Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Selamat Hari Jadi


__ADS_3

Happy Reading ❤️


Berdirilah seorang lelaki yang memenuhi pikirannya saat ini. Sabina mengangkat wajahnya menatap laki-laki itu dengan lekat, sedangkan Gibran pun menundukkan kepala dan memandangi wajah istrinya dengan penuh perasaan.


Untuk beberapa saat tatapan mata mereka beradu dan saling terkunci dalam hening.


"Maafkan aku," lirih keduanya dalam waktu yang bersamaan.


Sabina terkejut, begitu juga Gibran.


"Sepertinya malam ini kita harus bicara," tutur Gibran lembut dan pandangan matanya yang teduh.


"Ya, kita akan bicarakan semua dengan kepala dingin sesuai kesepakatan kita yang lalu." timpal Sabina menyetujui. Dadanya berdebar kencang karena pandangan mata Gibran padanya.


"Masuklah, aku akan siapkan makan malam." Sabina menggeserkan tubuhnya dan mempersilahkan Gibran untuk masuk.


"Aku mau mandi dulu, nanti aku turun ke bawah buat nemuin kamu." ucap Gibran seraya tersenyum penuh arti dan Sabina pun menganggukkan kepala.


***


Amanda duduk di dalam bus umum tepat di sebelah jendela. Matanya mengamati lampu-lampu kota Jakarta dan gedung perkantoran yang tinggi. Sesekali ia mengusap perutnya yang besar dan membisikkan kata-kata padanya.


"Terimakasih karena sudah memberikan kekuatan pada ibu untuk meminta maaf. Sekarang Adek mau apa lagi ?" Tanya Amanda pada perutnya.


"Apa ingin melihat ayahmu ?" tanya Amanda seraya terus mengedarkan matanya ke arah luar jendela.


Untuk mencapai apartemen Andre, Amanda harus berganti bus karena arahnya yang berbeda. Ia melirik jam yang membelit pergelangan tangannya menunjukkan hampir pukul 8 malam dan ini adalah malam Minggu. Tentunya lelaki itu tak kan berada di apartemennya.


Tapi entah kenapa Amanda ingin sekali hanya sekedar melihat Andre meskipun itu dari kejauhan. Entah itu karena rasa rindu yang tak ia sadari, atau dorongan dari bayi yang dikandungnya.


Amanda turun di halte dan menunggu bus lain yang akan membawanya ke apartemen Andre. Ia pun berdiri ketika melihat bus yang ditunggunya telah hampir sampai.


"Awww," lirih Amanda tertahan. Seketika perutnya menegang dan rasa sakit Amanda rasakan untuk beberapa saat hingga ia memutuskan untuk duduk kembali.


Keringat dingin menghiasi dahinya dan Amanda mengusapnya dengan punggung tangan.


"Jika kamu tak ingin melihatnya, lebih baik kita pulang saja. Lagian ini sudah terlalu malam." ucap Amanda lagi pada perutnya yang membesar. Ia mengusap dengan jemarinya yang kurus.


Amanda duduk beberapa saat seraya berpikir dan akhirnya ia memutuskan untuk menaiki bus yabg membawanya kembali ke tempat kosnya yang sederhana di luar kota Jakarta.

__ADS_1


***


Sabina tengah membenahi meja makan dan menyiapkan makanan diatasnya ketika Gibran datang setelah membersihkan diri.


"Kamu mau pergi ?" tanya Sabina karena ia melihat Gibran lebih rapi dari biasanya.


"Nggak, aku mau makan malam dan kemudian kita akan berbicara." jawab Gibran seraya mendudukkan tubuhnya di atas kursi.


Sabina menelisik penampilan suaminya. Saat ini Gibran mengenakan kaos polos hitam lengan panjang yang ia gulung sebatas siku dan celana panjang Chino berwarna coklat mocca padahal biasanya Gibran akan mengenakan celana pendek sebatas lutut dan kaos lengan pendek jika berada dirumah. Tapi tak bisa Sabina pungkiri, Gibran sangat terlihat tampan malam ini.


Sabina pun melayani Gibran di meja makan, ia menuangkan nasi beserta lauk pauknya di atas piring dan meletakkannya tepat di hadapan Gibran lalu ia pun duduk di hadapan suaminya.


"Kanapa ?" Tanya Gibran karena Sabina terus mencuri pandang padanya.


"Tak apa," jawab Sabina sembari menggelengkan kepala dan keduanya menikmati makan malam mereka dengan kepala berisikan kata-kata apa saja yang akan diucapkan ketika berbicara nanti.


Makan malam telah usai, Sabina pun membantu Mbok Inah membereskan meja. Sedangkan Gibran beberapa kali menarik nafas dalam seolah sedang menetralisir rasa gugupnya.


Sabina naik ke lantai dua disusul oleh Gibran di belakangnya. Mereka berencana untuk menyelesaikan masalah malam ini juga.


"Aku ganti baju dulu," ucap Sabina dan Gibran pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia menunggu Sabina dengan duduk di ruang TV.


"Kamu pasti bisa, Gibran." gumamnya seraya kembali menarik nafas dengan dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


Gibran tersenyum menyambut kedatangan Sabina dan menepuk bagian kosong dari sofa yang ada di sebelahnya, meminta Sabina untuk duduk di sana dan ia menuruti apa yang suaminya inginkan.


