Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Rahasia Lainnya


__ADS_3

Happy reading ❤️


Gibran pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.  Sungguh ia takut Sabina mengira ia dan Amanda menjadi dekat lagi.


"Maafkan aku telah berbohong, Bina." Batin Gibran dalam hatinya.


"Syukurlah jika bukan untuk Amanda karena aku akan sangat cemburu," ungkap Sabina seraya tersenyum.


Senyum yang kini menular pada Gibran suaminya. Dalam hati Gibran ia begitu merasa lega karena merasa Sabina percaya dengan apa yang ia ucapkan.


"Aku naik dulu ya, mau ganti baju."


Senyum Sabina surut ketika Gibran membalikkan tubuhnya meninggalkan istrinya itu sendirian dengan sekantung mangga di tangannya.


Bibir Sabina terkatup rapat, matanya yang tajam dan dingin mengikuti pergerakan Gibran yang berjalan menjauhi, menaiki tiap undakan dan menghilang di ujung tangga.


Tentu saja Sabina sadar bila ada sesuatu yang Gibran sembunyikan, dari cara lelaki itu menjawab pertanyaannya dengan gugup dan matanya yang tak berani menatap langsung dirinya ketika bicara.


"Jika kamu ingin bermain-main dengan perasaan dan juga kepercayaan akan aku ladeni." Gumam Sabina lirih dan ia pun berjalan menuju dapur.


"Mangganya mau saya kupasin, Non ?" Tanya Mbok Inah dan hanya di jawab Sabina oleh gelengan kepala. Seketika ia tak lagi berselera untuk memakan buah mangga pemberian suaminya itu.


"Kupasin yang di kirim kaka aku aja, Mbok." Ucap Sabina seraya memasukkan sekantung mangga itu ke dalam lemari pendinginnya dan memilih buah mangga yang lain.


Mbok Inah meraih buah itu dari tangan Sabina tanpa bertanya apapun, meskipun ia heran karena sedari tadi Sabina menunggu Gibran karena sangat menginginkan buah mangga itu namun kini memilih buah yang lain.


***


"Udah dimakan mangganya?" Tanya Gibran seraya mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah sang istri.


Sabina hanya tersenyum tanpa menjawab, dan Gibran menganggap itu sebagai jawaban dari pertanyaannya.


Kini keduanya duduk berdampingan di atas sofa besar yang menghadap pada sebuah TV layar lebar di lantai 2. Sabina masih menunggu Gibran bercerita. Berharap suaminya itu akan mengatakan sesuatu yang tersembunyi. Instingnya sebagai istri mengatakan ada sesuatu yang Gibran sembunyikan darinya.


Namun, Gibran tak jua bicara. Ia menatap lurus pada layar televisi dan tak sadar jika Sabina terus menatapnya dengan penuh tanda tanya hingga ia menolehkan kepala dan pandangan mata mereka bertemu.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Gibran.

__ADS_1


"Gak pa-pa," jawab Sabina singkat sembari tertawa hambar.


Gibran sadar Sabina tak seperti biasanya, istrinya itu lebih diam saat ini namun kecantikannya tak berkurang sama sekali.


Gibran mendekatkan wajahnya dan dengan perlahan menyatukan bibirnya dengan bibir Sabina dengan sempurna.


Memagutnya penuh kelembutan, tangannya menahan kepala Sabina agar tak menjauh. Sabina membalas ciuman Gibran dengan memejamkan matanya. Meskipun saat ini ia sedang tak ingin melakukannya tapi tak mungkin juga baginya untuk menolak.


Semakin dalam ciuman, semakin Gibran menginginkan lebih. Ia ingin mengecap lebih jauh tubuh Sabina dan hanyut di dalamnya. Hingga tangan Sabina yang menahannya membuat Gibran sadar bahwa istrinya sedang tak ingin disentuh.


Dengan rasa kecewa Gibran pun memisahkan tautan bibir mereka.


"Sayang ?" Tanya Gibran terheran.


"Ya ?" Sabina tak paham dan balik bertanya.


Sepertinya tanpa sadar Sabina menolak cumbuan suaminya, tapi Gibran sangat sadar jika istrinya sedang tak ingin disentuh olehnya.


"Mmm, tidak apa-apa. Sebaiknya kita tidur." Jawab Gibran sembari bangkit dari tempat duduknya dengan malas dan berjalan menuju kamar tidur mereka dengan wajah sedikit ditekuk karena kesal tak dapat menyalurkan hasratnya yang sudah berada di ujung tanduk. Sedangkan Sabina, ia merasa lega Gibran tak jadi menyentuhnya. Perasaannya yang mengatakan jika Gibran sedang menyembunyikan sesuatu membuat ia enggan untuk melakukan hal itu.


***


Hubungan Gibran dan Sabina yang sempat menegang kini kembali membaik meskipun hati Sabina belum juga tenang tapi sejauh ini Gibran belum mengatakan apapun padanya.


