
Happy reading ❤️
"Te... Tenanglah... Dia hanya seorang dokter bedah yang akan menolongku." bisik Sabina.
Kini Sabina lah yang berusaha untuk menenangkan Gibran sang suami yang sangat cemburuan.
"Sayang... Dokter Go mengajakmu bersalaman," bisik Sabina pelan karena sang suami masih diam terpaku menatap wajah lelaki di hadapannya.
"Hah ?" Gibran menolehkan kepala pada Sabina dan seketika tersadar dari pikirannya sendiri.
"Ah, Sorry... Saya Gibran dan ini istri saya Sabina yang pernah saya ceritakan melalui telepon." ucap Gibran pada akhirnya. Ia menyambut uluran tangan dr. Go dan menjabatnya erat.
"Senang akhirnya bisa bertemu," jawab dr. Go dengan bahasa Inggris yang ia gunakan dan kental sekali logat bahasa koreanya membuat Sabina yang mendengarnya tersenyum mengingat banyak drama yang ia tonton.
"Senang juga bertemu dengan anda Nyonya Gibran." dokter Go mengulurkan tangannya pada Sabina.
Sabina melirik suaminya dengan ujung mata sebelum menyambut uluran tangan dokter muda itu. Bisa ia lihat dengan jelas mata Gibran yang kembali membulat sempurna tengah fokus pada tangannya yang bersentuhan dengan sang dokter.
"Bina," lirih Gibran agar istrinya segera menyudahi jabatan tangan itu dan merasa lega ketika Sabina menuruti.
Setelah selesai berkenalan mereka pun duduk bersama saling berhadapan. Dokter Go mulai mewawancarai Sabina sekitar keluhan yang Sabina rasakan, keduanya menggunakan bahasa Inggris yang fasih dan beruntung bagi Gibran karena Sabina mampu berbahasa Inggris dengan baik sehingga ia tak perlu menterjemahkan.
Dokter Go terlalu ramah bagi ukuran seorang dokter, itulah yang Gibran rasakan saat ini. Beberapa kali dokter itu tersenyum juga tertawa ketika berbicara dengan Sabina. Sedangkan Gibran memperhatikan keduanya dengan mencebikkan bibirnya tanda tak suka.
Tak suka jika sang istri tertawa untuk lelaki lain. Sabina hanya miliknya, ia tak boleh terpesona oleh lelaki manapun termasuk dokter bedah yang akan menolongnya.
Sabina berjabat tangan saja ia sudah merasa panas hati, apa yang terjadi jika dokter itu memeriksa kaki Sabina ?
"Hiiihhhh," kesal Gibran tanpa sadar. Membuat Sabina dan dokter Go melihat ke arahnya.
"Ada sesuatu yang salah ?" tanya Dokter Go pada Gibran.
"Oh tidak, saya sedang memikirkan hal lain." jawab gibran bohong sembari menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal dan ia pun tersenyum canggung setelahnya.
"Saya kira sudah cukup informasi yang saya butuhkan, setelah ini kita akan melakukan foto Rontgen pada kaki anda yang bermasalah. Setelah itu kita bisa lihat langkah apa saja yang bisa diambil." jelas dokter Go.
Gibran dan Sabina mengangguk paham.
"Apa mulai hari ini anda akan mulai tinggal di rumah sakit ?" tanya dokter Go.
"Iya," jawab Sabina mengiyakan.
"Ah, kamar anda telah di siapkan di lantai 4. Kamar VVIP sesuai seperti yang ayah dan suami anda inginkan. Perawat akan mengantarkan anda kesana, untuk foto Rontgen bisa dilakukan begitu anda siap namun saya harap bisa secepatnya." ucap dokter Go lagi.
"Saya akan melakukan foto Rontgen hari ini juga," jawab Sabina.
Dokter Go paham jika Sabina memerlukan keberanian yang tinggi untuk melakukan tindakan ini hingga ia tak mau memaksakan yang dapat mempengaruhi kesiapan mental pasiennya.
"Baguslah jika begitu." jawab dokter Go seraya tersenyum.
