
Happy reading ❤️
"Seharusnya aku yang berada disana dan diperlakukan layaknya ratu. Bukan perempuan pincang yang jago akting itu." Geram Amanda seraya melemparkan benda yang bisa ia raih dengan tangannya.
"Pesta kejutan ini, secara khusus di rencanakan oleh Pak dokter loh," ucap pembawa acara gossip itu dengan antusiasnya.
"Woooooowww, bayangin berapa biayanya. Tapi demi istri tercinta apa sih yang nggak," timpal yang lain.
Apa yang mereka ucapkan membuat Amanda semakin panas hati.
"Siaaallll !! Seandainya Gibran bilang kalau dia pun banyak uang, gue gak usah lari sama si brengseek itu." Geram Amanda semakin kesal. Dia berpikir jika saja ia tak lari dengan Andre tentunya apa yang Gibran miliki akan jadi miliknya.
"Kenapa sih si cacat itu selalu mendapatkan apa yang aku mau. Hu...hu..hu...," Amanda menangis pilu.
Sedangkan Andre, ia iri melihat Gibran yang terus melingkarkan tangannya pada wanita yang dulu pernah menjadi bagian dalam hidupnya dalam waktu lama. Wanita lemah lembut dan penuh cinta itu kini selalu dalam pelukan Gibran.
"Apa dia ( Gibran ) gak punya malu ? Terus mencium bibir Sabina di hadapan banyak orang." Geram Andre.
"Pesta mewah ? Dasar orang kaya baru yang pengen pamer," umpatnya lagi dengan senyum menyeringai.
Tapi yang Andre lihat bukanlah itu, ia juga merasa iri melihat Gibran yang sehat. Lelaki itu begitu hidup dan penuh semangat. Tidak seperti dirinya yang kini harus mengkonsumsi obat agar bisa sembuh dengan penyakit yang cukup memalukan. Tak ada seorangpun yang tahu perihal penyakit yang Andre idap. Tidak dengan kedua orangtuanya. Andre menutup rapat soal penyakitnya ini dari siapapun. Itulah yang kini menjadi tekanan berat dalam hidupnya.
"Sialllll, Manda !!!" Umpat Andre frustasi. Jika saja ia tidak melarikan diri dengan Amanda, tentu saja dirinya yang akan berada di sisi Sabina sekarang ini. Ia yang akan melingkarkan tangannya di pinggang Sabina bukan Gibran. Dan ia juga yang akan memberikan banyak ciuman. Dan yang paling penting, jika dengan Sabina, ia takkan sakit seperti ini.
Andre menjambak rambutnya dengan frustasi.
***
"Selamat, Pak dokter." Ucap Rani ketika Gibran baru saja tiba di kliniknya. Tak lupa lelaki itu membawa cendera mata untuk Rani sang asisten dan juga untuk seorang lelaki paruh baya yang menjaga rumahnya yang kini dijadikan tempat praktek.
"Terimakasih, ini oleh-oleh acara kemarin yang satu tolong berikan pada Pak Nanang." Ucap Gibran seraya menyerahkan 2 paper bag berwarna biru muda. Rani meraihnya dengan mata berbinar.
"Maaf saya gak bisa datang, Pak. Anak saya yang kecil demam." Ucap Rani beralasan.
"Its oke, gak pa-pa. Saya minta doanya biar istri saya selalu sehat."
"Tentu saja, Dok." Jawab Rani dan Gibran pun memasuki rumah sederhana yang menjadi tempat prakteknya untuk sejenak beristirahat sebelum memulai kegiatan prakteknya.
Rani mendongakkan kepala ketika seorang wanita hamil duduk di hadapannya untuk mendaftar. Siapa lagi jika bukan Amanda.
Matanya berkilat emosi melihat 2 bingkisan mewah yang masih berada di atas meja Rani. Ia tahu siapa yang memberikan 2 bingkisan itu.
"Bu Amanda, ngapain kesini ?" Tanya Rani gugup, ia tak ingin terkena masalah karena dulu terakhir kali Amanda datang, Gibran malah menyuruh dirinya untuk mengusir wanita itu.
__ADS_1
"Ya datang untuk berobat lah ! Masa iya datang buat beli keripik." Jawab Amanda ketus.
"Jangan panggil Ibu, saya masih muda juga masih single." Lanjut Amanda masih dengan ketusnya.
"Single ?" Gumam Rani seraya melihat ke arah perut Amanda yang membesar.
Amanda segera menutupi perutnya dengan cardigan lusuh yang ia kenakan saat ini.
"Gibrannya mana ?" Tanya Amanda.
"Pak dokter lagi istirahat dulu di dalam. Kak Amanda bisa duduk dulu untuk menunggunya." Ucap Rani seraya menunjukkan tempat duduk pasien yang masih kosong di depan sana. Walaupun sudah beberapa orang pasien yang datang untuk berobat hari ini.
"Lihat gak di TV tadi pagi ? Istri pak dokter terlihat cantik sekali ya."
Secara tak sengaja, Amanda mengedarkan percakapan dua orang pasien yang duduk tak jauh darinya.
"Iya sudah cantik, baik banget ya. Dulu pernah datang ke klinik ini nemenin pak dokter. Orangnya ramah banget."
Apa yang mereka bicarakan membuat Amanda semakin panas hati.
