Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Birthday Dinner


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Tidak Bina, bukan seperti itu. Apa yang kamu pikirkan itu salah. Aku sangat mencintaimu meskipun aku telah membuatmu kecewa. Tapi percayalah hanya kamu satu-satunya yang aku cinta dan seperti yang telah aku katakan dulu, aku tak akan pernah mau berpisah darimu" Ucap Gibran tanpa ragu.


"Katakan bagaimana aku harus percaya ?" tanya Sabina dengan wajahnya yang berubah sendu.


"Karena yang ku katakan benar adanya. Kamu yang terpenting dan paling berharga untukku." jawab Gibran. Namun belum juga Sabina menanggapi apa yang Gibran ucapkan. Pak Anwar muncul dari balik pintu dan menghentikan perdebatan antara suami istri itu.


"Non, mobilnya sudah siap."


"Sebaiknya kita cepat pergi." Sabina pun berdiri dan segera membawa tas tangannya dan berjalan keluar rumah.


langkah Sabina terhenti di ambang pintu, Gibran menahan langkah istrinya dengan sebuah pelukan dari arah belakang.


"Aku mencintaimu, Bina. Maaf jika yang aku lakukan membuat perasaanmu ragu. Tapi aku berjanji akan memperbaiki semuanya dan aku sangat menyesal karena telah membuatmu merasa kecewa. Kamu yang utama bagiku, kamu tak pernah menjadi menjadi sebuah pilihan karena tak pernah ada yang lainnya." bisik Gibran dan Sabina sebisa mungkin menahan tangis.


"Sebaiknya kita pergi, ayah pasti telah menunggu." jawab Sabina dengan suara bergetar.


"Ya, baiklah... Kita akan bicara lagi nanti."


***


30 menit kemudian mereka pun tiba di kediaman keluarga Mulia. Kedatangan Sabina disambut meriah oleh keluarganya. Tak hanya Sabina yang mendapat pelukan hangat tapi juga Gibran.


Seperti yang Sabina inginkan, malam ini bukanlah makan malam resmi dengan hidangan makan malam steak dan lainnya. Tapi sang ayah memesan beberapa macam pizza dan pasta yang merupakan makanan pavorit putrinya itu.


"Gibran, apa tak jadi masalah jika Sabina memakannya ?"


"Tak apa Ayah, asal jangan berlebihan saja." jawab Gibran dan ayah Sabina pun terlihat lega.


Tak banyak yang datang hanya keluarga dan kerabat terdekat. Kebetulan salah satu kakak Sabina sedang berada di Jakarta bersama istri dan kedua anaknya membuat Sabina sibuk bercengkrama dengan keponakan juga para sepupunya.


Walaupun begitu Sabina tak melupakan keberadaan suaminya. Ia melayani Gibran dengan baik seolah tak terjadi perselisihan diantara mereka berdua. Dirinya tak ingin membuat keluarganya berpandangan buruk pada sang suami. Sebagai istri, Sabina tetap menjaga nama baik Gibran.


Sabina menuangkan segelas air untuk suaminya dan ia pun ikut membantu mempersiapkan pesta dadakan itu.


"Tunggu sebentar, aku bantu yang lain dulu." ucap Sabina sembari membungkukkan badan pada Gibran yang terduduk di meja makan sedangkan Sabina berdiri di belakangnya.


"Tenanglah Bina, suami kamu gak akan kita godain kok." ucap salah satu tante Sabina dan para sepupunya tertawa mendengar itu.


"iya jangan godain, karena dia milik aku seorang dan aku galak soal itu." jawab Sabina sembari tertawa dan ia pun melingkarkan kedua tangannya pada leher Gibran dan membuat dada lelaki itu berdegup lebih kencang.


Gibran memandang kepergian Sabina dengan wajah sendu menahan rindu. Sungguh ia merindukan kehangatan istrinya seperti dulu. ia merindukan sikap Sabina yang lembut dan penuh cinta. Bayangan bagaimana mereka hidup dengan penuh kasih sayang menari dalam benak Gibran.



Tak lama beberapa orang datang membawa banyak pizza, aneka pasta dan berbagai macam minuman. Sabina ikut membantu menyiapkan di atas meja walaupun ia tahu mata Gibran tak teralihkan darinya. Sebisa mungkin ia bersikap biasa meskipun jantungnya nyaris keluar karena berdegup dengan kencangnya.


"Kuat Bina, kuat...," ucapnya seraya terus membenahi. "Kenapa hanya karena dipandangi saja seluruh tubuhku terasa lemas." gumam Sabina hampir tak terdengar.

__ADS_1


"Onty, duduknya deket aku." rengek kedua keponakannya saling berebut.


"Enggak, Onty Bina duduknya dekat aku." kata keponakan Sabina dari sepupunya.


"Hus, jangan berebut. Onty Bina duduk sebelah om Gibran. Kasian om Gibran dari tadi udah gak tahan pengen cepet-cepet duduk deketan sama istrinya." kata salah satu sepupu Sabina dan perkataannya mampu membuat Gibran juga Sabina merona. Pandangan mata mereka bertemu dan saling terkunci untuk sesaat hingga perkataan kakak iparnya membuyarkan pikiran Sabina.


"Bina, duduklah. Kasihan Gibran sendirian."


Sabina menurut, ia pun duduk kembali tepat di sebelah suaminya itu.


"Jangan cape-cape, duduk disini temani aku." bisik Gibran dan Sabina hanya tersenyum menanggapinya.


"Gibran, yang extra keju dan minumnya es kopi." ucap Sabina ketika seseorang datang menghampiri.


Dengan cekatan Sabina menyiapkan piring dan minuman untuk suaminya itu dan Gibran terus memperhatikan.


