Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Sesuai Kesepakatan


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Ku mohon temani aku makan," ucap Gibran seraya menahan lengan Sabina agar tidak pergi.


Sabina terdiam untuk sesaat hingga akhirnya ia memutuskan untuk duduk di samping Gibran dan menemani suaminya itu menikmati sarapannya meskipun sunyi masih meliputi keduanya.


Yang terdengar hanyalah bunyi denting piring yang beradu dengan sendok. Keduanya tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Tak butuh waktu lama bagi Gibran untuk menghabiskan sarapannya hingga tak bersisa. Sabina yang melihat itu merasa senang meskipun tak ia tunjukkan.


Dalam hatinya, Sabina merasa sangat khawatir dengan kesehatan Gibran padahal dia sendiri kehilangan nafsu makannya selama masalah dengan Gibran terus berlangsung.


"Terimakasih, sarapan terbaik yang pernah aku rasakan." Ucap Gibran sembari mengusap bibirnya dengan selembar tisu yang Sabina berikan.


Sabina hendak berdiri untuk merapikan piring, namun cekalan tangan Gibran kembali menahannya.


"Duduk dulu, temani aku." Kata Gibran, menatap Sabina penuh mohon dan kemudian ia menyesap kopinya secara perlahan. Seolah-olah ingin menikmati waktu lebih lama bersama istrinya.


2 hari terasa begitu lama bagi Gibran. Ia merasa seperti seluruh dunia pun ikut tak peduli padanya ketika Sabina mendiamkannya.


Dulu, Gibran suka sekali dengan keheningan dan kesendirian namun tidak sekarang. Dunianya telah berubah karena kehadiran Sabina. Ia lebih suka duduk berdua dan saling bicara.


"Sekarang antar aku hingga pintu," ajak Gibran setelah ia menghabiskan secangkir kopinya.


"Ayo," Gibran mengulurkan tangannya untuk Sabina raih.


Sabina menatap datar uluran tangan itu, meski enggan namun akhirnya ia meraih tangan suaminya. Gibran pun sadar istrinya masih merajuk tapi ia tak peduli. Ia menggenggam jemari Sabina dengan erat seolah tak ingin melepaskan.


"Aku pergi, baik-baik ya dirumah." Ucap Gibran ketika mereka sampai di pintu depan.


Sabina hanya menganggukkan kepala tanpa bersuara. Sedangkan Gibran yang berdiri tepat di hadapannya tak jua melepaskan tautan jemari mereka.


"Marahnya udah ya ? Please...," Ucap Gibran seraya menundukkan kepala dan mengangkat dagu Sabina dengan ibu jari hingga kini pandangan mereka beradu dan terkunci.


"Aku gak marah, aku hanya merasa..."


"Kecewa ?" Potong Gibran cepat dan Sabina pun menganggukkan kepala.


"Maafin aku, Sayang. Aku benar-benar menyesal." Ucap Gibran lagi dan Sabina masih menatap suaminya itu dengan wajah sendu.


"Aku sudah mengerti juga paham jika yang kulakukan kemarin itu sangat menyakiti kamu dan aku sangat menyesalinya. Tak ada satu hari pun aku lalui tanpa rasa menyesal. Percayalah..." Mohon Gibran sungguh-sungguh.


"Aku takut kalau kamu...,"

__ADS_1


"Tak ada yang perlu kamu takutkan, Sayang. Aku sangat mencintaimu Sabina. Aku lah yang sangat takut kehilangan kamu, aku lah yang sangat merasa takut ditinggalkan olehmu. Disini hanya ada kamu," ungkap Gibran dan membawa telapak tangan Sabina ke atas dadanya.


Dapat Sabina rasakan detak jantung Gibran yang berdebar lebih kencang dan wajah suaminya menegang ketika mengatakan itu.


"Jadi, udah ya marahnya ?" Tanya Gibran dan Sabina pun tersenyum dipaksakan.


Cukup lama Gibran membohongi Sabina, membuat ia menjadi ragu akan komitmen suaminya itu.


"Jangan membuat janji jika kamu tak bisa tepati," ucap Sabina dengan lembut namun itu seperti sebuah tamparan bagi Gibran.


"Aku akan perbaiki diriku, dan akan berusaha untuk menepati setiap kata yang aku ucapkan sama kamu," jawab Gibran seraya membelai lembut wajah Sabina dengan telapak tangannya.


"Ayo kita baikan," kata Gibran lagi dan ia pun mengangkat jari kelingkingnya untuk Sabina kaitkan.


Sabina menarik nafas dalam, Walaupun masih merasa kesal dan kecewa namun ia pun merasa lelah karena pertengkarannya dengan Gibran.


Setelah berpikir untuk beberapa saat, akhirnya ia pun menautkan jari kelingkingnya pada milik Gibran dan disambut oleh senyuman di bibir suaminya.