Gibran sadar jika Sabina sedikit berubah, namun ia kira itu hanya dari pengaruh hormon kehamilannya. Untuk meraih hati sang istri Gibran telah menyiapkan suatu kejutan untuknya.


Sudah satu Minggu juga Gibran tak bertemu Amanda. Ia merasa cukup lega karena untuk sementara waktu tak berurusan lagi dengan wanita itu.


Tapi keberuntungan sepertinya tak berpihak pada Gibran. Siang ini saat Gibran baru saja menurunkan kakinya dari dalam mobil untuk praktek di kliniknya, Amanda menyambut kedatangannya dengan sebuah kain lap di tangan membuat Gibran heran melihatnya.


"Kamu udah datang?" Tanya Amanda dengan mata berbinar, segera saja ia hampiri Gibran yang baru keluar dari mobilnya.


"Kamu ngapain disini ?" Tanya Gibran seraya memperhatikan kain lap yang Amanda bawa.


"Mmm... Itu... Aku dan bayiku butuh makan. Sementara aku gak bisa kerja karena semua ijazah aku berada di rumah besar itu ( rumah keluarga Mulia ) dan kondisi aku yang hamil besar juga membuat susah mencari kerja pada orang lain. Jadi aku putuskan untuk bekerja padamu di klinik ini, Gibran." Jelas Amanda dan itu membuat Gibran terkejut luar biasa.


"Lo gak bisa kerja disini, Manda ! Lo gak bisa seenaknya begini. Rumah ini sudah ada pekerjanya jadi gue gak butuh orang lagi." Gibran yang emosi tak dapat mengontrol perkataannya hingga beberapa orang melihat ke arah mereka berdua.

__ADS_1


"Kenapa ? Karena Sabina ? Karena istri kamu itu selalu berpikiran buruk tentang aku ?" Tanya Amanda dengan suara tak kalah nyaringnya dan mereka kembali menjadi pusat perhatian para pasien yang telah menunggu kedatangan Gibran.


"Jangan selalu membawa Sabina dalam setiap penolakan gue, Manda. Dia tak ada kaitannya dengan ini." Desis Gibran gusar.


"Ini," Gibran mengeluarkan dompet dari dalam sakunya dan memberikan uang yang cukup banyak pada Amanda.


"Apa ini ?"


"Buat Lo makan, tapi tolong jangan ganggu gue." Jawab Gibran.


Amanda pun meraih uang yang Gibran sodorkan dan memasukkan uang itu ke dalam saku bajunya. Sedangkan Gibran segera memasuki kliniknya, dengan tatapan para pasien yang sulit diartikan.


Baru saja hubungan dengan Sabina membaik, dan kini Amanda datang lagi mengacau membuat pikiran Gibran menjadi terbebani. Sejumlah uang yang dirinya berikan pada Amanda, berharap tak bertemu lagi wanita yang merepotkan itu untuk sementara waktu.


Pasien terakhir pun sudah Gibran periksa. Saatnya untuk Gibran berbenah mejanya sebelum ia pulang. Namun ia kembali terkejut ketika Amanda datang dengan sebuah nampan dan secangkir kopi panas di atasnya. Amanda pun meletakkan nampan itu diatas meja. Gibran.


"Lo ngapain masih di sini ?" Tanya Gibran tak suka.


"Mmm... Itu... Aku gak bisa menerima uang kamu dengan cuma-cuma. Aku merasa tak enak." Jawab Amanda terbata dan kedua tangannya yang saling meremas karena gugup.


"A... Aku sudah gak tinggal di Jakarta karena tak tahan dengan omongan tetangga yang terus menggunjingkan kehamilan aku yang tanpa menikah ini. Jadi aku putuskan untuk ngekos di daerah ini dan akan bekerja padamu untuk bertahan hidup. Seenggaknya sampai dia lahir."


"Kamu gak bisa begini Amanda !!" Hardik Gibran.


"Kenapa gak minta tanggung jawab sama lelaki yang menghamili kamu ?"


"Sudah, dan hanya sebuah tamparan yang aku terima. Andre marah besar karena ia kini menderita penyakit yang sama denganku dan menyalahkan aku sebagai orang yang menulari nya." Jawab Amanda dengan kepala tertunduk.


"Ku mohon Gibran... Biarkan aku bekerja disini sebagai pembantu tak apa. Kita tak usah saling bicara, kamu bisa anggap aku tak ada. Aku hanya ingin bertahan hidup sampai dia lahir saja, lalu aku dan dia akan pergi selamanya dari hadapanmu. Aku berjanji." Ucap Amanda sungguh-sungguh.


Gibran memijit pelipisnya yang terasa berdenyut hebat menahan sakit. Amanda adalah wanita yang sangat keras kepala, Gibran yakin ia akan terus mendatanginya.


"Sabina tak perlu tahu tentang aku yang bekerja disini, ini akan menjadi rahasia kecil kita yang lain," ucap Amanda sembari menyodorkan kopi yang dibuatnya dan ia tahu betul jika Gibran sangat menyukai kopi buatannya


To be continued ❤️


Thank you for reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2