"Halah, mereka gak tau aja gimana sebenarnya si Sabina itu. Jago akting hanya untuk dapatkan simpati." Geram Amanda dalam hatinya.
Amanda kembali berdiri dan berjalan mendekati Rani yang sedang menuliskan data pendaftaran pasien.
"Eh Ran, emang dulu istri Gibran pernah datang ke sini ?" Tanya Amanda.
"Iya pernah 2 kali, bahkan yang kedua mereka menginap di sini untuk berakhir pekan." Jawab Rani.
"Saya gak nyangka orangnya ramah banget. Istrinya pak dokter gak sombong, ia tak merasa jengah untuk berinteraksi dengan warga disini. Tidak hanya berdiam diri di rumah, istrinya itu berkeliling sekitar daerah ini dan berbicara dengan warga yang dekat sembari memperkenalkan diri. Padahal katanya anak orang kaya ya." Jelas Rani antusias dan Amanda hanya mencebikkan bibirnya.
"Istri pak Yusuf yang ada di sebrang rumah malah memberikan buah mangga untuk di bawa Bu dokter pulang. Dan ketika bu dokter kembali lagi ke sini ia membawa banyak kue sebagai oleh-oleh. Gan nyangka ya sebaik itu," lanjut Rani lagi.
"Yang jadi dokter itu Gibran, kamu gak usah manggil Sabina dengan sebutan Bu dokter segala." Protes Amanda.
"Emang kakak kenal ?"
Dan Amanda pun terdiam ketika Rani menanyakan hal itu. Tak mungkin ia menceritakan masa lalunya dan bila ia memutar balikkan fakta pun Gibran pasti akan marah besar padannya.
"Tapi sayangnya cacat ya, heran aku Gibran mau sama dia" Amanda mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sikap baiknya luar biasa, hingga kekurangannya tak lagi terlihat." Timpal Rani dan itu membuat Amanda semakin kesal. Ia memutuskan untuk kembali duduk di bangku yang kosong tak ingin melanjutkan pembicaraan.
Tiba saatnya bagi Amanda untuk berkonsultasi. Gibran menantinya dengan wajah datar dan sinis seperti terakhir kali mereka bertemu.
__ADS_1
"Aku menderita demam sudah 2 hari ini." Ucap Amanda ketika ia terbaring di atas ranjang pasien dengan sedikit membusungkan dadanya mencoba mencari perhatian Gibran yang tengah memeriksanya saat ini. Di ujung ruangan Rani berdiri memperhatikan.
"Ruamnya masih nampak, kamu minum antibiotiknya dengan rutin kan ? Gak boleh ada yang terlewat." Ucap Gibran ketika mereka telah duduk kembali dengan saling berhadapan.
"Hu'um, tapi kadang aku mual ketika meminumnya." Jawab Amanda.
"Kami juga harus memeriksakan kandunganmu."
"Aku tak ada...,"
"Kamu bisa pergi ke puskesmas atau Rumah Sakit daerah untuk mengetahui perkembangannya. Biayanya tidak besar" Potong Gibran cepat.
"Tapi aku.... Sakitku...,"
"Akan aku berikan surat rekomendasi untuk dokter yang akan memeriksa kandunganmu." Gibran kembali memotong pembicaraan Amanda.
"Dan setelah itu, kamu bisa berhenti untuk menemui aku." Ucap Gibran lagi dan Amanda diam seketika.
"Tapi kamu berjanji akan menolong aku sampai bayi ini lahir." Lirih Amanda.
"Usia kandunganmu semakin besar, aku tak bisa melakukannya sendirian. Tenang saja aku akan terus memantau kesehatanmu juga." Ucap Gibran seraya memberikan 2 lembar kertas pada Amanda.
"Temui dokter ini, katakan rujukan dari dokter Gibran. Kamu boleh keluar sekarang." Ucap Gibran.
Bukan 2 lembar kertas yang Amanda perhatikan tapi sebuah jam tangan mewah yang melingkar dengan sempurna di pergelangan tangan Gibran. Ia pun teringat kembali pesta mewah mantan kekasihnya itu semalam.
"Selamat, pestanya mewah sekali. Sabina pasti sangat senang dengan hadiahnya."
"Sabina lebih antusias dengan bayi yang di kandungnya. Dan ya kami bahagia sekali." Jawab Gibran.
"Kenapa lebih antusias dengan bayinya ? Apa dia gak suka dengan kejutan yang kamu berikan ?" Tanya Amanda lagi.
"Sebagai calon ibu tentu kehadiran bayi sangat membuatnya lebih antusias." Jawab Gibran terheran.
"Dan tentu saja Sabina suka dengan semua kejutan yang aku berikan. Jika tak ada kepentingan lagi kamu boleh pergi karena pasienku masih banyak." Usir Gibran.
Amanda berdiri dengan mendengus kesal. Ia langsung berjalan keluar dari ruang praktek Gibran. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar bunyi ponsel yang terdengar begitu jelasnya dari dalam rumah.
Pintu rumah terbuka dengan lebar, sepertinya Gibran lupa untuk menutupnya tadi. Dengan berani Amanda pun memasuki rumah itu dan menghampiri meja di mana ponsel Gibran berada.
Lampunya berkedip, dan tertera nama 'My Lovely Wife ❤️' di layar ponselnya.
Senyum seringai menghiasi wajah Amanda saat ini.
__ADS_1
To be continued ❤️
Thank you for reading 😘