"Terimakasih Sayang," ucap Gibran seraya membawa Sabina dalam dekapannya dan memeluknya erat walaupun perut buncit Sabina sedikit menghalanginya.


"Maafin aku ya... Aku cinta banget sama kamu, Bina. Sayang banget." Bisik Gibran tepat di telinga Sabina.


Apa yang Gibran ucapkan membuat mata Sabina mengembun, hatinya terasa hangat namun juga gundah. Betapa Sabina mencintai Gibran dengan sangat dalam. Namun kenyataan bahwa Gibran masih harus mengurusi Amanda hingga wanita itu melahirkan membuat Sabina merasa cemas.


"Sebenarnya aku ingin masih disini memelukmu tapi aku harus pergi kerja," gumam Gibran sembari tak melepaskan pelukan.


"Kalau begitu ayo cepat pergi nanti terlambat,"


Gibran menguraikan pelukan dan memandang wajah Sabina lekat-lekat.


"Aku pasti bakalan kangen kamu seharian ini," ungkap Gibran, ia pun menundukkan wajahnya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Sabina dan mengulumnya lembut.


Sabina meremas kain kemeja Gibran untuk menahan dirinya yang merasa limbung karena ciuman suaminya itu.


Ciuman kali ini terasa berbeda setelah pertengkaran hebat mereka kemarin. Begitu juga dengan Gibran, ia memejamkan matanya menikmati pagutan bibir istrinya itu penuh penghayatan.


Meskipun terasa berat namun Gibran akhirnya melepaskan tautan bibirnya dan mengusap bibir Sabina yang sedikit terbuka dan basah dengan telunjuknya.


"Tau gak Bina ? Selama kamu mendiamkan aku kemarin, aku merasa kesepian seolah tak hanya kamu yang diemin aku tapi seluruh dunia pun ikut melakukannya." Ucap Gibran dan Sabina terdiam mendengarnya.


"Aku pergi," ucap Gibran lagi dan ia pun merendahkan tubuhnya agar dapat berbicara dengan bayi yang ada dalam kandungan istrinya itu.


"Papa pergi ya, baik-baik dirumah sama Mama. Sampai jumpa nanti malam, Papa akan jenguk kamu." Bisik Gibran namun Sabina masih bisa mendengarnya dengan jelas dan segera mencubit pinggang Gibran karena kesal.

__ADS_1


Gibran mengaduh karena sakit namun sedetik kemudian ia tersenyum. Ia merasa senang karena Sabina sudah mau diajak bicara.


Senyum Gibran kembali terukir saat melihat lambaian tangan Sabina melalui kaca spion diatas kepalanya. Hal sederhana yang sangat Gibran rindukan 2 hari kemarin. Ia terus memandangi Sabina hingga istrinya itu menghilang di balik pintu.


"Hai hati... Kenapa lemah sekali ?" Tanya Sabina pada dirinya sendiri. Ia menyenderkan tubuhnya di balik pintu.


Sabina yang merasa marah karena kebohongan Gibran berusaha mendiamkan suaminya itu walaupun sebenarnya dalam hati ia merasa begitu tersiksa.


"Tak hanya kamu Gibran, aku pun merasa seluruh dunia tak peduli padaku ketika kamu diam sama aku." Ucap Sabina lirih.


***


Sore menjelang malam Gibran sudah tiba pelataran parkir rumahnya. Kali ini ia lebih semangat tak seperti 2 hari sebelumnya.


Dengan sebuah buket mawar merah dan sekotak coklat berbentuk hati ia berjalan menuju pintu rumah. Belum juga ia menekan bel, pintu itu telah terbuka dan Sabina yang membukanya.


Gibran tersenyum dan menyerahkan buket bunga serta coklat yang ia bawa.


"Untuk istriku yang tercinta," ucap Gibran.


"Apa ini sogokan ?" Tanya Sabina dan Gibran pun tertawa mendengarnya.


"Bukan sogokan, ini tanda kangen aja." Jawabnya.


"Terimakasih," ucap Sabina dan ia pun menjinjitkan kakinya kemudian memberi sebuah kecupan di pipi suaminya.


"Ayo," ajak Gibran.


"Kemana ?" Tanya Sabina terheran.


"Ke kamar kita. Kamu ingat kan kesepakatan kita dulu ?" Tanya Gibran dan Sabina mengerutkan keningnya karena tak paham.


"Kita selesaikan semua masalah kita diatas..."


"Ranjang," Sabina memotong ucapan Gibran.


"Pintar," ucap Gibran seraya mengelus puncak kepala Sabina dengan lembut.


"Ayo, kita selesaikan masalah kita." Gibran meraih jemari Sabina dalam genggamannya dan mengajak istrinya itu untuk menaiki setiap undakan tangga yang menuju ke kamarnya di lantai dua.


To be continued ❤️


Thanks for reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2