Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Hasil Mesin Pencarian


__ADS_3

Happy reading ❤️


Alya pun menggelengkan kepalanya.


"Kamu masih diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan. Pilihanmu sekarang adalah berubah menjadi lebih baik. Obati sakit mu, rubahlah cara hidupmu, minta maaflah pada orang-orang yang kamu sakiti agar bebanmu berkurang." Lanjut Alya dan Andre terdiam meresapi setiap perkataan temannya itu.


"Termasuk pada Amanda, minta maaflah padanya. Bagaimanapun dia telah menjadi bagian dari perjalanan hidupmu."


"Tapi wanita itu yang telah menghancurkan hidupku," geram Andre.


"Jangan menyalahkan orang lain, kamu sendiri yang dengan sadar memilih Amanda dan sekarang kamu lah yang harus bertanggung jawab atas hidupmu sendiri."


"Mungkin itu cara Tuhan menjauhkan aku dari Sabina ya..." Ucap Andre penuh sesal.


"Maaf jika aku lancang bicara," ucap Alya memelankan suaranya.


"Tidak, malah kamu bicara yang sebenarnya. Terimakasih."


Ya begitulah Alya, rekan barunya Andre. Wanita itu tak banyak bicara namun sekalinya ia bersuara akan memberikan jawaban yang tegas. Bukan sekedar basa-basi hanya untuk membuat lawan bicaranya merasa lebih baik.


"Terimakasih sudah mau mendengarkan aku," ucap Andre sungguh-sungguh dan Alya hanya menganggukkan kepala.


"Minum obatmu secara teratur, akan ku ingatkan bila perlu." Ujar Alya.


Andre tersenyum mendengar itu, kini ia merasa tak sendirian lagi walaupun kehadiran Alya hanya sebatas teman.


"Apa hari minggu kamu ada acara ?" Tanya Andre.


"Mmm tidak, tapi Raka meminta untuk makan di luar dan jalan-jalan."


"Berkas ini tidak akan selesai hari ini, kita lanjutkan hari minggu pagi. Kamu bawa saja Raka, siangnya kita makan bersama. Bagaimana ?"


"Benarkah aku boleh bawa Raka ?" Tanya Alya dengan mata berbinar.


"Ya tentu saja, di kantor ada televisi jadi Raka bisa nonton tv atau lainnya ketika kita bekerja nanti."


"Oke, terimakasih. Aku akan ajak Raka kesini hari Minggu nanti." Rasa bahagia terpancar dengan begitu kentara di wajah Alya. Dapat Andre lihat jika Alya seorang ibu yang baik. Meski secara fisik Alya bukanlah tipe ideal Andre namun wanita itu mempunyai daya tariknya sendiri.


Alya mampu membuat Andre untuk membuka diri tentang siapa dia sebenarnya tanpa rasa dihakimi.


***


Sudah hampir satu Minggu berlalu. Hubungan Gibran juga Sabina kian membaik. Walaupun Gibran belum berani untuk menyentuh istrinya itu secara intim.


Yang Gibran lakukan adalah mencurahi Sabina dengan perhatian, ia pun selalu bercerita tentang kegiatannya sehari-hari. Sejauh ini nama Amanda tak pernah disebutkan lagi.


Terakhir mereka bertemu adalah ketika Gibran mengucapkan jika Amanda hanya seorang wanita tak berarti jika ia tak menolongnya.


Gibran sadar jika yang ia katakan sangatlah keterlaluan tapi ia tak peduli. Itu ia lakukan agar Amanda sadar dan lebih menghargainya.


"Terima kasih," ucap Sabina ketika Gibran mempersilahkan istrinya itu untuk duduk.


Saat ini keduanya akan menikmati makan malam romantis di sebuah restoran ternama di kota Jakarta.


Ini adalah salah satu kejutan manis yang Gibran berikan pada istrinya itu. Selain hadiah-hadiah kecil lainnya.


"Sayang, aku ke toilet dulu ya." Ucap Gibran dan ia pun pergi dengan meninggalkan ponselnya diatas meja.


Hampir seminggu ini Gibran bersikap lebih lembut dan romantis, membuat Sabina merasakan jatuh cinta lagi.


Ponsel Gibran yang tergeletak diatas meja mencuri perhatian Sabina saat ini.

__ADS_1


"Jangan Bina, jangan kamu ambil," batin Sabina dalam hatinya.


Namun ternyata kepala dan hatinya tak sejalan. Ia pun meraih ponsel Gibran dan membuka layarnya.


Sabina tertawa pelan ketika layar ponsel Gibran menunjukkan mesin pencarian google dengan sederet hasil pencariannya.


"Cara menjadi suami romantis," baca Sabina sembari menahan tawa.


Tak hanya itu, ia pun melihat kata kunci pencarian yang lain di ponsel Gibran.


Cara menghadapi istri yang marah, bagaimana menunjukkan rasa menyesal, dan yang terakhir yaitu bagaimana cara mengungkapkan rasa cinta pada istri.


Tawa Sabina pecah seketika, ia tak menyangka Gibran akan melakukan hal itu.


"Sepertinya dia benar-benar frustasi." Gumam Sabina merasa geli dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


Sabina segera menyimpan kembali ponsel Gibran di atas meja. Dan tak lama Gibran pun datang menghampiri.


"Maaf lama, tadi aku bertemu teman dan ia meminta aku untuk menjadi pembicara di seminar kesehatan."


"Lalu ?" Tanya Sabina.


"Aku bilang istriku sedang hamil, jika seminarnya di  kota Jakarta aku masih bisa mengikuti acaranya tapi jika di luar kota aku gak mau." Jawab Gibran.


"Kenapa ?"