"Apa mau yang lain ?"


"Tidak, ini cukup." jawab Gibran.


Baru saja Sabina akan mulai menikmati pizza di atas piringnya. Datanglah kedua keponakannya dengan sebuah kue tart dengan beberapa lilin diatasnya dan diiringi lagu selamat ulang tahun yang dinyanyikan bersama. Sabina menitikkan air matanya karena haru dan meniup lilin itu ketika nyanyian itu berhenti.


"Potong kuenya, Onty. Berikan pada seseorang yang paling Onty sayang."


Sabina tersenyum seraya menuruti apa yang keponakannya itu inginkan. Ia memotong kue ulangtahun itu dan memindahkan potongannya pada sebuah piring kecil.


Dengan tangan gemetar Sabina pun menyuapi Gibran yang berada tak jauh darinya. Tanpa Sabina sangka, Gibran pun memberinya sebuah kecupan di pipi. " Terimakasih, Sayang." bisiknya lirih dan semburat merah menghiasi pipi Sabina saat ini.


Semua bertepuk tangan dan tertawa dalam bahagia. Dan merekapun mulai menikmati santap malam yang telah tersaji.


Dengan lahap Sabina menikmati sepotong pizza diatas piringnya. Ini pertama kali bagi Sabina merasakan nikmatnya makan setelah beberapa waktu terakhir seleranya hilang karena perseteruan dengan Gibran yang tak kunjung usai.


Makan Sabina terhenti ketika ia merasakan sebuah tangan kekar dengan guratan urat tak berlebihan berlabuh di atas pahanya. Siapa lagi jika bukan tangan suaminya.


Sabina menolehkan kepala dan Gibran pun melakukan hal yang sama.


"Kenapa ? mau tambah ?" tanya Sabina.


"Nggak," jawab Gibran seraya menggelengkan kepala.


"lalu ?" Sabina berkerut alis tak paham.


"Aku kangen kamu, Bina. Kangen kita yang dulu. Jadi biarin tanganku di sana biar aku tahu jika kamu berada di dekatku." jawab Gibran dan Sabina pun tersenyum seraya menganggukan kepala.


***


"Kalian menginap saja malam ini. Sekarang sudah terlalu malam untuk pulang." ucap Ayah Sabina ketika keduanya tengah berpamitan.


Secara refleks, Sabina dan Gibran langsung bertatapan. Jika menginap tentunya mereka harus tidur diatas ranjang yang sama padahal sebelumnya keduanya tidur terpisah untuk 6 malam.

__ADS_1


Gibran memang telah memutuskan untuk kembali ke kamarnya tapi itu baru terjadi sore tadi.


"Terserah padamu, Bina." ucap Gibran seolah paham apa yang ada dalam benak istrinya itu.


Melihat wajah sang ayah yang penuh harap Sabina pun mengiyakan dan benar saja senyuman bahagia terbit di wajah ayahnya ketika Sabina menyetujuinya.


Dan disinilah mereka, di kamar Sabina yang dulu dan keadaan kembali canggung karena sebenarnya hubungan keduanya belum kembali normal seperti biasa.


Kemesraan saat makan malam sebenarnya adalah siasat untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Walaupun Gibran dan Sabina merasakan percikan cinta yang ternyata masih ada.


"Bina, aku...,"


"Tidur di sini saja." potong Sabina seraya menunjuk sisi tempat tidurnya yang kosong.


Gibran pun merasa lega dan menaikkan tubuhnya ke atas ranjang.


"selamat malam," ucap Sabina dan ia pun memutar tubuhnya untuk memunggungi Gibran .


Gibran menatap tubuh Sabina yang bergerak gelisah seolah mencari kenyamanan.


"Kenapa?" tanya Gibran.


"selalu begini setiap malam, mungkin karena perutnya yang semakin membesar membuat aku sulit menemukan posisi tidur yang nyaman." jawab Sabina.


Gibran pun turun dari ranjang dan berjalan memutar mendekati istrinya itu. Ia mengambil beberapa buah bantal dan meminta Sabina untuk tidur dengan posisi yang dirinya arahkan.


Sabina menuruti apa yang Gibran katakan dan memang kini posisinya menjadi lebih nyaman walaupun akhirnya harus tidur dengan saling berhadapan.


"bagaimana ?"


"jauh lebih baik, terimakasih." jawab Sabina sembari tersenyum.


Gibran bergerak mendekati dan kini ia melingkarkan tangannya diatas pinggang Sabina dan memeluknya erat. Sabina menelan salivanya karena merasa gugup namun anehnya terasa jauh lebih nyaman lagi. Bayi dalam kandungannya pun kini lebih tenang seolah mendapatkan yang ia inginkan.


Sungguh sekarang ini adalah posisi tidur paling nyaman bagi keduanya setelah 6 malam yang lalu baik Gibran maupun Sabina berjuang hebat hanya untuk sekedar memejamkan mata agar dapat tertidur.


Namun kini baik Gibran maupun Sabina tak perlu merasa cemas karena kantuk datang menghampiri hanya karena rasa nyaman luar biasa yang dirasakan oleh keduanya.


Masalah diantara Gibran dan Sabina memang belumlah usai. Namun keduanya sadar jika rasa cinta yang mereka rasakan tak pernah hilang.


to be continued ❤️


thanks for reading 😘


Genks... pastinya cerita aku banyak bertentangan dengan keinginan sebagian para pembaca tapi seperti biasa aku menulis sesuai alur yang aku buat.


jadi mohon maaf jika ada yang tak sepaham 🙏🙏


terimakasih untuk yang sudah baca, like, komen , memberikan hadiah juga vote. kalian luar biasa 😍❤️

__ADS_1


__ADS_2