masih cinta. Kamu terlihat sangat menjijikkan, Manda." Gumam Amanda pada dirinya sendiri. ia tertawa dan menangis di saat bersamaan.


"Aku sangat mencintai Sabina, hingga rasanya hampir gila"


Amanda ingat bagaimana mata Gibran mengembun ketika mengucapkan kalimat itu. Ia tak menyangka Gibran akan dengan cepat jatuh cinta pada seorang Sabina Mulia.


Bayangan-bayangan masa lalu Amanda ketika masih hidup bersama dengan Sabina dan keluarganya berputar dengan jelas di dalam kepalanya.


Amanda bisa mengingat dengan jelas bagaimana keluarga Sabina memperlakukannya dengan begitu baik. Bahkan Sabina menganggapnya seperti saudara sendiri bukan sebagai pelayan. Sabina yang lembut, tak pernah menyinggung soal status sosial Amanda. Bahkan Sabina sangat menghormati ibunya Amanda yang bekerja sebagai pelayan di rumah itu tapi tak pernah sekalipun Sabina memerintah dengan suara meninggi.


Namun Amanda selalu memandang Sabina lebih rendah darinya karena kekurangan yang Sabina miliki. Amanda merasa ia jauh lebih baik, karena kondisi fisiknya yang sempurna dan merasa jika dirinya lebih berhak untuk hidup mewah di bandingkan dengan Sabina.

__ADS_1


Dan kini Amanda sadar jika ketulusan hati lebih memikat di banding dengan tubuh yang sempurna.


Terbukti dari bagaimana Gibran yang kini sangat mencintai Sabina padahal keduanya menikah secara terpaksa. Amanda yakin ketulusan hati Sabina yang membuat lelaki itu jatuh cinta pada istrinya.


"Hu..hu...hu..hu...huu..," Amanda meluruhkan tubuhnya diatas lantai dan menangis dengan hebat. Menyadari ia sudah tak memiliki kesempatan apapun untuk kembali pada Gibran.


Dan kini ia tak memiliki siapapun di dunia ini. Tidak ibunya, tidak lalaki kaya yang dulu menyukai tubuhnya, juga sudah tak memiliki sahabat yang tulus menyayanginya. Ia tak lebih dari seonggok daging yang tak berarti bagi siapapun.


"Aku hanya punya kamu, Nak." Lirih Amanda dan untuk pertama kalinya ia mengelus perutnya yang membesar itu dengan penuh kasih sayang.


"Kita akan selalu bersama, hanya kamu dan aku." Lirihnya lagi.


***


Sudah hampir pukul 9 malam dan kini Gibran tengah mengikuti acara rapat pemegang saham rumah sakit. Telah berkali-kali ia melihat layar ponselnya namun nama Sabina sama sekali tak menghubunginya.


"Dasar keras kepala !" Gumam Gibran kesal.


Kesal bercampur rindu yang kini Gibran rasakan. Tak bisa ia pungkiri jika wajah Sabina selalu terbayang dalam kepalanya.


Gibran menggulir layar ponsel yang berada dalam genggamannya dan melihat beberapa photo Sabina yang tersimpan dalam galerinya. Tak satupun perkataan pembawa materi yang masuk dalam kepalanya. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Pikiran tentang Sabina tentu saja.


"Sabina mana ?" Tanya Gibran.


"Non Bina, sepertinya sedang menonton TV di lantai atas" jawab mbok Inah.


Seketika Gibran mendongakkan kepalanya ke arah lantai 2 rumahnya dan terdengar samar-samar suara percakapan di TV.


"Makan malamnya mau saya hangatkan, Pak ?" Tanya mbok Inah.


"Boleh," jawab Gibran dan segara ia berjalan menaiki tiap undakan tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai 2. Jantungnya bekerja ekstra saat ini, karena Gibran merasa begitu berdebar hanya karena akan bertemu Sabina.


Sabina sebenarnya tahu jika Gibran sudah pulang, terdengar dari deru mesin mobilnya dan juga ketukan di pintu depan rumahnya. Tapi Sabina lebih memilih untuk berdiam diri di depan TV. Bukannya Gibran bilang jika ia boleh marah ? Boleh diam dan bersikap dingin. Dan Sabina pun memiliki alasan yang kuat kenapa ia melakukan itu.