__ADS_1
"Ya sayang, lebih cepat lebih bagus. Biar kamu cepat sembuh dan kita tak berlama-lama di sini." Ucap Gibran dengan senyum yang lebar di wajahnya membuat Sabina mengerutkan keningnya.
"Aku hanya sudah tak sabar melihatmu sembuh dan kembali ke Indonesia untuk meneruskan produksi anak-anak kelinci kita." lanjut Gibran menjelaskan. Tak mungkin ia bilang agar istrinya tak lagi bertemu dokter Go bukan ?
Dokter Go hanya tersenyum melihat pasangan suami istri yang sedang berbicara dengan bahasa yang asing terdengar di telinganya.
Tak lama perawat datang menjemput Sabina untuk melakukan foto Rontgen kakinya dan Gibran mengikuti di belakangnya. Setelah hal itu dilakukan, Sabina memasuki ruang rawat inapnya dan ia akan menemui dokter Go lagi pada sore harinya dengan membawa hasil foto Rontgennya.
"Sayang, tunggu sebentar. Aku akan bawa Athalla kemari." ucap Gibran pada Sabina yang kini telah menempati ruang rawat inapnya yang cukup besar.
"Jangan lama-lama," jawab Sabina dengan wajahnya yang terlihat cemas sungguh ia tak ingin merasakan sendirian.
"Iya aku janji hanya sebentar saja." Gibran pun mengecup dahi Sabina sebelum ia pergi.
***
Andre baru saja menikmati masa-masa sebagai pengantin baru. Kini ia hidup bersama Alya dan Raka di sebuah kota kecil, dimana tak seorangpun tahu tentang masa lalunya.
2 tahun terpisah membuat Andre dan Alya harus kembali saling beradaptasi terhadap perasaan mereka.
Andre sadar ini bukanlah pernikahan yang Alya inginkan karena wanita itu sempat menolaknya namun Andre meyakinkan Alya untuk menerima pinangannya.
Jangan salahkan Alya yang berlaku seperti itu, karena perkataan sang ibu dan adiknya yang membuat Alya pergi menjauh dari Andre pada waktu itu. Alya dianggap parasit yang memanfaatkan kelemahan Andre yang kala itu sedang terpuruk. Ia dianggap wanita yang mengambil kesempatan dari penderitaan Andre karena adiknya tahu jika Andre memberikan sejumlah uang pada Alya sebagai fee dari tambahan tugas yang Alya emban dan itu sesuai kesepakatan bersama.
Alya mengembalikan uang itu pada Andre dalam sebuah amplop coklat dan menyimpannya di atas meja kerjanya. Dan tanpa Andre ketahui, pada hari yang sama Alya juga menyerahkan surat pengenduran dirinya ke bagian HRD.
Alya dan Raka menghilang bagai ditelan bumi. Andre yang kini mempunyai keterbatasan dalam kemampuan dan keuangan begitu kesulitan mencari keberadaan wanita yang sangat dicintainya.
Andre akhirnya jatuh sakit untuk waktu yang lama, meksipun Gibran sudah berusaha mengobatinya namun Andre selalu merasa dirinya tak sehat. Pada akhirnya Gibran bisa menyimpulkan jika Andre mengalami depresi.
Seluruh keluarganya terkejut ketika mengetahui itu. Tak tega melihat sang anak yang kian terpuruk, akhirnya keluarga Andre membantu mencari keberadaan Alya dengan segala kemampuan.
Andre langsung meminta Alya untuk menjadi istrinya di hari pertama mereka bertemu kembali. Ia tak mau lagi kehilangan wanita yang telah membuatnya jatuh cinta.
Pada awalnya Alya menolak, tapi melihat keadaan Andre yang menyedihkan ia pun merasa iba. Terlebih lagi Raka yang begitu bahagia karena bisa bertemu Andre lagi padahal mereka telah 2 tahun terpisah namun anaknya tak pernah bisa lupa.
Andre membuat keputusan besar dengan meninggalkan keluarga Tama demi bisa hidup dengan wanita yang dicintainya.
Orangtua Andre mencegah kepergian anaknya tentu saja. Tapi Andre tetap lebih memilih pergi hanya untuk menjaga hati Alya dari perkataan jahat keluarganya.
