
" tidak tuan, aku tidak ingin menikah denganmu. kata Dea tegas.
Marfin kemudian mengibaskan tangannya memberi isyarat agar leo dan bu leni meninggalkan mereka berdua.kemudian ia menyampirkan jasnya di kursi.
" tapi bagaimana dengan janjiku? ucap Marfin.
Dea kemudian berdiri, berjalan pelan dan mengutarakan isi hatinya.
" Dulu aku ingin membunuh diriku sendiri, karna aku merasa hancur. kemudian tuan datang dengan menawarkan sedikit cahaya kepadaku, namun cahaya yang kau punyapun milik orang lain tuan, dia yang menyalakan cahayamu. hingga sewaktu waktu dia bisa memadamkan cahaya itu dan kita berdua akan berada dalam kegelapan.
sanggupkah tuan berada dalam kegelapan bersama ku?
akan ku lupakan semua janjimu tuan, janji yang dulu kau ucap mungkin tak kau sadari begitu saja keluar dari mulutmu sebab saat itu kau melihat jiwa seseorang sedang kosong dan tak bermakna.
aku kini sudah bermakna tuan, itu berkat engkau.
tuan, hatimu sangat besar kepada wanita hina seperti ku.
terimakasih tuan.
tidak ada yang lebih pantas menerima cintamu selain istrimu.
tutur Dea mengheningkan suasana.
mendengar penuturan Dea Marfin begitu terharu dan kemudian memeluk Dea.
" terimakasih Dea, Marfin membelai lembut rambut Dea.
dan Deapun membalas hangat pelukan Marfin.
" bolehkah aku pergi dari rumahmu?kata Dea di tengah pelukan.
"tidak boleh ! jawab Marfin tegas.
" kenapa? nanti istrimu salah paham tuan. kata Dea.
" tidak, kau tidak boleh pergi, izinkan aku terus menjagamu. menyaksikan anakmu lahir kedunia. dan melihatnya menjadi sosok yang besar kelak. kata Marfin seraya melepaskan pelukannya.
" tuan, bisakah kita kekantor? ada pekerjaan. kata Leo memberanikan diri menghampiri dan memotong pembicaraan mereka.
" baiklah, ayo kita pergi. Marfin kemudian mengambil jas yang disampirkan di kursi.
******
__ADS_1
"tuan? bolehkah saya bertanya sesuatu? tanya leo sambil fokus menyetir.
" tanya saja. jawab Marfin sambil sibuk dengan handphonenya.
" apa tuan menyukai nona Dea? tanya Leo.
" tentu saja, bagaimana menurutmu tentang Dea? Marfin masih sibuk dengan ponselnya.
" Dea sangat cantik tuan, tapi nona Alika juga tidak jauh lebih cantik. Jawab Leo.
" tentu saja, mereka berdua memang cantik. jawab Marfin santai.
" selain karna janji, apa yang membuat tuan ingin menikahi Dea?
apa tuan mencintainya juga?
" Mana mungkin aku mencintainya. jawab Marfin.
tapi entahlah, mungkinkah marfin tidak mencintai Dea? lalu mengapa ingin menikahi Dea? bukankah pernikahan tanpa cinta tidak akan berakhir bahagia.
" sudahlah, Alika tidak perlu tau tentang Dea. kata Marfin.
" tapi tuan bilang akan mengenalkan Dea kepada nona Alika. kata Leo.
" Mustahil rasanya, tapi entahlah jika memang harus terjadi, suatu hari mereka pasti saling mengenal. jawab Marfin.
******
kedatangan mereka disambut karyawan yang menemui sepanjang jalan menuju keruangan Marfin wijaya.
" pertemuan pertamaku dengan klaen gagal. bagaimana dengan jadwalku selanjutnya. kata Marfin sambil duduk di kursi putar sambil melipatkan kakinya.
" iya tuan, akan saya atur kembali jadwalnya.
namun nanti sore kita akan meeting bersama seluruh staff tuan membicarakan perencanaan peluncuran produk baru kita. kata leo.
" Dan ya, bagaimana mobil baru yang aku pesan, kau belum memberiku informasi lagi. tanya Marfin.
" iya tuan, nanti malam akan saya antar kuncinya ke apartemen tuan. jawab leo.
" oh iya, coba cari property termewah dan termahal di kota ini.kata Marfin.
"tuan ingin membeli rumah,tanya leo.
__ADS_1
" tentu saja, aku harus membahagiakan istriku. kata Marfin tersenyum.
" baik tuan, akan saya urus. kata leo
" hemm..... Marfin diam mengacungkan jempol kemudian mengibaskan tangannya pertanda meminta leo untuk segera meninggalkan ruangannya.
leo sedikit membungkukan badannya kemudian mengundurkan diri dari ruangan Marfin wijaya.
******
bel terdengar di telinga Alika ketika ia sedang menulis di buku diarynya.
tak lupa ia melongokkan wajahnya melihat siapa yang datang. dengan wajah bahagia Alika membukakan pintu.
" ibu.... Ana.... reaksi ana sedikit berteriak saat melihat ibu mertua dan adik iparnya yang berdiri di hadapannya.
"kapan pulang? tanya Alika kepada Ana.
kemarin kak, jawab Ana .tadi aku telpon kak Marfin tapi tidak ada jawaban .sambungnya lagi.
" kak Marfin kerja, ucap Alika sambil mempersilahkan keduanya masuk dan duduk di ruang tamu.
" wahh kenapa kalian tidak beli rumah saja, kenapa harus tinggal di apartemen. kata bu Risma setelah menelisir ke segala ruangan kemudian mereka duduk di sofa yang ada diruang tamu.
"tidak apa apa bu,aku senyamannya Mas marfun saja, aku nurut. jawab Alika tersenyum manis.
" lagian walaupun kalian tidak tinggal dirumah kalian atau di apartemen ini, rumah ibukan sangat besar, apa tidak bisa tinggal bersama kami saja. tutur bu Risma.
iya kak benar kata ibu.kata Ana membenarkan.
" hehe.... Alika sih di mana saja bu, tidak ingin menuntut masalah tempat tinggal. kata Alika tersenyum sambil memeluk bantal kecil dilengannya.
" oh iya, bagaimana dengan ayah? tanya Alika.
" Ayah belum bisa pulang kak. jawab Ana.
" karna masih ada kerjaan sih disana, sambungnya lagi.
" oh ayah sibuk ya, ucap Pelan Alika.
"iya kak, masih sangat sibuk. jawab ana tersenyum.
sudah dua jam ibu dan adik iparnya berkunjung, mereka saling berbagi cerita, canda,tawa. ah tampaknya keluarga yang romantis.
__ADS_1
Alika sangat beruntung memiliki suami yang tampan, kaya, kemudian mertua yang baik hati, adik ipar yang cantik juga baik hati. begitu terlihat sempurna memang kehidupan Alika.
setelah cukup lama mereka menghabiskan waktu, namun Marfin tak kunjung datang, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.