Seandainya saja Gibran bercerita lebih awal, mengatakan yang sebenarnya terjadi tentu saja dirinya akan mencoba untuk mengerti keadaan sang suami. Mungkin Sabina juga bisa menerima kenyataan jika Gibran terpaksa menolong Amanda.


Bukan hanya karena Gibran menolong Amanda yang menjadikan Sabina sangat marah, tapi kenyataan jika Gibran menyembunyikan sesuatu darinya yang membuat Sabina terluka. Ia merasa Gibran telah mengkhianati kepercayaan yang telah ia berikan.


Mata Sabina masih tertuju pada layar televisi ketika Gibran tiba di lantai 2. Tak menolehkan kepala, apalagi tegur sapa. Sabina hanya diam dan membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan sepiring aneka buah potong di hadapannya.


Gibran meliriknya dengan ujung mata, namun Sabina tetap diam tak bersuara, seolah tak peduli dengan kedatangannya. Membuat hati Gibran yang merana terasa kecut. Ia pun memasuki kamarnya untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Sabina masih terbaring di atas sofa ketika  Gibran keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga menuju ruang makan di mana semangkuk sup iga hangat dan sepiring nasi telah menantinya di sana.


"Sabina udah makan, Mbok ?" Tanya Gibran.


"Mmm, sudah tadi sekitar pukul 7" jawab mbok Inah dengan sedikit gugup.


Tanpa banyak bicara, Gibran mulai menyantap makan malamnya. Namun baru saja 2 suapan, ia langsung menghentikannya. Seleranya hilang begitu saja karena Sabina tak ada disana untuk menemani.


"Kenapa pak dokter ? Apa ada yang kurang?" Tanya mbok Inah dan Gibran menjawab dengan gelengan kepala.


"Yang masak sup nya saya, jadi bilang saja jika ada yang kurang," ucap mbok Inah karena Gibran menyudahi makan malamnya padahal majikannya itu baru memakannya sebanyak 2 suap saja.


"Enak kok Mbok, saya sudah kenyang aja," jawab Gibran dan segera meminum segelas air putih sebelum pergi meninggalkan ruang makan.


"Sabina udah gak mau masak buat aku," batin Gibran. Dan ia pun merasa semakin jtersiksa karena sikap Sabina padanya.


Sofa yang berada di lantai 2 sudah terlihat kosong ketika Gibran kembali kesana. Padahal belum lama Sabina terbaring diatasnya. Dengan hati berdebar Gibran membuka pintu kamar dan ia pun menarik nafas lega ketika melihat Sabina duduk di hadapan cermin dan sedang memakai perawatan kulit wajahnya. Gibran merasa senang Sabina tak tidur di kamar yang terpisah.


"Bina," ucap Gibran pelan.


Tanpa menjawab, Sabina menatap suaminya melalui pantulan kaca di hadapannya.


"Tadi Amanda datang lagi ke klinikku," lanjut Gibran.


'Deg !' dada Sabina berdebar lebih kencang ketika mendengar itu. Hatinya merasa cemburu saat ini.


"Aku tahu ini menyakitimu, tapi aku tak ingin menyembunyikan apapun lagi dari kamu. Sayang. Amanda datang untuk memperlihatkan hasil pemeriksaan kandungannya dan ternyata ia bermasalah. Tapi tenang saja aku sudah memintanya untuk berhenti menemui aku," jelas Gibran perlahan namun Sabina diam tak menanggapi.


"Bina...," Gumam Gibran putus asa.


"Lakukan apapun yang menurutmu baik." jawab Sabina dan ia pun segera menaiki ranjang dan mematikan lampu tidur yang berada di sebelahnya. Sabina membaringkan tubuhnya membelakangi Gibran seperti malam sebelumnya.


Gibran masih berdiri terpaku melihat Sabina yang kini telah memejamkan mata.


Sungguh sikap diam Sabina membuat Gibran merana dan sangat tersiksa.


To be continued ❤️


Terimakasih banyak untuk yang sudah baca,like, komen, juga memberikan vote dan hadiah.


Kalian sangat luar biasa ❤️

__ADS_1


__ADS_2