Dan disinilah ia sekarang, di sebuah rumah sederhana bersama anak dan istrinya. Hidup tenang dan bahagia tanpa kemewahan. Tuhan bisa secepat itu membalikkan keadaan, dulu ia hidup bergelimang harta dengan banyak wanita.
Namun kini untuk mendapatkan seorang wanita yang ia cintai dengan tulus harus berkorban banyak dan kehilangan segalanya.
"Mau kopi ?" tanya Alya.
Andre baru saja pulang dari mencari pekerjaan, berbekal ijazah S1 yang dia miliki tanpa memasukkan pengalamannya sebagai pemimpin perusahaan dalam CV nya.
"Boleh," jawab Andre dengan tersenyum. Lelahnya hilang ketika wanita yang ia cintai menyambut kedatangannya.
__ADS_1
"Aku masih belum dapat kerja." ucap Andre penuh sesal.
"Kita baru 3 hari berada disini, bersabarlah." jawab Alya menenangkan bahkan istrinya itu memberikan usapan-usapan lembut di punggung suaminya yang tengah merasakan lelah.
"Jika kamu mengizinkan, aku juga akan kembali bekerja."
"Tapi mencari nafkah adalah kewajibanku." ucap Andre tanpa ragu.
"Tapi jika aku mau membantu tak apa bukan ? setelah kamu menemukan pekerjaan yang pasti dan kehidupan kita sudah stabil maka aku pun akan berhenti."
"Apa kamu tak lelah ? padahal dulu aku sesumbar bisa menghidupi kalian berdua." Andre tersenyum masam ketika mengucapkan itu.
"Aku yakin kamu bisa hanya saja belum tiba saatnya." ucap Alya menenangkan suaminya.
Andre merasa lega luar biasa mendengar kata-kata istrinya yang menenangkan itu. Ia raih alya dalam pelukannya dan memberikan ciuman di puncak kepala istrinya itu.
***
"utu tatatan." celoteh Athalla pada Papanya. Ia mengatakan itu berulang kali namun Gibran tak jua paham.
"Papa, utu tatatan." rengeknya lagi.
"Buku catatan, Athalla meminta kertas dan pensil." jelas Sabina dan Gibran pun akhirnya mengerti.
"uci, cicil," celoteh Athalla lagi setelah ia menerima selembar kertas juga balpoin.
"Kursi berpikir. Athalla pengen duduk di atas kursi untuk menulis" jelas Sabina dan Gibran menatap kagum pada istrinya.
"Bagaimana kamu bisa ngerti semua yang Athalla ucapkan ?" tanya Gibran heran.
"Percayalah semua ibu pasti mengerti apa yang anaknya ucapkan meski itu bahasa planet lain sekalipun." jawab Sabina sembari tertawa.
Gibran menaikan Athalla ke atas sebuah kursi dan anaknya itu mulai mencoret-coret kertas yang diberikan Papanya.
Gibran amati apa yang Athalla lakukan dan ia pun tersenyum. "Apa kamu mau menjadi dokter seperti Papa ? aku rasa Athalla sedang menuliskan jurnal." ucap Gibran dengan bangganya dan ia pun berjalan mendekati Sabina yang kini duduk diatas ranjang pasien.
"Kamu ibu yang hebat, Bina." ucap Gibran seraya menundukkan kepalanya dan meraih bibir Sabina dengan bibirnya. Ia mengulum lembut bibir istrinya itu untuk beberapa saat.
"Ahhh, maaf saya mengganggu. Pintunya terbuka tadi." Ucap Dokter Go yang tiba-tiba muncul di dekat mereka. Sontak saja Gibran pun melepaskan tautan bibirnya.
"Saya sedang berkeliling mengunjungi pasien," lanjut Dokter Go lagi. Ia merasa tak enak telah menggangu keintiman Sabina dan Gibran.
"Saya hanya sedang melakukan pemeriksaan suhu tubuh," elak Gibran.
"Aaahhhh, jadi begini caranya memeriksa suhu tubuh ala dokter Indonesia ?" tanya dokter Go sembari tertawa sedangkan Sabina menundukkan kepalanya Karena malu.
"Ya, tapi anda tak boleh mencobanya !" seru Gibran.
thanks for reading ❤️
__ADS_1