"Karena aku gak bisa jauh dari kamu, Sayang." Jawab Gibran seraya membawa tangan Sabina dalam genggamannya.


Bukannya terharu, namun tawa Sabina pecah seketika mengingat apa yang Gibran cari dalam mesin pencarian ponselnya.


"Kenapa Sayang, kok ketawa ?" Tanya Gibran terheran.


"Gak papa,'" jawab Sabina seraya menggelengkan kepala. Tak mungkin ia mengatakan pada Gibran jika ia tahu darimana datangnya semua sikap romantis suaminya itu.


"Katakan padaku Bina, apa yang lucu ?"


Bukannya menjawab, Sabina hanya mengulum senyum seraya menggelengkan kepalanya lagi.


"Bina, aku tak akan segan buat cium kamu disini kalau kamu gak bilang kenapa." Ancam Gibran.


"Aku udah lapar, Sayang." Ucap Sabina mengalihkan pembicaraan dan Gibran pun segera memanggil pelayan untuk memesan.


Setelah menunggu beberapa lama akhirnya pesanan pun tiba dan kini keduanya mulai menikmati makan malam mereka.


"Jadi apa semuanya berhasil ?" Tanya Sabina.


"Apanya Sayang ?" Gibran balik bertanya karena tak paham.


"Mmm...itu," ucap Sabina sedikit ragu.


" Apa sayang ?" Tanya Gibran lagi dan ia pun menghentikan makannya agar lebih fokus pada perkataan istrinya.


"Itu... Cara menjadi suami romantis, terus... Cara menghadapi istri yang marah, terus... bagaimana menunjukkan rasa menyesal... Terus... Bagaimanapun menyatakan cinta pada istri." Gumam sabina pelan namun Gibran bisa mendengarnya dengan jelas.


"Ya Tuhan...." lirih Gibran dan wajahnya merona merah seketika karena menahan malu.


"Maaf,  tadi ponselmu bunyi dan tak sengaja aku membaca itu." Ucap Sabina bohong.


"Aku gak marah karena kamu buka ponsel aku, tapi aku malu." Jawab Gibran jujur.


"Bina, aku tahu kita tidak baik-baik saja karena kesalahan yang aku buat dan aku sedang mencari jalan agar semua menjadi seperti semula. Aku sangat mencintaimu, sungguh. Akan kulakukan apapun untuk memperbaiki semua." Ucap Gibran sungguh-sungguh.

__ADS_1


Sabina terdiam untuk sesaat, dan ia pun menatap mata Gibran dengan dalam.


"Aku hanya ingin kamu tak lagi bohongi aku," ucap Sabina dengan jelas.


"Baiklah Sayang, aku janji gak akan sembunyikan apapun darimu." Jawab Gibran tanpa ragu.


"Dan aku ingin kamu tak menemui Amanda lagi apapun alasannya, biakan dia menemui dokter yang lain. Aku sangat cemburu padanya." Ucap Sabina lugas dan Gibran pun sedikit terkejut mendengarnya.


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan."


"Kamu yakin bisa lepasin Amanda ?"


"Ya, tentu saja. Aku benar-benar tak ada rasa lagi dengannya, Bina. Aku hanya sebatas menolongnya." Jawab Gibran, ia merasa tak enak hati karena pertanyaan yang Sabina lontarkan.


"Jika begitu, buktikan padaku." Ucap Sabina tanpa ragu


"Baiklah Sayang, akan aku buktikan." jawab Gibran dan ia pun mencium punggung tangan Sabina penuh Cinta.


Setelah pembicaraan itu, keduanya kembali melanjutkan makan malam mereka.


"Bina apa kamu membaca kunci pencarianku yang lain?" Tanya Gibran.


"Mmm tidak sempat, karena aku hanya melihatnya sebentar." Jawab Sabina.


"Uuuh sayang sekali." Gumam Gibran.


"Emangnya kenapa ?" Tanya Sabina ingin tahu.


"Gak papa..."


"Apa ?? Sayaaaang ih..." Sabina berkata dengan manjanya dan tangannya meremas gemas lengan Gibran membuat suaminya itu menolehkan kepala.


"Beneran pengen tahu ?" Tanya Gibran dan Sabina dengan semangat mengiyakan.


"Aku juga mencari tahu posisi-posisi yang aman untuk bercinta dengan istri yang sedang hamil tua." Jawab Gibran penuh maksud.


"Bukannya kamu sebagai dokter sudah tahu ?"


"Tentu saja tahu, tapi aku mencari referensi posisi lainnya."


"Kalau begitu cepat habiskan makanmu dan kita segera pulang untuk mencobanya." bisik Sabina dan Gibran terpaku mendengar yang Sabina ucapkan.


"Kamu serius ?" Tanya Gibran seraya menelan salivanya sendiri.


"Iya." Jawab Sabina dengan menganggukkan kepala.


"Pelayan ! Minta bonnya," ucap Gibran penuh semangat seraya mengangkat tangan dan tak lama pelayan itu datang dengan nampan berisikan bon pembayaran.


Gibran pun membayarnya dengan tips yang cukup besar hingga senyuman terbit di bibir pelayan itu.


"Tapi makanan kita belum habis,"


"Gak pa-pa, kita pesan makan malam secara online saja." Jawab Gibran


"Ya ampun terus ngapain kita kesini," kesal Sabina seraya memelototkan matanya.


"Kamu makin cantik kalau marah begini," bisik Gibran seraya mencuri kecupan di bibir istrinya dan ia segera menarik tangan Sabina untuk keluar dari restoran itu.


To be continued ❤️


Jangan lupa vote bagi yang ikhlas

__ADS_1


Makasih ❤️❤️❤️


__ADS_2