
Happy reading 😘
"Ya...ya aku disini." Jawab Gibran seraya meraup wajahnya.
"Aku tunggu kedatanganmu di rumah sakit sekarang juga."
"Mmm... Baiklah saya akan datang beberapa menit lagi." Jawab Gibran dan menutup panggilan telepon itu.
Gibran mendudukkan tubuhnya kembali di kursi yang baru saja akan ia tinggalkan. Ia meraup wajahnya frustasi.
Baru saja ia berbaikan dengan Sabina, baru berjalan selama satu Minggu saja semua kembali normal. Bahkan beberapa hari yang lalu keduanya berbelanja kebutuhan bayi dan merenovasi kamar yang berada di depan kamar mereka menjadi kamar bayi dengan nuansa biru putih.
Gibran sendiri yang memilih motif dan warna wallpapernya sedangkan Sabina memilih segala furniturnya. Baju-baju dan kebutuhan bayi mereka yang lain telah tersedia dan tertata dengan rapi oleh Sabina sendiri yang melakukanya.
Sungguh satu Minggu yang lalu adalah waktu terbaik bagi Gibran. Ia bisa dekat lagi dengan Sabina dan mencurahkan segala kasih sayangnya. Keduanya mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kehadiran bayi mereka dengan bersama-sama. Bahkan tadi pagi sebelum berangkat bekerja dirinya dan Sabina kembali melakukan pergulatan panas di atas ranjang.
"Ahhh... Shiitttt," umpat Gibran. Kepalanya berdenyut karena menahan sakit yang tiba-tiba menyerangnya.
Gibran memainkan ponsel yang berada dalam genggamannya. Berulang kali melihat kontak Sabina yang bertuliskan nama "My lovely wife ❤️" tanpa berani menyentuhnya.
Ia ingat perkataan Sabina minggu lalu yang tak mengizinkan dirinya untuk berurusan lagi dengan Amanda apapun alasannya. Dan untuk memenangkan hati Sabina saat itu, Gibran menyanggupinya.
Namun kini keadaan yang terjadi adalah di luar kuasanya. Amanda jatuh tak sadarkan diri dan mengalami pendarahan. Wanita itu tak memiliki siapapun di kota ini, mereka hanya tahu jika Gibran lah satu-satunya keluarga yang Amanda miliki saat ini.
"Bagaimana jika hal buruk terjadi ? Bagaimana jika Amanda tak dapat diselamatkan? Tentu namaku akan ikut terjerat dalam hal ini," batin Gibran dalam hatinya.
Gibran menarik nafas dalam sebelum ia kembali mencari nama kontak istrinya dan segera melakukan penggilan telepon meskipun ia sedikit ragu Sabina akan mengizinkannya untuk mengurusi kembali Amanda.
Gibran berdiri dan kemudian berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya karena perasaan cemas yang ia rasakan. Cukup lama Gibran menunggu hingga Sabina mengangkat panggilannya.
"Halo Sayang," sapa Sabina di ujung telepon.
'deg !' jantung Gibran berpacu lebih cepat ketika ia mendengar suara istrinya itu.
"Ha...halo Bina." Jawab Gibran terbata.
"Ya ? Kamu gak pa-pa ? Kok suaranya kaya aneh gitu." Tanya Sabina terdengar cemas.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Jangan khawatir." Jawab Gibran.
__ADS_1
"Bina, Sayang ?"
"Hu'um. ?" Sabina balik bertanya.
"Mmm... Aku mendapatkan telepon dari rumah sakit di sini," ucap Gibran membuka ceritanya dan seketika hening di ujung sana. Gibran yakin Sabina dapat menebak apa yang terjadi selanjutnya.
"Bina ?"
"Hmm ya ?" Terdengar nada suara Sabina yang kini berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
"A.. aku mendapatkan telepon dari rumah sakit umum daerah dan mereka mengabarkan jika Amanda mengalami pendarahan dan tak sadarkan diri. Aku yang merekomendasikan Amanda untuk berobat ke dokter lain agar ia tak menemui aku. Dan di kota ini Amanda di kenal sebagai sepupu aku, tak ada seorang pun yang mengenal dan bertanggung jawab atas dirinya. Jadi mau tak mau mereka menghubungi aku untuk menjadi wakil dari keluarganya." Jelas Gibran dengan perlahan.
"Jadi Amanda tinggal satu kota dengan klinikmu ?" Tanya Sabina tenang.
Pertanyaan Sabina bagaikan anak panah yang tepat kena sasarannya dan membuat Gibran terdiam seribu bahasa.
"Apa dia tinggal di klinikmu juga ?" Tanya Sabina lagi.