"Mmm, jadi kita mulai dari mana ?" Tanya Gibran dengan tenang.


"Bolehkah aku yang mulai duluan ?" Sabina balik bertanya dengan gugupnya.


"Tentu," jawab Gibran seraya tersenyum.


"Gibran, Mmm... A... Aku ingin minta maaf karena telah berpikiran buruk padamu, juga karena telah cemburu dengan berlebihan, dan tak mau mengerti posisimu yang sulit." Ucap Sabina lirih seraya menundukkan kepala.


"Maaf," ucapnya lagi dengan penuh rasa penyesalan.


Gibran mengangkat dagu Sabina yang tertunduk dengan ibu jarinya sehingga kini pandangan mereka bertemu.


"Aku benar-benar menyesal," ungkap Sabina dengan mata mengembun.

__ADS_1


"Ta... tadi Amanda datang kesini."


"Hah ? buat apa dia datang kesini ? apa yang dia lakukan ? apa dia nyakitin kamu lagi ?" tanya Gibran beruntun. Ia memotong pembicaraan Sabina.


"Tidak, ia datang untuk meminta maaf dan menceritakan semuanya. Ia pun mengatakan tentang penyakit sifilis yang dideritanya. Amanda bercerita tentang dirinya dengan Andre dan bagaimana Andre mengusirnya, kemudian bercerita tentang ibunya yang meninggal dan pada akhirnya ia datang datang padamu karena ia yakin dengan kebaikanmu, kamu pasti akan menolongnya dan ya ternyata kamu memang lakukan itu."


"Ia datang padaku dengan penyakit itu dan dalam keadaan hamil, aku sebagai orang yang pernah ditinggalkan oleh seorang ayah tahu bagaimana 'sakitnya' rasa itu. Aku tak ingin menjadi laki-laki yang sama dengan ayahku, aku hanya ingin menolong anak yang Amanda kandung meskipun itu bukan anakku. Aku bersumpah dia bukan anakku, Bina."


"Ya... aku percaya.... maafkan rasa cemburuku yang berlebihan sehingga membuat posisimu menjadi sulit."


"Aku juga tak bisa mengatakan kondisi Amanda yang sebenarnya padamu karena ia memintaku untuk menutupi penyakitnya yang merupakan aib baginya dan sebagai dokter aku telah disumpah untuk tidak menceritakan kondisi pasien tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Maafkan aku, Bina."


"Aku yang meminta maaf padamu, Gibran." ucap Sabina penuh penyesalan.


"Dengarkan Sayang... Maafin aku yang membuatmu sakit hati karena sikapku yang kurang peka. Maafin aku yang pernah berkata keras dan membentakmu, sungguh aku menyesal telah melakukan itu sehingga aku memilih untuk tidur berpisah sementara denganmu karena aku takut melakukan hal yang sama lagi. Maafin aku karena semua masalah ini berimbas pada kesehatan kamu juga dia. Aku benar-benar menyesal, Bina." ucap Gibran seraya mengusap perut Sabina yang buncit.


Sabina menganggukkan kepala dengan matanya yang mengembun menahan tangis.


"Aku sangat mencintaimu, Bina. Sungguh... Namun ternyata tak semudah itu untuk saling mengerti, saling memaklumi dan saling percaya karena kita bersatu tanpa saling mengenal dengan dalam sebelumnya."


"Kita hanya 2 orang asing yang dipaksa terikat pernikahan." potong Sabina dengan wajah sendu.


"Tapi kita berhasil melalui ujian pertama kita, Bina. Lihatlah kita bisa bertahan dan kita bisa belajar dari kejadian ini. Aku akan berusaha untuk lebih peka juga lebih tegas dalam bertindak, aku akan menjauhi segala sesuatu yang bisa membuat perasaanmu terluka. Karena kamu yang utama bagiku, Bina. kamu tak pernah menjadi sebuah pilihan."


"Dan aku akan berusaha untuk lebih mengerti perasaanmu, aku akan berusaha untuk lebih memahami pekerjaanmu, dan percaya pada padamu." timpal Sabina.


"jadi apakah kita baik-baik saja sekarang ?" tanya Gibran dan Sabina menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Kini keduanya dapat tersenyum dengan lega.


"Ya ampun, tak terasa sudah jam 1 malam. Ayo kita tidur." ucap Sabina seraya melihat jam yang berada di dinding.


Gibran berdiri, namun kemudian berlutut di hadapan Sabina yang masih terduduk.


"Happy anniversary , Sayang." ucap Gibran seraya memberikan sebuah kotak berwarna silver dan terdapat cincin pernikahan yang berukir kan namanya didalamnya.


"What ?" gumam Sabina tak percaya.


"Aku tahu ini masih terlalu pagi, tapi aku sudah gak bisa menahan perasaanku lagi." ucap Gibran dan Sabina semakin bingung dibuatnya.


"Ku mohon... jadilah istriku untuk selamanya... Ayo kita menua bersama dalam cinta. Aku mencintaimu melebihi kata-kata yang bisa aku ucapkan. Aku mencintaimu melebihi tindakan yang bisa aku lakukan. Aku akan di sini mencintaimu sampai akhir."

__ADS_1


To be continued ❤️


Thank you for reading ❤️.


__ADS_2