"Tidak, dia tidak tinggal di rumah yang menjadi klinikku." Jawab Gibran.
"Aku kira Amanda hanya mendatangi kamu ketika ia butuh, aku tak tahu jika dia sampai pindah kota agar lebih dekat denganmu."
"Aku tak peduli, aku tak tertarik sedikitpun tentang hidupnya. Yang menarik bagiku adalah kenyataan jika ia rela hidup di pinggiran kota hanya untuk dekat denganmu."
"Tidak, tidak begitu Sayang... Aku bahkan gak tau dia tinggal di mana. Seperti yang ku katakan Amanda hanya datang jika dia ada keperluan padaku saja."
"Anggaplah aku percaya...,"
"Ya Tuhan, Bina ! Aku tak melakukan hal tercela di belakangmu. Aku tak berselingkuh darimu." Ucap Gibran dengan suara meninggi. Ia begitu putus asa saat ini.
"Kamu memang tak berselingkuh tapi yang kamu lakukan di belakang aku, menyembunyikan ini semua sama saja dengan sebuah pengkhianatan." Jawab Sabina dengan nada suara yang tak kalah tingginya dan membuat Gibran terkesiap saat mendengarnya.
"Bina, aku salah dan aku minta maaf. Kita bicarakan lagi mengenai hal ini di rumah setelah aku pulang kerja. Tapi ku mohon...aku meminta pengertianmu saat ini. Aku harus datang kesana sebagai keluarga Amanda karena jika tidak, dan misalnya hal buruk terjadi pada Amanda maka namaku akan ikut terseret juga." Mohon Gibran dengan frustasi.
Hening untuk beberapa saat, keduanya hanya diam tak bersuara. Hingga ucapan Rani sang asisten memecahkan keheningan itu.
"Dok, pihak rumah sakit menelpon berulang kali katanya mereka menunggu kedatangan Anda."
Sabina dapat mendengar dengan jelas apa yang Rani ucapkan. Mungkin memang benar Amanda sedang dalam keadaan kritis.
__ADS_1
Tapi Gibran adalah suaminya. Apa salah jika dirinya menginginkan Gibran untuk peduli hanya padanya saja ? Sabina tak mau Gibran peduli pada Amanda apapun alasannya. Sudah terlalu banyak sakit hati yang diakibatkan oleh mantan sahabatnya itu sehingga pada saat ini Sabina tak mau menggunakan logikanya.
"Sayang ?" Tanya Gibran.
"Lakukan apapun yang menjadi pilihanmu karena seharusnya kamu tak usah lagi tanya sama aku mengenai masalah Amanda."
"Bina ku mohon," potong Gibran.
"Minggu lalu aku sudah katakan, aku tak mau kamu terlibat lagi dengan Amanda apapun alasannya." Jawab Sabina dengan jelas.
"Kamu ikut aku ke rumah sakit, biar kamu tahu bagaimana kondisi Amanda yang sebenernya agar kamu bisa mengerti posisi aku sekarang ini seperti apa. Aku akan menjemputmu."
"Tak usah, aku tak mau jauh-jauh datang kesana. Aku tak ingin berhubungan lagi dengan Amanda. Sudah terlalu banyak luka yang dia buat untukku."
"Tapi Bina, aku mohon... Mengertilah...," Ucap Gibran frustasi.
"Aku salut sama kamu Gibran, masih menolongnya padahal dia pun telah menyakiti hati kamu. Mungkin hatimu masih terpaut padanya." Ucap Sabina penuh sindiran.
"Tidak Bina, bukan begitu."
"Lakukan apapun yang menurutmu paling penting." Ucap Sabina dan ia pun menutup panggilan telepon tanpa memberikan kesempatan untuk Gibran berbicara lagi.
"F*ck f*ck f*ck," maki Gibran dan ia pun melemparkan semua yang ada di atas meja prakteknya karena emosi pada Sabina yang tak mau mengerti posisinya saat ini.
Suara nyaring dari ruangan Gibran membuat Rani datang menghampirinya dan terkejut ketika melihat ruangan Gibran yang berantakan.
"Dok, ma... Maaf barusan dokter Risa dari rumah sakit umum menelpon lagi." Ucap Rani takut-takut.
Mata Gibran berkilat marah, rahangnya mengetat dan bibirnya terkatup rapat.
Belum juga Gibran menjawab, panggilan dari rumah sakit kembali masuk di ponselnya.
"Ran, tolong beresin ya. Saya pergi." Ucap Gibran seraya menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas lantai.
Rani hanya menganggukkan kepala tanpa berani berbicara.
To be continued ❤️
Thanks for reading ❤️
__ADS_1